Sensasi Air Terjun Curug Silawe Magelang

CurugSilawe3Magelang memang merupakan kawasan dataran tinggi di pusatnya Tanah Jawa. Keluasan bentang alam dataran Magelang dipagari dengan deretan gunung dan pegunungan yang membentuk gelang maha raksasa. Dengan demikian pinggiran wilayah Magelang justru merupakan kawasan gunung dan pegunungan. Kawasan inilah yang secara sosio antropologis historis dikenal dengan Panca Arga, suatu kawasan yang dikelilingi deretan lima gunung, masing-masing Merapi, Merbabu, Telomoyo, Sumbung, serta Menoreh.

Keberadaan kawasan pegunungan nan asri merupakan daerah tangkapan air yang selanjutnya menghadirkan ratusan mata air dengan ratusan aliran sungainya. Adalah kontur lereng pegunungan yang terjal dan curam, serta adanya pengaruh proses geologi yang telah berlangsung selama jutaan tahun telah menghadirkan banyak patahan aliran sungai yang membentuk air terjun atau curug.

Diantara banyak air terjun yang terdapat di wilayah Kabupaten Magelang, Curug Silawe merupakan salah satu diantaranya. Air terjun alami yang berada di lereng gunung Sumbing ini tepatnya berada di wilayah Desa Sutopati, Kecamatan Kajoran, yang berjarak kurang lebih sekitar 30 km sebelah barat laut dari pusat Kota Magelang.

CurugSilawe5 CurugSilawe6

Lokasi air terjun atau Curug Silawe dapat dicapai melalui beberapa jalur alternatif. Jika pengunjung datang dari arah Borobudur atau Porworejo, Curug Silawe lebih dekat diakses melalui Salaman, melintasi wilayah Kecamatan Kajoran. Adapun bagi pengunjung dari arah Kota Magelang dapat melewati jalur Bandongan – Kaliangkrik. Sedangkan jika pengunjung datang dari arah Semarang, maka sebelum memasuki Magelang dapat belok kanan di pertigaan Payaman, kemudian melintasi Windusari, Bandongan dan Kaliangkrik.

Meskipun jalur menuju Curug Silawe merupakan jalanan berkelok dan naik-turun mengikuti kontur lereng Sumbing, namun setidaknya hingga di titik Kaliangkrik kondisi jalanan berupa jalan beraspal yang cukup mulus. Barulah ketika menaiki tanjakan menuju Kantor Desa Temanggung, jalanan sedikit menyempit berupa jalan aspal yang mulai mengelupas di sana-sini. Bahkan terdapat beberapa ruas yang meninggalkan jalan kricakan berupa tatanan batu tanpa aspal lagi.

CurugSilawe7

CurugSilawe4 CurugSilawe2

Mencapai lokasi Curug Silawe memang penuh tantangan oleh kondisi jalanan yang terjal dengan beberapa tanjakan dan turunan curam. Bahkan di ujung menjelang loket obyek wisata, tanjakan ekstrim berupa dua jalur blok cor-coran benar-benar menghadirkan degup adrenalin yang menantang. Jangankan mobil, motor baru sekalipun sangat jarang bisa lolos di tanjakan ini. Banyak pengunjung berkendaraan roda dua, terpaksa menurunkan penumpangnya dan melenggang sendirian untuk mencapai ujung tanjakan.

Kondisi infrastruktur jalan menuju lokasi wisata Curug Silawe yang belum memadai sama sekali tidak menyurutkan banyaknya pengunjung yang datang ke obyek di lereng Sumbing ini. Di samping perjalanan yang penuh tantangan, sisi kanan-kiri jalanan yang masih hijau asri dalam suasana dan nuansa khas pedesaan merupakan pemandangan yang sungguh menyegarkan mata serta pikiran. Dan Anda tidak akan pernah merasa rugi menempuh berbagai tantangan medan berat tersebut tatkala telah benar-benar sampai dan menikmati kesejukan jatuhan air bening di Curug Silawe.

Curug Silawe merupakan air terjun dengan ketinggian lebih dari 40 meter. Nama silawe konon berasal dari sebutan binatang laba-laba oleh masyarakat setempat. Pada saat belum dikelola sebagai obyek wisata, lereng terjal di sekitar air terjun dipenuhi dengan ratusan sarang laba-laba. Tentu nama tersebut sedikit meleset dari bayangan para calon pengunjung yang kebanyakan diantaranya menduga bahwa nama silawe identik dengan kata selawe yang berarti dua puluh lima. Memang banyak orang luar daerah yang menghubungkan kata selawe dengan perkiraan ketinggian air terjun.

CurugSilawe1 CurugSilawe8

Ketinggian jatuhan air dengan debit yang cukup besar menghadirkan sensasi tersendiri bagi pengunjung. Di samping tampias titik air yang terasa sangat sejuk, bahkan dingin, pada saat matahari bersinar cerah butiran air yang lembut juga membentuk bias pantulan sinar matahari yang menghadirkan warna-warni pelangi nan cantik. Cerukan di bawah jatuhan air yang deras membentuk cekungan bendungan yang mengundang pengunjung untuk berbasah ria bermain air. Bahkan tidak sedikit pengunjung yang mandi di bawah guyuran air terjun. Sungguh sebuah pengalaman yang terlampau sayang untuk dilewatkan.

Sebagai sebuah potensi obyek wisata alam yang sangat menarik, sayangnya Curug Silawe masih dikelola ala kadarnya oleh pemerintah desa setempat yang memberdayakan kaum muda dan para ibu-ibu. Ke depannya sangat penting turun tangan nyata dari pemerintah di tingkat kabupaten maupun provinsi untuk menghadirkan infrastruktur jalan dan sarana transportasi untuk mengakses Curug Silawe ini. Jika kunjungan wisatawan terus meningkat, bukan tidak mungkin obyek ini akan mampu memberikan peningkatan kesejahteraan bagi warga setempat, dan tentu saja juga bagi pendapatan asli daerah di wilayah Kabupate Magelang.

Ngisor Blimbing, 9 Januari 2015

Pesona Pesanggrahan Sendangsono

Sendangsono1  Sendangsono2

Siapa yang tidak kenal ataupun belum pernah mendengar nama besar Romo Mangun. Lelaki yang bernama lengkap YB Mangunwinajaya tersebut tidak saja dikenal sebagai seorang pastur Katholik tetapi sekaligus seorang arsitektur dan penganut paham humanism dalam setiap sepak terjangnya. Bagi penggelut sastra, nama Romo Mangun sangat akrab dengan karya-karya romannya, seperti Rara Jonggrang, Burung-burung Manyar, dll.

Salah satu jejak karya arsitektur Romo Mangun yang spektakuler adalah Pesanggrahan Sendangsono. Sendangsono sendiri merupakan sebuah situs yang sangat bersejarah dalam penyebaran agama Katholik di Tanah Jawa. Adalah Romo Vanlith, seorang misionaris yang pada awalnya datang di wilayah Muntilan, melakukan pembabtisan terhadap Barnabas Sarikrama dan beberapa warga setempat di sebuah sendang di bawah pohon sono (angsana) yang terletak di atas perbukitan Menoreh. Berawal dari keberadaan sendang inilah, tempat tersebut menjadi tujuan peziarahan kaum Katholik yang hingga kini dikenal sebagai Sendangsono.

Sendangsono terletak di gugusan perbukitan Menoreh. Dari jalur utama yang menghubungkan Muntilan – Wates, sebelum tikungan jembatan di wilayah Banjaroya kita akan menemukan sebuah pertigaan yang mengarah ke kanan. Dengan menyusuri jalanan beraspal yang relatif sepi dari hiruk-pikuk kendaraan, kita harus menyusurinya sepanjang kurang lebih 7 km untuk tiba di Sendangsono. Kondisi jalan sangat baik dan bisa dilalui, baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Meskipun perlahan jalanan menanjak, namun jalanan yang asri oleh rerimbunan pohon di kanan-kirinya menjadikan perjalanan sungguh mengasyikkan. Hal ini masih ditambah lagi dengan suguhan pemandangan di sisi bawah perbukitan dengan hamparan ngarai Kali Progo di sisi timur sungguh menyuguhkan panorama yang sangat indah.

Bagi pengunjung yang baru pertama kali menuju Sendangsono, tidak perlu khawatir akan tersesat atau salah jalan dikarenakan sepanjang perjalanan telah terpasang petunjuk arah yang memadai untuk memandu arah ke Sendangsono.

Sendangsono7

Tiba di area Pesanggrahan Sendangsono, pengunjung dapat menempatkan kendaraannya di area parkir yang telah tersedia. Selanjutnya dengan berjalan kaki, pengunjung dapat langsung memasuki gerbang gapura berbentuk persegi dengan lengkung tinggi di tengahnya serta bertatahkan batu kali yang memberikan kesan keanggunan dan keagungan dalam bingkai kebersahajaan. Selanjutnya sebuah lorong melengkung dan menanjak dengan deretan para penjual perlengkapan doa maupun souvenir khas akan mengantar pengunjung menuju area pesanggrahan.

Area pesanggrahan Sendangsono sebenarnya terletak pada sebuah ngarai yang diapit dua sisi perbukitan. Tepat di tengah ngarai inilah terdapat mata air dan sendang yang menjadi cikal bakal penamaan Sendangsono. Sebuah sendang pemandian yang terletak di bawah pohon sono. Sono sendiri merupakan salah satu jenis pohon yang hingga kini banyak terdapat di kawasan perbukitan Menoreh.

Begitu menapaki pintu masuk pesanggrahan melalui jalur jalanan berundak yang menurun, pengunjung akan langsung merasakan sebuah nuansa kedamaian dan ketentraman hati. Bentuk, tatanan, hingga penempatan bangunan sungguh memiliki perpaduan artistik yang sangat mempesona. Bahkan sekedar anak tangga dan undak-undak di berbagai tepian sungai diisi dengan rangkaian konblok yang ditata sedemikian rupa sehingga berwujud terasiring yang menampilkan sentuhan bentuk tiga dimensi yang sangat luar biasa.

Sendangsono3  Sendangsono4

Berada di bagian awal ketika pengunjung memasuki area pesanggrahan, terdapat beberapa pondok terbuka dengan dengan dominasi bahan kayu, bahkan lantainyapun berupa tatanan kayu berserat yang mengesankan alami dan berkesan sejuk. Bangunan beratap limas dengan sisi tepi bersirip tatanan genteng yang membentuk segitiga dari puncak atap hingga dasar bangunan ini mengingatkan kepada sebuah tenda yang digunakan para pramuka untuk berkemah. Bangunan kembar dua yang berdiri di lereng sungai ini sebenarnya bertingkat dua dengan tingkat atas yang sejajar dengan pelataran di teras pertama. Bangunan terbuka ini biasa difungsikan sebagai tempat diskusi bersama maupun peristirahatan para peziarah yang tinggal untuk beberapa hari di tempat ini.

Beranjak dari pelataran di terap pertama, pengunjung dapat menelusuri sebuah lorong berundak dengan hiasan ornament beberapa patung yang mengisahkan perjalanan hidup Yesus dalam bingkai relung atap mungil yang ditempatkan di dinding tebing. Lorong inilah yang disebut sebagai jalan salib pendek.

Anak tangga pada jalan salib pendek ini selanjutnya mengantarkan ke sebuah bangunan dengan dinding kaca terbuka. Uniknya bangunan yang bernama Kapel Para Rasul ini dimahkotai dengan tiga atap berbentuk piramida dengan masing-masing piramida memiliki empat pucak piramida yang lebih kecil. Atap tersebut bisa disebut atap piramida bertingkat dengan dua belas puncak piramida. Angka dua belas konon melambangkan dua belas rasul suci yang dipercayai sebagai para murid Yesus. Gaya arsitektur atap piramida tersebut mengingatkan kita kepada model istana ataupun benteng jaman eropa klasik yang dilengkapi menara atau kastik dengan puncak limas maupun kerucut dengan bendera di puncaknya.

Sendangsono6

Naik dari teras Kapel Para Rasul, sampailah pengunjung di pelataran terap ke tiga. Pelataran yang cukup luas dibandingkan pelataran yang lainnya ini memberikan sudut pandang ke segenap area pesanggrahan. Dari pelataran ini terlihat seluruh bagian pesanggrahan, baik di sisi bawah, atas, maupun seberang sendang. Dari pelataran ini bisa mengantarkan pengunjung ke bangunan kapel Maria, ke area makam Semagung yang ditandai dengan salib millenium, ke area sendang penyucian, ataupun goa Bunda Maria di sisi bawah. Dengan dinaungi sebatang pohon beringin yang besar nan rindang menjadikan suasana di pelataran ini penuh kesejukan oleh semilir angin pegunungan yang berhembus. Suasana ini benar-benar meneggelamkan siapapun yang ingin bermeditasi dan mendekatkan diri kepada alam juga kepada Tuhan.

Menyusuri sisi bangunan fisik pesanggrahan Sendangsono mungkin memang hanya memerlukan beberapa saat saja, tetapi memaknai setiap sisi abstraksi bangunan maupun historis yang ada kita memerlukan waktu yang teramat panjang untuk dapat menangkap semua aura ruhaniah yang dirancang semenjak seratus tahun yang lalu. Sendangsono seolah menjadi samudera yang luas nan maha dalam bagi pengembaraaan batin setiap insan, bahkan yang bukan seorang Katholikpun.

Wisata Candi Selogriyo

Selagriyo2Bicara mengenai candi, Kabupaten Magelang bisa dikatakan sebagai wilayah seribu candi karena banyaknya situs candi di dalamnya. Borobudur dan Mendut, mungkin sudah sangat terkenal dan diketahui oleh para wisatawan dari luar daerah maupun luar negeri. Tetapi untuk candi-candi yang lain, bisa dikatakan masih sedikit masyarakat luar Magelang yang mengetahuinya secara utuh. Salah satu candi yang memiliki keindahan sangat unik tetapi belum banyak terekspos berita adalah Candi Selogriyo di lereng Gunung Sumbing.

Menilik dari namanya, sejarah mengenai asal usul penamaan candi Selogriyo berkenaan dengan bangunan terbuat dari batu dan bisa difungsikan selayaknya rumah. Selogriyo, dengan demikian mengacu kepada rumah yang terbuat dari batu, atau bisa juga bangunan yang merupakan “rumahnya” batu. Apakah memang semenjak awal pendiriannya di jaman Mataram Kuno candi ini telah dinamakan Selogriyo, hingga kini tidak ada satupun bukti sejarah yang bisa menjadi referensi.

Candi Selogriyo berlokasi di wilayah Desa Kembang Kuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Ada dua alternative jalur yang bisa diambil untuk menuju lokasi tersebut. Pertama, bagi pengunjung yang melalui jalur Magelang-Semarang dapat menempuh jalur Payaman, Windusari, hingga mencapai Kembang Kuning. Hanya saja keberadaan plang penunjuk arah agak sedikit tersamar pada sebuah tikungan tajam sekaligus tanjakan menyudut arah kiri, sementara plang dan arah candi berada di sisi kanan jalan. Maka jika memilih jalur ini, akan lebih baik jika pengunjung tidak melajukan kendaraannya terlalu cepat sehingga tidak terlewat jalur masuk arah Selogriyo.

Kali Progo1   Kali Progo2 Kali Progo3   Sawah1

Adapun alternatif ke dua, terutama bagi pengunjung dari arah selatan atau Kota Magelang, dapat memilih jalur Magelang, Bandongan, arah Windusari. Dengan menuruni sisi barat Kota Magelang, pengunjung dapat menyaksikan keelokan Kali Progo pada saat melewati jembatan di daerah Plikon. Jalanan selanjutnya akan kembali menanjak dan mengantarkan pengunjung tiba di Pasar Bandongan. Di samping pasar inilah terdapat pertigaan arah kanan yang akan mengantarkan menuju wilayah Windusari. Terus saja ikuti jalur ini hingga tiba di wilayah Kembang Kuning dan menemukan plang petunjuk Candi Selogriyo di sisi kiri jalan.

Selepas dari jalan utama, pengunjung akan menempuh jalanan beraspal kasar yang menanjak. Tibalah di Dusun Campurejo yang merupakan pintu gerbang menuju candi. Bagi pengunjung dengan kendaraan roda empat, perjalanan berkendara hanya bisa hingga di dusun tersebut. Kendaraan roda empat dapat diparkir di tempat-tempat parkir yang telah disediakan penduduk setempat. Perjalanan selanjutnya dapat ditempuh dengan jalan kaki ataupun menyewa ojek penduduk. Adapun untuk pengunjung dengan roda dua dapat terus melanjutkan perjalanan hingga ke pelataran parkir di gerbang atas candi.

Campurejo1

Campurejo  Campurejo2

Keluar dari Dusun Campurejo, pengunjung akan menempuh perjalanan di tepian pematang sawah yang merupakan jalanan setapak. Di sinilah terdapat sebuah pos sekaligus loket penjualan tiket masuk lokasi wisata Candi Selogriyo. Dengan harka tiket masuk lima ribu rupiah, pengunjung dapat mengeksplorasi pemandangan alam kaki gunung Sumbing sekaligus eksotika Candi Selogriyo di puncak sebuah bukit.

Perjalanan bersepeda motor pada jalur selanjutnya akan terasa menantang dan penuh rasa degdegan. Di samping karena jalur jalan setapak yang sempit, pada sebagian jalur perjalanan merupakan jalan setapak yang menempel pada tebing berbukitan yang menanjak dan berkelok-kelok. Di sisi kiri tebing terjal dengan profil dinding berbatu terjal, sedangkan sisi kanan merupakan lembah dan ngarai persawahan yang membentuk lekukan jurang menganga yang menantang jiwa raga jika pengunjung lengah sekejap mata saja. Untuk kondisi jalanannya sendiri kini sudah jauh lebih baik karena sudah dipaving selebar satu meter hingga ke sisi atas di muka gapura candi. Akan tetapi tantangan tersebut juga dibayar timpal dengan pemandangan hijau segar khas pegunungan yang akan senantiasa memanjakan mata sekaligus menyegarkan pikiran pengunjung untuk semakin mengagumi karunia alam ciptaan Tuhan.

Selogriyo1  Selogriyo2

Selogriyo6

Setelah sampai di pelataran yang difungsikan sebagai tempat parker kendaraan roda dua, pengunjung akan segera menjumpai sebuah gapura candi terbuat dari batu alam yang akan mengantarkan kepada sebuah jalur anak tangga untuk menaiki bukit dimana candi berada. Di sisi kanan-kiri tangga tertata dengan sangat elok berbagai tanaman hias dengan bebungaan yang seolah senantiasa mekar sepanjang tahun. Di sinilah kekuatan fisik, terutama nafas, pengujung benar-benar diuji. Perjalan ini sekaligus sangat baik untuk menempa fisik dan psikis pengunjung dengan laku mendekatkan diri kepada alam dengan sedekat-dekatnya.

Tibalah di ujung jalur tangga sebuah pelataran berumput hijau pada sebidang tanah datar di sisi bukit anak Gunung Sumbing. Di sinilah Candi Selogriyo berdiri dengan anggunnya.

Selogriyo3

Candi Selogriyo merupakan candi Hindu yang dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Sanjaya. Dengan ciri bangunan yang ramping nan langsing, candi ini beratap susun tiga dengan mahkota sebentuk stupa bulat yang mungkin merupakan pengaruh nafas bangunan candi Budha. Adapun di ketiga sisi, terdapat hiasan relung dengan patung Shiwa dalam berbagai posisi berdiri. Di beberapa sudut juga nampak patung Shiwa yang mengendarai Lembu Andini. Sedangkan salah satu sisi candi merupakan pintu yang menghubungkan ke dalam ruang dalam bangunan candi. Dulunya ruang dalam tersebut tentu digunakan untuk bersembahyang atau bermeditasi dengan segala kelengkapan arca atau altarnya. Namun kondisi saat ini, ruang dalam nampak suram dan lembab dan tidak ada satupun patung pujaan yang tersisa.

Menikmati keanggunan Candi Selogriyo akan membawa kita kepada suasana keheningan yang sesekali diselingi desir suara angin yang turun dari puncak Sumbing. Kesejukan suasana gunung, kesunyian yang menghanyutkan, seringkali membawa kita kepada suasana kantuk. Di area pelataran candi telah dilengkapi dengan pondok terbuka yang dapat dipergunakan untuk beristirahat sambil terus menenggelamkan diri dalam eksotika masa lalu yang mengharu biru. Candi Selogriyo dengan berbagai latar sudutnya merupakan sebuah masterpiece hasil karya adiluhung para leluhur yang sangat membanggakan dan harus senantiasa dilestarikan.

Selogriyo4  Selogriyo5

Ada satu catatan kecil sebagai bentuk kerpihatinan dimana kondisi struktur bangunan candi sudah sangat rentan terhadap getaran, terlebih jika terjadi gempa bumi yang cukup kuat. Sementara ini untuk mengamankan bangunan candi, pihak berwenang memasang sabuk yang mengikat bagian tubuh candi. Mungkin untuk selanjutnya perlu dipikirkan untuk merestorasi struktur bangunan agar tidak perlu lagi memakai sabuk pengaman dan keindahan candi dapat tampil dengan lebih sempurna.

Ngisor Blimbing, 15 Agustus 2015

Air Terjun Sekar Langit – Magelang

Sekar Langit1Meskipun sangat awam dengan ilmu cuaca dan perikliman, namun hampir setiap lapisan masyarakat akhir-akhir sangat akrab dengan istilah elnino. Konon elnino inilah yang menyebabkan musim penghujan mengalami kemunduran, sehingga musim kemarau tahun ini menjadi berlangsung semakin lama. Dan kitapun tahu jika musim kemarau sudah melanda, maka kekeringan akan melanda sebagian wilayah tanah air.

Tidak hanya sungai mulai susut bahkan mengering airnya. Tidak hanya perbedaan suhu udara yang sangat ekstrim antara waktu siang dan malam hari. Kemarau tentu saja menyebabkan terganggunya pola tanam yang berujung kepada kegagalan panen, terutama akibat tidak tercukupinya pasokan air.

Bayangkan jika pada suatu siang bolong matahari bersinar dengan sangat teriknya, tentu saja kita merasa sangat kepanasan. Kepanasan selanjutnya memicu rasa haus yang tiada terkira. Dalam situasi demikian, apakah hal yang menyenangkan untuk dilakukan? Bagaimana dengan berendam atau kekeceh di dalam aliran air sungai nan jernih dan sejuk menyegarkan? Memangnya masih ada air bening mengalir di masa kemarau yang teramat sangat panjang kali ini?

Tentu saja di tengah kondisi dimana kebanyakan daerah mengalami kekeringan, tidak semua daerah mengalami kondisi yang sama. Tentu ada satu-dua daerah masih menyisakan mata air yang tetap ajeg mengeluarkan kandungan suci perut bumi. Di beberapa daerah, terutama di bagian pedalaman pada puncak gunung atau perbukitan, mata air masih terus mengalirkan airnya. Meskipun tentu saja alirannya sedikit-banyak mengalami penyusutan, tetapi bisa dikatakan debit alirannya hanya susut sangat sedikit.

Sekar Langit2

Di wilayah Kabupaten Magelang, masih terdapat beberapa mata air yang bahkan masih terus mengalirkan air terjun yang cukup besar. Salah satunya adalah air terjun yang terletak di bawah kaki gunung Telomoyo yang merupakan perbatasan antara Magelang, Semarang dan juga wilayah Salatiga. Air terjun ini dikenal secara luas oleh masyarakat setempat sebagai air terjun Sekar Langit.

Air terjun Sekar Langit merupakan salah satu wisata alam yang menjadi andalan Kecamatan Grabag. Sedikit bergerak dari perempatan Pasar Grabag ke arah utara akan terdapat sebuah simpangan mengarah ke kanan. Dengan menyusuri jalan beraspal berkelok yang samakin menanjak, kita akan mencapai lokawisata Air Terjun Sekar Langit yang berada di Desa Tlogorejo.

Sekar Langit3   Sekar Langit4

Berada di sudut desa, terhampar sebuah lapangan berumput dengan empat patok bambu tinggi yang biasa dipergunakan untuk pangkalan lomba balap atau pacu burung merpati, istilah populernya adalah tomprang. Lapangan inilah yang sekaligus difungsikan sebagai lahan parkir bagi para pengunjung yang akan berwisata di Air Terjun Sekar Langit. Tepat di sudut lapangan berdiri gagah sebuah gapura beratap tumpang limas segi empat yang merupakan tempat penjaga dan menjadi loket penjualan karcis tanda masuk. Hanya dengan merogoh kocek lima ribu rupiah untuk setiap pengunjung, kita tidak akan rugi dan menyesal untuk menikmati kesejukan air di Sekar Langit.

Setelah melewati gerbang, pengunjung akan dibawa menapaki tangga menurun yang menghubungkan dengan sebuah jalur jalan setapak selebar dua meter. Jalur di tepian tebing yang sudah dicor block dengan rapi ini dipagari dengan deretan rumpun bambu. Ada beraneka macam bambu yang ada, seperti bambu petung, apus, ampel, legi, juga ori. Rimbunnya rumpun bambu dan jenis pepohonan lain menghadirkan suasana sejuk dengan semilir angin yang juga menghantarkan irama lagu alam yang didendangkan antar ruas bambu yang saling bergesekan maupun daun serta clumpring kering yang berserakan. Menapi jalur ini, pengunjung tetap harus waspada karena di sisi kiri tebing yang merupakan tepian aliran sungai tidak dipagari.

Sekar Langit5  Sekar Langit6 Sekar Langit7  Sekar Langit8

Berjalan kurang lebih satu kilometer, pengunjung akan melintasi sebuah jembatan gantung yang seolah menjadi gerbang pengantar dimana deru air sudah mulai terdengar dengan riuhnya. Di atas jembatan ini pula pengunjung sudah dapat melihat peandangan air terjun dari sisi kejauhan. Tepat di ujung jembatan gantung yang beralaskan tatanan ruas bambu terdapat bango bambu, semacam tempat istirahat bagi pengunjung yang perlu melepas lelah. Di bango ini pula dijual sekedar minuman ringan dan makanan kecil.

Melenjutkan titian jalanan selepas jembatan gantung, pengunjung masih perlu menapaki jalanan yang sedikit menanjak sebelum akhirnya Air Terjun Sekar Langit membentang di depan mata. Perjalanan kaki yaang dilalui sekian lama dan menjadikan sedikit kelelahan terasa langsung sirna oleh hempasan embun air yang berasal dari curahan air terjun.

Sekar Langit9

Air Terjun Sekar Langit memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter. Air dari ketinggian tebing seolah tercurah dengan bebasnya di antara relung bebatuan seolah menjadi perlambang kebebasan dan kemerdekaan alam anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Setelah menapaki beberapa tingkatan tebing, air langsung tercurah di dasar cekungan yang membentuk sebuah telaga nan asri. Di telaga bening inilah kita dapat sepuasnya kekecehan, berendam diri, bahkan mandi kungkum dan berenang. Sungguh sebuah keasyikan dalam balutan kenikmatan yang sungguh sulit tergambarkan.

Di samping keindahan pesona penampakan air terjunnya, Sekar Langit juga menyimpan sebuah legenda yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Konon di telaga Sekar Langit inilah terjadi kisah pengelanaan para bidadari yang turun dari kahyanga. Beningnya air telaga dan keasrian alam sekitarnya telah menjadikan para bidadari tersebut menikmati mandi bersama. Terkisahlah seorang anak muda bernama Jaka Tarub yang mendapati sekumpulan bidadari cantik sedang mandi. Entah firasat dari mana, Jaka Tarub kemudian mengambil salah satu pakaian bidadari tersebut.

Sekar Langit10

Pada saat para bidadari selesai mandi, satu per satu mereka mengenakan pakaiannya kembali dan bergegas terbang kembali ke kahyangan. Adalah bidadari bernama Dewi Nawangwulan yang memiliki baju kuning emas tidak dapat menemukan pakaiannya. Dikarenakan hari semakin siang para bidadari ketakutan ketahuan para dewa telah turun ke bumi dan mandi di telaga, maka bidadari yang lain segera pergi meninggalkan Nawangwulan. Tinggallah Nawangwulan seorang diri.

Di tengah kekalutan menghadapi hilangnya pakaiannya, Nawangwulan mengucap sayembara bahwa siapapun yang menolongnya akan disasmitani atau membaktikan diri, jika perempuan maka akan dijadikan saudara dan apabila laki-laki akan dijadikan suaminya. Akhirnya keluarlah Jaka Tarub menjadi penolong Nawangwulan. Akhirnya Jaka Tarub dan Nawangwulan menjadi suami istri dan hidup rukun bahagia.

Konon dari legenda inilah air terjun di Grabag ini dikenal sebagai Sekar Langit. Sekar berarti bunga atau kembang. Dengan demikian air terjun ini seolah menggambarkan jatuhnya bunga atau kembang langit yang tidak lain adalah Dewi Nawangwulan tadi.

Ngisor Blimbing, 13 Agustus 2015

Ngepos di Pagi Hari

Ngepos2Sekira satu minggu selepas Idhul Fitri kemarin, saya berkesempatan nggiring para cucu Mbah Kakung beranjangsana di Pos Pengamatan Merapi di Dusun Ngepos, Srumbung – Magelang. Dengan menembus kabut tipis sisa embun semalam, cuaca pagi itu memang cukup membuat tulang menggigil kedinginan. Jalanan beraspal yang berliku dan semakin menanjak membawa kami melintasi beberapa dusun tetangga, seperti Gejayan, Babadan, Nglembar, Bendan, Waru Doyong, Krajan, Ngagrong, dan pastinya Salam. Selepas menyeberangi Kali Putih sampailah kami di kerumunan Pasar Ngepos.

Pasar Ngepos merupakan salah satu dari dua pasar resmi yang ada di wilayah kecamatan kami. Hari pasaran di pasar ini senantiasa selang-seling atau bergantian dengan Pasar Srumbung di dekat kecamatan. Beruntung pada pagi tersebut sedang gilirannya Pasar Ngepos berhari pasaran. Walhasil, semenjak Subuh para pedagang sudah mulai sibuk menata dagangannya dan para pembelipun juga sudah banyak yang berdatangan.

Sebagai pasar tradisional yang berada di tengah sentra pertanian, sudah pasti pasar ini menjadi pintu gerbang pertama keluarnya komoditas hasil pertanian di wilayah Merapi sisi barat. Aneka ragam sayur-mayur yang ditanam dari kesuburan abu Merapi dengan mudah dicari di sini. Ada sayur sawi, jetsin, lebor, kubis, kentang, buncis, kapri, kacang panjang, tomat, dll. Ada pula aneka ragam rempah dan bumbon, seperti cabe, bawang, jahe, kencur, dll. Sebagai sentra tanaman salak pondoh, tentu saja banyak warga yang menjualkan panenan dari kebunnya di pasar ini.

Ngepos4 Ngepos5

Selain melayani penjualan produk pertanian setempat, di pasar ini sudah pasti juga dijajakan aneka barang kebutuhan rumah tangga. Ada pula peralatan dapur, peralatan pertanian, hingga sapu lidi dan kain pel. Untuk urusan jajanan pasar, di pasar ini bisa ditemukan aneka jajanan kue tradisional, semisal gatot, thiwul, ongol-ongol, bubur terik, hingga rengginan dan enting-enting jahe. Bagi kebutuhan warga sekitar, keberadaan Pasar Ngepos sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Selain keberadaan Pasar Ngepos yang ramai dengan kesibukan pedagang dan pembelinya, di samping kerumunan pasar tepat di ujung pertigaan berdiri dengan kokohnya sebuah bangunan bentuk panggung setinggi kira-kira 25 m. Rumah panggung inilah yang merupakan pos pengamatan untuk memantau aktivitas gunung Merapi yang merupakan gunung teraktif di dunia. Pos yang telah dibangun sebagai peninggalan Belanda inilah yang menjadikan tempat ini disebut dengan Dusun Ngepos.

Rumah panggung yang disangga dengan rangkaian kerangka besi yang menjadi pos pengamatan gunung Merapi tersebut telah berdiri semenjak tahun 1935. Tentu saja tahun tersebut hanyalah merupakan waktu pada saat menari dibangun. Adapun keberadaan pos pengamatan atau mungkin menara pemantau yang lama sudah ada jauh sebelum masa itu dan menjadi cikal bakal penamaan Dusun Ngepos itu sendiri.

Ngepos3Pos pengamatan gunung Merapi di Ngepos merupakan satuan teknis pelaksana di bawah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Berada pada ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan air laut menjadikan wilayah ini termasuk kaki gunung Merapi yang berhawa sejuk, bahkan sangat dingin sebagaimana pada saat kami dolan kemarin.

Selain bangunan panggung pengamatan visual yang dilengkapi dengan peralatan teropong jarak jauh, di bawah bangunan menara juga terdapat semacam taman alat untuk pengamatan berbagai kondisi udara maupun cuaca setempat. Diantara alat pengamatan yang ada cuaca yang ada adalah termometer dan higrometer untuk pengukuran temperatur dan kelembaban udara. Ada pula regenmenter atau peralatan penakar curah hujan yang terjadi.

Di samping melihat-lihat aneka peralatan pengamatan yang ada di pelataran bawah maupun di dalam kantor, hal yang paling menantang ketika mengunjungi pos ini adalah kesempatan untuk menaiki tangga menara dan naik ke atas rumah panggung yang sangat mendebarkan. Hanya dengan injakan anak tangga dari lembaran balok tipis, siapapun akan merinding ketika menaiki dan melihat secara langsung arah bawah menara. Debar jantung bertambah kencang dikarenakan di sisi kanan dan kiri tangga naik juga hanya dipagari dengan besi tipis yang terasa seolah-olah dapat patah setiap saat.

Ngepos1 Ngepos2

Rasa dag-dig-dug dan was-was pada saat menaiki anak tangga akan terbayar dengan sebuah ketakjuban pada saat kita berhasil sampai di puncak menara pos pengamatan gunung Merapi ini. Bukan soal dapat melihat secara dekat peralatan-peralatan teropong di dalam pos, akan tetapi yang lebih mengasyikkan adalah pemandangan sekitar yang dapat diamati dengan padangan lepas ke segala penjuru mata angin. Di sisi utara (timur) tentu saja menjulang dengan perkasanya puncak Merapi yang senantiasa mengepulkan asap putihnya.

Adapun di sisi bawah arah selatan, barat, dan utara nampak terhampar rumah-rumah penduduk yang berjajar memenuhi perkampungan Dusun Ngepos. Keramaian pasar Ngepos dan rentang jembatan gantung di Kali Putih nampak sangat menakjubkan dipandang dari atas menara. Sungguh sebuah pengalaman yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, kecuali Anda datang langsung menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Meskipun penuh perjuangan untuk menepis rasa dag-dig-dug ketika menuju puncak menara, namun setiap pengunjung pasti akan senantiasa ketagihan untuk kembali menaiki menara pada kesempatan yang lain jika berkunjung lagi ke pos ini.

Ngepos6Anda pernah merasakan hal yang sama? Jangan sampai Anda ketinggalan pengalaman yang menantang ini. Datanglah sekali-kali ke Pos Pengamatan Gunung Merapi di Dusun Ngepos tersebut.

Ngisor Blimbing, 3 Agustus 2015

Kethoprak Ampak-ampak Katresnan

AAK1Alkisah, Prabu Ambaketawang yang bertahta di Keraton Karang Kates memiliki dua orang putri nan rupawan. Putri tersebut bernama Ambar Kinasih dan Ambar Asmara. Mereka berdua memiliki kakak sulung bernama Pangeran Sumirat. Pangeran ini terkenal memiliki kedigdayaan dalam ilmu olah kanuragan.

Demi mendapatkan jodoh bagi kedua putrinya, Prabu Ambarketawang menggelar sayembara adu kesaktian. Siapa lelaki yang berhasil mengalahkan kesaktian Pangeran Sumirat akan dijodohkan sekaligus dengan kedua putrinya, Ambar Kinasih dan Ambar Asmara.

Pada hari yang telah ditentukan, banyak para pengaran, para ksatria, dan pendekar sakti yang mengikuti sayembara perjodohan di Karang Kates tersebut. Mareka satu per satu beradu kesaktian dengan peserta yang lain, sebelum pemenang terakhir berhadapan dengan Pangeran Sumirat. Hingga saat terakhir, ternyata tidak ada satupun peserta sayembara yang mampu mengalahkan kesaktian Pangeran Sumirat.

Pada detik terakhir saat keputusan hasil sayembara akan diumumkan, datanglah rombongan dari Keraton Sriwedari. Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Prabu Sentanu, seorang duda tua yang juga bertekad mengikuti sayembara. Karena memang keputusan belum ditetapkan, maka raja tua tersebut diberikan kesempatan untuk langsung melawan Pangeran Sumirat.

Di luar dugaan penampilan fisiknya yang sudah renta, ternyata Prabu Sentanu berhasil mengalahkan Pangeran Sumirat. Dengan berat hati Prabu Ambarketawang mengumumkan bahwa pemenang sayembara dan yang berhak menerima kedua putrinya adalah Prabu Sentanu dari Keraton Sriwedari.

Namun seketika mendengar keputusan romonya dan mengetahui bahwa pemenang sayembaranya adalah raja duda yang sudah tua renta, Ambar Kinasih dan Ambar Asmara menyatakan menolak perjodohan tersebut. Mereka berdua memilih untuk meninggalkan arena tempat sayembara berlangsung.

Bagaimanapun nasi telah menjadi bubur, sabda telah dituturkan menjadi ketetapan raja. Meskipun dalam lubuk sanubari terasa berat menerima calon menantua raja duda yang tua renta, namun Prabu Ambarketawang menyanggupi untuk membujuk kedua putrinya untuk dijodohkan dengan Prabu Sentanu. Ia meminta waktu sepasar hari, alias lima hari untuk memberikan pengertian kepada dua putrinya.

Di luar dugaan, atas kedunguan kedua patihnya Prabu Sentanu justru memberikan waktu dua pasar. Ia dibisiki bahwa kalau hanya diberi waktu sepasar, Prabu Ambarketawang akan mengingkari janji dengan hanya menyerahkan satu orang putrinya saja. Jika dua pasar berarti kedua putrinya secara utuh yang akan diserahkan. Inilah awal tragedi, prahara alias ampak-ampak cinta yang menyelimuti langit Karangkates.

Kisah di atas merupakan penggalan cerita awal lakon kethoprak humor berjudul Ampak-ampak Katresnan yang dipentaskan oleh Grup Kethoprak Remaja Kopi Susu Kota Magelang dengan dukungan Teater Bias dan Kelompok Musik Jodhokemil. Kisah yang disutradarai senimana berbakat, Gepeng Nugroho tersebut digelar di Alun-alun Kota Magelang pada Sabtu, 25 Juli 2015 mulai pukul 21.00 WIB hingga selesai. Pagelaran pentas seni kethoprak tersebut merupakan salah satu event dalam mendukung program Ayo Ke Magelang 2015 yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Magelang.

Ngisor Blimbing, 1 Agustus 2015

Dua Tahun Gus Mul Berkibar

Gus Mul? Siapa yang tidak kenal dengan blogger kondhang kaloka dari kota gethuk ini. Goresan postingannya yang trengginas bin lucu di samping menghiasi tampilan blog pribadinya di www.agusmulyadi.com, www.agusmulyadi.web.id maupun di www.gusmul.com, bualan dagelannya juga banyak terpampang di www.merdeka.com. Seberapa Sampeyan mengenal akrab dengan tokoh kita yang mengaku tidak pernah lulus pesantren namun bisa mendapatkan panggilan Gus ini?

Gus Mul bernama lengkap Agus Mulyadi. Jadi Gus Mul merupakan akronim alias kependekan dari nama Agus Mulyadi tersebut! Lho baru ngeh? Tentu saja kita tidak akan sangsi jika Gus Mul mengaku lahir di bulan Agustus, bulan yang sangat keramat bagi bangsa Indonesia. Demikian pulakah sosok Gus Mul juga memiliki kharisma keramat? Ingin tahu asal-usul sebutan Gus Mul nggak?

Al kisah, Agus Mulyadi sudah gentur menekuni dunia perbloggeran selepas sekolah di SMA Tidar. Dia bahkan pernah mengembara di tatar Sukabumi dan Tanah Ngayojokarta sebagai layouter majalah dan operator warnet. Sejak itu pulalah ia meluncurkan blog getuk magelangan sebagai semangat nasionalisme terhadap kota kelahiran tercintanya.

Sekian lama ngeblog, barulah di awal tahun 2013 ia menampakkan batang hidunya di salah satu gethukan, kopdarannya Bala Tidar Magelang. Tak berselang lama, ia turut menjadi duta Bala Tidar dalam perhelatan Asean Blogger Festival Indonesia (2013) di Kota Bengawan Surakarta. Di sanalah ia mulai mengibarkan diri sebagai seleblogger spesialis dagelan mataraman sebagaimana yang ia warisi dari Pak Trimo, bapaknya yang memang artis kethoprak tersohor pada eranya.

Nah tatkala di Solo itu ia masih aktif menggunakan akun twitter @agusmulyadi_… … (saya agak lupa akun persisnya). Dalam suatu perbincangan ia mengungkapkan kegundahannya. Dalam dunia online ia merasa namanya kurang branding. Ia ingin merumuskan sebuah nama yang singkat, simpel, mudah diingat dan mencerminkan sebuah karakter yang khas, unik, dan kuat. Dia sempat menyinggung pilihan identitas yang sering saya pergunakan di dunia online. Menurutnya dengan menambahkan satu kata yang unik di depan nama asli saya, ternyata ada kesan dalam yang bisa tergambar.

Gus MulMendengar keluh-kesahnya tersebut, tentu saja saya tidak tinggal diam. Melalui sebuah perenungan singkat di depan Pendopo Pura Mangkunegaran yang keramat, saya sampaikan pemikiran yang terlintas pada saat itu. “Kenapa nggak mengusung Gus Mul?” usul saya saat itu. Namamu kan Agus Mulyadi. Satu suku kata diambil dari bagian akhir kata agus, dan satu kata diambil dari permulaan kata mulyadi. Menurut saya nama sandi itu sudah sangat unik dan berbobot.

Memang pada saat itu Gus Mul tidak langsung mengiyakan atau menolak usulan saya. Tetapi pada suatu postingan yang saya dedikasikan untuk memperkenalkan sosok Agus Mulyadi di profil Pendekar Tidar#17 yang sempat saya tulis sepulangnya dari Solo, saya selipkan lagi profokasi Gus Mul. Dan dalam beberapa kesempatan sepanjutnya iapun meluncurkan akun twitter baru @gusmul ketika bercengkrama dengan Bang Qomar. Mulai saat itulah Agus Mulyadi menyandangkan diri sebagai Gus Mul. Waktu itu, kira-kira tepat dua tahun yang lalu.

Semoga dengan kisah ini Anda para pecinta Gus Mul lebih bisa menghayati celotehan guyon matonnya yang sarat dengan pesan nilai kehidupan yang dalam sebagai kumpulan tulisannya dalam Bergumul dengan Gus Mul.

Lor Kedhaton, 5 Mei 2015.

.

Bulan Merah – Novel Keroncong Perjuangan

Bulan MerahSeorang kakek berkisah sebuah dongeng kepada cucunya tentu saja sesuatu yang lumrah dan wajar. Dongeng memang dipaido keneng, bisa sesuatu yang memang hanya sebuah cerita rekaan namun bisa juga merupakan sebuah kisah yang memang nyata-nyata pernah ada. Antara rasa penasaran ini pulalh yang dirasa Bre tatkala kakeknya mengurai cerita tentang Bulan Merah.

Bulan Merah konon merupakan sebuah kelompok musik keroncong eksis secara misteris di paruh jaman pergerakan nasional tatkala republik ini masih digenggam kekuasaan kolonialis Belanda. Adalah Bumi dan Siti, keponakan Rawi yang mewarisi segala bakat dan darah seni pamannya yang sepanjang umur hidupnya digeluti dalam dunia musik keroncong. Mereka sebenarnya anak dari Said, seorang tokoh pembawa pesan perjuangan, alias mata-mata atau telik sandi. Ketika pada suatu ketika aksi mereka dipergoki patroli Belanda, berondongan peluru memberondong tubuh Said dan istri hingga menjadikan Bumi dan Siti yatim piatu hingga untuk selanjutnya ia diasuh oleh Rawi.

Demi tekad untuk melanjutkan perjuangan ayahnya sebagai pembawa pesan perjuangan, Bumi dan Siti dibantu oleh Ratna Melati membentuk sebuah grup musik keroncong keliling yang kemudian diberi nama Bulan Merah. Turut menggawangi Bulan Merah adalah Sumo, Sastro, Kusno, Priambodo, dan Ku Chen. Bertindak selaku biduan atau vokalis adalah duet Siti dan Ramas Suryo.

Berbeda dengan umumnya kelompok keronrong yang eksis pada jamannya, Bulan Merah merupakan kelompok legendaris yang misteris. Dikarenakan sejak awal pendiriannya diniatkan untuk menjadi pembawa pesan rahasia, maka kelompok ini juga bergerak secara kucing-kucingan untuk menghindari mata-mata maupun patroli pasukan Belanda. Gerak Bulan Merah menjadi sangat rahasia dan hanya diketahui secara persis oleh para pejuang terpercaya. Inilah yang menjadikan nama Bulan Merah hanya sempat terngiang dari mulut ke mulut tanpa setiap orang yang membicarakannya pernah menyaksikan pentas kelompok ini dengan mata kepalanya sendiri. Tidak mengherankan jika Bulan Merah kemudian dianggap antara ada dan tiada. Ya, sangat misterius antara realita atau sekedar mitos.

Dalam pelaksanaan pentas Bulan Merah justru menyelenggarakannya bersamaan waktu dengan pentas-pentas lain yang berlangsung terbuka. Hal ini merupakan sebuah strategi khusus agar orang-orang yang datang ke Bulan Merah benar-benar orang yang berkaitan dengan perjuangan anak bangsa dan sekaligus untuk menghindari kecurigaan patroli Belanda. Pada pagi buta sehari sebelum Bulan Merah naik panggung, mareka menyebar selebaran gelap dengan kalimat singkat. “Ini Malem. Pertoendjoekan Boelan Merah. Bermaen di Kebon Djati. Djam 7.30” Demikian kira-kira pesan singkat yang mereka tempelkan di pohon-pohon pinggiran jalan.

Lalu bagaimana Bulan Merah menyampaikan pesan rahasia perjuangan? Tentu tidak secara terbuka dengan menyampaikan pidato, tentu saja menyampaikan pesan lewat syair lagu. Lewat syair lagu? Ya, justru disinilah kecerdasan Bumi selaku pimpinan dalam menggubah setiap syair dengan sisipan pesan-pesan berita perjuangan yang disampaikan secara berantai kepada para pejuang yang hadir dalam pertunjukan Bulan Merah.

Pentas Bulan Merah biasa diawali dengan sapaan lagu Boelan Menjapa Kawan. Puncaknya adalah pesan yang dikemas dalam gubahan Krontjong Padhang Mboelan.

Pada kesempatan pertujukan di Batavia, justru patroli Belanda berhasil mengendus gerak Bulan Merah. Untunglah sebelum patroli menangkap para personil Bulan Merah, potongan kertas-kertas pesan rahasia sempat dimusnahkan dengan cara dibakar. Interogasi mendalam yang dilakukan tetap tidak bisa menguak hubungan Bulan Merah dengan gerakan para pejuang. Merekapun lolos dari penjara.

Kejadian di Batavia mengharuskan Bulan Merah harus lebih berhati-hati dalam bergerak. Demi keamanan, merekapun memutuskan untuk pindah dari markas lama yang merupakan rumah milik Paman Rawi. Tidak tanggung-tanggung, mereka menyingkir hingga jauh ke pedalaman Boyolali yang asri. Namun demikian, Bulan Merah terus saja berpentas keliling menyampaikan pesan rahasia untuk memperjuangkan kemerdekaan Nusantara. Hingga akhirnya kemerdekaan itu benar-benar tergenggam di tangan rakyat, merekapun mendendangkan pesan kemerdekaan.

Apakah misi pembawa pesan perjuangan berkahir tatkala kemerdekaan benar-benar teraih? Bulan Merah yang lahir dari akar penderitaan rakyat tidak pernah berhenti berjuang atas nama rakyat. Tatkala perjuangan melawan penjajah asing berakhir, ternyata tidak secara otomatis menjadikan rakyat benar-benar merdeka dan sejahtera. Justru ada saat-saat dimana rakyat justru menderita di bawah kekuasaan bangsa sendiri. Inilah kira-kira situasi di masa orde lama yang semakin melenceng dari amanat penderitaan rakyat. Bulan Merahpun kembali bergerak memberikan pesan kritikan kepada pemerintah.

Di masa akhir pemerintahan orde lama, terjadi pembunuhan terhadap beberapa jenderal. Sebagai pihak pengkritik pemerintah yang dianggap berseberangan, Bulan Merah dianggap terlibat turut mendukung kelompok yang dicurigai sebagai dalang pembunuhan tersebut. Melalui sebuah operasi tentara, pengejaran terhadap Bulan Merah dilakukan hingga tepian hutan Wonolelo di batas Merapi-Merbabu. Dalam peristiwa tersebut semua personil Bulan Merah dihabisi. Namun sejarah kemudian mencatat ada satu personil yang lolos dari maut, itulah Ku Chen yang kemudian dipertemukan dengan kakek Bre. Akhirnya teka-teki di benak Bre terjawab bahwa Bulan Merah bukan sekedar mitos yang didongengkan kakeknya.

Rangkaian kisah perjalanan Bulan Merah, sebuah kelompok musik keroncong pembawa pesan rahasia, ini merupakan kisah novel heroik yang dikemas sangat apik oleh Gin alias Ginanjar Teguh Iman. Dalam beberapa kesempatan saya memang pernah bertemu dengan Gin. Akan tetapi obrolan panjang lebar dengan salah satu penggerak Komunitas Nulis Buku Magelang ini sering kami lakukan melalui chatting di media online. Sekian lama buku ini terbit, namun baru di awal April ini saya dipertemukan novel Bulan Merah ini di sebuah toko buku. Tanpa pikir panjang tentu saja langsung memboyongnya pulang dan segera membacanya.

Alur yang dibangun Gin dalam Bulan Merah ini memang unik. Kisah digali dari sebuah kisah yang tengah dikisahkan oleh seorang kakek kepada Bre, cucunya. Meski kisah dibeber melalui kisah flashback namun justru membuah cerita seolah-olah benar-benar hidup dan membawa pembaca tenggelam ke dalam suasana haru-biru perjuangan di masa pergerakan merebut kemerdekaan.

Membaca di bagian awal buku ini saya justru menjadi terkesima dengan pengetahuan penulis yang cukup mendalam mengenai seluk beluk peralatan musik keroncong. Bagaimana Gin menyinggung asal-usul kata keroncong yang berasal dari bunyi “crong” ukelele cuk menjadi sebuah pengetahuan baru bagi pembaca. Demikian halnya uraian masing-masing fungsi peralatan mulai ukelele cak dan cuk, biola, celo, kontrabas, hingga fluite sungguh meyakinkan seolah-olah berasal dari seorang penggelut musik keroncong profesional.

Buku setebal 250-an halaman ini meski diukir pada kertas coklat yang seringkali melelahkan mata, namun dengan pilihan font dan jarak spasi yang pas tetap nyaman di mata. Akan tetapi ada sedikit rasa penasaran yang tidak sempat tertemukan jawab oleh kebanyakan pembaca novel ini, yaitu hadirnya kata-kata voorspel, tussenpel, dan kadensa yang seolah menjadi pembatas buku yang mungkin terbagi menjadi tiga bagian besar.

Buku ini sangat unik di tengah novel populis yang ditulis umumnya penulis muda dewasa ini. Novel dengan latar perjuangan sudah saatnya hadir kembali di tengah masyarakat yang kini justru semakin terkoyak rasa nasionalismenya dan justru terdesak oleh sikap individualisme. Kahadiran buku ini mungkin bisa menggali kesadaran kebangsaan, khususnya di kalangan generasi muda.

Sebagai penulis kelahiran dan hingga kini tinggal di Kota Tidar Magelang, Gin sungguh patut diacungi jempol dengan mengangkat beberapa nama tempat yang ada di Magelang, seperti Wonolelo, Sawangan, menjadi bagian setting lokasi novelnya. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kesan tersendiri bagi pembaca yang asli orang Magelang maupun orang-orang yang pernah memiliki kenangan di Magelang. Langkah ini sekaligus bukti komitmen seorang Gin untuk turut menggaungkan nama Magelang agar lebih dikenal lagi oleh saudara sebangsa setanah air di belahan wilayah yang lain.

Melalui novel Bulan Merah ini, Magelang harus turut bangga. Diantara sekian banyak para penulis dengan segudang karya tulisnya, Gin termasuk penulis yang telah membuktikan bahwa karyanya layak dibukukan untuk dibaca banyak orang. Tidak hanya pembaca di Magelang, tetapi tentu saja pembaca di seluruh pelosok tanah air. Mudah-mudah rintisan Gin dan juga beberapa penulis Magelang yang telah berhasil membukukan tulisannya ini semakin menggugah tumbuh kembangnya kesusastraan di Bhumi Tidar tercinta.

Ngisor Blimbing, 11 April 2015

RESENSI:

Judul Buku: Bulan Merah – Kisah Para Pembawa Pesan Rahasia

Penulis: Gin

Penerbit: Qanita, Mizan Group Bandung

Cetakan I, Agustus 2014

ISBN 978-602-1637-33-3

256 h; 20,5 cm