Bulan Merah – Novel Keroncong Perjuangan

Bulan MerahSeorang kakek berkisah sebuah dongeng kepada cucunya tentu saja sesuatu yang lumrah dan wajar. Dongeng memang dipaido keneng, bisa sesuatu yang memang hanya sebuah cerita rekaan namun bisa juga merupakan sebuah kisah yang memang nyata-nyata pernah ada. Antara rasa penasaran ini pulalh yang dirasa Bre tatkala kakeknya mengurai cerita tentang Bulan Merah.

Bulan Merah konon merupakan sebuah kelompok musik keroncong eksis secara misteris di paruh jaman pergerakan nasional tatkala republik ini masih digenggam kekuasaan kolonialis Belanda. Adalah Bumi dan Siti, keponakan Rawi yang mewarisi segala bakat dan darah seni pamannya yang sepanjang umur hidupnya digeluti dalam dunia musik keroncong. Mereka sebenarnya anak dari Said, seorang tokoh pembawa pesan perjuangan, alias mata-mata atau telik sandi. Ketika pada suatu ketika aksi mereka dipergoki patroli Belanda, berondongan peluru memberondong tubuh Said dan istri hingga menjadikan Bumi dan Siti yatim piatu hingga untuk selanjutnya ia diasuh oleh Rawi.

Demi tekad untuk melanjutkan perjuangan ayahnya sebagai pembawa pesan perjuangan, Bumi dan Siti dibantu oleh Ratna Melati membentuk sebuah grup musik keroncong keliling yang kemudian diberi nama Bulan Merah. Turut menggawangi Bulan Merah adalah Sumo, Sastro, Kusno, Priambodo, dan Ku Chen. Bertindak selaku biduan atau vokalis adalah duet Siti dan Ramas Suryo.

Berbeda dengan umumnya kelompok keronrong yang eksis pada jamannya, Bulan Merah merupakan kelompok legendaris yang misteris. Dikarenakan sejak awal pendiriannya diniatkan untuk menjadi pembawa pesan rahasia, maka kelompok ini juga bergerak secara kucing-kucingan untuk menghindari mata-mata maupun patroli pasukan Belanda. Gerak Bulan Merah menjadi sangat rahasia dan hanya diketahui secara persis oleh para pejuang terpercaya. Inilah yang menjadikan nama Bulan Merah hanya sempat terngiang dari mulut ke mulut tanpa setiap orang yang membicarakannya pernah menyaksikan pentas kelompok ini dengan mata kepalanya sendiri. Tidak mengherankan jika Bulan Merah kemudian dianggap antara ada dan tiada. Ya, sangat misterius antara realita atau sekedar mitos.

Dalam pelaksanaan pentas Bulan Merah justru menyelenggarakannya bersamaan waktu dengan pentas-pentas lain yang berlangsung terbuka. Hal ini merupakan sebuah strategi khusus agar orang-orang yang datang ke Bulan Merah benar-benar orang yang berkaitan dengan perjuangan anak bangsa dan sekaligus untuk menghindari kecurigaan patroli Belanda. Pada pagi buta sehari sebelum Bulan Merah naik panggung, mareka menyebar selebaran gelap dengan kalimat singkat. “Ini Malem. Pertoendjoekan Boelan Merah. Bermaen di Kebon Djati. Djam 7.30” Demikian kira-kira pesan singkat yang mereka tempelkan di pohon-pohon pinggiran jalan.

Lalu bagaimana Bulan Merah menyampaikan pesan rahasia perjuangan? Tentu tidak secara terbuka dengan menyampaikan pidato, tentu saja menyampaikan pesan lewat syair lagu. Lewat syair lagu? Ya, justru disinilah kecerdasan Bumi selaku pimpinan dalam menggubah setiap syair dengan sisipan pesan-pesan berita perjuangan yang disampaikan secara berantai kepada para pejuang yang hadir dalam pertunjukan Bulan Merah.

Pentas Bulan Merah biasa diawali dengan sapaan lagu Boelan Menjapa Kawan. Puncaknya adalah pesan yang dikemas dalam gubahan Krontjong Padhang Mboelan.

Pada kesempatan pertujukan di Batavia, justru patroli Belanda berhasil mengendus gerak Bulan Merah. Untunglah sebelum patroli menangkap para personil Bulan Merah, potongan kertas-kertas pesan rahasia sempat dimusnahkan dengan cara dibakar. Interogasi mendalam yang dilakukan tetap tidak bisa menguak hubungan Bulan Merah dengan gerakan para pejuang. Merekapun lolos dari penjara.

Kejadian di Batavia mengharuskan Bulan Merah harus lebih berhati-hati dalam bergerak. Demi keamanan, merekapun memutuskan untuk pindah dari markas lama yang merupakan rumah milik Paman Rawi. Tidak tanggung-tanggung, mereka menyingkir hingga jauh ke pedalaman Boyolali yang asri. Namun demikian, Bulan Merah terus saja berpentas keliling menyampaikan pesan rahasia untuk memperjuangkan kemerdekaan Nusantara. Hingga akhirnya kemerdekaan itu benar-benar tergenggam di tangan rakyat, merekapun mendendangkan pesan kemerdekaan.

Apakah misi pembawa pesan perjuangan berkahir tatkala kemerdekaan benar-benar teraih? Bulan Merah yang lahir dari akar penderitaan rakyat tidak pernah berhenti berjuang atas nama rakyat. Tatkala perjuangan melawan penjajah asing berakhir, ternyata tidak secara otomatis menjadikan rakyat benar-benar merdeka dan sejahtera. Justru ada saat-saat dimana rakyat justru menderita di bawah kekuasaan bangsa sendiri. Inilah kira-kira situasi di masa orde lama yang semakin melenceng dari amanat penderitaan rakyat. Bulan Merahpun kembali bergerak memberikan pesan kritikan kepada pemerintah.

Di masa akhir pemerintahan orde lama, terjadi pembunuhan terhadap beberapa jenderal. Sebagai pihak pengkritik pemerintah yang dianggap berseberangan, Bulan Merah dianggap terlibat turut mendukung kelompok yang dicurigai sebagai dalang pembunuhan tersebut. Melalui sebuah operasi tentara, pengejaran terhadap Bulan Merah dilakukan hingga tepian hutan Wonolelo di batas Merapi-Merbabu. Dalam peristiwa tersebut semua personil Bulan Merah dihabisi. Namun sejarah kemudian mencatat ada satu personil yang lolos dari maut, itulah Ku Chen yang kemudian dipertemukan dengan kakek Bre. Akhirnya teka-teki di benak Bre terjawab bahwa Bulan Merah bukan sekedar mitos yang didongengkan kakeknya.

Rangkaian kisah perjalanan Bulan Merah, sebuah kelompok musik keroncong pembawa pesan rahasia, ini merupakan kisah novel heroik yang dikemas sangat apik oleh Gin alias Ginanjar Teguh Iman. Dalam beberapa kesempatan saya memang pernah bertemu dengan Gin. Akan tetapi obrolan panjang lebar dengan salah satu penggerak Komunitas Nulis Buku Magelang ini sering kami lakukan melalui chatting di media online. Sekian lama buku ini terbit, namun baru di awal April ini saya dipertemukan novel Bulan Merah ini di sebuah toko buku. Tanpa pikir panjang tentu saja langsung memboyongnya pulang dan segera membacanya.

Alur yang dibangun Gin dalam Bulan Merah ini memang unik. Kisah digali dari sebuah kisah yang tengah dikisahkan oleh seorang kakek kepada Bre, cucunya. Meski kisah dibeber melalui kisah flashback namun justru membuah cerita seolah-olah benar-benar hidup dan membawa pembaca tenggelam ke dalam suasana haru-biru perjuangan di masa pergerakan merebut kemerdekaan.

Membaca di bagian awal buku ini saya justru menjadi terkesima dengan pengetahuan penulis yang cukup mendalam mengenai seluk beluk peralatan musik keroncong. Bagaimana Gin menyinggung asal-usul kata keroncong yang berasal dari bunyi “crong” ukelele cuk menjadi sebuah pengetahuan baru bagi pembaca. Demikian halnya uraian masing-masing fungsi peralatan mulai ukelele cak dan cuk, biola, celo, kontrabas, hingga fluite sungguh meyakinkan seolah-olah berasal dari seorang penggelut musik keroncong profesional.

Buku setebal 250-an halaman ini meski diukir pada kertas coklat yang seringkali melelahkan mata, namun dengan pilihan font dan jarak spasi yang pas tetap nyaman di mata. Akan tetapi ada sedikit rasa penasaran yang tidak sempat tertemukan jawab oleh kebanyakan pembaca novel ini, yaitu hadirnya kata-kata voorspel, tussenpel, dan kadensa yang seolah menjadi pembatas buku yang mungkin terbagi menjadi tiga bagian besar.

Buku ini sangat unik di tengah novel populis yang ditulis umumnya penulis muda dewasa ini. Novel dengan latar perjuangan sudah saatnya hadir kembali di tengah masyarakat yang kini justru semakin terkoyak rasa nasionalismenya dan justru terdesak oleh sikap individualisme. Kahadiran buku ini mungkin bisa menggali kesadaran kebangsaan, khususnya di kalangan generasi muda.

Sebagai penulis kelahiran dan hingga kini tinggal di Kota Tidar Magelang, Gin sungguh patut diacungi jempol dengan mengangkat beberapa nama tempat yang ada di Magelang, seperti Wonolelo, Sawangan, menjadi bagian setting lokasi novelnya. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kesan tersendiri bagi pembaca yang asli orang Magelang maupun orang-orang yang pernah memiliki kenangan di Magelang. Langkah ini sekaligus bukti komitmen seorang Gin untuk turut menggaungkan nama Magelang agar lebih dikenal lagi oleh saudara sebangsa setanah air di belahan wilayah yang lain.

Melalui novel Bulan Merah ini, Magelang harus turut bangga. Diantara sekian banyak para penulis dengan segudang karya tulisnya, Gin termasuk penulis yang telah membuktikan bahwa karyanya layak dibukukan untuk dibaca banyak orang. Tidak hanya pembaca di Magelang, tetapi tentu saja pembaca di seluruh pelosok tanah air. Mudah-mudah rintisan Gin dan juga beberapa penulis Magelang yang telah berhasil membukukan tulisannya ini semakin menggugah tumbuh kembangnya kesusastraan di Bhumi Tidar tercinta.

Ngisor Blimbing, 11 April 2015

RESENSI:

Judul Buku: Bulan Merah – Kisah Para Pembawa Pesan Rahasia

Penulis: Gin

Penerbit: Qanita, Mizan Group Bandung

Cetakan I, Agustus 2014

ISBN 978-602-1637-33-3

256 h; 20,5 cm

Sokle Pasar Malam Sindas

Orang-orang kampung umum menyebutnya sokle. Sebagian yang lain lumrah pula mengistilahkannya sebagai sorot. Secara harfiah, sorot bisa dimaknai sebagai berkas sinar atau cahaya. Secara kasat mata, sorot memang memiliki wujud fisik berupa berkas sinar cahaya. Lebih khusus, biasa sorot dimaksudkan sebagai berkas sinar cahaya yang sangat kuat sehingga memiliki jarak jangkauan yang sangat jauh. Gampangnya ya seperti senter rakyasasa ngoten lho mas dab!

Sokle1Lha terus gek apa hubungan antara sokle alias sorot tadi dengan pasar malam? Lha yo jelas ada to mas dab! Sokle pada umumnya dipergunakan sebagai lampu penerang sebagaimana banyak dipakai di menara-menara rumah penjara. Sokle juga banyak dipergunakan untuk petunjuk navigasi pelayaran seperti banyak dipasang di menara mercusuar di tepian laut. Nah pada pasar malam yang biasa digelar di lapangan terbuka ataupun alun-alun, sokle juga dipergunakan sebagai penarik warga masyarakat untuk mendatangi keramaian sebuah pasar malam.

Beberapa hari lampau, tepatnya di Lapangan Dusun Sindas, wilayah Desa Pancuranmas Kecamatan Secang mulai digelar sebuah keramaian pasar malam. Satu hal yang pasti, sokle dengan kekuatan jangkauan berkas cahaya lebih dari 10 km menjadi penanda digelarnya sebuah pasar malam. Setiap senja selepas waktu Maghrib, di seputaran wilayah Kota Magelang Utara pada hari-hari digelarnya Pasar Malam Sindas masyarakat dapat melihat kilasan berkas cahaya dari lampu sokle yang dipancarkan dari lapangan tempat digelarnya pasar malam. Konon pasar malam tersebut akan digelar selama kurang lebih tiga minggu bersamaan dengan liburan anak-anak sekolah.

Sokle2 Sokle3

Pasar malam, khususnya di mata anak-anak tentu memiliki arti tersendiri. Pasar malam merupakan pusat keramaian di tengah perkampungan atau persawahan yang pada malam-malam biasa mungkin hanya dipenuhi dengan suara jangkerik ataupun kodhok ngorek. Namun pada malam-malam digelarnya sebuah pasar malam, suasana sunyi senyap di lingkungan pedesaan seolah lenyap dengan digantikan deru suara genset dan hingar-bingar musik dangdutan ataupun berbagai mesin penggerak aneka rupa macam permainan anak-anak.

Pasar malam juga menjadi sebuah simbol kebersamaan dalam kegembiraan. Masyarakat dari berbagai penjuru kampung dan dusun biasanya akan berbondong-bondong mendatangi sebuah pasar malam. Anak-anak, balita, remaja, pemuda, dewasa, hingga para manula seolah tumplek blek meskipun hanya sekedar menengok keramaian macam apa yang ada di pasar malam. Anak-anak tentu saja yang paling menikmati suasana pasar malam. Ada berbagai wahana permainan yang sengaja digelar, seperti komedi putar, bianglala, ombak banyu, kereta mini, bahkan rumah hantu dan kora-kora.

Sokle4 Sokle5

Di samping menemukan banyak wahana permainan, anak-anak juga dimanjakan dengan beragam jenis mainan atau dolanan yang banyak dijajakan para penjual dolanan. Ada perahu othok-othok, thowet-thowet, gangsingan, juga beragam peralatan permainan yang lebih modern. Ada pula beberapa jenis satwa kecil yang juga dijual, seperti ikan hias, pong-pongan dan hamster. Aneka jajanan makanan khas pasar malam tentu saja tidak pernah lupa turut memeriahkan suasana pasar malam. Ada arum manis, gulali, gondhang-gandhung, martabak, juga jagung atau roti bakar.

Di samping makanan dan permaian untuk anak-anak, di pasar malam juga banyak dijajakan berbagai barang untuk orang dewasa. Ada stan penjualan pakaian, kaos, sepatu-sandal, kain batik, hingga parfum. Ada juga peratalan dapur dan rumah tangga, semisal barang pecah belah, panci, centhong, sapu, kain pel dan masih banyak barang lainnya.

Sokle6 Sokle7

Pasar malam memang menawarkan suasana yang senantiasa akan terkenang di benak seorang bocah. Meskipun berbagai sarana permainan modern ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan dan mall-mall, akan tetapi keunikan dan kekhasan sebuah pasar malam tetap tidak akan pernah dapat tergantikan. Pasar malam memberikan sebuah ruang publik bagi berkumpulnya masyarakat untuk merayakan kebersamaan dan kegembiraan. Kemeriahan dan kemurahan adalah tawaran yang sangat bisa dijangkau oleh kaum pinggiran yang semakin terpinggirkan oleh kebijakan penguasa yang semakin tidak bijaksana. Murah meriah adalah jargon pasar malam yang belum tergoyahkan oleh wahana permainan modern yang masih tergolong mahal bagi kalangan masyakat kecil yang hidupnya senantiasa pas-pasan.

Jika di sekitar tempat tinggal sampeyan kebetulan digelar sebuah keramaian pasar malam, jangan segan dan ragu untuk menyambanginya. Lihat, dengar, dan rasakan nuansa keguyuban lintas masyarakat yang tengah larut dalam kegembiraan bersama. Ah, pasar malam memang selalu ngangeni dan meninggalkan kenangan yang senantiasa akan terbawa hingga dewasa bahkan menjadi kakek-nenek. Anda punya kenangan mengenai pasar malam. Monggo saling berbagi cerita.

Ngisor Blimbing, 2 Juni 2014

Diponegoro, Sang Pahlawan Besar yang Terlupakan

Kota Magelang memang dalam sebulan terakhir ini sedang gegap gempita dengan rangkaian peringatan HUT ke 1108. Berbagai acara digelar yang dipusatkan di Alun-alun Kota Magelang. Ketika masyarakat yang hadir di pelataran agung tersebut, mungkin tidak banyak lagi diantara mereka yang melirik atau memperhatikan dengan penuh penghayatan sosok patung di pojokan sisi tenggara. Benar, maksud saya memang kepada patung Pangeran Diponegoro. Sebenarnya ada kaitan apakah antara sosok Pahlawan Nasional tersebut dengan Kota Magelang? Mengapa justru patung Diponegoro menjadi salah satu ikon dan landmark Kota Magelang?

Saya yakin banyak diantara para sedulur semua yang telah mengetahui lika-liku sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro tersebut. Pangeran Diponegoro merupakan putera Sri Sultan Hamengkubuwono III dari Keraton Kasultanan Ngayojokarto Hadiningrat. Intrik-intrik di dalam tembok istana antara para pejabat dan Pemerintah Kolonialis Belanda membuat ia lebih memilih hidup di luar kemewahan istana. Semenjak remaja ia lebih sering tinggal bersama nenek kandungnya di Tegalrejo, 3 km sebelah barat laut keraton.

Tindakan kesewenangan penjajah Kompeni dalam merampas dan mengeksploitasi rakyat membuatnya mengangkat senjata. Beberapa tokoh utama turut bergabung dalam perjuangannya, seperti Kyai Mojo dan Panglima Sentot Alibasyah. Pertempuran demi pertempuran berkobar. Berawal dari kediamannya di Tegalrejo, pasukan Diponegoro melancarkan strategi perang gerilya secara berpindah-pindah. Diantara beberapa daerah yang pernah menjadi basis perjuangan Diponegoro semisal Goa Selarong dan sepanjang Pegunungan Menoreh. Perang inilah yang dikenal sebagai Perang Diponegoro atau Perang Jawa yang berlangsung antara 1825-1830.

Diponegoro Penangkapan Diponegoro

Perang Jawa merupakan bentuk perlawanan terbesar dan terdahsyat terhadap Pemerintah Kolonial Belanda yang pada saat itu lebih dikenal sebagai Kompeni. Rasa cinta tanah air yang dalam, serta semangat persatuan senasib-sepenanggungan menjadikan sebuah kesatuan yang tangguh dan solid. Tidak ada lagi terbedakan antara golongan darah biru dan rakyat jelata. Semua manunggal, melebur dan nyawiji menjadi satu. Itulah semangat dan tekad bersatunya antara pemimpin dan rakyat, antara kawula lan gustinya, manunggaling kawula lan gusti. Modal utama persatuan inilah yang membuat bangkrutnya Kompeni.

Atas nasehat Snouck Horgronye, pasukan Kompeni melancarkan strategi benteng stelsel. Setiap tempat yang telah dikuasai dari kaum gerilyawan, maka di tempat tersebut kemudian didirikan benteng pengawasan. Hal ini lama kelamaan membuat ruang gerak Pasukan Diponegoro menjadi semakin sempit. Akhirnya disepakatilah kedua belah pihak untuk melakukan perundingan damai. Perundingan itupun berlangsung pada tahun 1830 di Kantor Residen Kedu. Dalam perundingan inilah Jenderal de Kock berkhianat dengan menangkap Pangeran Diponegoro. Maka berakhirlah perlawanan sosok Sang Herucokro Tanah Jowo tersebut di Kota Magelang. Kisah inilah yang menjadikan inspirasi untuk mengabadikan sosok Pangeran Diponegoro menjadi sebuah patung putih di sudut Alun-alun Kota Magelang dan hingga saat ini masih bisa kita saksikan bersama.

Makam DiponegoroSetelah ditangkap, Pangeran Diponegoro kemudian dibuang ke daerah Manado. Tak seberapa lama menjalani pengasingan di Manado, Pangeran Diponegoro kemudian dipindahkan ke Makassar hingga akhir hayatnya. Pangeran Diponegoro dimakamkan pada sebuah pemakaman sederhana di Jalan Diponegoro Makassar.

Kesederhaan makam seorang Diponegoro jelas sangat jauh daripada makam-makam pangeran Mataram yang lain, baik di Kotagede ataupun Imogiri. Namun hal tersebut justru menunjukkan bahwa ia benar-benar seorang pangeran yang sejati. Jiwa, raga, hidup dan matinya ia persembahkan sepenuhnya dalam perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat. Ia menjadi salah satu sosok pemimpin sejati di bumi Nusantara.

Baik di Jogjakarta, Magelang maupun Makassar, tentu saja masih banyak tersisa petilasan ataupun peninggalan Pangeran Diponegoro. Di samping peninggalan fisik, tentu peninggalan yang paling berharga adalah rasa cinta tanah air, jiwa persatuan kesatuan, juga semangat menegakkan dan membela kebenaran hingga titik darah penghabisan. Setiap jiwa manusia memiliki harkat dan martabat yang tidak bisa diinjak-injak, dirampas ataupun dijajah oleh bangsa lain. Dari sisi ini, sosok Diponegoro sebenarnya tidak saja hanya menjadi pahlawan nasional tetapi ia juga pahlawan kemanusiaan.

Makam Diponegoro2Sebagaimana diamnya patung Diponegoro di Alun-alun Kota Magelang, juga sebagaimana sangat sederhana dan tertutupnya area makam Diponegoro di Makassar, mungkin memang banyak orang yang telah melupakan nilai kepahlawanan seorang Diponegoro. Nilai patriotisme, kejuangan, juga nasionalisme anak bangsa di era sekarang ini memang semakin terkikis habis. Pangeran Diponegoro, sosok Sang Pahlawan Besar yang pernah membangkrutkan Kompeni kini juga semakin terlupakan oleh anak bangsa. Semoga hal hal tidak berlarut dan berlanjut terhadap anak-anak dan generasi yang akan datang. Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita bersama untuk kembali mengenalkan tokoh-tokoh pahlawan negeri yang kita cintai ini. Kebangkitan negeri yang terus terpuruk ini hanya bisa terjadi di tangan dan pundak para anak bangsa yang memegang teguh sifat dan sikap kepahlawanan yang dilandasi dengan rasa nasionalisme serta patriotisme.

Lor Kedhaton, 23 April 2014

Tuk Mas, Situs Mata Air Mataram Kuno

Musim hujan merupakan masa dimana air tersedia melimpah. Curah hujan yang tinggi menyebabkan sebagian diantara air hujan tersebut terserap dan masuk ke dalam lapisan bumi. Lambat laun air resapan tersebut muncul sebagai mata air. Orang Jawa sering menyebut mata air sebagai tuk atau umbul. Jika beberapa waktu yang lalu saya sempat menuliskan mengenai situs Candi Umbul yang merupakan situs patirtan peninggalan Wangsa Sanjaya, maka pada kesempatan ini saya sengaja ingin bercerita mengenai situs Tuk Mas.

Tuk Mas1Sampeyan pernah mendengar nama Tuk Mas? Atau jangan-jangan ada diantara Sedulur yang justru pernah pergi ke Tuk Mas? Situs Tuk Mas berlokasi di wilayah Desa Lebak yang termasuk ke dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Grabag. Jika kita menyusuri jalanan arah Sindas menuju Grabag yang melalui wilayah Cokro, tepat di depan SMP 2 Secang terdapat sebuah pertigaan serong, ambil arah kanan dan ikuti petunjuk arah yang akan memandu kita ke situs Tuk Mas. Melintasi area perkebunan tebu di tepian jalanan, kita akan menemukan sebuah cabang jalan ke sisi kanan yang langsung menurun tajam ke sebuah cekungan lembah yang dibelah oleh sebuah aliran sungai. Dengan menyusuri aliran sungai tersebut ke sisi timur, maka kita akan sampai sebuah area berpagar yang di dalamnya terdapat luncuran air deras dari sebuah mata air yang cukup besar. Itulah situs Tuk Mas.

Sebagaimana namanya, di lokasi situs Tuk Mas yang langsung bisa dilihat dari sisi bawah adalah sebuah aliran air pada sebuah tebing curam yang mengalir deras padas suatu saluran miring. Tepat di atas tebing itulah terdapat perbukitan yang rimbun dengan pepohonan dimana mata air berada. Debit aliran air tersebut lumayan besar, sehingga pada musim kemaraupun alirannya tetap besar dan stabil. Air tersebut kemudian ditampung pada beberapa kolam berukuran sedang. Tampungan kolam itulah yang menjadi sediaan air baku untuk diolah lebih lanjut menjadi air bersih oleh PDAM Kota Magelang.

Dalam beberapa babad cerita yang berkaitan dengan Kerajaan Mataram Kuno, Tuk Mas sempat disebut-sebut sebagai nama dari ibukota atau kotaraja kerajaan yang dipimpin oleh Wangsa Syailendra. Sebagaimana diketahui, pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah diperintah oleh dua dinasti yang sangat berpengaruh, masing-masing adalah dinasti Sanjaya yang beraliran Hindu dan dinasti Syailendra yang beragama Budha.

Bukan sekedar sebuah perkiraan dan dugaan semata, keyakinan bahwa Tuk Mas merupakan ibukota Mataram yang dipimpin Wangsa Syailendra konon berasal dari beberapa petunjuk dari prasasti yang ditemukan di situs Tuk Mas sendiri maupun beberapa prasasti yang tersebar di wilayah sekitarnya. Memang hipotesis seakan sulit untuk bisa dipercaya dikarenakan memang di lokasi situs Tuk Mas sama sekali tidak bisa dijumpai artefak maupun situs-situs yang menunjukkan bekas sebuah istana ataupun kota kerajaan sebagaimana situs Trowulan yang berkaitan dengan Kerajaan Majapahit misalnya. Bahkan prasasti Tuk Mas sendiri justru bertuliskan huruf Pallawa dengan bahasa Sansekerta yang dilengkapi dengan simbol-simbol yang justru lebih mendekati tradisi dan ajaran Hindu, bukannya Budha sebagaimana dianut Syailendra.

Tuk Mas1 Tuk Mas2

Tuk Mas merupakan gabungan dua buah kata, tuk yang berarti mata air, dan mas yang berarti emas. Tuk Mas selanjutnya bisa dimaknai sebagai mata air emas. Kenapa diistilahkan demikian? Para ahli memperkirakan bahwa keberadaan prasasti Tuk Mas merupakan simbolisasi keberadaan aliran air suci yang diibaratkan sebagaimana sungai Gangga di India. Meskipun tidak mencantumkan angka tahun pembuatan prasasti yang jelas namun penggunaan aksara Pallawa-Grantha, bisa diperkirakan bahwa prasati Tuk Mas bertarikh 500-700 Masehi.

Di samping rangkaian tulisan, dalam prasasti Tuk Mas juga terdapat simbol-simbol gambar, diantaranya chakra (roda bergerigi 16) sebuah gada, dua buah purna kumbhas (tempat air), sebuah trisula (tombak bermata tiga) sebuah parasu (kapak), sebuah tongkat, sebilah pisau dan empat buah rosetta bermotif rantai. Selain itu masih terdapat beberapa simbol yang hingga kini masih belum bisa diungkapkan secara jelas rupa dan maknanya.

Keberadaan prasasti Tuk Mas di wilayah Magelang semakin meneguhkan Magelang sebagai daerah seribu candi. Prasasti, candi, situs-situs penting banyak bertebaran di wilayah Magelang. Hal ini semakin mengindikasikan bahwa wilayah ini pada masa lampau merupakan pusat Kerajaan Mataram Kuno yang telah memiliki peradaban dan kebudayaan yang tinggi atau adiluhung. Potensi sejarah ini seharusnya bisa didayagunakan sebagai potensi wisata sejarah yang sangat menarik dan unik. Jika hal tersebut dapat terus digali dan dikembangkan, maka orang tidak hanya akan mengenal Magelang dengan Borobudurnya saja, tetapi akan lebih luas kepada candi-candi, prasasti-prasasti dan situs-situs sejarah yang lainnya.

Tuk Mas2Sebelum melangkah jauh untuk memperkenalkan potensi jejak sejarah kejayaan masa lampau tersebut kepada dunia luar, akan lebih bijaksana jika para putera daerah sendiri terlebih dahulu diperkenalkan dengan keberadaan fakta sejarah yang terdapat di tanah Magelang. Selain melalui aktivitas para pemerhati dan komunitas yang banyak menggeluti situs sejarah, alangkah lebih baik pula jika melalui bangku sekolah juga diperkenalkan muatan sejarah lokal. Dengan demikian setiap putera daerah Magelang akan dapat menjadi narasumber dan duta wicara untuk semakin menyebarluaskan potensi situs sejarah yang tersebar di berbagai penjuru Magelang. Kemajuan internet dengan media sisialnya bisa menjadi wahana untuk berbagi informasi dengan manusia manapun di penjuru dunia. Dan bukanlah mayoritas anak muda masa kini tidak bisa lagi dipisahkan dengan dunia internet?

Jika langkah ini kita sepakati bersama dan secara sebuah predikat Magelang sebagai wilayah seribu candi tidak akan sulit untuk diraih. Melalui predikat tersebut bukan tidak berlebihan jika Magelang “bisa menjual” potensi wisata minat khusus yang berkaitan dengan situs sejarah yang tersebar berserakan di setiap pelosok wilayah tersebut. Bukan tidak mungkin pula jika langkah ini bisa memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan warga Magelang secara umum. Sampeyan sepakat dengan saya? Matur nuwun.

Ngisor Blimbing, 24 Februari 2014

Sugeng Kondur Guru Filsafat Sejati

Innalillahi wa inna ilaihi rojiu’un.

Siang hari itu udara memang terasa begitu teriknya. Suasana panas dan gerah masih ditambahi dengan teriakan, hentakan, dan juga hardikan para senior yang berbaju almamater hijau semi coklat lumut dengan berbagai warna pita terbelit di lengannya masing-masing. Sebagai angkatan mahasiswa baru di kampus biru, minggu tersebut memang kami sedang menjalani kegiatan ospek universitas yang cukup menguras tenaga, mental dan juga perasaaan.

Saya dan beberapa rekan seangkatan konon cukup beruntung bergabung di Gugus Arboretrum dalam ospek universitas di masa akhir orde baru kala itu. Ada salah seorang senior yang masih sanya ingat hingga kini karena kegondrongan rambutnya. Ia kala itu biasa dipanggil sebagai Gatot. Entahlah soal nama aslinya. Namun sosok Gatot yang gondes alias gondrong ndeso tersebut seringkali bersikap sebagai seorang pelucu daripada penggonjlok mental junior baru.

Di antara berbagai aktivitas ospek yang melelahkan dan seringkali menegangkan, sebenarnya ada satu sesi ceramah umum yang tidak pernah saya lupakan hingga saat ini. Di tengah siang yang gerah tersebut, segenap mahasiswa baru dikumpulkan di Aula Arboretrum. Dalam kesempatan tersebut salah seorang dosen senior berkesempatan memberikan materi pembekalan.

Sosok dengan rambut yang sudah mabluk dengan uban putih tersebut memang berperawakan kurus. Akan tetapi pada saat ia mulai angkat bicara suaranya terkesan mantap dan penuh rasa percaya diri. Baru awal bicara ia langsung melemparkan sebuah pertanyaan filosofis yang langsung dijawabnya sendiri, ” Siapakah saya? Damardjati itu saya, tetapi saya bukan Damardjati!” Dia kemudian menjelaskan filosofi pertanyaan dan pernyataan tersebut secara panjang lebar. Tahu dengan sosok yang saya maksudkan? Dialah Dr. Damardjati Supadjar, dosen dari Fakultas Filsafat UGM yang sangat terkenal menguasai filsafat Jawa.

Pak Fajar, demikian biasanya lingkaran para akademisi UGM memanggil beliau. Semenjak sekolah menengah, sebenarnya saya sedikit banyak telah bersinggungan dengan filsafat beliau. Diantaranya melalui acara talkshow yang digelar Radio UNISI setiap Kamis malam Jum’at selepas jam 21.00. Melalui acara tersebut saya perlahan-lahan menjadi tertarik dengan bidang filsafat, terutama karena Pak Fajar senantiasa melandaskan pemikiran-pemikirannya kepada filsafat budaya Jawa.

Bukan sebuah kebetulan, jika kemudian sayapun mengetahui bahwa beliau adalah putera asli Magelang sebagaimana kampung halaman saya di Tepi Merapi. Berkaitan dengan kepercayaan bahwa gunung Tidar di pusat wilayah sekawan keblat gangsal pancernya Magelang yang dianggap sebagai pakuning tanah Jawa, beliau pernah memberikan tafsir yang menurut saya sangat luar biasa. Sebagaimana turun-temurun disampaikan para tetua, pulau Jawa bahkan seluruh wilayah Nusantara, akan stabil jika pakuning tanah Jawa tidak bergeser.

Dari riwayat gunung Tidar yang membawa nama Syekh Subakir dengan tombak Kiai Sepanjangnya memang dikisahkan cara orang sakti tersebut dalam mengalahkan para jin prayangan yang menyebabkan pulau Jawa terombang-ambing didorong ombak lautan luas ke berbagai arah tanpa kendali. Pulau yang terguncang-guncang tersebut konon menjadi tenang setelah Syekh Subakir menancapkan tombak Kiai Sepanjang tepat di atas puncak gunung Tidar. Semenjak itu gunung Tidar dipercaya sebagai pakuning Tanah Jawa yang menstabilkan pulau Jawa.

Dalam konstelasi pemerintahan Orde Baru, Pak Fajar mengkaitkan kestabilan Tanah Jawa, bahkan bumi Nusantara, dengan keadaan sosial politik pemerintahan. Menurutnya pemerintahan Indonesia bisa stabil juga ditentukan oleh faktor Gunung Tidar. Siapa yang mengelak jika ters pimpinan nasional kala itu, dari lapis menteri, gubernur, hingga para bupati didominasi tokoh-tokoh yang berasal dari kalangan militer yang notabene pernah menimba pengetahuan di AKMIL yang berbasis di lembah Gunung Tidar? Susunan pemerintahan yang didominasi tokoh militeristik sentralistik inilah yang menjadi pilar kestabilan orde baru kala itu.

Pada saat transisi masa orde baru ke orde reformasi, Damardjati pernah turut menggagas format masyarakat madani yang senafas dengan ajaran Islam. Bertolak belakang dengan pemerintahan Amerika Serikat yang ditopang oleh peranan kekuatan militer yang bermarkas di Pentagon, Damardjati justru menggagas masyarakat dengan format heksagon. Tidak segi lima, tetapi segi enam.

Masyarakat madani menurut pandangan dia, harusnya mirip dengan bangunan komunitas masyarakat lebah. Bukankah rumah atau sarang lebah berstruktur segi enam simetris? Dari segi kekuatan dan kestabilan struktur bangunan, tidak bisa diragukan lagi kekuatan struktur heksagon dibandingkan pentagon. Di samping itu, perilaku dan sifat lebah sangat dekat dengan sifat ideal seorang muslim sejati. Lebah makan dari sari pati bunga dan mengeluarkan madu. Muslim makan dengan makanan yang halal untuk menghasilkan kemanfaatan dan kegunaan pikiran, ucapan dan tenaganya. Lebah hadir dan hinggap di tangkai dan daun bunga tetapi tanpa pernah membuat kerusakan. Diibaratkan seorang muslim, dimanapun ia berada pantang membuat kerusuhan dan keonaran. Namun demikian, jangan pernah coba-coba menganggu seekor lebah. Jika ia diganggu hak, harga diri, derajat dan martabatnya, maka lebah akan menggugat, memburu dan jika perlu menyerang para pengganggunya. Masyarakat madani berstruktur heksagon terdiri atas pilar pemerintah (birokrat), militer (tentara), rohaniawan (agamawan), ilmuwan (teknokrat), budayawan (pewaris tradisi), dan para pemuda.

Masih banyak gagasan dan pemikiran cerdas khas Damardjati Supadjar yang berakar dari nilai luhur kearifan lokal. Filosofi perempuan, “per-empuk-an”, satrio piningit dan lain sebagainya. Upaya beliau menggali filsafat yang berlandaskan nilai kearifan lokal merupakan sudut pandang filsafat kenusantaraan yang masih sangat langka digagas oleh filusuf di negara kita. Kebanyakan diantara mereka lebih gencar berpikir kefilsafatan dengan merujuk tokoh-tokoh dan pemikiran dari era Romawi, Yunani, Perancis dan budaya barat yang lainnya.

Kabar mengenai kepergian Damardjati Supadjar ke alam kesejatian beberapa hari lalu tentu saja sempat mengejutkan saya. Dalam beberapa kesempatan terakhir saya sempat menyaksikan beliau medhar sabda dalam keheningan malam Jumat di salah satu televisi lokal Jogja. Tokoh yang juga merupakan penasehat spiritual Ngarso Dalem Ingkang Sinuwun Hamengku Buwono X tersebut menghembuskan nafas terakhir pada Senin, 17 Februari 2014 di kediamannya yang terletak di wilayah Nganglik. Jenazah telah dimakamkan di pemakaman keluarga di Losari, Grabag, Magelang. Sugeng kondur ing kasejadan jati untuk Pak Damardjati Supadjar. Semoga jalan terang senantiasa menyertai panjenengan.

Lor Kedhaton, 20 Februari 2014

Gambar dipinjam dari sini dan sini.

Pasir Digali, Harap Merapi Tetap Lestari

Kaliputih1Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan gunung api teraktif di dunia. Kalangan ilmuan, peneliti hingga para pelaku ajaran religi mempercayai bahwa Merapi senantiasa menyimpan sejuta misteri. Sangat tergantung bagaimana masyarakat memperlakukan Merapi, demikian halnya Merapi akan berlaku kepada mereka. Merapi adalah sahabat dan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat hingga di empat arah lima pusarnya yang meliputi gunung Merbabu, Andong, Sumbing, Sindoro dan pegunungan Menoreh.

Sebagai sebuah gunung api yang aktif, Merapi merupakan saluran keluaran material dalam bumi melalui aktivitas erupsi maupun efusifnya. Materi gas, uap, hingga debu, pasir, krikil, krakal, dan batuan mengalir dari kawah Merapi yang berbentuk kerucut strato. Batuan dan pasir Merapi terkenal sebagai material dengan kualitas nomer wahid. Struktur dan bangunan candi Borobudur merupakan salah satu bukti kualitas batuan Merapi yang masih gagah berdiri seolah tak lapuk ditelan jaman.

Abu vulkanik Merapi menebarkan pupuk alamiah yang tidak pernah diproduksi oleh teknologi manusia manapun. Kelebatan hutan di selingkaran Merapi juga merupakan daerah serapan air yang menghadirkan banyak mata air maupun sungai yang berhulu di sisi atas Merapi. Paduan antara pupuk vulkanik alami dengan kelimpahan air menjadikan Merapi sebagai kawasan yang sangat subur untuk kegiatan pertanian, perkebunan, maupun kehutanan. Merapi menyimpan sejuta sumber daya alam yang akan mampu menopang kehidupan manusia di sekitarnya.

Keberadaan material vulkanik hasil proses erupsi Merapi memang memiliki potensi risiko yang membahayakan penduduk di selingkaran Merapi dikarenakan kemungkinan terjadinya guguran lava, awan panas, hingga aliran lahar dingin. Namun demikian, di samping sisi bahaya, material-material tersebut juga menjadi berkah tersendiri bagi para penambang pasir dan batu Merapi. Pasir dan batu Merapi sangat terkenal memiliki kualitas terbaik untuk bahan bangunan. Tidak sedikit penduduk yang menggantungkan hidup dari aktivitas menambang pasir dan batu tersebut. Pada uraian selanjutnya, pemaparan lebih dikhususkan kepada perkembangan penambangan pasir di wilayah Kabupaten Magelang.

Pada awalnya kegiatan penambangan pasir hanya dilakukan secara tradisional dan terbatas di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Merapi, seperti kali Gendol, Bebeng, Krasak, Putih, Blongkeng, Lamat, Senowo, hingga Pabelan. Dengan peralatan sederhana, seperti cangkul, linggis, dan slenggrong, para penambang hanya mencari peruntungan dengan mengumpulkan endapan pasir yang terbawa air. Praktis material yang ditambang hanyalah material yang turun di bagian hilir sungai sebagai lahar dingin. Dengan demikian, pola penambangan pasir Merapi hanya dilakukan dalam skala terbatas dan dengan metode atau cara tradisional oleh para penambang perorangan.

Dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan pernanan pemerintah menggagas proyek “damisasi” sebagai upaya untuk mengurangi bahaya akibat dampak yang bisa ditimbulkan oleh terjadinya banjir lahar dingin di sepanjang aliran sungai, di samping memperkuat tanggul sungai, di sisi atas aliran sungai juga banyak dibangun bendungan pengendali yang dikenal sebagai check dam. Pembangunan check dam mengadopsi teknologi sabo yang digagas ilmuan dari negeri Jepang. Hal tersebut dilakukan pada dekade akhir tahun 80-an, semasa pemerintahan orde baru.

Kaliputih5Keberadaan bendungan-bendungan pengendali lahar dingin yang mampu menampung ribuan meter kubik pasir dan batu menjadikan material tersebut tertampung atau terkonsentrasi di dalam bendungan-bendungan yang terdapat di sisi atas aliran sungai. Perlahan-lahan aktivitas penambanganpun beralih ke sisi hulu sungai yang sudah bersentuhan langsung dengan kawasan hutan lindung dan wilayah konservasi. Di samping hijrahnya para penambang pasir ke sisi atas, beberapa pengusaha besar mulai masuk untuk turut melakukan aktivitas penambangan dengan menggunakan peralatan berat, seperti traktor dan big hoe.

Sesuai dengan ruang lingkup pengaturan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan-bahan Galian, material hasil aktivitas gunung Merapi tergolong sebagai bahan galian kelompok C. Meskipun tidak secara strategis atau vital bersinggungan langsung dengan kepentingan negara, tetapi aktivitas penambangan bahan galian kelompok ini juga sangat rentan menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. Demikian halnya yang terjadi di wilayah lereng gunung Merapi.

Tatkala skala penambangan pasir dilakukan lebih masif dan mempergunakan berbagai peralatan berat yang lebih canggih, dimulailah masa keserakahan dan kerakusan manusia dalam mengeksploitasi sumbar daya alam tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Yang banyak terjadi kemudian adalah penambangan secara liar, ilegal dan tanpa kendali. Tidak hanya cukup dengan menambang pasir di dalam check dam, penggalian pasir terus menerabas tebing-tebing sungai, bahkan tak sedikit yang memasuki tutupan hutan lindung. Lahan di seputaran lereng Merapi seolah telah dikapling-kapling oleh pihak-pihak tertentu sehingga mengesankan adanya mafia-mafia jahat yang tidak bertanggung jawab.

Dari sisi lingkungan hidup, yang terjadi adalah perusakan secara masif, terstruktur, dan tersistem. Hutan-hutan menjadi rusak, daerah resapan air berkurang secara drastis, mata air-mata air mulai mengering, sungai-sungai menjadi susut aliran airnya, kesuburan tanah berkurang, hingga akhirnya usaha-usaha di bidang pertanian, perkebunan, serta perikanan di seputar Merapi mengalami kemunduran yang sangat signifikan. Tidak hanya sampai di situ, sumur-sumur warga sebagai sumber air bersih yang menopang kebutuhan hidup sehari-hari juga lambat laun mengalami kekeringan. Merapi yang hijau ijo royo-royo, Merapi yang subur makmur, Merapi yang indah pelan namun pasti hilang ditelan deru mesin penambang pasir.

Degradasi daya dukung lingkungan hidup masih ditambah lagi dengan rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan akibat lalu-lalangnya ribuan truk yang mengangkut pasir Merapi setiap harinya selama hampir 24 jam tanpa henti. Lalu kendaraan angkut tersebut juga menimbulkan debu pasir dan tanah yang semakin menyesakkan akibat polusi udara yang sangat parah. Demikian halnya dengan deru mesin kendaraan angkut yang tiada henti juga menimbulkan kebisingan yang membuat warga desa semakin kehilangan ketentramannya.

Apakah hiruk-pikuk penambangan pasir masif yang serampangan tersebut benar-benar telah mempu membangkitkan ekonomi warga sekitar? Sepanjang yang saya rasakan selaku salah satu warga di pinggiran Merapi, hampir tidak berpengaruh secara menggembirakan. Para penambang pasir tradisional merasa semakin terpinggirkan akibat persaingan dengan peralatan berat. Meskipun sempat dibentuk Asosiasi Pengusaha dan Penambang Pasir Merapi (APPI), akan tetapi tetap saja yang kecil semakin terdesak sedangkan pemegang modal besar semakin kaya dan berkibar. Justru posisi warga Merapi yang tidak berhubungan langsung dengan aktivitas penambangan Merapi hanya turut menuai kerugian akibat dampak kerusakan lingkungan hidup yang terjadi.

Puncak dari keserakahan itu adalah semakin menipisnya pasir Merapi dan kerusakan kawasan hutan lindung serta wilayah konservasi yang sempat diperparah dengan aksi ilegal logging yang dilakukan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab pada masa tumbangnya orde baru. Hal-hal tersebut tentu saja memberikan dampak kerugian yang sangat luas kepada masyarakat Merapi secara keseluruhan.

Pasca terlahirnya era reformasi, menghadapi kenyataan rusaknya lingkungan Merapi menyadarkan beberapa pihak, termasuk pemerintah daerah, para penambang pasir, serta masyarakat luas untuk mulai melakukan langkah-langkah rehabilitasi alam dengan menggalakkan kembali reboisasi, serta kebijakan pembatasan izin penambangan. Meskipun pulihnya lingkungan Merapi tidak serta-merta dapat kembali dalam kurun waktu yang cepat, tetapi paling tidak laju kerusakan dan degradasi daya dukung alam Merapi tidak secepat waktu-waktu sebelumnya.

Kejadian erupsi besar gunung Merapi pada akhir tahun 2010 seolah telah membalikkan keadaan. Aktivitas erupsi telah mengembalikan jumlah cadangan pasir di puncak Merapi dan sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncaknya. Kesuburan tanah pertanian juga telah dikembalikan dengan guyuran abu vulkanik dan kembalinya cadangan air yang mencukupi kebutuhan masyarakat. Belajar dari pengalaman di masa silam, ke depan pola penambangan pasir harus dilakukan dengan sangat bijaksana dan mengedepankan langkah-langkah konservasi kelestarian lingkungan hidup. Bolehlah pasir Merapi digali, tetapi tanpa mengabaikan harapan agar Merapi tetap lestari.

Ngisor Blimbing, 1 Januari 2014

Maneges Gunung di Ibu Kota

Maneges berasal dari kata dasar teges. Teges berarti makna dan teges bermakna arti. Maneges dapat diartikan menggali makna dari sesuatu dengan melakukan refleksi diri. Dengan demikian maneges gunung dapat diartikan menggali makna segala sesuatu yang berkaitan dengan gunung, apakah berkaitan dengan bentang alamnya, kesuburan tanahnya, kelimpahan sumber airnya, kelebatan hutan rimba rayanya, manusia di sekitarnya, bahkan termasuk masyarakat dan budayanya.

MG1Dalam rentang waktu seminggu ini tengah berlangsung Pagelaran Maneges Gunung yang menampilkan berbagai aktivitas berkesenian yang dilakukan oleh Komunitas Lima Gunung yang berasal dari Kabupaten Magelang, Jawa Tengah di Bentara Budaya Jakarta. Rangkaian acara yang berisi pameran berbagai karya seni, pertunjukan tari, pentas wayang orang, pagelaran wayang kulit, juga diisi dengan diskusi budaya yang mengangkat tema Maneges Gunung. Diskusi tersebut berlangsung pada Rabu siang pukul 14.00-17.00 di ruang pameran Bentara Budaya, kawasan Palmerah, Jakarta Selatan.

Acara diskusi budaya yang menghadirkan para penggerak Komunitas Lima Gunung, mulai dari Sutanto Mendut (Studio Mendut), Sitras Anjilin (Padepokan Tjipto Budoyo, Tutup Ngisor Kec. Dukun, Gn. Merapi), Supadi Haryanto (Sanggar Andong Jinawi, Mantran Wetan Kec. Ngablak, Gn. Andong), Pangadi (Sanggar Wonoseni, Wonolelo Kec. Bandongan, Gn. Sumbing), Jono (Sanggar Saujana, Keron Kec. Sawangan, Gn. Merbabu), Riyadi (Padepokan Wargo Budoyo, Gejayan Kec. Pakis, Gn.Merbabu), dan dimoderatori oleh Bre Redana dari Desk Budaya Harian Kompas.

Bre & TantoDalam prolognya, Bre Redana sengaja mengungkap berbagai aspek perkembangan komunitas akar rumput sebagaimana Komunitas Lima Gunung. Sebagai sebuah kolaborasi berbagai paguyuban dan kelompok seni di empat keblat lima pancernya dataran tinggi Magelang, Komunitas Lima Gunung memiliki keistimewaan yang sangat luar biasa. Di tengah terpaan godaan jaman yang serba meterialisme saat ini, ternyata masih ada sekelompok seniman yang terhimpun menjadi satu komunitas yang solid dan kompak tanpa terjerumus kepada sikap komersialisasi sesaat.

Nilai penting yang tetap dipegang erat oleh Komunitas Lima Gunung adalah soal independensi dan kemerdekaan dalam berkarya. Karya-karya mereka selalu tampil original penuh kedalaman makna dan cita rasa. Mereka bergerak penuh kemandirian dengan bekal kebersamaan dan kegotongroyongan. Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan mainstream yang tengah melanda sebagian besar belahan dunia, termasuk di kalangan seniman sendiri.

Berbeda dengan kebanyakan kelompok masyarakat yang memilih posisi untuk mengkomsumsi, mereka justru mengambil posisi sebagai kelompok kreatif yang produktif. Konsumerisme, pelan namun pasti, akan menghancurkan nilai seni, budaya, bahkan peradaban yang menghantarkan menusia ke lembah kehancuran. Konsumerisme cenderung akan senantiasa mengambil atau mengeksploitasi segala sumber daya yang ada untuk kepentingan diri sendiri atau sekelompok orang. Di sisi lain, aktivitas aktif, kreatif dan produktif justru memiliki kecenderungan untuk selalu berbagi dan memberi. Betapa kedua hal tersebut menjadi dua sisi yang seolah saling bertentangan.

Dalam kesempatan selanjutnya masing-masing ketua kelompok seni di wilayah lima gunung tersebut memaparkan latar belakang dan seluk-beluk proses kreatif yang mereka geluti dan keterlibatannya dalam mendukung eksistensi Komunitas Lima Gunung. Diawali dengan penuturan Sitras Anjilin yang berbicara panjang lebar mengenai sejarah padepokannya, nilai dan tradisi yang dibangun untuk senantiasa dekat dan menjaga alam, hingga kepada mitos-mitos serta pantangan yang diwariskan leluhurnya.

MG2 MG3

Supadi dari Gunung Andong yang kebetulan bertindak sebagai koordinator penyelenggara Festival Lima Gunung lebih menekankan mengenai managemen atau pengorganisasian, kemandirian komunitas yang menolak sponsorsip, tidak mau membuat proposal permohonan dana, serta bagaimana mendorong sikap kebersamaan, kerukuan dan kegotong-royongan, bahkan sempat terkonsep adanya “sumpah tanah“. Sumpah tanah dimaksud mengandung arti bahwa mereka menolak meminta donatur atau dana dan lebih mengutamakan kemandirian demi menjaga independensi dalam berkreasi. Namun demikian jika ada pihak yang ingin berpartisipasi mengulurkan bantuan, pihaknya tidak akan menolak. Tetapi tidak pernah meminta!

Selanjutnya Pangadi atau lebih dikenal sebagai Ipang, ketua kelompok seniman Gunung Sumbing lebih banyak mengungkapkan latar belakang kehidupan sehari-harinya. Bakul gorengan hingga mencari belut di malam hari adalah caranya menopang kebutuhan keluarga. Di bidang seni, ia banyak menggeluti seni lukis kanvas.

Lain Pangadi, lain Mas Jono. Sosok pria yang satu ini terlahir dari keluarga petani yang kebetulan di lingkungannya juga tidak terdapat komunitas seni yang mapan. Pergaulannya dengan lingkungan dan dunia tani justru memberikannya kemerdekaan untuk mengekspresikan naluri seninya melalui berbagai karya seni rupa, mulai dari topeng, patung, hingga wayang plastik. Bentuk karyanya banyak menggambarkan binatang sawah seperti walang dan kumbang. Melalui sentuhan tangan dinginnya juga terlahir tarian topeng saujana. Baginya seni adalah media pembelajaran berbagai sisi kehidupan dan kemanusiaan.

MG4 MG5

Kesempatan selanjutnya, Mas Riyadi dari Padepokan Wargo Budoyo. Ia mengaku paling lain diantara para ketua kelompok yang lainnya di Lima Gunung. Ia bukanlah sosok seniman yang menguasai nabuh gamelan, nembang, nari, melukis atau apapun. Namun demikian, mantan lurah ini justru tetap diterima menjadi bagian penggerak komunitas seni di desanya. Kesempatan terakhir, berturut-turut dipungkasi dengan uraian dari Haryadi dan Tanto Mendut yang panjang lebar mengungkap banyak hal, sehingga menjadi terlalu banyak untuk direkam dan dituliskan.

Secara keseluruhan jalannya pemaparan Maneges Gunung tersebut sangat menarik dan penuh makna. Bentara Budaya mengundang Komunitas Lima Gunung untuk hadir dan pentas di ibu kota sesungguhnya untuk menjadi media berbagi dan saling belajar antara komunitas seniman gunung yang berbasis alam pedesaan dengan komunitas kesenian kaum urban yang berbasis wilayah kota. Kemandirian, independensi, kreasi, termasuk penggaliaan dana swadaya dari warga yang mendukung proses kreasi dan pementasan mereka adalah sebuah keistimewaan dan hal yang sulit ditemui di tengah kota besar. Sikap dan sifat totalitas berkesenian, meskipun tidak memiliki dana, adalah spirit yang dapat dicontoh oleh seniman manapun.

Namun demikian ada sesuatu hal yang menurut saya kurang maksimal dari diskusi budaya tersebut. Jika diskusi tersebut dimaksudkan untuk saling berbagi dan mentransformasi proses pembelajaran dari Komunitas Lima Gunung terhadap komunitas seni yang ada di ibu kota, alangkah sayangya ketika peserta diskusi justru sangat sedikit dan dari kalangan yang sangat terbatas lagi. Bahkan di pikiran saya sempat terbersit, uraian dari para tokoh Lima Gunung yang sangat berbobot dan penuh makna justru tidak mendapatkan audiens yang semestinya untuk menyerap spirit dan semangat kreasi seni mereka. Hal ini menjadi sedikit berkebalikan dengan pemberitaan di media yang seolah-olah pagelaran ini sangat gegap-gempita dan penuh antusiasme. Saya justru melihat Komunitas Lima Gunung menjadi sangat kesepian di tengah hiruk-pikuk kesibukan warga ibukota yang sudah sedemikian kering kepekaan seninya. Alangkah amat disayangkan.

Mungkin tepat usulan metode yang diusulkan oleh Bre Redana, untuk lebih mengefektifkan proses pembelajaran, justru komunitas dari berbagai daerah yang justru harus datang dan menyelami Komunitas Lima Gunung ketika berkreasi di lingkungan aslinya. Semacam sebuah program “culture tour”. Semoga.

Ngisor Blimbing, 18 Desember 2013