YuGindulRumah limas berdinding papan dan gedheg itu memang terpisah dari kumpulan rumah-rumah yang lainnya di dusun kami. Di rumah yang sederhana itu tinggal sebuah keluarga kecil, ada Mbah Joyo, Mbok War, dan Yu Gindul. Di rumah itupun ada si Kecil Rudiman, anaknya Kang Bejo, anak sulung Mbok War yang merantau di Jambi. Rumah milik Mbah Joyo itu justru nampak anggun dan asri karena terletak di lereng persawahan mburi desa. Itu dulu, kira-kira lebih dari 10 tahun yang lalu. Tatkala Mbok War meninggal, tak berselang lama kemudian Mbah Joyopun menyusul ke alam baka. Semenjak itu Yu Gindul mengikuti Yu Badri, sedangkan Rudiman yang sudah yatim piatu dipelihara salah satu kerabat. Dua-duanya pindah ke dusun lain. Rumah mburi desa itupun dibongkar dan meninggalkan sebuah kebon suwung.

Setelah beberapa tahun ngumpul Yu Badri di desa sebelah, semenjak beberapa tahun yang lalu Yu Gindul kembali ke dusun kami dan menjadi satu keluarga dengan Kang Haryo, saudara tirinya dari lain simbok. Keseharian Yu Gindul diisi dengan sekedar bantu-bantu di rumah ataupun kadang-kadang juga turut ke sawah ngarep desa. Di samping usia sudah melampaui paruh baya, Yu Gindul memang semenjak dari kecil memiliki “keterbatasan” kemampuan pikir. Hal ini memang karena perkembangan jiwa Yu Gindul yang tidak optimal, ditambah dirinya memang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Memang Yu Gindul seorang buta huruf hingga saat ini.

Biarpun daya pikirnya sangat sederhana, Yu Gindul adalah sosok perempuan yang sangat pemberani. Tatkala semua warga dusun mengungsi pada saat erupsi Merapi lebih dari dua tahun yang lalu, Yu Gindullah satu-satunya perempuan yang tidak mau turun untuk mengungsi. Hidup ataupun mati ditekadinya untuk tetap berada di dalam dusun dan tidak mau meninggalkan makam kedua orang tuanya. Mungkin bagi Yu Gindul, maut bukanlah sesuatu yang menakutkan untuk dihadapi secara wajar dan biasa saja. Atau mungkin karena memang dulu Yu Gindul pernah mencicipi alam kubur, sehingga ia tak gentar oleh ancaman wedhus gembel Merapi?

Ha? Pernah mencicipi alam kubur? Menurut beberapa penuturan para sesepuh di dusun kami, dulu sekali di masa kecilnya, Yu Gindul memang pernah mengalami mati suri. Konon bocah Gindul sakit panas dan demam yang sangat mengkhawatirkan. Karena suhu badan yang sangat tinggi membuat Gindul kehilangan kesadaran dan seolah ngomyang ngalor-ngidul, sehingga membuat para orang tua di masa itu menyangka ia tengah kesurupan roh halus. Letak rumah Mbah Joyo yang hanya beberapa jengkal dari pemakaman dusun memang memperkuat dugaan para sepuh tersebut.

Di masa lalu, yang namanya orang sakit seringkali hanya dipercayakan kepada orang pintar. Orang sakit dianggap mengalami gangguan oleh makhluk halus. Oleh karena itu, si sakit seringkali hanya diberikan “obat air putih” yang telah dijapa mantra oleh Mbah Dukun. Mungkin hal ini sangat berhubungan dengan sarana prasarana kesehatan yang jauh dari jangkauan masyarakat dusun, plus tingkat pemahaman warga yang masih sangat terbatas karena tingkat pendidikan yang tidak memadai.

Singkat cerita, dari hari ke hari keadaan Gindul justru semakin memburuk. Panas tidak turun, bahkan ia mengigau tidak jelas setiap saat. Akhirnya pada suatu malam pecahlah tangis di rumah Mbah Joyo. Gindul diam kaku tanpa desahan nafas lagi. Ia dianggap sudah dipanggil oleh Sang Pemilik Hidup. Tidak hanya keluarga Mbah Joyo, segenap warga dusunpun tenggelam dalam kedukaan sebagaimana mereka merasakan kehilangan keluarga sendiri. Semua warga di suatu dusun memang sudah terikat kuat sebagai sebuah keluarga besar yang tidak lagi sekedar terikat oleh hubungan darah. Itulah gambaran kebersamaan dan kerukunan hidup di sebuah dusun.

MakamKronggahan5

Akhirnya segala uba rampe kebutuhan pemakamanpun dipersiapkan oleh seluruh warga kampung. Pemakaman Yu Gindul diselenggarakan sebagaimana umumnya pemakaman terhadap orang yang sudah meninggal. Tidak ada yang beda dan tidak ada yang istimewa.

Namun malam berikutnya setelah pelaksanaan pemakaman, di tengah gelap gulita bulan tua, justru dari arah makam terdengar rintihan suara yang samar-samar penuh ketidakjelasan. Kesunyian malam memang telah menelan suara jangkrik maupun kicauan burung hantu. Tatkala angin tak bergerak, dan puncak kesunyian malam bergeser setelah tabuh rolas, Mbah Joyo yang memang rumahnya tidak jauh dari makam dusun itu justru tergagap dari mimpi dan mendengar suara rintihan dari arah makam. Secara spontan ia bangkit dari tempat tidur dan meraih senter “cap macannya”.

Dengan tanpa keraguan, Mbah Joyo melangkah menuju pemakaman. Dengan bergegas Mbah Joyo seolah tidak ingin kehilangan kesempatan untuk segera tahu apa yang telah didengarnya. Semakin mendekati area pemakaman, justru suara itu semakin terdengar keras meskipun tidak jelas. Setelah mencoba mencari sumber suara yang terdengar itu, ia semakin terkejut karena suara itu terdengar dari arah gundukan tanah yang masih merah basah. Ya, itulah pemakaman Gindul anaknya. Hiiiiiyuuuung….hiiiiiyuuuung….hiiiiyuuung, kurang lebih Mbah Joyo menyimpulkan suara itu.

Dengan berlari cepat, Mbah Joyo turun ke tengah dusun dan memanggil beberapa warga dusun yang lain. Mereka kemudian kembali ke makam untuk memastikan apa yang telah didengar dan dilihat Mbah Joyo. Merekapun membenarkan bahwa suara itu memang berasal dari makam Gindul yang kemarin baru dikebumikan. Hiiiiiyuuuung….hiiiiiyuuuung….hiiiiyuuung. Akhirnya diambillah keputusan bulat untuk membongkar makam dan memastikan apa yang telah terjadi.

Semakin tanah makam dibongkar, ternyata suara itu kian nyata. Saat dak yang terbuat dari tatanan bambu itu terbuka, maka benarlah bahwa si pocung yang telah dilepas tali kucirnya itu bersuara. Hiiiiiyyyuuuungggg……itulah kenyataan hidup yang sungguh langka terjadi di dunia. Yu Gindul hidup kembali. Wargapun berkesimpulan Gindul memang belum meninggal. Ia hanya mati suri. Berita bangkitnya mayat Yu Gindul dari alam kubur, tentu saja segera gethok tular menyebar menjadi berita yang sangat menghebohkan kala itu.

Dalam perkembangan dan pertumbuhan fisik-psikis Yu Gindul setelah peristiwa “kebangkitanya” memang terlihat berbeda dengan kebanyakan gadis sepantarannya. Secara mental spiritual, nampak memang kejiwaan Yu Gindul juga berbeda. Itulah Yu Gindul yang setiap saya pulang menengok kampung halaman senantiasa dolan ke rumah kami. Bagi saya, ia adalah “kekasih sejati” Allah dengan segala kesederhanaannya.