PENGUMUMAN

  • Tanggal 19 April 2014 PENDEKARTIDAR akan mengadakan kegiatan LAKU LAMPAH GUNUNG TIDAR.
  • Kegiatan dimulai pukul 08.00 bertempat di Bukit Tidar Magelang.
5

YANG DIBUANG SAYANG

01 Feb 2011 by pendekartidar in Inspirasi

JEJAK KOTA TUA MAGELANG

“Jelajah Kota Toea Magelangan” dengan tema khusus pemerintahan Magelang periode 1810 – 1945 sangat menarik untuk diikuti. Acara yang digagas Komunitas Magelang Kota Toea dan Komunitas Sepeda Onthel “VOC” pada 30 Januari 2011 ini berlangsung semarak dengan peserta 50-an. Meski sederhana dan hanya bermodal “dengkul” namun acungan jempol patut diberikan kepada Mas Agung Dragon dkk. berani menyelenggarakan perhelatan unik nan menarik ini.

Tepat pukul 08.00 pagi, para peminat sejarah pemerintahan dengan penuh semangat sudah berkumpul di halaman Masjid Agung Kauman. Acara dibuka secara seremonial dengan sambutan ucapan selamat dan sekilas uraian singkat mengenai maksud dan tujuan diselenggarakannya acara tersebut. Agung Dragon mengungkapkan bahwa sejarah merupakan salah satu media pembelajaran hidup yang sangat baik. Di sekitar Kota Magelang terdapat berbagai bangunan tua yang menyimpan sejuta kisah sejarah yang luar biasa. Kesempatan jelajah kali ini merupakan salah satu upaya untuk lebih mengenalkan bangunan tua yang tersebar, agar setiap warga menjadi tahu dan kemudian lebih mencintai serta merasa memiliki terhadap aset sejarah tersebut.

Usai pembukaan, acara langsung dipandu oleh Mbah Johari selaku salah seorang pengurus Masjid Agung Kauman. Mbah Johari mengisahkan bahwa pada mulanya bangunan awal masjid hanyalah sebuah langgar atau surau yang telah didirikan semenjak awal pemerintahan Mataram Islam(sekitar 1575). Tidak begitu jelas siapakah yang membangun langgar, namun beberapa versi meyakini Mbah Syekh Subakir adalah perintis langgar tersebut. Makanya kisah melebar tentang dakwah Syekh Subakir yang diawali dengan penakhlukan terhadap jin Kiai Semar di Gunung Tidar, hingga penancapan pucuk Tidar sebagai pakuning Tanah Jawadwipa. Mengenai langgarnya sendiri, Mbah Johari bertutur bahwa bangunan awal masih sangat sederhana, didominasi dinding papan dan hanya beberapa bagian saja berupa dinding tembok. Adapun sarana pendukung untuk bersuci belum ada, sehingga konon kalau berwudhu harus turun ke Kali Progo di sisi barat dengan jalan kaki.


Pada saat pemerintahan Kadipaten Magelang terbentuk pada 1810, atas perintah Bupati Raden Tumenggung Danoeningrat I langgar diperluas menjadi masjid yang lebih besar. Perluasanpun secara bertahap senantiasa dilakukan oleh Bupati Danoeningrat II, III, dan Danukoesoemo. Pemugaran yang terbesar diperintahkan oleh Bupati Magelang ke V, R.A.A Danoesoegondho pada tahun 1934 dengan penambahan sisi pendopo sebagaimana masih terlihat hingga sekarang. Pengerjaan pemugaran kali ini ditangani oleh biro arsitek bernama Heer H. Pluyter.

Tempat ke dua yang dijelajahi adalah alun-alun Kota Magelang. Alun-alun secara kultural Jawa merupakan simbol keluasan titah manusia di dunia dimana unsur makrokosmis dan mikrokosmis berpadu sebagai sebuah hubungan vertikal antara makhluk dan Sang Khalik, dan secara horisontal antara manusia dengan alam dan sesamanya. Alun-alun Magelang mulai dibangun semenjak 1810 atas perintah Inggris. Pola tata ruang dan tata kota pusat pemerintahan Jawa berpusat di titik pusat alun-alun yang ditandai dengan ringin kurung. Sebagai sebuah kota kadipaten, bangunan tempat berdinas sang adipati berada di sisi utara. Di sisi barat bangunan masjid besar dan kawasan Kauman. Berbeda dengan tata letak yang lebih baku, sisi timur tidak terdapat bangunan peradilan dan di sisi selatan malah dibangun sekolahan Belanda(Musvia).


Perkembangan alun-alun Magelang lebih dipengaruhi pertumbuhan kota kolonial yang lebih moderat dan modern. Adanya vountain dengan air mancur di titik tengah, torn air di sudut barat laut, serta halte kereta di sisi timur merupakan bukti nyata hal tersebut. Bahkan dulu telah berdiri megah hotel Loze di sisi timur, yang kini menjadi gedung bioskop dan Matahari.

Usai napak tilas alun-alun Magelang, peserta beranjak ke bekas Pendopo Kadipaten Magelang yang kini difungsikan sebagai pendopo BLK. Pada mulanya tempat sang bupati memerintah dibangun bersamaan dengan dibentuknya Kadipaten Magelang(1810). Dari sisi bangunan, sama sekali tidak ada yang tersisa karena telah dibumihanguskan pada masa perang revolusi kemerdekaan. Bangunan asli pendopo berbentuk rumah Joglo, dan terletak sedikit di belakang pendopo yang ada saat ini. Tanah tempat berdirinya kompleks kadipaten lama ini merupakan bagian dari Kobon Ndalem Ingkang Sinuhun Paku Buwono II. Semenjak awal, tanah di kanan kiri bangunan pendopo ini nampaknya sudah dimiliki perorangan atau partikelir. Di sisi kanan kemudian berdiri gereja Katholik dan kantor telepon, sedangkan di sisi kiri terdapat gereja Protestan, dan sedikit di pojokan ada bangunan societet(roomball).

Tak lepas dari rumah dinas sang adipati, diskusipun melebar kepada sosok-sosok Bupati Magelang periode awal tersebut. Bupati pertama, Raden Tumenggung Danoeningrat I diangkat oleh Inggris dari kalangan bangsawan di Kraton Kasultanan Yogyakarta. Dalam masa akhir pemerintahannya pecah Perang Diponegoro atau Perang Jawa(1825-1830). Dalam perang tersebut sang bupati mendapat tekanan politik yang sangat kuat dari penjajah, sehingga ia cenderung memihak Belanda. Di sisi lain rakyat Magelang jelas memihak perjuangan Pangeran Diponegoro. Dalam suatu pertempuran di Salam, Danoeningrat I gugur dan jenazahnya konon dipisah menjadi dua bagian. Bagian atas dibawa laskar Diponegoro dan dimakamkan di sekitar Goa Selarong. Adapun tubuh bagian bawah dibawa kerabatnya dan dimakamkan di Payaman. Sekian dekade kemudian, kedua bagian jenazah tersebut baru dapat dipersatukan di makam Payaman.

Sasaran jelajah selanjutnya adalah bangunan bekas Kweekschool yang kini difungsikan sebagai kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Magelang. Dulunya sekolah ini memiliki nama lengkap Kweekschool Voor Inlandshe Ambtenaren yang merupakan sekolah calon guru yang diperuntukkan bagi pegawai bhumiputra. Gedung utama dibangun pada 1899. Namun demikian diyakini bahwa Kweekshcool Magelang telah berdiri semenjak 1875 dan merupakan pindahan sekolah serupa di Surakarta. Perkembangan Kweekschool sedikit terhambat dengan kehadiran Musvia(sekolah serupa) yang lebih dikhususkan bagi golongan ningrat. Pada pasca revolusi kemerdekaan, gedung ini pernah difungsikan sebagai Kantor Dinas Bupati Magelang periode 1948 – 1983.

Pada 1906 pertumbuhan kota yang pesat menjadikan Magelang ditetapkan sebagai sebuah kotapraja dengan pemerintahan sendiri. Di awal pemerintahan, bangunan Balaikota masih menginduk di kompleks pondopo kadipaten. Pada 7 Februari 1913 mulailah dibangun balaikota di sisi belakang kompleks pendopo kadipaten yang saat ini telah dipugar bangunan aslinya dan difungsikan sebagai kantor PDAM Kota Magelang. Manurut Agung Dragon, pembangunan balaikota di sisi belakang kantor kadipaten merupakan taktik Belanda untuk tetap dapat menyetir kekuasaan kedua wilayah praja sekaligus.

Kompleks bangunan tua yang paling luas dikunjungi pada jelajah kota tua ini adalah bekas Kantor Karesidenan Kedu. Pada awalnya kompleks ini merupakan tangsi militer maupun pejabat Inggris. Saat Belanda kembali menjajah (1815-1819), seiring pembentukan Karesidenan Kedu, kompleks ini dibangun secara lebih megah. Pemilihan posisi bangunan didasarkan pada profil latar pemandangan lereng Sumbing yang biru terbentang sangat indah di seberang Kali Progo. Maka memang kemudian diputuskan rumah dinas residen menghadap ke barat, alias ke sisi gunung Sumbing. Bangunan asli memiliki pintu gerbang di sisi utara(depan Dispora Kota Magelang), dengan kompleks kantor dinas residen menghadap ke selatan. Adapun rumah dinas residen terletak di sisi selatan, menghadap ke barat dengan halaman luas yang dilengkapi taman serta gazebo di sudut kanan kirinya.


Salah satu ruangan di sudut rumah dinas sang residen merupakan saksi bisu berlangsungnya perundingan antara Pangeran Diponegoro dengan Jenderal de Kock yang kini difungsikan sebagai Museum Diponegoro. Dengan penuh tipu muslihat dan kelicikannya, Belanda berhasil menyeret Diponegoro ke meja perundingan. Belanda mengkhianati perundingan damai dengan menangkap sang pangeran. Geram menahan amarahnya yang meluap, Diponegoro menyayatkan kukunya di tangkai kursi sisi kanan yang hingga kini masih dapat dilihat bekasnya. Di dalam ruang museum yang berukuran kurang lebih 5 x 5 m, di samping terdapat kursi dan meja perundingan juga dipampang jubah Diponegoro, sebuah Al Qur’an bertulisan Arab gundhul, tiga buah lukisan diorama, serta beberapa keterangan mengenai silsilah trah Diponegoro dan kronologi meletusnya Perang Diponegoro. Hmmmm……nuansa sejarah perjuangannya memang sangat kental di tempat ini, sayang memang bila mayoritas masyarakat Magelang tidak mengetahui kisah sejarah ini.


Berbicara tentang awal, tentu akan ada akhirnya. Demikian pula acara Jelajah Kota Toea Magelang diakhiri di Payaman. Dua tempat khusus yang dikunjungi adalah Masjid Raya Payaman dan kompleks makam bupati-bupati awal Magelang. Masjid Payaman berkembang dari pesantren yang diasuh oleh Kiai Muhammad Syirod. Hubungan sebagai guru spiritual para bupati, menjadikan trah Danoeningrat memilih dimakamkan di area ini. Mulai dari Danoeningrat I, II, dan III dikebumikan di sini. Bahkan Raden Tumenggung Secodiningrat, Bupati Wonosobo pertamapun dimakamkan di sini.


Jelajah kali ini memang sedikit banyak telah menguak misteri sejarah di balik bangunan tua yang tersebar di sekitar alun-alun Magelang. Patut disayangkan bila perhatian pemerintah setempat terhadap aset-aset sejarah ini sangat rendah. Sosialisasi pengetahuan dan informasipun bahkan harus dilakukan oleh sebuah komunitas yang bermodal dengkul. Sudah semestinya kiranya bila pemda lebih memberikan perhatian khusus terhadap aset bangunan tua bernilai sejarah yang dimilikinya. Setidaknya mempertahankan keaslian bangunan yang ada, syukur melakukan penganggaran untuk pemeliharaan dan pemugaran. Dan harapannya ke depan aset tersebut tidak hanya bernilai sejarah semata, namun memiliki nilai tambah sebagai sarana edukasi dan ekonomi sekaligus.

Satu catatan yang paling penting bahwa berbagai komunitas yang sangat peduli terhadap lingkungan sekitar, tanpa dukungan moral maupun material dari pihak lain bahkan pemerintah, namun memiliki tekad dan semangat untuk “berbuat sesuatu” adalah para makhluk Tuhan yang sangat langka dan memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Bahkan atas virus sejarah yang disebarkan Mas Agung Dragon dan wadyabalanya, turut berpartisipasi barisan Komunitas Blogger Pendekar Tidar, beberapa wartawan, seniman, para guru sekolah menengah, bahkan sederetan mahasiswa program doktoral UGM. Matur nuwun juga kepada Mbak Wahyu Utami, atas semangat berbagi cerita dan pengetahuannya. Moga ke depan acara ini dapat terus berlanjut dan memberikan suatu nuansa bagi Magelang tercinta. Salam bhumi Tidar…………………………

Ndalem Peniten, 31 Januari 2011

  • 22 Views

THIS ARTICLE IS WRITTEN BY

pendekartidar

Pendekar Tidar adalah salah satu komunitas blogger di Magelang. Terdiri dari beberapa blogger dari berbagai kalangan yang disatukan karena berdomisili di Magelang, pernah tinggal di Magelang, pernah singgah di Magelang, atau karena memiliki kenangan tentang Magelang.

Author Profile
COMMENTS
  1. Elang Wilangkara

    Bala Tidar….pada tahun 2012 ini kita akan kehilangan satu sudut lereng Tidar yang indah dan bisa kita banggakan. Rencananya jalan Sudirman akan dilebarkan dengan memangkas kantor Polsek Trunan dan dibablaskan melewati sebelah barat kali Manggis dan disambungkan dengan jalan Ikhlas. Apakah ini yang disebut kebijakan pembangunan yang ramah dengan lingkungan…kita tidak akan lagi bisa menikmati pandangan bebas lereng Tidar dari sebelah timur…sungguh sayang dan ironis…akankah kita hanya bisa diam dan merelakan warisan nenek moyang kita tertelan oleh ganasnya pembangunan??? lalu apa yang bisa kita banggakan kelak untuk anak cucu kita…semoga Alloh SWT membuka mata hati dan pikiran pejabat pejabat Pemerintah Daerah Magelang…

    • ndoroseten

      baru tahu kabar ini, memang banyak konsep pembangunan yang tidak jelas dan transparan, celakanya PEMKOT MGL tidak pernah terbuka…contoh Magelang Kota Sejuta Bunga!

  2. Elang Wilangkara

    Sepi ing pamrih..rame ing gawe..Bala Tidar..tulisan ini adalah suara batin..jeritan tangis kami sebagai putra putra asli Magelang yang mengedepankan kearifan budaya dan persaudaraan dengan alam…mari kita bersatu dengan memberikan masukan yang bijak dan indah agar pusaka kita..pusaka alam Magelang yang sangat kita cintai ini tetap terjaga, terawat dan tidak lekang oleh ganasnya nafsu angkara dan keserakahan manusia…dengarlah tangis ini saudara saudaraku…dengarlah dengan mata hati…mata batin…resapkanlah di dalam kalbu kita,,,Insyaalah niatan baik kita diterima oleh Allah sebagai pahala disisiNya….

Leave a Reply

%d bloggers like this: