Dusun merupakan struktur lembaga adat dan budaya yang paling eksis dari masa ke masa. Sedari awal asal-usulnya, sebuah dusun memiliki otonomi yang sangat luas untuk menumbuh-kembangkan adat dan tradisinya. Kekeluargaan, kebersamaan, keguyuban dan gotong royong adalah benih-benih nilai kearifan lokal yang masih tetap eksis dalam terpaan badai globalisasi dan modernisasi. Lekatnya masyarakat pedusunan dengan tradisinya menjadikan mereka dinilai sebagai kaum tradisional.

Gunung Merapi adalah bentangan alam anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan kesuburan buminya, dengan kesejukan hawanya, dengan keheningan suasananya, dan dengan keteduhan suasananya telah melahirkan spirit kekeluargaan, kebersamaan, keguyuban dan rasa gotong royong diantara insan manusia yang tinggal di dalamnya. Nilai-nilai tersebut tergambar jelas dalam tradisi-tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Salah satu tradisi tersebut adalah tardisi ruwahan di Dusun Kronggahan, Desa Polengan, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.

Dalam hitungan kalender Hijriyyah, bulan Sya’ban datang sebelum masuknya bulan Ramadhan. Menurut ajaran Islam, pada bulan tersebut ummat muslim dianjurkan untuk mempersiapkan diri dengan penyucian jiwa dan raga sebelum memasuki Ramadhan. Di antara upaya penyucian diri adalah amalan birul walidain, memohon maaf kepada orang tua dan sekaligus memohonkan maaf untuk arwah para leluhur, serta mendoakan bagi kebaikan mereka. Kata “arwah” inilah yang kemudian diadopsi dalam kalendar Jawa sebagai bulan Ruwah, bulan pemuliaan arwah nenek moyang dan leluhur.

Ruwahan, di kalangan masyarakat tepi Merapi, dilakukan dengan memberikan shodaqoh kepada para tetangga dalam wujud makanan. Satu kelompok keluarga kecil (biasanya terdiri 5-7 keluarga) secara bersama-sama mempersiapkan uba rampe atau kelengkapan untuk kenduri. Ada nasi tumpeng atau ambeng, lengkap dengan sayur dan ingkung (gulai ayam kampung yang utuh tanpa dipotong-potong), mie, keper atau peyek, thontho, apem, ketan, buah-buahan, ditambah beberapa jenis hasil bumi yang lain.

Uba rampe kenduri tersebut ditata sedemikian di atas ancak, tampah, besek, ataupun dalam bakul-bakul kecil. Selanjutnya tatanan kenduri tersebut ditempatkan di atas tikar yang digelar di rumah induk dari kelompok keluarga yang memiliki hajatan. Satu per satu perwakilan dari keluarga-keluarga lain datang untuk kendurenan. Uba rampe kenduri dikepung dari semua sisi arah mata angin, empat keblat gangsal pancer, oleh para hadirin yang dipersaksikan oleh para malaikat.

Mengawali acara kendurian, Pak Kaum sebagai pemangku adat menyampaikan ikrar dari shohibul hajat mengenai niat dan tujuan dikeluarkannya shodaqoh jariyah berwujud nasi tumpeng atau ambeng dan uba rampe-nya. Inti dari uraian ikrar tersebut adalah rasa syukur kepada Tuhan atas segala limpahan dan karunia rejeki yang diberikan. Juga tidak lupa disampaikan rasa terima kasih kepada para leluhur, nenek moyang dan para cikal bakal berdirinya dusun, karena atas jasa mereka para anak cucu dapat hidup dengan kelapangan rejeki, sandang, pangan, dan papan di atas dusun yang dibangun. Inti daripada inti ucapan Pak Kaum adalah rangkaian doa untuk memohonkan ampun dosa-dosa arwah nenek-kakek dan para leluhur yang telah bersemayam di alam baka, yang diaminkan oleh semua hadirin yang hadir di dalam kalangan tersebut. Inilah makna dari “ruwahan” tadi.

Selesai rangkaian ikrar yang disampaikan melalui Pak Kaum, tumpeng dan ambeng-pun dibelah. Sayur dan lauk paukpun dibagi-bagikan secara merata kepada seluruh keluarga satu dusun. Semangat pemerataan rejeki sangat kental bisa disaksikan di sini, karena semua kemurahan rejeki makanan dibagikan secara adil dan merata. Bahkan perwakilan keluarga yang tidak bisa hadir dalam prosesi kendurian itupun tetap akan mendapatkan jatahnya, karena tetangga terdekatnya pasti akan membawakannya untuk mereka.

Filosofi “mangan ora mangan sing penting kumpul” benar-benar dijiwai dan dihayati dalam sebuah prosesi kendurian. Dalam hari-hari dimana tradisi ruwahan berlangsung, semua keluarga, baik yang kaya maupun yang miskin, semua menikmati makanan dari keberkahan nasi kenduri. Nikmat dibagi bersama, beban hidup-pun ditanggung bersama secara gotong royong. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Inilah nilai hikmah yang bisa dipetik dari kelangsungan tradisi ruwahan.

Desa mawa cara, negara mawa tata. Ruwahan di selingkaran tepi Merapi dilaksanakan dengan kendurian. Di tempat lain bisa jadi ruwahan dilakukan dengan cara yang lain pula. Namun demikian, semangat dan makna ruwahan kurang lebihnya pasti tidak jauh berbeda untuk mempererat kembali tali kebersamaan diantara sesama manusia yang masih hidup, di samping inti hajat untuk mendoakan kemuliaan arwah para leluhur dan nenek moyang. Dalam ruwahan, sekaligus aspek hubungan antar sesama manusia (hablum minannas) dan hubungan manusia kepada Tuhan (hablum minallah) terpadukan dengan sangat khusuknya.

Tradisi menjadi jati diri dan identitas sebuah kelompok masyarakat. Kekayaan tradisi di seantero penjuru Nusantara yang disikapi dengan filosofi ke-bhinneka tunggal ika-an justru akan menjadi perekat rasa nasionalisme yang sangat kuat.  Dengan demikian tumbuh-kembangnya semangat dan nilai-nilai yang terkandung di dalam sebuah tradisi harus senantiasa dilestarikan. Hanya dengan jati diri dan kepercayaan diri yang dilandasi tradisi, bangsa ini akan menjadi bangsa yang mandiri dan percaya diri untuk bersanding dengan bangsa-bangsa lain di percaturan dan pergaulan dunia.

Ngisor Blimbing, 7 Juli 2012