SIMBOL KEBERSAMAAN YANG MASIH BERTAHAN

Lebaran memang identik dengan ketupat. Namun masyarakat di sekitar lereng Merapi tidak pernah merayakan Idhul Fitri dengan ketupat dan opor ayamnya. Di samping tradisi takbiran dan ujung atau silaturahmi, lebaran bagi masyarakat Merapi justru lebih semarak dengan petasan dan balon lebarannya. Bunyi petasan memang terdengar semakin sayup karena memang dilarang pemerintah. Namun jangan ditanya soal balon, ratusan balon akan tetap menghiasi angkasa raya di hari raya.

Balon lebaran yang saya maksudkan tentu saja bukan sekedar plembungan, karet lunak yang ditiup atau dipompakan udara, bahkan diisi karbit untuk mainan anak-anak. Balon lebaran adalah balon ukuran raksasa dengan tinggi mencapai 5 – 20 meter. Balon ini terbuat dari plastik tipis atau kertas minyak. Balon istimewa ini biasanya memang khusus dibuat untuk menyambut momentum datangnya Idhul Fitri.

Komponen utama balon lebaran terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama adalah badan balon yang terbuat dari plastik atau kertas minyak. Bagian ini berfungsi menampung udara yang diisikan ke badan balon untuk mengangkat balon hingga bisa mengudara di angkasa. Bagian kedua adalah blengker balon. Blengker biasanya terbuat dari bambu yang dipipihkan, kemudian dibentuk menjadi sebuah lingkaran penuh dan berfungsi sebagai dasar atau pijakan badan balon. Bagian selanjutnya adalah asep balon. Asep terbuat dari gulungan kain gombal yang terlebih dahulu direndam dalam minyak tanah. Seringkali asep diwadahi dengan kaleng yang diisi dengan minyak tanah. Dengan demikian asep bagaikan sebuah sumbu dari suatu oncor. Kegunaan asep adalah sebagai sumber api yang menghasilkan asap. Asap yang memenuhi badan balon inilah yang bisa menjadikan balon terangkat ke udara.

Balon lebaran merupakan hasil kreativitas dan inovasi yang lahir sebagai sebuah tradisi. Tidak jelas siapa yang menemukan atau mengawali pembuatan balon ini, tetapi balon terus hadir memberikan nuansa semarak di Hari Fitri. Bentuk balonpun sangat beraneka ragam, sangat tergantung daya imajinasi dan kreativitas pendesainnya. Ada balon berbentuk botol, kendil, hingga maaf, berbentuk kondom.

Proses pembuatan balon bukanlah sebuah proses yang pendek. Sedari awal bulan Ramadhan, biasanya balon sudah mulai dirancang. Dengan modal donatur tunggal maupun saweran alias urunan ramai-ramai warga dusun, plastik atau kertas, blengker, asep, serta segala uba rampe bahan kelengkapan balon disiapkan. Semangat kebersamaan untuk membuat balon adalah kebersamaan yang semakin langka di negeri ini.

Hari Raya Idhul Fitri adalah hari kemerdekaan seorang muslim dari belenggu noda dan dosa. Inilah hari kesucian dimana manusia lahir kembali bagaikan seorang bayi yang masih murni. Hari ini pulalah yang ditunggu-tunggu segenap warga dusun untuk meluncurkan balon lebarannya. Selepas sholat Idhul Fitri yang digelar di lapangan atau masjid, segenap warga berkumpul di tanah lapang atau pelataran yang luas. Tua, muda, lelaki, perempuan, anak-anak dan para bocah, hingga para simbah, tumpah ruah membentuk lingkaran besar.

Para remaja dan pemuda dusun segera cancut taliwanda untuk mempersiapkan segala sesuatu guna menaikkan balon lebaran. Tanpa komando dan pembagian tugas yang ruwet, masing-masing warga berpartisipasi aktif untuk tidak berpangku tangan. Satu-dua orang mepersiapkan bedhihan atau api perdiangan berupa abu pekat yang disiram dengan minyak tanah. Sesaat kemudian api disulutkan pada abu tersebut. Keluarlah asap hitam pekat yang akan digunakan untuk mengisi balon.

Beberapa pemuda yang lain dengan sigap segera memegang blengker balon, sehingga asap hitam pekat dari perdiangan masuk perlahan ke dalam badan balon. Tak menunggu seberapa lama, badan balonpun terisi penuh dengan asap hitam. Setelah tekanan asap di dalam badan balon mampu mengangkat balon, maka asep-pun disulut sebagai sumber asap saat balon mengudara. Deretan warga yang lain memegang galah dan benang kendali untuk mengarahkan gerakan balon agar dapat meluncur manis tanpa tersangkut pohon ataupun kabel listrik. Sesaat kemudian balonpun mengudara dengan anggunnya diiringini suara sorak hore dan tepuk tangan seluruh warga dusun.

Detik-detik peluncuran balon ke udara adalah momentum kegembiraan bersama yang sangat luar biasa. Hasil saweran, jerih payah, dan kerja lembur selama hampir sebulan terbayar lunas saat semua wajah tersenyum melepas balon lebaran kebanggaan dusun mereka. Segala susah dan jerih payah, suka dan duka yang dibingkai dalam ketulusan kebersamaan adalah anugerah terindah di setiap lebaran. Segala beban seakan lepas bersamaan dengan lepasnya balon lebaran. Jiwa dan raga seakan menjadi ringan, tenang dan damai sebagaimana tenangnya balon menjelajahi angkasa raya hingga di batas cakrawala.

Balon lebaran adalah tradisi berlandaskan nilai kearifan lokal yang terus tergerus jaman. Akankah kebersamaan diantara sesama manusia sebagaimana tersimbolisasi dalam balon lebaran akan mampu bertahan di relung hati manusia? Moga kita bisa belajar secara bijaksana dari banyak tradisi yang telah diwariskan para leluhur terdahulu.

 

Ngisor Blimbing, 21 Agustus 2011