TADABUR GUNUNG KIDUL

Berawal dari obrolan di forum mailist rekan-rekan BHI tentang ide program sosial tahunan, mengalirlah gagasan bakti sosial di Gunung Kidul. Gunung Kidul sebagai wilayah kering, alias kurang air, sengaja dipilih untuk melebarkan jiwa kesetiakawanan sosial hingga menembus batas karang dan gunung. Karena permasalahan air menjadi menu keseharian warga, maka program yang akan digulirkan tentu saja bicara soal air.

Gunung Kidul adalah satu wilayah administrasi di sudut tenggara Provinsi DIY. Secara topografis memiliki profil alam bergunung-gunung di bagian utara dan selatan dengan garis batas cekungan Wonosari. Wilayah selatan sebagai perpanjangan rangkaian pegunungan Sewu, konon merupakan evolusi dari pengangkatan karang lautan akibat pergerakan lempeng Samudra Hindia. Maka alam daerah tersebut tersusun dari batuan karts yang keras. Konon air berlimpah mengalir di kedalaman tanah, namun air permukaan bisa dikatakan sama sekali tidak ada. Inilah persoalan hidup mereka sehari-hari.

Format program memang masih menjadi diskusi hangat. Ada yang usul sekedar ngedrop bantuan air tanki dengan target 500 x 5.000 liter. Adalagi wacana yang menginginkan bantuan diwujudkan kail jangan ikan. Wacana memang harus diuji dengan data dan fakta lapangan yang memadai. Untuk lebih menggali permasalahan dan kebutuhan warga, maka diutuslah beberapa duta untuk melakukan survey lokasi.

Adalah Yudi, Mas KW, dan Ipung menyatakan kesanggupannya untuk jlajah deso milangkori. Hanya yang menjadi kendala, ketiganya belum mengenal medan wilayah kapur di selatan Jawa tersebut. Rencana awal survey tersebut akan dilakukan dengan moda transportasi umum. Namun ada pertimbangan bahwa alam gunung yang terpencil menjadikan akses transportasi di lokasi sama sekali sulit diandalkan. Ditambah lagi angkutan umum hanya mangakses jalur utama(jalan beraspal), sedangkan target lokasi diperkirakan berada 2-3 km di pedalaman.

Alternatif solusinya adalah menjejalah bukit kapur dengan motor. Dari kontak kanan, kontak kiri, akhirnya ada beberapa relawan BalaTidar yang sedia membantu. Dengan semangat paseduluran tanpa batas, para Pendekar Tidar tersebut beritikad untuk sekedar memberikan apa yang bisa mereka lakukan bagi suatu niat kebajikan. Adalah Pangkopdar Nahdhi yang mandegani pasukan didukung penuh oleh sak bergodo pasukan, seperti Eko, MadeKukuh, dll.

Dengan adanya kolaborasi diantara perwakilan dua komunitas blogger ini diharapkan dapat menjadi jembatan silaturahmi yang lebih akrab dan intensif. Bukankah persaudaraan adalah satu nilai yang tiada terkira harganya? Paseduluran memang tidak mengenal batas.

Tour de Wonosari bisa dimaknai secara lebih relijius mengingat pelaksanaannya tepat di hari pertama bulan suci Ramadhan. Sambil menyelam minum air, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Kekhasan alam Gunung Kidul bisa menjadi sarana pembelajaran akan keagungan penciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Tadabur alam Gunung Kidul, bisa dibilang mengiqro’i dan mentowafi kebesaran kekuasaanNya. Dan semoga banyak hikmah yang terungkap menjadi nilai untuk senantiasa berproses membenahi diri. Semoga sukses sobat! Selamat bertadabur….!!!!

Kampung Kosong, 21 Agustus 2009