Spot Wanawisata Terpopuler selama Lebaran di Kabupaten Magelang

Kemajuan teknologi digital telah menggabungkan berbagai fitur komunikasi dalam genggaman smartphone atau hp kita. Ingin berfoto ria, bisa dengan hp. Tidak perlu kamera khusus dan keahlian yang jago selayaknya fotografer profesional. Ingin mengunggah file foto kita ke internet, juga bisa melalui hp kita. Tidak perlu lagi menggunakan laptop khusus yang terkoneksi internet maupun jauh-jauh pergi ke warnet. Kedua hal yang kini semakin populer itu cukup dikerjakan langsung dari genggaman tangan kita. Bisa dilakukan kapanpun dan dimananapun, selama hp kita terkoneksi internet.

Ber-selfie ria. Inilah fenomena yang sedang ngeksis saat ini. Kemajuan dunia maya melalui media sosialnya telah mengubah gaya hidup manusia modern. Dimanapun, kapanpun, dan sedang melakukan apapun ingin kita rekam dan segera kita sebarkan kepada khalayak yang lebih luas. Eksistensi diri adalah kata kunci yang selalu terpikirkan di benak setiap orang dan setiap waktu pada saat ini.

Di sisi lain, modernitas manusia yang terpusat di kawasan urban atau kota telah pelan namun pasti  menggeser kebersamaan manusia dengan alam. Kesibukan dan rutinitas manusia urban dalam kesehariannya semakin terasing dari keaslian nuansa alam. Hal ini tentu saja membawa kepada kejenuhan dan kepenatan, baik pada raga maupun jiwa kita. Dengan demikian sekali waktu raga, jiwa, dan pikiran memerlukan jeda dari rutinitas dalam wujud liburan. Dan karena secara kodrati manusia hadir lekat dengan alam, maka semakin banyak orang yang memanfaatkan liburannya untuk kembali menyapa alam. Kembali ke alam.

Fenomena gaya hidup selfie ria dengan spirit kembali ke alam ini ditangkap sebagai peluang usaha oleh beberapa kelompok masyarakat setempat untuk mengembangkan Wanawisata Top Selfie “Hutan Pinus” di Kragilan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. 

Adalah Desa Kragilan, sebuah desa terpencil yang berada di kaki Gunung Merbabu. Desa yang menyatu dengan deretan hutan pinus ini dihuni oleh penduduk yang semula menggantungkan kehidupannya dari pertanian dan perambahan hutan di sekitarnya. Desa yang hanya terdiri dari deretan beberapa rumah yang berjajar sepanjang jalanan kampung yang berbatasan dengan sebuah bibir jurang tentu sangat jauh dari hiruk-pikuk kunjungan warga lain daerah. Sunyi, senyap, hening dan tentram. Itulah nuansa alam yang hadir dalam keseharian masyarakat Kragilan di waktu-waktu yang lalu.

Kragilan sebagai desa terpencil yang sunyi senyap, kini telah berubah. Melalui buah pikiran dan tangan-tangan kreatif dari beberapa warga, desa yang berada di tepian jurang dan berpagarkan deretan pohon pinus itu kini disulap sebagai tujuan wisata yang tengah populer di kalangan masyarakat Magelang maupun di dunia maya. Ribuan orang tengah menyambangi Kragilan dan menyebarluaskan foto selfie-nya pada sebuah jalan sunyi berpagar pohon pinus. Kragilan telah menapaki garis hidupnya yang sama sekali berubah dari era sebelumnya. Kragilan kini tenar sebagai destinasi wanawisata baru di wilayah Kabupaten Magelang.

Selain berfoto seorang diri dengan latar jalan berpagar pohon pinus, di Wanawisata Kragilan kini telah dilengkapi dengan beragam spot foto selfie yang unik nan kreatif. Ada sepeda yang melayang pada seutas kawat yang terbentang di bibir jurang. Ada spot ayunan tinggi menjulang berlatar jurang dalam. Ada spot jembatan berhias payung dan bebungaan yang tertata sungguh indah. Ada spot “love” untuk berfoto bareng keluarga atau orang tercinta. Bahkan ada meja kursi yang tergantung pada seutas kawat yang  bak mengapung berteman awan.

Liburan Lebaran tahun ini yang berbarengan dengan liburan panjang kenaikan sekolah menjadikan Wanawisata Hutan Pinus Kragilan dibanjiri ribuan pengunjung. Pengunjung tidak saja berasal dari wilayah di sekitar Magelang, namun banyak sekali pengunjung dari luar kota yang hanya sekedar mampir karena kebetulan melintas mudik di Magelang maupun para pengunjung yang sengaja jauh-jauh mendatangi Kragilan. Hal ini tidak terlepas dari popularitas wanawisata baru ini di dunia media sosial.

Wanawisata Hutan Pinus Kragilan dapat dicapai melalui jalur Magelang-Kopeng-Salatiga. Tiba di Pertigaan Kaponan, pengunjung mengambil arah timur memasuki jalur tembus ke arah Ketep Pass (jalur Selo, antara Merapi dan Merbabu). Hanya menempuh jarak kurang lebih 4 km, pengunjung akan tiba pada sebuah belokan tanjakan yang bercabang. Pada titik percabangan arah selatan yang menurun lagi inilah jalur Wanawisata Hutan Pinus Kragilan berada.

Mengingat wanawisata baru ini masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat, maka tiket masuk yang dikenakan masih sangat murah. Tarif tiket yang dikenakan hanya  Rp 5.000,-  untuk sepeda motor dan Rp 15.000,- untuk sebuah mobil. Dari pintu masuk, pengunjung dapat langsung menyusuri jalanan berkontur cor block semen yang menurun dengan landai berpagar ratusan pohon pinus yang gagah menyejukkan. Selain biaya tiket masuk, tidak lagi dikenakan tiket parkir. Namun demikian, untuk dapat ber-selfie ria pada spot-spot unik kreasi warga, seperti sepeda gantung, ayunan raksasa, meja makan apung, jembatan bunga payung, spot “love” dan lain sebagainya, pengunjung dikenakan tarif rata-rata Rp 5.000,- per orang untuk berfoto sepuasnya.

Lebaran kemarin merupakan keberkahan tersendiri bagi warga Kragilan. Desa sunyi senyap yang biasanya hanya berteman desahan dahan pinus yang tertiup angin Gunung Merbabu itu menjadi gegap gempita dengan ramainya wisatawan yang berkunjung. Tentu saja sedikit banyak ramainya pengunjung tersebut membawa tambahan penghasilkan yang semoga saja sedikit banyak mampu mengangangkat kesejahteraan warga dusun setempat.

Penasaran dengan kehebohan ber-selfie ria di Wanawisata Hutan Pinus Kragilan di lereng Gunung Merbabu? Monggo kita sambangi ramai-ramai.

Lor Kedhaton, 12 Juli 2017