Monumen Bambu Runcing Muntilan

Bambu Runcing1Bangunan di tapal batas kota Muntilan itu memang unik, bahkan sangat khas. Bukan rumah ataupun menara, tetapi bangunan yang saya maksudkan berupa sebuah bangunan monumen. Anda semua tentu pernah melintas dan melihat Monumen Bambu Runcing bukan? Monumen ini merupakan monumen peringatan perjuangan yang sangat gigih dari para pejuang di sekitar Kota Muntilan dalam perlawanan terhadap bangsa kolonial Belanda maupun Jepang.

Muntilan memang kota perjuangan. Pada masa pecahnya Perang Diponegoro. Muntilan menjadi salah satu daerah penyangga pada saat gerak pasukan Diponegoro semakin terdesak ke arah perbukitan Menoreh di sisi barat Kali Progo. Di masa revolusi kemerdekaan, Muntilan-Magelang merupakan jalur penghubung yang sangat penting antara Kota Jogja dan Semarang. Di samping itu Magelang menjadi titik penting sebagai pusat pendidikan kemiliteran Belanda kala itu. Maka untuk mengenang jiwa patriotisme perjuangan yang heroik oleh masyarakat Muntilan dan sekitarnya serta untuk menanamkan spirit kejuangan kepada generasi muda, dibangunlah Monumen Bambu Runcing yang berlokasi di ujung Jalan Pemuda sisi utara Kota Muntilan.

Bambu Runcing3 Bambu Runcing2

Dalam khasanah pelajaran sejarah nasional di bangku-bangku sekolah, tidak jarang para guru sejarah membeber kisah perjuangan para pendahulu melawan penjajahan bangsa asing. Perjuangan tradisional dilakukan dengan mengangkat senjata alias melakukan perlawanan fisik. Berbagai perlawanan dalam bentuk peperangan terjadi di berbagai penjuru tanah air. Banyak fakta sejarah yang menyatakan bahwa persenjataan antara bangsa pribumi dan penjajah sangat tidak berimbang. Bangsa penjajah telah diperlengkapi dengan persenjataan yang serba canggih dan lebih modern. Ada senapan api, pistol, juga meriam. Sedangkan pejuang-pejuang kita masih mengandalkan senjata tradisional, seperti pedang, keris, panah, bahkan bambu runcing.

Bambu runcing tentu saja senjata yang sangat sederhana. Dibandingkan dengan tombak atau keris, bambu runcing benar-benar sekedar mempergunakan kemurahan alam dalam wujud beberapa ruas bambu yang salah satu ujungkan diruncingkan sehingga memiliki ketajaman untuk dihunjamkan ke tubuh lawan. Tidak ada unsur logam sebagaimana batang pedang, keris ataupun mata tombak. Nenek moyang kita bahkan mengistilahkan bambu runcing sebagai sekedar tumbak cucukan, tombak bambu yang diruncingkan tanpa memiliki mata tombak yang biasanya terbuat dari logam.

Bambu Runcing6 Bambu Runcing7

Berbeda dengan senjata api yang memiliki jangkauan bidik jarak jauh, bambu runcing hanya dapat menjangkau musuh yang berada pada jarak beberapa ruas batang bambu. Mungkin hanya sekitar 2-3 meter. Dengan demikian bambu runcing merupakan senjata yang hanya bisa diandalkan untuk pertempuran jarak dekat ataupun perang tanding. Hal ini tentu sangat berbeda dengan perlengkapan senjata api bangsa penjajah yang sudah memiliki jangkauan puluhan bahkan ratusan meter. Dalam kriteria inilah bambu runcing jelas kalah juah kecanggihannya dibandingkan senjata api, bahkan dengan senjata panah sekalipun.

Namun begitu, bambu runcing konon merupakan senjata yang sangat atau bahkan ditakuti oleh bangsa penjajah. Menurut pak guru yang dulu mengajar sejarah di bangku sekolah dasar, konon para serdadu penjajah paling ngeri, takut, bahkan miris jika sampai perut mereka ditusuk, diudhel-udhel perutnya dengan ujung bambu runcing. Setajam-tajamnya ujung welat bambu runcing tentu tidak setajam mata pedang dan ujung tombak logam. Justru hal inilah yang mengerikan. Betapa luka yang disebabkan tusukan atau robekan bambu runcing akan sangat terasa perih nan pedih. Jangankan langsung menimbulkan luka dalam yang dapat langsung mengantarkan dewa maut, luka akibat bambu runcing malah akan sangat menyiksa sehingga siksaan rasa sakitnya harus dirasakan dalam kurun waktu yang lebih panjang. Apalagi jika dibandingkan dengan bidikan senjata api yang bisa langsung membuat thek-sek orang yang terlukai, bayangkan jika sampai perut tertusuk kemudian usus-usus dan segala isinya terburai keluar. Hmm…. sungguh sangat menakutkan bukan?

Bambu Runcing5 Bambu Runcing4

Di samping kengerian akibat ketajaman welat bambu runcing, konon banyak juga bambu runcing yang dipergunakan para pejuang di jaman perlawanan terhadap penjajah pada masa lalu tersebut telah diwisiki doa dan mantra dari para Mbah Kiai yang meniupkan pengaji-aji supermistik. Kita mungkin pernah mendengar kisah mengenai berkah Mbah Kiai Parakan dari Temanggung yang sekedar meniup atau meludahi ujung bambu runcing, maka barangsiapa hanya sekedar melangkahi ruas bambu runcing, maka seketika orang tersebut akan menemui ajal, mampus alias sirna marga layu. Bambu runcing dari Parakan sangat terkenal pada masa perlawanan terhadap tentara Dai Nipon.

Bangunan utama Monumen Bambu Runcing berupa perwujudan bambu runcing raksasa yang berdiri tegak menjulang tinggi dan terbuat dari cor-coran beton bertulang. Tinggi monumen tidak kurang dari 15 meter, sehingga keberadaan monumen tersebut sudah bisa dilihat dari kejauhan. Batang beton bambu runcing tersebut ditopang dengan landasan bangunan gedung berbentuk segi delapan sama sisi. Pada sisi luar dinding gedung ini terpahat berbagai relief yang mengisahkan perjuangan berbagai laskar perjuangan pada masa perjuangan fisik merebut dan mempertahankan kemerdekaan republik ini.

Bambu Runcing8 Bambu Runcing9

Area Monumen Bambu Runcing kini telah dikembangkan menjadi area taman kota yang sejuk dan rindang. Berbagai pepohonan yang tumbuh subur menghijau menjadikan suasana di taman ini semakin indah dan asri. Di samping itu, beberapa wahana permainan anak-anak menjadi pelengkap keberadaan taman monumen yang kini sering menjadi tempat bermain dan tongkrongan para remaja. Ada ayun-ayunan, jungkat-jungkit, plosodan, miniatur sepeda kuno, juga patung-patung beberapa jenis binatang. Pada hari Minggu maupun hari-hari liburan sekolah, Taman Monumen Bambu Runcing senantiasa dipadati para orang tua yang ngangon dan ngemong bocah-bocahnya.

Di samping menanamkan nilai sejarah dengan mengunjungi dan mengamati monumen, anak-anak juga terhibur dengan aneka pilihan wahana permainan yang mengasyikkan. Bahkan di sisi tepian Jalan Pemuda, di samping difungsikan sebagai area parkir juga dilengkapi dengan deretan warung tenda yang menjajakan berbagai sajian yang menggugah selera khas Kota Muntilan. Ada bakso, mie ayam, soto ayam, kupat tahu, gorengan, juga aneka minuman jus, teh kotak, dan lain sebagainya. Belum pernah mampir dan menikmati suasana Monumen Bambu Runcing Muntilan? Sekali-kali cobalah untuk merasakan sensasinya.

Ngisor Blimbing, 11 Juni 2014

Kopdar Gethukan Akhir Mei 2014

Blogger tanpa kopdar mungkin memang terasa hambar. Meskipun para pendahulu blogger cukup banyak yang nyata maupun sembunyi undur diri dari pakeliran blogger, tetapi tidak sedikit pula blogger-blogger newbie hadir mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan para seniornya. Ibarat kata daun-daun kuning, layu untuk kemudian gugur berjatuhan, tetapi tunas-tunas muda telah tumbuh untuk menggantikan yang tua. Itulah sebuah keniscayaan hukum alam.

Adalah dunia blog, di samping menjadi media ekspresi diri maupun berbagi ide ataupun pengalaman, blog juga berguna dalam menjalin tali silaturahmi. Dari saling kunjung-mengunjungi antar blog, tidak sedikit perkenalan dan interaksi di dunia maya bersambung di dunia nyata. Makanya pada saat sekerumunan para blogger kopdaran, suasana akrab sangat cepat terjalin. Tidak ada lagi rasa canggung karena satu sama lain sudah pernah berinteraksi melalui blog masing-masing. Semua berbaur akrab dalam suasana persaudaran yang kental.

Sebagaimana ditradisikan di Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang, forum gethukan alias glenak-glenik methuk malem mingguan memang dirancang sebagai ajang jumpa darat yang dihelat secara rutin dua kali setiap bulannya. Namun suatu cita-cita dan rencana manusia seringkali mengalami pasang surut, termasuk forum gethukan tadi. Hal inilah yang kemudian menjadikan gelaran gethukan lebih sering diselenggarakan secara tentatif. Termasuk gethukan yang berlangsung pada penghujung 31 Mei 2014 yang lalu.

Berawal dari fakta berderet-deretnya tanggal merah di minggu terkahir bulan Mei, beberapa Balatidar menelurkan ide untuk gethukan. Ide itupun segera diworo-worokan melalui media sosial, gayungpun kemudian bersambut. Beberapa Balatidar langsung merespon dengan menyatakan diri untuk siap merapat ke Ringin Tengah Alun-alun Kota Magelang. Bukan semata-mata Balatidar yang masih tetap menetap di Magelang tercinta, tetapi beberapa Balatidar yang kesehariannya berada di tanah rantau juga berniat untuk turut gethukan. Bahkan ada juga beberapa penggedhe dan warga Kampung Blogger ingin turut hadir pula.

Pada hari yang dijanjikan, semenjak pagi Gusmul terus sibuk mengkonfirmasi daftar rekan-rekan Balatidar yang telah berkomitmen untuk gethukan bersama. Selepas ba’da Ashar hingga menjelang waktu Magrib berkumpullah beberapa Balatidar di ruang terbuka Alun-alun Kota Magelang, tepatnya pada titik tengah antara ringin tengah dan Patung Pangeran Diponegoro. Ada Gusmul van Seneng, Ivan Desain & keluarga, Mas Tri Indonesia Tera, Deny Dele, Rizki Tegalrejo, juga menyusul Kang Ikhsan Salaman. Muka-muka Balatidar memang sebagian besar telah berubah dibandingkan warga gethukan 3-4 tahun yang silam. Meskipun perasaan nglangut senantiasa terbayang jika mengenang gethukan pada tahun-tahun awal keberadaan Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang, tetapi memang roda kehidupan harus berputar.

Sebagaimana format forum gethukan yang cair penuh obrolan ngalor-ngidul, dalam kesempatan gethukan akhir Mei kemarin juga terjadi banyak obrolan. Tema-tema pembicaraan mengalir mbanyu mili tanpa perlu moderasi dari seorang moderator. Ada obrolan ringan yang mengulas jargon Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga. Sekian lama warga menunggu kelanjutan action Kota Sejuta Bunga, namun masyarakat memang masih harus terus bersabar dengan pertanyaan-pertanyaan klasik yang tidak pernah terjawab dengan realitas di lapangan. Beberapa kepala berpendapat, mungkin Kota Sejuta Bunga memang hanya jargon dan isapan jempol yang berorientasi “proyek”.

Dalam kesempatan selanjutnya, Gusmul dan Ivan berbagi cerita panjang lebar mengenai perjumpaan mereka dengan perwakilan Hotel Atria Magelang pada beberapa waktu sebelumnya. Dari pertemuan tersebut terbuka wacana untuk menjalin kolaborasi dan kerja sama antara Hotel Atria dengan Pendekar Tidar dalam wujud lomba blogging contest alias membuat postingan di blog. Tema yang diangkat bisa secara khusus mereview keberadaan Hotel Atria dalam mendukung pengembangan kepariwisataan di Magelang, atau barangkali mengenai Kota Magelang sebagai tujuan wisata sejarah dan petualangan. Meskipun bentuk kerja sama masih sedikit abstrak tetapi tidak ada salahnya juga jika Balatidar mulai mempersiapkan diri.

Tatkala Gusmul menyindir secara nyinyir mengenai siswa sekolah pertanian yang berseragam ala militer, obrolan sempat juga menyerempet kepada urusan pertanian yang menjadi hajat hidup orang banyak dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Buat apa siswa sekolah pertanian yang ujung-ujungnya glidhik di tengah sawah ataupun ladang harus bergaya militeristik. Lebih jauh terungkap keprihatinan bersama soal kemunduran dunia pertanian di negara agraris ini. Bagaimana sulitnya para petani mencari pupuk untuk tanamannya. Bagaimana kemudian pada saat panen tiba, petani sedemikian tidak berdaya berhadapan dengan para pengijon dan rentenir, sehingga petani tidak lagi dapat menikmati jerih-payah kerja keras mereka. Yang kaya memang semakin kaya, sedangkan yang miskin tidak ada lagi yang memikirkan nasib masa depannya.

Selain tema obrolan di atas, sempat mengemuka pula rerasan Gusmul yang sedikit berbagai rahasia mengenai rancangan buku yang tengah disusunnya. Ia sempat merasa mangkel bin jengkel karena penggunaan kata atau frase kata berideom bahasa Jawa yang menjadi ciri khas kelucuan guyonannya Agus Magelangan dinggap berbau sarkanisme, semisal penggunaan kata-kata ndasmu, dengkulmu amoh, bahkan kata hasuuk!

Satu tema obrolan berganti mbanyu mili secara alamiah tanpa rekayasa. Tanpa terasa waktupun semakin petang dan Magrib segera menjelang. Meskipun rasanya masih ingin terus glenak-glenik semalaman suntuk, tetapi Balatidar yang hadir sadar bahwa saat perpisahan memang harus dijalani. Kamipun kemudian sempat berfoto bersama sebelumnya akhirnya barisan Balatidar undur diri dari forum gethukan untuk kembali ke dunianya masing-masing. Sampai jumpa di gelaran gethukan berikutnya. Salam Balatidar.

Ngisor Blimbing, 3 Juni 2014

Sokle Pasar Malam Sindas

Orang-orang kampung umum menyebutnya sokle. Sebagian yang lain lumrah pula mengistilahkannya sebagai sorot. Secara harfiah, sorot bisa dimaknai sebagai berkas sinar atau cahaya. Secara kasat mata, sorot memang memiliki wujud fisik berupa berkas sinar cahaya. Lebih khusus, biasa sorot dimaksudkan sebagai berkas sinar cahaya yang sangat kuat sehingga memiliki jarak jangkauan yang sangat jauh. Gampangnya ya seperti senter rakyasasa ngoten lho mas dab!

Sokle1Lha terus gek apa hubungan antara sokle alias sorot tadi dengan pasar malam? Lha yo jelas ada to mas dab! Sokle pada umumnya dipergunakan sebagai lampu penerang sebagaimana banyak dipakai di menara-menara rumah penjara. Sokle juga banyak dipergunakan untuk petunjuk navigasi pelayaran seperti banyak dipasang di menara mercusuar di tepian laut. Nah pada pasar malam yang biasa digelar di lapangan terbuka ataupun alun-alun, sokle juga dipergunakan sebagai penarik warga masyarakat untuk mendatangi keramaian sebuah pasar malam.

Beberapa hari lampau, tepatnya di Lapangan Dusun Sindas, wilayah Desa Pancuranmas Kecamatan Secang mulai digelar sebuah keramaian pasar malam. Satu hal yang pasti, sokle dengan kekuatan jangkauan berkas cahaya lebih dari 10 km menjadi penanda digelarnya sebuah pasar malam. Setiap senja selepas waktu Maghrib, di seputaran wilayah Kota Magelang Utara pada hari-hari digelarnya Pasar Malam Sindas masyarakat dapat melihat kilasan berkas cahaya dari lampu sokle yang dipancarkan dari lapangan tempat digelarnya pasar malam. Konon pasar malam tersebut akan digelar selama kurang lebih tiga minggu bersamaan dengan liburan anak-anak sekolah.

Sokle2 Sokle3

Pasar malam, khususnya di mata anak-anak tentu memiliki arti tersendiri. Pasar malam merupakan pusat keramaian di tengah perkampungan atau persawahan yang pada malam-malam biasa mungkin hanya dipenuhi dengan suara jangkerik ataupun kodhok ngorek. Namun pada malam-malam digelarnya sebuah pasar malam, suasana sunyi senyap di lingkungan pedesaan seolah lenyap dengan digantikan deru suara genset dan hingar-bingar musik dangdutan ataupun berbagai mesin penggerak aneka rupa macam permainan anak-anak.

Pasar malam juga menjadi sebuah simbol kebersamaan dalam kegembiraan. Masyarakat dari berbagai penjuru kampung dan dusun biasanya akan berbondong-bondong mendatangi sebuah pasar malam. Anak-anak, balita, remaja, pemuda, dewasa, hingga para manula seolah tumplek blek meskipun hanya sekedar menengok keramaian macam apa yang ada di pasar malam. Anak-anak tentu saja yang paling menikmati suasana pasar malam. Ada berbagai wahana permainan yang sengaja digelar, seperti komedi putar, bianglala, ombak banyu, kereta mini, bahkan rumah hantu dan kora-kora.

Sokle4 Sokle5

Di samping menemukan banyak wahana permainan, anak-anak juga dimanjakan dengan beragam jenis mainan atau dolanan yang banyak dijajakan para penjual dolanan. Ada perahu othok-othok, thowet-thowet, gangsingan, juga beragam peralatan permainan yang lebih modern. Ada pula beberapa jenis satwa kecil yang juga dijual, seperti ikan hias, pong-pongan dan hamster. Aneka jajanan makanan khas pasar malam tentu saja tidak pernah lupa turut memeriahkan suasana pasar malam. Ada arum manis, gulali, gondhang-gandhung, martabak, juga jagung atau roti bakar.

Di samping makanan dan permaian untuk anak-anak, di pasar malam juga banyak dijajakan berbagai barang untuk orang dewasa. Ada stan penjualan pakaian, kaos, sepatu-sandal, kain batik, hingga parfum. Ada juga peratalan dapur dan rumah tangga, semisal barang pecah belah, panci, centhong, sapu, kain pel dan masih banyak barang lainnya.

Sokle6 Sokle7

Pasar malam memang menawarkan suasana yang senantiasa akan terkenang di benak seorang bocah. Meskipun berbagai sarana permainan modern ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan dan mall-mall, akan tetapi keunikan dan kekhasan sebuah pasar malam tetap tidak akan pernah dapat tergantikan. Pasar malam memberikan sebuah ruang publik bagi berkumpulnya masyarakat untuk merayakan kebersamaan dan kegembiraan. Kemeriahan dan kemurahan adalah tawaran yang sangat bisa dijangkau oleh kaum pinggiran yang semakin terpinggirkan oleh kebijakan penguasa yang semakin tidak bijaksana. Murah meriah adalah jargon pasar malam yang belum tergoyahkan oleh wahana permainan modern yang masih tergolong mahal bagi kalangan masyakat kecil yang hidupnya senantiasa pas-pasan.

Jika di sekitar tempat tinggal sampeyan kebetulan digelar sebuah keramaian pasar malam, jangan segan dan ragu untuk menyambanginya. Lihat, dengar, dan rasakan nuansa keguyuban lintas masyarakat yang tengah larut dalam kegembiraan bersama. Ah, pasar malam memang selalu ngangeni dan meninggalkan kenangan yang senantiasa akan terbawa hingga dewasa bahkan menjadi kakek-nenek. Anda punya kenangan mengenai pasar malam. Monggo saling berbagi cerita.

Ngisor Blimbing, 2 Juni 2014

Dimana Bunga Sejuta Bunga?

AYani1Magelang adalah suatu wilayah di pusatnya pulau Jawa. Secara administrasi wilayah tersebut terbagi ke dalam Pemerintahan Kabupaten dan Kota Magelang. Beberapa julukan telah disematkan terhadap Kota Magelang, diantaranya sebagai kota militer, kota gethuk, kota tidar, bahkan Magelang Kota Harapan. Untuk slogan atau julukan yang terakhir sudah menggaung dan mengakar bagi masyarakat semenjak pemerintahan Walikota Bagus Panuntun pada akhir dekade 80-an.

Namun demikian, jauh hari sebelum Indonesia merdeka, Kota Magelang telah dijuluki sebagai de Tuin van Java. Artinya kurang lebih sebagai kota taman dari Jawa. Kenapa Magelang mendapat julukan demikian dari para Sinyo dan Noni Belande itu?

Sebagaimana Bandung sebagai Paris van Java, dan Malang sebagai Paris van East Java, maka masing-masing kota itu dikenang dengan julukan-julukannya karena keindahan panorama alam dan kesejukan hawa udaranya. Selain sebagai tempat peristirahatan dan rekreasi untuk melepaskan beban pikiran akibat rutinitas pekerjaan yang padat, lama kelamaan beberapa fasilitas perkantoran penting justru dipindahkan ke daerah-daerah berhawa sejuk. Termasuk konsep pemusatan kegiatan pendidikan kemiliteran yang dibangun di sekitar lembah Tidar.

AYani2 AYani3

Julukan Magelang sebagai de Tuin van Java atau kota taman dari Jawa saya yakin bukan semata-mata slogan kosong tanpa arti dan makna. Kesejukan dan dinginnya udara di sekitar Magelang memang menunjang keasrian kota yang ditata dengan taman-taman kota yang sangat cantik. Dan bukanlah sebuah taman dikatakan taman yang asri jika tiada keindahan warna-warni aneka ragam bebungaan di dalamnya.

Dalam rangka mengenang dan menggali kejayaan sejarah sebagai kota taman inilah barangkali yang menjadikan Pemerintah Kota Magelang di masa kepemerintahan periode ini ingin menggaungkan visi Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga. Nah setelah hampir selama tiga tahun slogan baru tersebut diperkenalkan kepada masyarakat Magelang, lalu seperti apakah perkembangannya di lapangan saat ini?

Memang sebagaimana term of reference atau kerangka acuan kerja yang telah sempat beredar di dunia maya, ada beberapa tahapan dalam program Magelang Kota Sejuta Bunga yang dianggarkan secara multi years. Saya sendiri tidak terlalu hafal dengan tahapan-tahapannya, akan tetapi menginjak tahun ke tiga anggaran berjalan kita semua bisa menjadi saksi seperti apakah progres atau kemajuan langkah-langkah yang telah direncanakan tersebut. Secara gamblang kita bisa menghitung seberapa banyak taman kota yang direvitalisasi, seberapa luas ruang terbuka hijau bertambah, bahkan seberapa banyak pot-pot tanaman dan bunga-bunga yang bersemi atau bermekaran menghias sudut-sudut kota tercinta.

Jika di akhir tahun 2011, tatkala masih hangat-hangat slogan baru itu menggulir di ruang publik masyarakat Kota Magelang, sempat tertuliskan artikel opini yang mengkritisi wacana baru tersebut, apakah kini program tersebut sudah menggulir on the track, alias sesuai dengan perencanaannya? Apakah pemerintah sudah berkoordinasi dan berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan dalam rangka mensukseskan program anyar tersebut? Seberapa jauh masyarakat memahami dan nyengkuyung alias mendukung Magelang Kota Sejuta Bunga?

AYani4Ataukah segala kesangsian dan keraguan banyak kalangan yang mengkhawatirkan bahwa slogan baru yang digulirkan tersebut hanya akan menjadi sekedar slogan kosong, tanpa makna mendalam dan juga realisasinya di lapangan justru sudah mendapatkan pembenarannya? Benarkah slogan hanya tinggal slogan, rencana tinggal rencana, omongan sekedar omongan sebagaimana seorang rekan juga pernah mengemukakan pendapat kritisnya di sini ?Ataukah sudahkah ada imbas manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat secara umum? Mungkin dari hitungan realisasi sebuah program multi years pertanyaan-pertanyaan tersebut masih dianggap terlalu dini. Okelah, tetapi progresivitas mengenai program yang dibiayai dari uang rakyat adalah menjadi hak rakyat pula untuk mengetahui pertanggungjawaban setiap rupiah pembelanjaan yang dikleuarkan.

Jikalau Pemerintah Kota Magelang memang serius dengan program Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga dan seluruh lapisan masyarakat turut handarbeni, memiliki dan hanyengkuyung agenda tersebut, pasti impian tersebut akan cepat menjadi kenyataan. Bisa jadi, masyarakat secara swadaya akan melakukan peran serta dalam penataan lingkungannya masing-masing dengan kegiatan tamanisasi dan penghijauan lingkungan hidup. Bahkan jika kita masih menyaksikan banyaknya titik taman-taman kota yang tidak terawat dengan baik karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki Dinas Pertamanan, bukan tidak mustahil jika kalangan kelompok masyarakat yang telah sadar lingkungan akan sesekali babat arit untuk bebersih dan memelihara tanaman bunga-bungaan di taman kota.

Apakah elok sekiranya Kota Magelang serius ingin mempredikati dirinya sebagai Kota Sejuta Bunga, tetapi jalur taman kota yang tepat berada di samping jalur utama yang membelah jantung kota justru terlihat semrawut tak terurus? Cobalah sejenak tengok taman kota di tepian Jalan A. Yani sekitar Menowo dan Kebonpolo. Taman nan asri, penuh warna-warni aneka ragam bunga yang harum semerbak mewangi tentu menjadi harapan dan dambaan seluruh warga kota, bahkan tanpa slogan Magelang sebagai Kota Sejuta Bungapun. Namun bagaimana warga tergerak untuk turut ambil bagian dalam program pemerintahnya jika mereka tidak merasa handarbeni, tidak memiliki, bahkan tidak paham dan tahu dengan apa yang diprogramkan pemerintahnya?

Jika saja semua komponen keluarga besar Kota Magelang, mulai pihak pemerintah, warga masyarakat, berbagai komunitas, dan semua pihak yang berkepentingan dapat bersatu-padu, bersinergi dan saling berkoordinasi untuk bersama-sama bahu-membahu mewujudkan Kota Sejuta Bunga secara bersama-sama, tentu saja cita-cita bersama itu akan semakin cepat terwujudkan dan membuahkan kemanfaatan yang dalam jangka panjang akan berdampak terhadap kemajuan kesejahteraan masyarakat Kota Magelang. Akh…..seandainya.

Ngisor Blimbing, 29 September 2013

Globalisasi Informasi di Tepi Merapi

WarnetBendan1Desa, oleh sebagian orang mungkin diidentikkan dengan ketertinggalan jaman. Terlebih desa yang berada di lereng gunung yang terletak di pedalaman hutan rimba raya. “Cedhak watu, nanging adoh ratu”, dekat batu tetapi jauh dari ratu, demikian ungkapan dari para sesepuh. Ratu biasanya tinggal di istana yang terletak di kotaraja. Ibu kota kerajaan adalah sebuah kota yang lebih maju peradaban, serta sarana prasarana pendukungnya. Sedangkan watu atau batu adalah simbol kesatuan atau kedekatan dengan keperawanan alam. Sebuah penggambaran wilayah pedesaan yang belum tersentuh sepenuhnya dengan kemajuan jaman.

Ungkapan orang Jawa cedhak ratu nanging adoh ratu itu sejatinya adalah aktualisasi sikap andhap asor atau kerendahan hati mereka yang selalu merasa masih harus senantiasa belajar kepada alam tentang makna hidup yang sesungguhnya. Desa mawa cara, negara mawa tata, desa dan kota memiliki nilai hidup dan tradisinya masing-masing. Kota memang identik dengan keberadaan kaum terpelajar, sedangkan desa lebih didominasi dengan kaum yang hanya pas-pasan mengenyam manisnya bangku pendidikan. Desa menjadi simbol tradisionlisme, sedangkan kota identik dengan modernisme. Hal ini tanpa maksud mendikotomikan sama sekali akan keberadaan desa dan kota. Tetapi bahwa ada berpedaan antara desa dan kota, itu sudah pasti! Continue reading “Globalisasi Informasi di Tepi Merapi” »

Agenda Tlatah Bocah VI

“GOTONG ROYONG UNTUK KEMASLAHATAN”

TB2012-1

LATAR BELAKANG

TLATAH BOCAH (bhs Jawa: Area Ramah Anak) merupakan sebuah jejaring komunitas yang bermimpi mewujudkan area ramah anak, sebuah ruang fisik dan psikologis yang memberikan kesempatan anak berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat. Jejaring ini menumbuhkembangkan kepekaan anak terhadap realita sosial, alam lingkungan, dan relasi antar manusia yang diwujudkan dalam beberapa program kegiatan.

FESTIVAL SENI

Salah satu tujuan diadakannya Festival Seni Anak Merapi / Tlatah Bocah adalah melestarikan nilai–nilai kebersamaaan di masyarakat. Pada festival tahun 2012 lalu festival ini menggerakkan 30 komunitas (+-1500 orang) meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan materi untuk mempersiapkan komunitasnya selama kurang lebih dua bulan mensukseskan festival yang digelar.

Masyarakat Merapi mempunyai pola pikir sederhana yang mengedepankan kebersamaan, gotong royong, tepo seliro, dll dimana terlihat dalam pengelolaan tradisi setiap dusun seperti upacara adat dan kesenian. Selain itu, masyarakatnya juga mentolerir adanya kepercayaan dan berbagai agama untuk hidup rukun berdampingan menjadi sebuah akulturasi budaya. Hal tersebut merupakan pencerminan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai bahasa, tradisi, suku, dll. Namun demikian, dalam dua dekade ini, banyak kejadian luar biasa bernuansa kekerasan atas nama suku, agama, ras, dan golongan di beberapa wilayah Indonesia tanpa penyelesaian tuntas yang dapat memicu disintegrasi kebangsaan.

Keprihatinan terhadap permasalahan tersebut disikapi dengan kampanye GOTONG ROYONG UNTUK KEMASLAHATAN melalui Festival Tlatah Bocah VII ini dengan mengangkat kekayaan budaya masyarakat Merapi serta keterlibatan komunitas daerah lain dalam rangka mengukuhkan persatuan untuk menjaga keharmonisan dan toleransi sebagai pondasi pembangunan bangsa.

TB2012-2

AGENDA FESTIVAL

1. Merti Jiwo

Pelaksana : Panitia Tlatah Bocah VII

Peserta : Simpatisan terbatas (pendaftaran)

Publik : Masyarakat dusun setempat (gratis)

Hari – Tanggal : Sabtu – Minggu, 22 – 23 Juni 2013

Lokasi : Dusun Turgo – Desa Purwobinangun – Kecamatan Pakem

Merti Jiwo berarti bersih diri mengembalikan pada fitrah nurani. Tlatah Bocah memaknainya sebagai pembukaan festival untuk menyatukan persepsi para penggiatnya. Agenda yang dilakukan berupa doa bersama, diskusi, dan eksplorasi gerak (tari) di lokasi yang jauh dari keramaian untuk memahami kehidupan. Merti Jiwo selalu dilakukan di salah satu dusun paling Merapi yang paling atas dimana identik dengan keheningan

Tahun ini, Merti Jiwo akan dilaksanakan di Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, sebuah dusun mempunyai pemahaman tinggi terhadap karakter Merapi dikarenakan pengalaman erupsi pada pada tahun 1994.

Tahun lalu, Merti Jiwo dilaksanakan di Gligir Pasang (Kabupaten Sleman), sebuah dusun di lereng Merapi pada ketinggian +–1250 meter yang dipisahkan oleh jurang dari dusun lain dan hanya dihuni oleh 10 Keluarga (32 jiwa). Pada tahun 2011 agenda ini dilaksanakan di dusun Stabelan (Kabupaten Boyolali), 2010 di dusun Ngandong (Kabupaten Magelang).

2. Hajat Seni

Pelaksana : Reog Singo Dilogo

Peserta : 30 tim kesenian Komunitas seni dari Surabaya, Salatiga, Purwodadi, Merapi, Menoreh, Sumbing, Salatiga, dll

Publik : Penonton (gratis)

Hari – Tanggal : Sabtu – Minggu, 6 – 7 Juli 2013

Lokasi : Dusun Gumuk, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang

Hajat seni merupakan sebuah perayaan kesenian untuk secara bersama mengkampanyekan hak anak (hak hidup, tumbuh kembang, pendidikan, partisipasi). Puluhan komunitas yang terlibat dalam kampanye ini terdiri berasal lereng Merapi, Sumbing, perbukitan Menoreh serta beberapa daerah lain di Jawa (Jakarta, Surabaya, Grobogan, Salatiga, Surakarta, Temanggung, Kulonprogo, dan Jogja).

Pada tahun 2012, Hajat Seni dilaksanakan di dusun Gejiwan, 2011 di dusun Sengi, 2010 di di Sumber, 2007-2009 di Gowok Pos.

TB2012

3. Beasiswa Seni

Pelaksana : Aman Perkusi

Peserta : Komunitas

Publik : Individu (tiket)

Hari – Tanggal : Sabtu – 16 Agustus 2013

Lokasi : Warung Bang Hoody – Jl. Pejaten Barat Raya no 17 Jakarta Selatan

Beasiswa Seni digagas Aman Perkusi untuk mendukung kelangsungan seni tradisi dikenalkan pada anak-anak Merapi yang telah diinisiasi oleh Tlatah Bocah. Tahun ini merupakan tahun yang ke 3 pelaksanaan Beasiswa Seni ini. Perhelatan dimaksudkan mengajak individu yang tertarik pembangunan kampung yang menyertakan komunitas anak. Agenda yang dikemas adalah Tabung Sesama, Presentasi Pencapaian Beasiswa seni 2 dan Tlatah Bocah 6, Konser Musi WAPA Work art play art, Sering – Sharing diskusi inspiratif dengan menghadirkan inspirator dan tema Pergerakan Peristiwa Budaya tradisi muda, serta Pameran Rakyat.

Hasil dari Beasiswa tahun-tahun sebelumnya berupa 1 set gamelan, 15 Djembe, 3 suling, 1 karimba, 1 set rebana, 1 set kostum kesenian, serta 150 ayam untuk anak-anak Merapi yang pada tahun 2012 aktivitas beasiswa ini dilaksanakan di Gedung Pertunjukan Bulungan Blok M, Jaksel, sedangkan pada tahun 2011 di Payon Restoran Kemang Raya dan Cafe Kopi Merah Cilandak, Jakarta Selatan

4. Laku Lampah

Pelaksana : Omah Ngisor

Peserta : 30 tim kesenian Komunitas seni dari Surabaya, Salatiga, Purwodadi, Merapi, Menoreh, Sumbing, Salatiga, dll

Publik : Penonton (gratis)

Hari – Tanggal : Sabtu – Minggu, 24 – 25 Agustus 2013

Lokasi : Dusun Sambak, Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang

Laku Lampah mengandung arti proses spiritual dengan melakukan perjalanan ke tempat lain. Agenda berupa anjangsana komunitas–komunitas Merapi ke wilayah lain untuk mendukung keberlangsungan komunitas setempat serta mengkampanyekan hak anak dengan menyajikan berbagai pertunjukan kesenian local. Hal ini untuk mendukung keberlangsungan komunitas–komunitas anak di luar Merapi yang tergabung dalam jejaring Tlatah Bocah.

Pada tahun 2012, Laku Lampah menyambangi lereng Menoreh dengan mengajak beberapa tim kesenian lokal serta tamu dari Surabaya dan Salatiga untuk mendorong geliat kesenian setempat. Pada tahun 2011 Laku Lampah dilakukan di huntara Jumoyo (Kabupaten Magelang) untuk masyarakat pengungsi lahar hujan, huntara Cangkringan (Kabupaten Sleman) yang menghuni lingkungan ini dikarenakan awan panas dan juga di Deles sebuah dusun di pinggiran Merapi wilayah Kabupaten Klaten yang diapit Sungai Gendol dan Sungai Woro. Pemilihan 3 tempat ini untuk memberikan dukungan psikologis masyarakat setempat atas dampak erupsi Merapi di tahun 2010

5. Larung Sukerta

Pelaksana : Panitia Tlatah Bocah VII

Peserta : Komunitas

Publik : Penonton (gratis)

Hari – Tanggal : Minggu, 31 Agustus 2013

Lokasi : Dusun Telogolele – Desa Telogolele – Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali

Larung Sukerta merupakan suatu tradisi menghilangkan unsur negatif dalam kehidupan disimbolkan dengan melepas benda sebagai gambaran unsur tersebut. Prosesi ini biasanya dilakukan di sungai, sendang, maupun laut yang bersifat mengalir. Selain itu, larung juga menggambarkan kehidupan baru dengan berpikir positif atas segala yang terjadi.

Pada tahun 2012 dilaksanakan di sebuah mata air yang mempunyai karakter asin dan tawar di Kabupaten Boyolali. Pada tahun 2011 dilaksanakan di Trisik (Muara Sungai Progo – Kabupaten Kulonprogo), serta 2010 di Wonolelo (pertemuan sungai Pabelan dan Apu – Kabupaten Magelang).

SEKRETARIAT

Kontak
GunawanJulianto
Alamat RUMAH PELANGI
Jl. Talun km 1 no. 57 – Patosan
Muntilan – Jawa Tengah 56412
Telpon : 0818 – 0272 3030(Kakao Talk, Line, Whatsapp, SMS)Facebook: Tlatah BocahTwitter : @TlatahBocahWebsite : www.TlatahBocah.org

Email : [email protected]

Muntilan, 30 April 2013

( Gunawan Julianto )

Direktur Festival

Foto: Koleksi tlatahbocah.org

Pasar Grabag Magelang

PasarGrabag1

Sebagai makhluk sosial, manusia ditakdirkan untuk senantiasa berdampingan dengan manusia yang lainnya. Kodrat makhluk yang memiliki berbagai keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya menjadikan manusia harus saling tolong-menolong dan bantu-membantu. Salah satu perwujudan interaksi manusia dalam memenuhi kebutuhannya adalah pasar. Pasar menjadi tempat bertemunya pembeli dan penjual. Pembeli datang ke pasar untuk mendapatkan barang yang dibutuhkannya, sedangkan para penjual menjajakan berbagai barang untuk mendapatkan keuntungan. Ketika manusia belum mengenal uang sebagai alat penukar, mereka saling menukarkan barang yang berbeda diantara satu dan lainnya. Continue reading “Pasar Grabag Magelang” »

Waterboom Kalibening Magelang

Kalibening, dari namanya saja kita sudah bisa menebak bahwa kata tersebut tentu berhubungan dengan air, mata air, dan sungai atau kali. Memang tidak salah karena Kalibening memang nama sebuah mata air jernih alias bening yang terdapat di wilayah Desa Payaman, Kecamatan Secang, wilayah Magelang utara. Semenjak dahulu kala, Kalibening terkenal karena memiliki mata air besar di sisi timur aliran sungai Progo. Mata air itu kemudian dimanfaatkan untuk mengisi kolam renang yang dibuka untuk umum. Tempat itulah yang kemudian dikenal sebagai Obyek Wisata Pemandian Kalibening.Kalibening1

Sebagaimana pernah saya kisahkan di sini, sudah sekitar satu tahun ini di Pemandian Kalibening dilakukan penataan ulang tata ruang dan bangunannya. Konon sebuah konsorsium besar dari tetangga provinsi menjadi investor yang ingin mengubah kolam renang yang lama untuk digantikan menjadi arena permainan air yang lebih megah dan modern. Kondisi wisata Kalibeing yang sebelumnya terlihat lesu, mati suri, serta hidup segan matipun tidak sanggup sudah pasti memerlukan penanganan baru untuk membangkitkan diri. Continue reading “Waterboom Kalibening Magelang” »

Pasar Kebon Polo Magelang

Kebon Polo merupakan nama sebuah tempat di titik pertemuan antara Jalan Jend. Ahmad Yani dan Jalan Urip Sumohardjo, Kota Magelang. Nama itu kemudian kini identik dengan Pasar Kebon Polo. Nama Kebon Polo tentu saja sangat berkaitan dengan komoditas polo atau pala. Konon di sekitar Kebon Polo memang penuh dengan perkebunan pala sejak masa pemerintahan Mataram Islam. Perkebunan yang dimiliki oleh Sultan tersebut merupakan salah komoditas andalan yang dihasilkan dari wilayah Kedu, di samping tembakau, klembak, dan tentunya beras.

KbnPolo1

Di masa awal perkembangan kota Magelang, setelah dibentuknya Pemerintahan Kadipaten Magelang dengan KRT Danuningrat I selaku adipati semasa pemerintahan Letnan Jenderal Thomas Stanford Raffles, Kebon Polo berkembang sebagai pusat ekonomi dengan keberadaan pasarnya. Lebih semarak lagi ketika mulai dibuka jalur kereta api yang menghubungkan Jogja – Magelang – Ambarawa – Semarang, di sisi selatan pasar dibangun sebuah stasiun kereta api. Stasiun kereta api tersebut masih terus beroperasi hingga ditutupnya jalur kereta Jogja – Ambarawa di masa awal Orde Baru. Kini bekas stasiun Kebon Polo difungsikan sebagai sebuah subterminal yang melayani angkutan dalam kota. Continue reading “Pasar Kebon Polo Magelang” »

Stop Pacaran di Atas Pohon

Petikan Kisah Kopdar Blogger Nusantara 2012 (3)

Pacaran di atas pohon? Emangnya monyet! Masa pacaran bagi sepasang kekasih yang sedang kasmaran adalah saat yang sangat mengasyikkan. Dunia serasa milik berdua, sehingga orang yang sedang dimabuk asmara seringkali mengabaikan keberadaan orang lain. Orang lain dianggap tidak ada, atau kalaupun ada hanya dianggap ngontrak dunia miliknya sehingga tidak memiliki hak untuk mengganggu apalagi menggugat keasyikan mereka. Inilah latar belakang kenapa kemudian dua sejoli muda-mudi yang tengah berpacaran mengabaikan keberadaan orang lain, termasuk segala macam unggah-ungguh atau tatanan sopan-santun pergaulan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap anggota masyarakat yang beradab.

Tindakan yang tidak menghiraukan tatanan pergaulan banyak dilakukan oleh orang yang sedang berpacaran. Tidak peduli di tempat umum sekalipun, mereka terlihat terlalu over dalam menunjukkan rasa kasing sayang. Tidak cukup dengan perbincangan yang wajar dan “berdisiplin jarak”, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang berangkulan, berpelukan, ataupun berciuman di tempat umum. Welha dalah, jagad dewa batara! Apa jadinya jika hal tersebut dilihat dan ditirukan oleh adik-adik yang belum cukup umur!

Dalam tuntunan agama bahkan tindakan berdua-duaan diantara seorang lelaki dan perempuan jelas-jelas termasuk tindakan berkholwat yang dilarang keras. Bahkan digambarkan bahwa jika seorang lelaki dan perempuan berdua-duaan di tempat sepi, maka yang ketiga diantara mereka tidak lain adalah setan. Setan siap menjerumuskan dua manusia tersebut untuk terhanyut ke dalam tindakan yang melanggar batas-batas norma agama, kesusilaan, maupun kesopanan. Dengan demikian untuk menjaga tegakknya norma-norma yang telah disepakati bersama dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, maka pacaran, setidaknya “pacaran sembarangan” harus ditertibkan, kalaupun tidak sama sekali dilrang dengan keras.

Atas latar belakang menjaga moralitas dan tata pergaulan yang baik, beberapa pihak yang memiliki kuasa atas fasilitas atau tempat-tempat umum tertentu sengaja melarang aktivitas pacaran di wilayah mereka. Dengan berbagai cara dan himbauan, pacaran dilarang keras. Tindakan yang dilakukan ada yang menempelkan tulisan larangan pacaran, hingga menyiagakan satuan petugas keamanan untuk mengusir dua sejoli yang sedang memadu kasih.

Di sela-sela padatnya agenda Kopdar Blogger Nusantara 2012 di Makassar pada awal November yang lalu, saya sempat berjalan-jalan menikmati kerindangan dan kesejukan hijaunya kampus Universitas Hasanuddin di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Dari uraian pendahuluan tulisan yang banyak menyinggung soal pacaran di atas, tentu saja sangat terkait dengan temuan unik yang sempat saya lihat di lingkungan kampus universitas terbesar di Indonesia Timur ini.

Ketika menikmati indahnya hamparan telaga yang membentang luas di tengah Kampus Unhas, di sebuah pohon yang tegak berdiri di tepian telaga terdapat rambu larangan yang sangat berbeda dengan rambu larangan lalu lintas yang banyak terdapat di pinggir jalanan. Bukan mengatur kegiatan berlalu lintas, justru rambu larangan tersebut berkaitan dengan aktivitas pacaran. Rambu tersebut secara tegas melarang pacaran di area sekitar keberadaan rambu tersebut. Hanya saja yang paling unik dan sama sekali tidak umum, rambu larangan pacaran tersebut justru dipasang tinggi-tinggi di atas sebuah pohon. Jika diamati dari jauh, tulisan yang terbaca hanyalah “STOP PACARAN”! Secara sekilas, mungkin orang akan mengartikan “dilarang pacaran di atas pohon”.

Anda pernah pacaran di atas pohon? Jangan sekali-kali mencobanya di Kampus Unhas! Anda dapat diciduk oleh satpam setempat dan dikenai sanksi tindakan pidana ringan alias tipiring.

Ngisor Blimbing, 19 November 2012