Kopdar Gethukan Akhir Mei 2014

Blogger tanpa kopdar mungkin memang terasa hambar. Meskipun para pendahulu blogger cukup banyak yang nyata maupun sembunyi undur diri dari pakeliran blogger, tetapi tidak sedikit pula blogger-blogger newbie hadir mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan para seniornya. Ibarat kata daun-daun kuning, layu untuk kemudian gugur berjatuhan, tetapi tunas-tunas muda telah tumbuh untuk menggantikan yang tua. Itulah sebuah keniscayaan hukum alam.

Adalah dunia blog, di samping menjadi media ekspresi diri maupun berbagi ide ataupun pengalaman, blog juga berguna dalam menjalin tali silaturahmi. Dari saling kunjung-mengunjungi antar blog, tidak sedikit perkenalan dan interaksi di dunia maya bersambung di dunia nyata. Makanya pada saat sekerumunan para blogger kopdaran, suasana akrab sangat cepat terjalin. Tidak ada lagi rasa canggung karena satu sama lain sudah pernah berinteraksi melalui blog masing-masing. Semua berbaur akrab dalam suasana persaudaran yang kental.

Sebagaimana ditradisikan di Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang, forum gethukan alias glenak-glenik methuk malem mingguan memang dirancang sebagai ajang jumpa darat yang dihelat secara rutin dua kali setiap bulannya. Namun suatu cita-cita dan rencana manusia seringkali mengalami pasang surut, termasuk forum gethukan tadi. Hal inilah yang kemudian menjadikan gelaran gethukan lebih sering diselenggarakan secara tentatif. Termasuk gethukan yang berlangsung pada penghujung 31 Mei 2014 yang lalu.

Berawal dari fakta berderet-deretnya tanggal merah di minggu terkahir bulan Mei, beberapa Balatidar menelurkan ide untuk gethukan. Ide itupun segera diworo-worokan melalui media sosial, gayungpun kemudian bersambut. Beberapa Balatidar langsung merespon dengan menyatakan diri untuk siap merapat ke Ringin Tengah Alun-alun Kota Magelang. Bukan semata-mata Balatidar yang masih tetap menetap di Magelang tercinta, tetapi beberapa Balatidar yang kesehariannya berada di tanah rantau juga berniat untuk turut gethukan. Bahkan ada juga beberapa penggedhe dan warga Kampung Blogger ingin turut hadir pula.

Pada hari yang dijanjikan, semenjak pagi Gusmul terus sibuk mengkonfirmasi daftar rekan-rekan Balatidar yang telah berkomitmen untuk gethukan bersama. Selepas ba’da Ashar hingga menjelang waktu Magrib berkumpullah beberapa Balatidar di ruang terbuka Alun-alun Kota Magelang, tepatnya pada titik tengah antara ringin tengah dan Patung Pangeran Diponegoro. Ada Gusmul van Seneng, Ivan Desain & keluarga, Mas Tri Indonesia Tera, Deny Dele, Rizki Tegalrejo, juga menyusul Kang Ikhsan Salaman. Muka-muka Balatidar memang sebagian besar telah berubah dibandingkan warga gethukan 3-4 tahun yang silam. Meskipun perasaan nglangut senantiasa terbayang jika mengenang gethukan pada tahun-tahun awal keberadaan Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang, tetapi memang roda kehidupan harus berputar.

Sebagaimana format forum gethukan yang cair penuh obrolan ngalor-ngidul, dalam kesempatan gethukan akhir Mei kemarin juga terjadi banyak obrolan. Tema-tema pembicaraan mengalir mbanyu mili tanpa perlu moderasi dari seorang moderator. Ada obrolan ringan yang mengulas jargon Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga. Sekian lama warga menunggu kelanjutan action Kota Sejuta Bunga, namun masyarakat memang masih harus terus bersabar dengan pertanyaan-pertanyaan klasik yang tidak pernah terjawab dengan realitas di lapangan. Beberapa kepala berpendapat, mungkin Kota Sejuta Bunga memang hanya jargon dan isapan jempol yang berorientasi “proyek”.

Dalam kesempatan selanjutnya, Gusmul dan Ivan berbagi cerita panjang lebar mengenai perjumpaan mereka dengan perwakilan Hotel Atria Magelang pada beberapa waktu sebelumnya. Dari pertemuan tersebut terbuka wacana untuk menjalin kolaborasi dan kerja sama antara Hotel Atria dengan Pendekar Tidar dalam wujud lomba blogging contest alias membuat postingan di blog. Tema yang diangkat bisa secara khusus mereview keberadaan Hotel Atria dalam mendukung pengembangan kepariwisataan di Magelang, atau barangkali mengenai Kota Magelang sebagai tujuan wisata sejarah dan petualangan. Meskipun bentuk kerja sama masih sedikit abstrak tetapi tidak ada salahnya juga jika Balatidar mulai mempersiapkan diri.

Tatkala Gusmul menyindir secara nyinyir mengenai siswa sekolah pertanian yang berseragam ala militer, obrolan sempat juga menyerempet kepada urusan pertanian yang menjadi hajat hidup orang banyak dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Buat apa siswa sekolah pertanian yang ujung-ujungnya glidhik di tengah sawah ataupun ladang harus bergaya militeristik. Lebih jauh terungkap keprihatinan bersama soal kemunduran dunia pertanian di negara agraris ini. Bagaimana sulitnya para petani mencari pupuk untuk tanamannya. Bagaimana kemudian pada saat panen tiba, petani sedemikian tidak berdaya berhadapan dengan para pengijon dan rentenir, sehingga petani tidak lagi dapat menikmati jerih-payah kerja keras mereka. Yang kaya memang semakin kaya, sedangkan yang miskin tidak ada lagi yang memikirkan nasib masa depannya.

Selain tema obrolan di atas, sempat mengemuka pula rerasan Gusmul yang sedikit berbagai rahasia mengenai rancangan buku yang tengah disusunnya. Ia sempat merasa mangkel bin jengkel karena penggunaan kata atau frase kata berideom bahasa Jawa yang menjadi ciri khas kelucuan guyonannya Agus Magelangan dinggap berbau sarkanisme, semisal penggunaan kata-kata ndasmu, dengkulmu amoh, bahkan kata hasuuk!

Satu tema obrolan berganti mbanyu mili secara alamiah tanpa rekayasa. Tanpa terasa waktupun semakin petang dan Magrib segera menjelang. Meskipun rasanya masih ingin terus glenak-glenik semalaman suntuk, tetapi Balatidar yang hadir sadar bahwa saat perpisahan memang harus dijalani. Kamipun kemudian sempat berfoto bersama sebelumnya akhirnya barisan Balatidar undur diri dari forum gethukan untuk kembali ke dunianya masing-masing. Sampai jumpa di gelaran gethukan berikutnya. Salam Balatidar.

Ngisor Blimbing, 3 Juni 2014

Balatidar di Kopdar Blogger Nusantara 2013

Para sedulur semua, tahukah Anda komunitas blogger manakah yang memiliki rekor kopdar paling sering? Meskipun MURI belum mencatatnya, komunitas yang satu ini tidak lagi dalam hitungan bulan, minggu, hari ataupun jam selalu kopdar. Bahkan setiap detik, milidetik, nanodetik, ataupun pikodetik, komunitas ini tetep kopdar! Ahh, jangan bercanda lah! Tahu jawabannya? Hmm, tidak tahu? Mau saya kasih tahu? Ya, komunitas itu berna KOPDAR, Komunitas Pendekar Tidar. Komunitas ini merupakan komunitas barisan blogger di Magelang, jawa Tengah. Percaya kan sekarang?

Jogloabang10 Jogloabang2

Semenjak era jaya-jayanya interkom maupun radio komunitas, kopdar diartikan kopi darat. Artinya berjumpa langsung dengan seseorang yang sebelumnya telah sering berinteraksi di udara alias melalui saluran komunikasi secara tidak bertatap muka langsung. Namun demikian, di era internet yang menggantikan interkom saat ini, ada salah satu Balatidar yang pada saat awal bergabung di Komunitas Blogger Magelang, mengira bahwa kopdar merupakan kependekan dari Komunitas Pendekar Tidar. Pendekar Tidar merupakan nama komunitas blogger yang masih eksis di Magelang Raya.

Kopdar selanjutnya menjadi adat dan tradisi di tengah kalangan para onliner. Interaksi persahabatan di dunia maya, baik melalui blog, facebook, twitter, dan media yang lain senantiasa dianggap belum lengkap jika tidak sesekali disertai dengan perjumpaan langsung di darat yang disebut sebagai aktivitas kopdar tadi. Kopdar jelas semakin mempererat tali persahabatan dan persaudaraan yang sebelumnya telah terjalin, bahkan dengan sedulur baru yang dikenal pada saat kopdaran berlangsung.

Agenda kopdar, dimanapun dan kapanpun senantiasa menjadi momentum yang selalu ditunggu-tunggu. Balatidar Magelang yang di masa-masa akhir semakin jarang gethukan alias glenak-glenik methuk malem mingguan di Ringin Tengah Alun-alun Kota Magelang tentu sangat mendambakan kesempatan berkopdar ria, termasuk lintas komunitas blogger. Beberapa catatan kopdaran akbar blogger yang pernah diikuti perwakilan Balatidar diantaranya Wisata Blogger 2009 di Wonosobo, Pesta Blogger 2009 di Jakarta, Amprokan Blogger 2010 di Bekasi, Solo Online Lan Offline 2010 di Surakarta, Miladeblogger Bekasi 2010, Muktamar Blogger dan Pesta Blogger 2010 di Jakarta, KTT ASEAN 2011 di Bali, Kopdar Blogger Nusantara 2012 di Makassar, hingga pagelaran ASEAN Blogger Festival 2013 di Surakarta dan masih banyak event kopdar akbar yang lainnya.

Tembi4Dari beberapa catatan jejak partisipasi kopdar di berbagai daerah tersebut mengindikasikan bahwa semangat paseduluran Balatidar memang luar biasa, bahkan patut diacungi jempol. Maka ketika mendengar wisik tentang akan digelarnya Kopdar Blogger Nusantara III yang akan dihelat di Jogja dari beberapa teman dan sosial media, Balatidarpun langsung merapatkan barisan untuk turut nggruduk ke Jogjakarta. Jarak Magelang dan Jogja yang sangat dekat tentu saja membuat sedulur-sedulur Balatidar bertambah semangat dan antusias. Berhubung Pangkopdar Nahdhi sedang sibuk makaryo di bumi Betawi, maka tugas woroworo untuk sementara waktu diambil alih ke tangan Gus Mul. Akhirnya barisan Balatidar siap mendukung dan menghadiri Kopdar Blogger Nusantara 2013 yang digelar 30 November-1 Desember 2013 di Jogjakarta dengan semboyan “Blogger Nusantara, Blogger Istimewa”.

Keberadaan Balatidar yang sudah mencar-mencar di berbagai daerah menjadikan keberangkatan ke Jogja juga tidak sekaligus secara bersama-sama. Ada sebagian sedulur yang berangkat dari Magelang, dari Jakarta, bahkan ada yang memang sudah menetap di Jogja karena sedang menempuh studi. Waktu kedatangan di Jogjapun juga beragam, ada yang Jumat sore sudah merapatke drop point, ada yang Sabtu dinihari tiba dengan kereta, ada yang Sabtu pagi berangkat naik bus dari Soekarno-Hatta, ada juga yang mendarat di Terminal Giwangan.

Jogloabang4 Jogloabang3

Gus Mul dan Pak Gun tercatat sebagai Balatidar yang paling awal tiba di Kota Gudeg. Saya sendiri baru saat Subuh di Sabtu pagi merapat di penginapan Prawirataman. Siang sedikit barulah Ivan, kemudian Nahdhi juga nongol di Prawirataman. Adapun Muhlisin, Arif, Deny, Rizki, Reza, dan Kang Ikhsan langsung ketemuan di Pendopo Jogloabang. Namun demikian, tanpa mengurangi kekompakan dan rasa kebersamaan, yang jelas tujuan akhir dari para Balatidar tersebut hanyalah satu tujuan, yaitu Kopdar Blogger Nusantara.

Setelah masing-masing Balatidar melakukan registrasi di meja panitia, baru satu per satu dari kami menempati barisan kursi yang berdekatan dan berkumpul bersama. Dari awal pembukaan acara, mendengarkan uraian dari berbagai narasumber, menikmati aneka suguhan pentas seni dan hidangan snack-makan siang yang seadanya, sedulur-sedulur Balatidar nampak sangat antusias mengikuti rangkaian acara di Jogloabang. Beberapa muka baru memang masih terlihat canggung untuk berbaur dengan para blogger dari daerah lain, tetapi ada juga yang sudah ngobrol naglor-ngidul dan ketawa-ketiwi berkelakar dengan kenalan blogger baru.

Jogloabang8 Gus Mul Ucul

Diantara barisan Balatidar, tentu saja perhatian beberapa blogger tertuju kepada Gus Mul yang tengah tenar akibat ulah utak-atik photoshopnya dengan anggota JKT48. Beberapa blogger senior bahkan secara khusus menyambangi Gus Mul. Kamipun terlibat perbincangan yang sangat seru seputar asal-muasal Gus Mul menjadi seleblogger.

Nah tatkala seorang blogger dari Bentang Pustaka juga sempat merapat ke Gus Mul, secara spontan timbul ide untuk “menaikkan” Gus Mul ke atas panggung. Lha iyalah, sosok Patih Dobleh Kencono ini kan jago dengan postingan banyolan yang sarat lawakan-lawakan cerdas nan bernas. Bahkan iapun pernah memiliki jam terbang dalam Stand Up Comedy di Kota Gethuk. Maka dibisikkanlah kepada Mbak MC untuk menghelat Gus Mul naik ke atas pendopo Jogloabang. Bukannya PD dengan kesempatan yang diberikan Mbak MC, Gus Mul justru lari sipat kuping meninggalkan kalangan kami. Ketika kami mencoba untuk mengejar, justru Gus Mul telah hilang ditelan bumi. Kejadian tersebut benar-benar membuat perut kami kesakitan menahan tawa lucu yang lebih lucu daripada lawakan di atas panggung Stand Up Comedy-nya sendiri. Mungkin inilah cara Gus Mul melawak dengan gaya yang sangat berbeda dibandingkan lawakan konvensional yang pernah tampil di layar tv sekalipun.

Jogloabang7Tatkala sepanjang siang hingga sore hari para peserta kopdar akbar merasa jenuh dan lelah oleh suasana acara, panitia sempat menawarkan pilihan untuk mengikuti Tour de Jogja alias jalan-jalan di beberapa titik Kota Jogja. Dengan antusias, melalui perwakilan, Balatidar sepakat untuk turut bergabung dalam Tour de Jogja yang katanya akan diberangkatkan pada pukul 16.00. Tunggu punya tunggu hingga jam 17.00; 18.00; bahkan 19.00, angkutan transportasi yang dijanjikan tidak kunjung nampak dan tidak ada pemberitahuan atau pengumuman apapun dari panitia. Akhirnya suasana jenuh kembali merayapi kami. Selepas Maghrib, kamipun kemudian membuat kalangan tersendiri dan mulai membanyol berbagai lelucon yang dipimpin Gus Mul sang dagelan kethoprak.

Pada saat bersamaan di area pentas seni sedang dipergelarkan jathilan kreasi baru dari Gunung Kelir yang menampilkan para jawara dadung abang dan pasukan jaran kepang yang dikendari para prajurit putri. Di tengah keasyikan menikmati sajian jathilan, tersebar kabar bahwa bus sudah datang. Kamipun bermaksud untuk segera naik ke bus dan langsung menuju Desa Tembi di Bantul. Bukan soal apa-apa, badan sudah terasa sangat lelah dan ingin segera lelap dalam mimpi. Tour de Jogja tidak menarik minat hati karena hari sudah terlampau malam.

Sejam lebih kami bersama barisan blogger yang lain menunggu godot di dalam bus yang diparkir di tengah jalan bulak dusun. Mengatasi kejenuhan lama menunggu, Gus Mul kembali beraksi dengan banyolan-banyolan yang membuat seisi bus tertawa ger-geran sepanjang waktu. Dengan nada canda Gus Mul selalu menawarkan bus kepada para peserta yang sedang melintas dan mencari bus yang kosong, “Nek untuk mbak-mbak masih kosong, hayuk-hayuk naik!” Sebaliknya ia dan Nahdhi bersepakat jika yang mencari bus kosong laki-laki maka harus menjawab bahwa bus sudah penuh. Dasar jombloabang!

Jogloabang4Jogloabang6

Akhirnya setelah sempat terjadi insiden dengan para pemuda dusun, buspun melaju menuju Desa Wisata Tembi. Saking lelah dan ngantuknya, banyak diantara para sedulur blogger yang terlelap selama perjalanan menuju Tembi. Hingga pada saat tiba di Tembi, sang bapak sopir berteriak membangunkan kami. Di Tembi, kami dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk menginap di rumah warga yang telah disetting menjadi home stay. Balatidarpun berpisah menuju home stay masing-masing.

Hari ke dua Kopdar Blogger Nusantara diisi dengan pertandingan olah raga bersama rekan-rekan dari Komunitas Difabilitas. Acara di hari itupun dibuka di Pendopo Gamelan yang berada di sisi depan Griya Tembi. Menjelang sedikit siang, peserta kopdar akbar bergerak menuju Pendopo Sentono untuk menggelar acara sarasehan mengenai tradisi dan nilai kearifan lokal. Acara yang dipandu Eyang Anjari ini menampilkan narasumber dari Komunitas Anggara Kasih dan Komandan Pengangguran Total, serta pengelola Jogjaupdate.

Nol KM Gedung Agung

Acara sarasehan berlangsung seru hingga tengah hari yang diselingi santap nasi sayur kacang tholo yang dilengkapi lauk tahu dan krupuk legendar. Para peserta nampak lahap menyantap makan siang yang dipincuk dengan daun pisang tersebut. Bukan apa-apa dan karena menunya sangat lezat, tetapi sangat kelihatan bahwa para blogger sudah sangat kelaparan dan kehausan di siang yang cukup terik tersebut.

Akhirnya sekitar pukul 14.00 siang acara Kopdar Blogger Nusantara 2013 “Blogger Nusantara, Blogger Istimewa” ditutup dengan pembagian sertifikat dan foto bersama. Tentu saja dalam kesempatan tersebut Balatidar juga turut nimbrung dalam hiruk-pikuknya para blogger yang antusias bergaya di depan kamera foto.

VredebergSelepas dari Desa Tembi, sedulur Balatidar memutuskan untuk turut bus yang menuju Titik Nol Kilometer Jogja. Di sana kami menikmati saat-saat terakhir di Jogja dengan jalan-jalan menikmati suasana sore hari di seputaran Gedung Agung, Benteng Vredeberg, dan sepanjang trotoar Malioboro. Menjelang pukul 17.00 kamipun satu per satu berpisah. Beberapa Balatidar kembali menuju Magelang dengan bus melalui Jombor. Sedangkan saya sendiri kembali ke Tanah Betawi dengan Kereta Senja Utama Jogja melalui Stasiun Tugu.

Hmmm…..Kopdar Blogger Nusantara di Jogja memang istimewa. Demikian halnya blogger Balatidar juga Blogger yang istimewa. Moga semakin bertambah semangat untuk terus ngeblog dan meng-go blog-kan Magelang tercinta.

Dan inilah sedulur-sedulur Balatidar yang sempat terdaftar untuk merapat di Kopdar Blogger Nusantara 2013 di Jogjakarta:

Arif Wahyu Nugroho http://arifwahyu.com/
Agus Mulyadi http://gusmul.com/
M.Jengki tomiyanto http://nikitomi.com/
Sufyan Abdul Aziz http://sufyanaz.malhikdua.com/
Ikhsanudin http://ikhsan.web.id/
Ivan Purnawan http://ngaos.com/
Nanang Triagung http://sangnanang.wordpress.com/
Muh Nahdhi Ahsan http://afanasyevich.wordpress.com/
Silvira Nurwidhiana http://mariovira.blogspot.com/
Adnan Resa Fahroni http://magelangonline.com/
Anggun Andy http://andy.kinjeng.net/
Adiyati Nur Afifah http://ann-aditya.blogspot.com/
Ahadi Bagus Harismanhttp://tripdi.com/
Reza Pragita Daza http://erphidi.blogspot.com/
Rizki Amalia Haryanti http://amaliarizki.com/
Muis Mulya Sari http://mbakmiu.wordpress.com/
Ahmad Suyudi http://percikpuisi-yoedi.blogspot.com/
Muhlisin http://muhlisin.com/
Andriyan ertiana Budi http://andriyanertiana.blogspot.com/
Desmira Feri Susanti http://desmiraferi.blogspot.com/
Thoyyib Rizqi Fuadi http://thoyyibrizqi.pw/
Gunawan Julianto http://www.TlatahBocah.org/

Kopdar Lebaran yang Hampir Terlupakan

Lebaran selalu menjadi momentum untuk pulang ke kampung halaman. Mudik, itulah tradisi tahunan yang sudah mendarah daging di setiap putera daerah yang merantau jauh dari bumi kelahiran. Maka kesempatan di kampung halaman itu seringkali dimanfaatkan untuk mempertemukan kembali balung pisah yang sebelumnya sempat tercecer dan berserakan di berbagai tempat atau wilayah. Bertemu, bertatap muka, bercandaria, berbincang riang, tertawa ngalor-ngidul dalam sebuah reuni temu kangen, baik dengan keluarga, saudara, kerabat, ataupun teman-teman merupakan sebuah kenikmatan tersendiri yang tiada tara indahnya. Demikian halnya dengan jalinan paseduluran tanpa batasnya Balatidar yang seolah sedang meredup, menjadi menyala kembali tatkala menjelang lebaran kemarin sempat berkopdaria kembali.

Bukber1

Nasib dan jalan hidup telah menempatkan beberapa sedulur Balatidar terpencar oleh bentangan ruang jarak dan waktu. Gelaran gethukan yang dulu pernah menjadi komitmen bersama untuk saling bertatap muka di setiap paruh bulan, kini menjadi kian sulit untuk diwujudkan dikarenakan tidak adanya tuan rumah yang sanggup dan komit untuk hamengku gawe. Maka sekaligus memanfaatkan mudiknya para sedulur Balatidar yang merantau, waktu di sekitar Lebaran menjadi pilihan peluang untuk berkumpul bersama lagi.

Begitu menginjakkan kaki di Bhumi Magelang tercinta, kira-kira sepekan menjelang Idul Fitri, saya mencoba mengontak Pangkopdar Nahdhi. Saya memintanya untuk melakukan kontak-kontak dengan semua elemen Balatidar serta mengagendakan kopdaran. Ada dua alternatif pilihan yang saya kemukakan. Pertama, kita berkumpul beberapa hari menjelang Hari Lebaran. Sedangkan alternatif kedua, kita kopdaran dalam suasana Hari Lebaran.

Untuk momentum pertama kita akan wadahi dalam gelaran buka bersama. Keuntungan memanfaatkan momen bukber beberapa hari menjelang Lebaran antara lain akan lebih banyak rekan Balatidar yang dapat hadir. Para sedulur yang dari rantaupun kemungkinan sudah merapat di Magelang. Namun demikian batasan waktu kopdaran mungkin akan sedikit terbatas, dikarenakan selepas buka bersama kita masih memiliki kewajiban ibadah tarawih, tadarus dlsb. Adapun untuk pilihan kedua, kumpul-kumpul sudah dalam nuansa lebaran, sangat cocok untuk digelar acara Halal bi Halal atau Syawalan. Kopdaran dapat memilih waktu dan tempat yang lebih leluasa. Namun sebagaimana tradisi di lingkungan masyarakat kita, momentum Lebaran seringkali lebih kita utamakan untuk melakukan silaturahmi diantara keluarga inti dan sanak kerabat dalam wujud ujung, syawalan ataupun pertemuan trah. Dengan mengingat kondisional tersebut, maka pada pilihan kedua sangat mungkin hanya segelintir Balatidar yang bakalan hadir.

Dengan berbagai pertimbangan di atas maka diputuskan kopdaran gethukan digelar dalam bentuk buka bersama. Untuk lebih menyemangati rasa kebersamaan, sengaja pula diundanglah para sedulur dari berbagai lintas komunitas yang ada di sekitar Magelang. Hal ini dimaksudkan untuk memperluas jaringan dan jalinan paseduluran warga Magelangan. Kopdaran bukber sekaligus dapat dijadikan sarana untuk saling mengenal, saling berbagi cerita mengenai komunitas masing-masing, sekaligus melakukan saling penjajagan untuk jalianan sebuah kerja sama di masa depan dalam rangka turut memberikan sumbangsih bagi kemajuan Magelang tercinta.

Demikan, akhirnya sore itu bertepatan dengan hari Senin, 5 Agustus 2013, segenap Balatidar merapat di Rumah Makan Ayam Bakar Bu Tatik setelah sebelumnya sempat merencakan di beberapa tempat yang ternyata sudah fullbooked. Dalam kesempatan yang sangat membahagiakan tersebut selain dari keluarga besar Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang, turut hadir pula para sedulur dari Komunitas Kota Toea, Komunitas Magelang Online, beberapa aktivis, serta mantan wartawan.

Sengaja dalam kesempatan tersebut kita ingin melampiaskan kerinduan yang terpendam sekian lama diantara sedulur Balatidar. Tidak ada format rangkaian acara tertentu yang dirancang, semua sekedar mbanyu mili, mengalir dengan sendirinya. Tegur sapa, gelak tawa candaan memeriahkan warung makan khas ayam bakar di Magelang tersebut pada saat-saat menjelang waktu berbuka puasa.

Bukber2

Namun demikian, demi memanfaatkan waktu dimana sebagian elemen barisan yang sangat mempedulikan Magelang tercinta bisa kumpul, maka satu per satu didaulat juga untuk bisa berbagi atau unjuk cerita mengenai banyak hal yang bisa saling dipetik hikmah dan manfaatnya. Diawali Mas Bagus Priyana dari Komunitas Kota Toe Magelang. Ia membagi cerita bagaimana mengelola sebuah komunitas dengan segala keterbatasan tetapi mampu eksis mengadakan agenda-agenda yang banyak diminati berbagai kalangan masyarakat.

Ia menandaskan, bahwasanya komunitas yang dipandeganinya sangat erat kaitannya dengan cerita dan kisah sejarah di masa lalu. Mempelajari sejarah tidak bisa lagi dilakukan hanya dengan membaca teks-teks kuno maupun buku-buku sejarah. Di tengah era arus hiburan dari berbagai media dan sarana di masa kini, maka pengenalan terhadap sejarahpun harus dilakukan dengan cara yang fun, santai, murah-meriah tetapi mengenai sasaran juga. Orang sekarang sukanya senang-senang, jalan-jalan, dolan-dolan bebarengan. Maka belajar sejarah yang diagendakan Komunitas Kota Toea sering dikemas dalam bentuk napak tilas mengunjungi berbagai obyek sejarah yang bersangkutan. Beberapa agenda yang pernah digelar diantaranya Telusur Jejak Pemerintahan Magelang, Telusur Jejak Sepur Magelang – Parakan, Remboeg Sedjarah, hingga pameran Magelang Tempo Doeloe bersamaan dengan rangkaian HUT Kota Magelang.

Selanjutnya Mas Ian, mantan wartawan Jawa Pos Group yang kini memilih untuk berwiraswasta berbagi pengalaman. Dalam bisnis stiker mobil yang kini ditekuninya, ia banyak memanfaatkan promosi dan memperkenalkan jasanya lewat dunia internet. Iapun kemudian berbagi bagaimana ia menggunakan blog, facebook, twitter dan media sosial yang lain untuk memperluas pelanggannya. “Di era internet sebuah usaha dapat dilakukan secara mendunia tanpa batasan ruang dan waktu untuk saling berkomunikasi. Namun demikian kita harus fokus dengan cakupan layanan yang sanggup kita lakukan sesuai dengan kemampuan bisnis yang masih terus tumbuh. Internet memang telah membawa bisnis kami menjadi mengglobal. Tetapi realitas kemampuan pelayanan yang baru mampu dilakukan harus difokuskan kepada pelanggan dengan segmen tertentu, apakah wilayah, umur, atau gender tertentu saja, “ demikian kira-kira uraian Mas Ian sore itu.

Lain lagi cerita dari teman-teman Komunitas Magelang Online. Mereka, meskipun baru eksis beberapa bulan namun memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menjadikan portal website mereka sebagai media informasi terlengkap mengenai Magelangan. Info tentang tempat-tempat penting, nomor penting, tujuan wisata utama, kuliner terenak dlsb adalah informasi yang disajikan selengkap mungkin. Mereka memiliki obsesi untuk memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya.

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, saya kembali mengingatkan komitmen bersama untuk kembali “ngurusi” blog masing-masing. Adalah teramat sangat disayangkan jika semangat ngeblog yang dulu pernah berkobar membara di dada para putera terbaik Magelang kian meredup seiring berjalannya waktu. Semua orang pasti memiliki kesibukan dan tanggungannya masing-masing, namun dengan semangat kebersamaan, barisan harus ditata dan dirapatkan kembali untuk turut berkontribusi bagi kemajuan Magelang tercinta. Rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas!

Obrolan sebenarnya terus berkembang sambil diselang-selingi makan dan minum selepas adzan Magrib berkumandang. Suasana warung makan yang ramai berjubel dengan para pengunjung yang berbuka bersama menjadikan keriuhan saur manuk yang menghasilkan gema di segenap penjuru ruang terbuka. Akhirnya menjelang waktu Isya’, satu persatu barisan Kopdar Bersama Lintas Komunitas tersebut mengundurkan diri dari paseban agung. Semoga kebersamaan yang indah itu akan terus berlanjut di masa-masa yang akan datang sebagai komitmen kita bersama untuk menjalin paseduluran tanpa batas.

Ngisor Blimbing, 21 September 2013

Sebagai catatan, para sedulur yang rawuh pada kesempatan tersebut diantaranya:

  1. Sang Nanang
  2. Ikhsan
  3. Rahardian
  4. Agus Mulyadi
  5. Ivan Purnawan
  6. Nahdhi
  7. Eko Ardian
  8. Agung
  9. Kukuh
  10. Bondan
  11. Kafur
  12. Bagus Priyana dkk (Kota Toea).

Syaiful dkk (Magelang Online)

Agenda Tlatah Bocah VI

“GOTONG ROYONG UNTUK KEMASLAHATAN”

TB2012-1

LATAR BELAKANG

TLATAH BOCAH (bhs Jawa: Area Ramah Anak) merupakan sebuah jejaring komunitas yang bermimpi mewujudkan area ramah anak, sebuah ruang fisik dan psikologis yang memberikan kesempatan anak berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat. Jejaring ini menumbuhkembangkan kepekaan anak terhadap realita sosial, alam lingkungan, dan relasi antar manusia yang diwujudkan dalam beberapa program kegiatan.

FESTIVAL SENI

Salah satu tujuan diadakannya Festival Seni Anak Merapi / Tlatah Bocah adalah melestarikan nilai–nilai kebersamaaan di masyarakat. Pada festival tahun 2012 lalu festival ini menggerakkan 30 komunitas (+-1500 orang) meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan materi untuk mempersiapkan komunitasnya selama kurang lebih dua bulan mensukseskan festival yang digelar.

Masyarakat Merapi mempunyai pola pikir sederhana yang mengedepankan kebersamaan, gotong royong, tepo seliro, dll dimana terlihat dalam pengelolaan tradisi setiap dusun seperti upacara adat dan kesenian. Selain itu, masyarakatnya juga mentolerir adanya kepercayaan dan berbagai agama untuk hidup rukun berdampingan menjadi sebuah akulturasi budaya. Hal tersebut merupakan pencerminan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai bahasa, tradisi, suku, dll. Namun demikian, dalam dua dekade ini, banyak kejadian luar biasa bernuansa kekerasan atas nama suku, agama, ras, dan golongan di beberapa wilayah Indonesia tanpa penyelesaian tuntas yang dapat memicu disintegrasi kebangsaan.

Keprihatinan terhadap permasalahan tersebut disikapi dengan kampanye GOTONG ROYONG UNTUK KEMASLAHATAN melalui Festival Tlatah Bocah VII ini dengan mengangkat kekayaan budaya masyarakat Merapi serta keterlibatan komunitas daerah lain dalam rangka mengukuhkan persatuan untuk menjaga keharmonisan dan toleransi sebagai pondasi pembangunan bangsa.

TB2012-2

AGENDA FESTIVAL

1. Merti Jiwo

Pelaksana : Panitia Tlatah Bocah VII

Peserta : Simpatisan terbatas (pendaftaran)

Publik : Masyarakat dusun setempat (gratis)

Hari – Tanggal : Sabtu – Minggu, 22 – 23 Juni 2013

Lokasi : Dusun Turgo – Desa Purwobinangun – Kecamatan Pakem

Merti Jiwo berarti bersih diri mengembalikan pada fitrah nurani. Tlatah Bocah memaknainya sebagai pembukaan festival untuk menyatukan persepsi para penggiatnya. Agenda yang dilakukan berupa doa bersama, diskusi, dan eksplorasi gerak (tari) di lokasi yang jauh dari keramaian untuk memahami kehidupan. Merti Jiwo selalu dilakukan di salah satu dusun paling Merapi yang paling atas dimana identik dengan keheningan

Tahun ini, Merti Jiwo akan dilaksanakan di Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, sebuah dusun mempunyai pemahaman tinggi terhadap karakter Merapi dikarenakan pengalaman erupsi pada pada tahun 1994.

Tahun lalu, Merti Jiwo dilaksanakan di Gligir Pasang (Kabupaten Sleman), sebuah dusun di lereng Merapi pada ketinggian +–1250 meter yang dipisahkan oleh jurang dari dusun lain dan hanya dihuni oleh 10 Keluarga (32 jiwa). Pada tahun 2011 agenda ini dilaksanakan di dusun Stabelan (Kabupaten Boyolali), 2010 di dusun Ngandong (Kabupaten Magelang).

2. Hajat Seni

Pelaksana : Reog Singo Dilogo

Peserta : 30 tim kesenian Komunitas seni dari Surabaya, Salatiga, Purwodadi, Merapi, Menoreh, Sumbing, Salatiga, dll

Publik : Penonton (gratis)

Hari – Tanggal : Sabtu – Minggu, 6 – 7 Juli 2013

Lokasi : Dusun Gumuk, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang

Hajat seni merupakan sebuah perayaan kesenian untuk secara bersama mengkampanyekan hak anak (hak hidup, tumbuh kembang, pendidikan, partisipasi). Puluhan komunitas yang terlibat dalam kampanye ini terdiri berasal lereng Merapi, Sumbing, perbukitan Menoreh serta beberapa daerah lain di Jawa (Jakarta, Surabaya, Grobogan, Salatiga, Surakarta, Temanggung, Kulonprogo, dan Jogja).

Pada tahun 2012, Hajat Seni dilaksanakan di dusun Gejiwan, 2011 di dusun Sengi, 2010 di di Sumber, 2007-2009 di Gowok Pos.

TB2012

3. Beasiswa Seni

Pelaksana : Aman Perkusi

Peserta : Komunitas

Publik : Individu (tiket)

Hari – Tanggal : Sabtu – 16 Agustus 2013

Lokasi : Warung Bang Hoody – Jl. Pejaten Barat Raya no 17 Jakarta Selatan

Beasiswa Seni digagas Aman Perkusi untuk mendukung kelangsungan seni tradisi dikenalkan pada anak-anak Merapi yang telah diinisiasi oleh Tlatah Bocah. Tahun ini merupakan tahun yang ke 3 pelaksanaan Beasiswa Seni ini. Perhelatan dimaksudkan mengajak individu yang tertarik pembangunan kampung yang menyertakan komunitas anak. Agenda yang dikemas adalah Tabung Sesama, Presentasi Pencapaian Beasiswa seni 2 dan Tlatah Bocah 6, Konser Musi WAPA Work art play art, Sering – Sharing diskusi inspiratif dengan menghadirkan inspirator dan tema Pergerakan Peristiwa Budaya tradisi muda, serta Pameran Rakyat.

Hasil dari Beasiswa tahun-tahun sebelumnya berupa 1 set gamelan, 15 Djembe, 3 suling, 1 karimba, 1 set rebana, 1 set kostum kesenian, serta 150 ayam untuk anak-anak Merapi yang pada tahun 2012 aktivitas beasiswa ini dilaksanakan di Gedung Pertunjukan Bulungan Blok M, Jaksel, sedangkan pada tahun 2011 di Payon Restoran Kemang Raya dan Cafe Kopi Merah Cilandak, Jakarta Selatan

4. Laku Lampah

Pelaksana : Omah Ngisor

Peserta : 30 tim kesenian Komunitas seni dari Surabaya, Salatiga, Purwodadi, Merapi, Menoreh, Sumbing, Salatiga, dll

Publik : Penonton (gratis)

Hari – Tanggal : Sabtu – Minggu, 24 – 25 Agustus 2013

Lokasi : Dusun Sambak, Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang

Laku Lampah mengandung arti proses spiritual dengan melakukan perjalanan ke tempat lain. Agenda berupa anjangsana komunitas–komunitas Merapi ke wilayah lain untuk mendukung keberlangsungan komunitas setempat serta mengkampanyekan hak anak dengan menyajikan berbagai pertunjukan kesenian local. Hal ini untuk mendukung keberlangsungan komunitas–komunitas anak di luar Merapi yang tergabung dalam jejaring Tlatah Bocah.

Pada tahun 2012, Laku Lampah menyambangi lereng Menoreh dengan mengajak beberapa tim kesenian lokal serta tamu dari Surabaya dan Salatiga untuk mendorong geliat kesenian setempat. Pada tahun 2011 Laku Lampah dilakukan di huntara Jumoyo (Kabupaten Magelang) untuk masyarakat pengungsi lahar hujan, huntara Cangkringan (Kabupaten Sleman) yang menghuni lingkungan ini dikarenakan awan panas dan juga di Deles sebuah dusun di pinggiran Merapi wilayah Kabupaten Klaten yang diapit Sungai Gendol dan Sungai Woro. Pemilihan 3 tempat ini untuk memberikan dukungan psikologis masyarakat setempat atas dampak erupsi Merapi di tahun 2010

5. Larung Sukerta

Pelaksana : Panitia Tlatah Bocah VII

Peserta : Komunitas

Publik : Penonton (gratis)

Hari – Tanggal : Minggu, 31 Agustus 2013

Lokasi : Dusun Telogolele – Desa Telogolele – Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali

Larung Sukerta merupakan suatu tradisi menghilangkan unsur negatif dalam kehidupan disimbolkan dengan melepas benda sebagai gambaran unsur tersebut. Prosesi ini biasanya dilakukan di sungai, sendang, maupun laut yang bersifat mengalir. Selain itu, larung juga menggambarkan kehidupan baru dengan berpikir positif atas segala yang terjadi.

Pada tahun 2012 dilaksanakan di sebuah mata air yang mempunyai karakter asin dan tawar di Kabupaten Boyolali. Pada tahun 2011 dilaksanakan di Trisik (Muara Sungai Progo – Kabupaten Kulonprogo), serta 2010 di Wonolelo (pertemuan sungai Pabelan dan Apu – Kabupaten Magelang).

SEKRETARIAT

Kontak
GunawanJulianto
Alamat RUMAH PELANGI
Jl. Talun km 1 no. 57 – Patosan
Muntilan – Jawa Tengah 56412
Telpon : 0818 – 0272 3030(Kakao Talk, Line, Whatsapp, SMS)Facebook: Tlatah BocahTwitter : @TlatahBocahWebsite : www.TlatahBocah.org

Email : [email protected]

Muntilan, 30 April 2013

( Gunawan Julianto )

Direktur Festival

Foto: Koleksi tlatahbocah.org

Semarak Muktamar Blogger 2013

BLOGGER GAK BLOGGER,

YANG PENTING NGEBLOG

MB1

Hari itu cuaca Jakarta tidak terlalu cerah sedari pagi. Awan yang meggelantung di angkasa justru meneduhkan suasana yang biasanya sangat panas dengan terik sinar matahari dan kebisingan lalu lintas jalan raya. Mungkin itu semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa untuk menguatkan tekad para blogger di seputaran ibukota untuk merapat, merayakan “reunian” dan kangen-kangenan dalam Muktamar Blogger 2013 yang diselenggarakan Blogger BHI di Aula Taman Langsat, Jakarta Selatan pada Sabtu, 1 Juni 2013.

Setelah sekian tahun para pelopor blog yang eksis pada tengahan dekade 2000-an, termasuk yang bergaung di barisan BHI, tidak lagi jumpa darat sebagaimana semangat kopdar 45 yang menggelora kala itu, rasa rindu, kangen, bahkan penasaran kian hari kian menggunung. Kesibukan pada rutinitas masing-masing, ngurusi pekerjaan, ngurusi rumah tangga, anak, dan istri. Belum lagi tempat tinggal yang terpencar-pencar, saling berjauhan sesuai dengan jalan hidup dan penghidupan masing-masing, menimbulkan sisi-sisi kutub medan magnet yang semakin menguatkan daya tarik diantara sesama teman ngeblog yang dulunya sangat akrab di dunia maya. Sudah tiba waktunya bagi insan yang didera rasa kangen itu menuntaskan kekangenannya. Continue reading “Semarak Muktamar Blogger 2013” »

Rekam Jejak Bala Tidar 2012

Malam terakhir di penghujung tahun ini berselimut mendung. Letihnya raga menjalani beberapa penggawean membuat diri ini, sebagaimana di tahun-tahun yang lain, lebih memilih menyambut tahun baru dengan berdiam diri di tepi kesunyian. Merenung dan mawas diri, mengukur panjang jalan yang telah tertempuh setahun penuh. Ada suka, ada duka. Ada canda, ada tawa, ada pula air mata. Rupanya Tuhan telah menganugerahkan warna-warni kehidupan yang membuat hidup saya terasa semakin hidup.

Sebagai pribadi blogger yang menjadi bagian besar sedulur-sedulur Bala Tidar, sudah pasti setahun ke belakang ini ada catatan dan goresan khusus yang akan terukir sejati menjadi bagian kisah hidup yang tidak akan pernah terhapuskan. Tahun 2012, bagi sebagian besar sedulur Bala Tidar, mungkin menjadi tahun yang sedikit redup dengan minimnya momentum kebersamaan yang semakin jarang bisa menyatukan Bala Tidar di dunia off line. Namun demikian, kami  semua nampaknya harus senantiasa mengucapkan syukur kepada Gusti Alloh yang telah menakdirkan beberapa diantara kami tetap memiliki kencenging pikir dan komitmen kuat untuk tetap berpegang dalam tali paseduluran yang kami ikrarkan tanpa batas.

Beberapa catatan yang dapat saya rangkumkan dari tandang gawe dan kiprahnya Bala Tidar di ranah jagad padhang, diantaranya adalah:

panti_ar_rahmanBulan Januari. Meskipun awal tahun, namun Bala Tidar sudah membulatkan tekad dan langkah untuk kembali menggelar Lomba Menulis dan Seminar Pendidikan (LMSP 2012). Beberapa persiapan sudah mulai dilakukan di bulan ini, mulai dari pematangan konsep, perencanaan kegiatan, sosialisasi, bahkan pencarian mitra dan sponsor.  Di samping persiapan LMSP, beberapa sedulur Bala Tidar juga terus aktif berbagi pengetahuan dan keterampilan komputer kepada adik-adik di Panti Asuhan Ar Rahman, khususnya dilakukan pada setiap Jum’at sore.

Februari, bulan yang cukup sibuk dengan sosialiasi LMSP. Meskipun Bala Tidar yang turut turun tangan menggawangi kegiatan ini bisa dibilang sangat sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun semangat juang mereka sangat-sangat luar biasa. Tak lelah satu per satu sekolahan dikunjungi untuk mengedarkan undangan lomba dan seminar. Demikian halnya dalam gerilya mencari dukungan sponsor. Para pahlawan relawan sejati ini tak mengenal pamrih sedikitpun dalam menjalankan amanat di pundaknya. Tidak hanya pikiran dan tenaga dicurahkan, bahkan uang bensin dan transportasi tidak pernah dihitung. Kami “bekerja bakti” dengan prinsip rame ing gawe lan sepi ing pamrih.

 lm2012banner lmsp2012

Maret hingga pertengahan April adalah rentang waktu pelaksanaan lomba menulis tingkat pelajar yang mengangkat tema “Membaca Alam Membaca Kalam”. Hari demi hari selalu dihitung oleh sedulur Bala Tidar dengan penuh perasaan dagdigdug dan kekhawatiran yang mendalam. Hingga minggu ke tiga, belum juga ada tulisan yang dikirimkan peserta lomba. Namun demikian, di hari-hari terakhir justru datang kiriman naskah lomba berlomba-lomba. Barangkali memang kultur masyarakat kita yang suka nyrempet-nyrempet waktu dateline dalam urusan tanggung jawab, ataupun pekerjaan apapun. Meskipun tidak terjadi peningkatan jumlah peserta lomba secara signifikan, namun kami tetap patut bersyukur bahwa itikad dan kerja kami tidak sia-sia, bahkan mendapatkan perhatian dari beberapa kalangan.

images Kawagoe-3 Asakusa-6 Meiji Shrine-1

Di pertengahan bulan Maret, atas anugerah yang tiada terkira dari Kang Hakarya Jagad, saya berkesempatan melanglang ke negeri Jepang. Kepergian saya tersebut dalam rangka mengikuti program pertukaran antar pemuda (JENESYS Programme) se-ASEAN, Asia Timur, Asutralia dan Selandia Baru atas undangan dari Japan Foundation. Bukan secara kebetulan karena kehadiran saya di forum tersebut berkenaan langsung dengan aktivitas selaku citizen journalist atau independet journalist. Selama dua minggu penuh, kami serombongan diajak berkeliling setengah wilayah Jepang, mulai dari Tokyo hingga pulau Kyusu di ujung selatan. Beberapa tempat yang saya kunjungi diantaranya METI, Asakusa, Meiji Jingu Shrine, Ginza, Kawagoe, Haneda, Panasonic, PLT Geothermal Haccobaru, Beppu, Mitsubishi, Yokohama, hingga Osaka. Sarana transportasi domestik Jepang yang sempat saya nikmati diantaranya ANA Air dan kereta super cepat Shinkanzen. Inilah rejeki nomplok selaku blogger yang pernah saya rasakan.

Di penghujung bulan April, ada dua event penting di jagad perbloggeran yang sempat saya hadiri. Momentum pertama adalah acara Intip Buku dan peluncuran bukunya Om Jay yang berjudul Menulis setiap Hari dan Merasakan Apa yang Akan Terjadi. Dalam acara tersebut hadir narasumber beberapa blogger tenar, diantaranya Kang Pepih Nugraha (wartawan Kompas), Imam FRK (mahasiswa penulis), Taufiq Effendi (Dosen muda UNJ), Prayitno Ramlan (purnawirawan TNI AU), Johan Wahyudi (pendidik), Iskandar Zulkarnain (Kompasiana). Sungguh sebuah momentum kopdaran yang luar biasa penuh taburan butiran ilmu dan pengetahuan.

 iB3 FTIK1

Masih di bulan April, saya juga berkesempatan mewakili sedulur Bala Tidar di perhelatan Wilujeng Surfing yang digelar di STT Telkom Bandung. Acara yang berlangsung selama 2 hari ini berisi puluhan workshop dan seminar yang berkaitan langsung dengan dunia IT. Yang paling menyenangkan di acara ini adalah hadirnya ratusan blogger dari seluruh penjuru Nusantara, meski tentu saja didominasi dari pulau Jawa. Di sana pulalah saya bertemu dengan banyak dedengkot blogger Indonesia, seperti Pakdhe Blonthang, Kang Kombor, Gajah Pesing, arek TPC, Ponorogo, Plat-M, Bengawan, Pak Nukman, dll. 

juara1_sma juara1_smp juara2_smp  IMG_5543  juara3_smp juara2_sma juara3_sma

Mei adalah puncak gawe-nya Bala Tidar. Bertempat di Gedung Wanita, kami menghelat acara Seminar Pendidikan bertema Pusaka di Balik Pustaka:”Revitalisasi Budaya Membaca”. Bekerja sama dengan Perpustakaan Daerah Kota Magelang dan beberapa sponsor, seperti Telkomsel Magelang, Polaris FM, dan Pandi, seminar dihadiri sekitar 150-an peserta. Hadir selaku narasumber adalah Ibu Sugiarti (Perpusda Kota Magelang), Sholahudin Al Ahmed(Suara Merdeka), Lusia Dayu (NBC Magelang) dan Pakdhe Blonthang (Bengawan). Meskipun dari segi kepanitiaan sangat minimalis sehingga kami yang ber-10 harus jungkir balik mengurusi setiap detail seminar, namun kamu bersyukur acara dapat berjalan dengan lancar. Inilah catatan sukses terbesar kami di tahun 2012 ini.

Juni hingga Juli nampaknya menjadi hari dan bulan relaksasi Bala Tidar, selepas puncak kegiatan LMSP 2012. Namun demikian, sebagai komitmen dari panitia untuk dapat menerbitkan naskah-naskah lomba yang masuk mengikuti kompetisi dalam sebuah buku, maka beberapa diantara Bala Tidar tetap sibuk mengurusi penyuntingan dan desain buku. Sayangnya hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai keberlanjutan proyek tersebut.

Agustus merupakan penghujung bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal. Meskipun tidak ada agenda Lailatul Kopdar sebagaimana dua tahun sebelumnya, namun masing-masing kami sibuk menyelami hadirnya Lailatul Qodar dengan cara kami masing-masing. Di awal bulan Agustus, saya sempat menghadiri MODIS (Monthly Disscussion) yang digelar oleh Kompasiana di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mengangkat tema Pengelolaan Sampah. Memasuki Hari Lebaran, beberapa Bala Tidar sempat Kopdar Syawalan di Ringin Tengah Alun-alun Magelang, yang dilanjutkan dengan menikmati bersama Festival 1000 Balon di Masjid Agung Payaman. Atas undangan Komunitas Kota Toea Magelang, perwakilan Bala Tidar juga sempat mengikuti Temoe Kangen Kerabat Kota Toea Magelang di rumah makan Voor de Tidar.

13440955111291832518 HutBeBlog4 copy 1347148049883288822

September menjadi momentum penting bagi Komunitas Blogger Bekasi (Be-Blog) karena mereka memperingati HUT ke-3. Bertempat di Balai Patriot Kota Bekasi, saya sempat menghadiri perayaan HUT yang mengambil tema “Semangat Kebersamaan dalam Harmoni Perubahan”. Uraian menarik mengenai bagaimana menjadi Blogger yang Sukses dan Mulia diuraikan oleh Jamil Azaini, seorang motivator yang juga menekuni dunia blog.

Bulan Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah bagi blogger di Indonesia. Di bulan inilah diperingati Hari Blogger Indonesia yang telah ditetapkan setiap tanggal 27 Oktober, semenjak tahun 2007 di Pesta Blogger I. Dalam rangka Hari Blogger itulah, saya sempat mewakili Bala Tidar untuk turut hadir di acara seminar dengan tema “Merumuskan Bahasa dalam Media Online dan Jurnalisme Warga”, pada hari Sabtu, 20 Oktober 2012, bertempat di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta. Hadir selaku narasumber dalam acara tersebut Masmimar Mangiang (Dosen Komunikasi UI), Pepih Nugraha (Manajer Redaktur Kompas), dan Ivan Lanin (Wikipedia Indonesia).

  GajahMada BN1 BN2012-1 FR1

November memiliki Hari Pahlawan. Di momentum tanggal itu pulalah digelar Kopdar Akbar Blogger Nusantara II di Makassar, Sulawesi Selatan. Tantangan yang sangat berat bagi sebagian blogger Nusantara untuk dapat turut hadir di kopdar terbesar yang digelar di luar pulau Jawa. Namun demikian, demi menyambukang tali silaturahmi saudara sebangsa setanah air, saya berangkat memenuhi panggilan dari Daeng Ipul dari Komunitas Anging Mammiri. Kopdar akbar yang dihadiri lebih dari 600a-an blogger tersebut berlangsung selama dua hari yang diisi dengan sesi seminar dan workshop, serta anjangsana wisata di sekitaran Makassar.

Desember….hmmm. Di bulan ini saya pribadi nihil dari aktivitas kopdar blogger. Di penghujung tahun, 31 Desember 2012, kembali perjalanan pengelanaan blogger saya ingat dan rekam kembali ke dalam postingan ini. Semoga ke depan kita semua di barisan Bala Tidar dapat lebih komitmen dan konsisten dalam menjalani amalan ibadah di jalur blog ini, sehingga dapat mencetuskan ide-ide positif yang akan menjelma menjadi program maupun agenda yang bermanfaat untuk sesama. Monggo sedulur! Salam Blogger !

Ngisor Blimbing, 31 Desember 2012

“Sri Kandi” Mayang Hadiyanti

PENDEKAR TIDAR#16

Mayang1Menjelang digelarnya hajatan Malam Lailatul Kopdar di posko Pattiro Magelang di akhir Ramadhan 2010, turut merapat sesosok perempuan yang kelihatan anteng adhem ayem. Kehadirannya di tengah Bala Tidar memang baru pertama kalinya itu. Namun beberapa Bala Tidar sudah langsung dapat “nyambung” obrolan yang akrab semanak karena memang telah terjalin komunikasi awal melalui media blog masing-masing. Di sesi awal diskusi yang didahului dengan perkenalan, ia memperkenalkan diri sebagai May. Bloggerwati yang bernama lengkap Mayang Hadiyanti ini kala itu tengah menempuh studi di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada.

Menurut pengakuan May saat itu, dirinya turut merapat ke pertemuan itu di samping karena kesamaan visi misi sebagai putra daerah yang ingin turut memajukan Magelang melalui media blog, ia juga berinisiasi untuk mengangkat gerak-gerik dan kiprah Pendekar Tidar menjadi topik penelitian tugas akhirnya. Menurutnya, dari sisi teori ilmu sosial maupun komunikasi, banyak sudut menarik hadirnya komunitas blogger yang memiliki basis pemanfaatan kemajuan teknologi informasi. Fenomena yang masih bisa dibilang belum umum di Indonesia ini sangat menantang untuk diteliti secara ilmiah. Dari sinilah titik awal keterlibatan May yang lebih intensif dalam berbagai kopdaran dan agenda-agenda yang digulirkan satu-satunya komunitas blogger di Magelang yang eksis.

Bicara mengenai bloggerwati atau Bala Tidarwati di barisan Komunitas Blogger Pendekar Tidar, memang bisa dibilang sangat sedikit yang konsisten bertahan lama. Di masa awal tergabungnya blogger Magelang, hadir nama-nama seperti Emi Fa, Indah, Yunita, Prama, Eva, Nurul, Bidan Yuni, Susi, dll, kemudian May, namun belakangan yang masih eksis terdengar kabarnya di dunia maya tinggal segelintir saja. Bisa jadi semangat ngeblog yang memang sudah luruh ataupun dikarenakan ada kesibukan atau aktivitas lain yang lebih menyibukkan sehingga blog yang dulu pernah digagas menjadi terabaikan.

May menjadi cukup intens bergaul dengan beberapa Bala Tidar yang sengaja dijadikan subyek responden untuk penelitian skripsinya. Adalah Sang Nanang, Kang Ciwir, dan Yudha Dahlan yang dimintanya turut membantu menceritakan motivasi dan pandangan mengenai media blog, baik sebagai sarana ekspresi dan aktualisasi diri, maupun lebih jauh untuk nglumpuke balung pisah dalam sebuah komunitas yang peduli untuk menduniakan segala potensi Magelang melalui media blog.

Pada awalnya, penelitian terkait Pendekar Tidar yang dilakukan May sempat mengalami hambatan dan penundaan terkait dengan perisitiwa erupsi Merapi  2010 yang kemudian menyibukkan barisan Bala Tidar untuk turut membantu pengungsi di posko gabungan yang digawangi Rumah Pelangi, Pattiro Magelang dan Pendekar Tidar. Di posko inilah nampak sangat menonjol peran beberapa Sri Kandi Bala Tidar untuk mengurusi uba rampe logistik dan pendistribusian barang bantuan. Setelah suasana udan awu sedikit mereda, di sekitaran bulan Maret 2011, May baru bisa berkonsentrasi menyusun kembali rangkaian penggalian informasi dalam rangka penelitiannya.

Di samping intensif menyatu di barisan Bala Tidar dalam rangka penelitian, May juga sangat aktif turut menjadi garda terdepan dalam berbagai agenda kegiatan komunitas. Kiprahnya pertama kali terlihat sangat menonjol pada saat Pendekar Tidar mendapat kehormatan untuk turut meramaikan HUT Radio Polaris FM di penghujung tahun2010. Selanjutnya dalam agenda tahunan Lomba Menulis dan Seminar Pendidikan 2011, dia bisa dibilang menjadi “satu-satunya” Bala Tidarwati yang turut singset taliwanda melaksanakan gawe sejak perencanaan konsep, sosialiasi hingga pelaksanaan kegiatan.

Ketika di paruh akhir 2011, rekan-rekan Bala Tidar menggagas pelatihan komputer di Panti Asuhan Arrahman yang kebetulan berada tidak jauh dari rumah tinggalnya di Ngembik, May juga turut menjadi pengasuh adik-adik dalam belajar beberapa aplikasi komputer sederhana. Meskipun saat itu ia tengah intensif menggarap skripsinya, namun tanpa kenal lelah May merutinkan diri bolak-balik Jogja Magelang untuk turut mendukung barisan Bala Tidar. Sepeninggal Ema Fa yang hijrah ke Tanah Pasundan, tinggal Maylah satu-satunya Bala Tidarwati yang memiliki komitmen tertingginya untuk mencurahkan pikiran, tenaga dan pengorbanannya sebagai sebuah pilihan jalan ibadah melalui komunitas kami.

Mayang2

Sekitar Oktober 2011, May mulai memasuki tahapan akhir penelitian yang melibatkan kami-kami. Hingga akhirnya skripsi yang dia susun diuji di hadapan para dosen penguji, kami masih terus intensif berkomunikasi secara timbal balik meskipun dari jarak jauh. Akhirnya kelulusan itupun dapat diraih May dengan penuh gemilang. Dan sekitar November 2011, ia memberikan kabar tentang wisudanya. Kami semua tentu saja turun berbahagia atas prestasinya.

Kelulusan dari bangku kuliah tidak menyurutkan kiprah May di Pendekar Tidar. Dalam hajatan Lomba Menulis dan Seminar Pendidikan yang digelar untuk ke tiga kalinya awal tahun 2012 ini, May menjadi satu-satunya Bala Tidarwati yang terus setia menjalankan amanat-amanat tugas mulia sebagaimana disepakati oleh rekan-rekan lain yang dari hari ke hari jumlahnya kian menyusut. Cita-cita sudah dipancangkan, layar siap terkembang, maka tiada perkataan lain selain pantang menyerah dan berputus asa.

Mayang Hadiyanti. Dari segi nama yang disandangnya mengingatkan kami tentang bunga pohon jambe yang disebut mayang. Bunga mayang hadir dalam kesucian warna putih nan suci. Sebagai cikal bakal buah pinang, mayang melambai dan mekar sarwa merak ati bagi siapa saja yang memandangnya. Mayangpun bermakna kegiatan melakonkan wayang, wewayangan atau bayang-bayang. Sebagaimana manusia hidup di duniapun hanyalah sekedar melaksanakan titah dan dhawuh dari Kang Maha Wenang, maka sebaiknya manusia senantiasa andhap asor, penuh rasa tawadhu, dan senantiasa taat patuh atas segala perintah-Nya.

Kini di penghujung tahun, saya pribadi mendengar selentingan kabar bahwa adik kami, Mayang Hadiyanti, telah melepas masa lajang dalam rangka melaksanakan sunnah Kanjeng Nabi yang sudah pasti sangat dipundinya tinggi-tinggi. Satu lagi tahapan dan fase perjalanan hidup dimasuki oleh May. Sebagai saudara yang dipertuakan di dalam keluarga besar Pendekar Tidar, tentu saja hanya sebatas doa dan harapan yang bisa kami panjatkan. Semoga bahtera rumah tangga yang kini tengah dibangun May mendapatkan keberkahan dari Gusti Alloh untuk menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, adem ayem, tata titi tentrem, kalis ing rubeda lan sambekala, cinaketaken ing reja lan mulyanipun, atut rukun kadya mimi lan mintuna, bisa langgeng hingga dunia akhirat.

Ngisor Blimbing, 22 Desember 2012

NB: Tulisan ini saya dedikasikan atas pernikahan adik kami Mayang Hadiyanti, 16 Desember 2012, sekaligus dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-84 atas kiprah dan peranannya turut menggawangi barisan Komunitas Blogger Magelang. (Huff…….ternyata cukup sulit untuk menemukan seraut muka Bala Tidarwati yang satu ini dalam berbagai album koleksi komunitas. Rupanya dia lebih senang berada di balik layar)

Petikan Kisah Kopdar Blogger Nusantara 2012

“KEJUTAN PASEDULURAN”

Setelah didera seribu satu keraguan dan kebimbangan, akhirnya pagi dini hari itu, 9 November 2012, saya tiba di Makassar. Tuhan benar-benar telah “memperjalankan” hambanya. Kedatangan saya berbarengan Anik dan Nawwir, dua blogger asli Makassar, serta Erlis dan Ricko, para sedulur dari Komunitas Karya Tuna Netra (kartunet.com). Bersamaan dengan turunnya kabut tipis di setiap sudut kota Anging Mammiri tersebut, kami langsung menuju Wisma Kemensos sebagai basecamp kegiatan Kopdar Blogger Nusantara 2012. Suasana dingin embun pagi itu kemudian mengantarkan kami untuk beristirahat melanjutkan perjalanan sisa malam.

Selepas ayam jantan-ayam jantan dari Timur benar-benar berkokok membangunkan setiap insan yang tengah nyenyak memeluk kegelapan, satu per satu peserta BN 2012 mulai menampakkan batang hidungnya. Beberapa sedulur yang berasal dari sekitar Sulawesi Selatan, mulai dari Relawan TIK Buton Raya, blogger dari Wajo, Palopo, Soroako, Manado, termasuk Kendari rupanya telah tiba terlebih dahulu. Adapun deretan blogger dari luar Sulawesi juga tidak sedikit yang sudah bergabung di Wisma Kemensos, sebut saja nama Henry dari Surakarta, Mbak Lilis dari Pontianak, Slamet dari Madura, dan kami yang baru saja tiba. Suasana mulai meriah tatkala satu dua para kumpulan blogger tersebut saling beramah tamah, mengulurkan tangan untuk saling berkenalan, berjabat erat saling mengikatkan paseduluran sejati anak manusia, disertai dengan obrolan ngalor-ngidul penuh keakraban. Inilah keunggulan teristimewa dari perhelatan Kopdar Blogger Nusantara 2012. Continue reading “Petikan Kisah Kopdar Blogger Nusantara 2012” »

Muntilan dalam Layar Lebar

Muntilan sebuah kota kecamatan di tengah jalur Jogja – Borobudur. Meskipun hanya berstatus sebagai ibukota sebuah kecamatan, Muntilan adalah kota terbesar dan teramai di Magelang. Muntilan menjadi pusat perkembangan pembangunan yang sangat pesat di wilayah Kabupaten Magelang. Dari sektor ekonomi, pendidikan, wisata, hingga hiburan, Muntilan menyediakan fasilitas yang cukup lengkap. Muntilan menempati posisi yang sangat strategis di jalur utama pulau Jawa yang menghubungkan Semarang dan Jogjakarta.

Muntilan masuk televise? Akh, tentu sudah sering dan tidak luar biasa. Lihat saja pada saat terjadi erupsi gunung Merapi yang terbesar di sepanjang sejarah republik ini pada 2010 lalu, hampir setiap hari muncul pemberitaan yang berkaitan dengan Muntilan dan sekitarnya. Nah, kalau wilayah di sekitar Muntilan diangkat ke layar lebar, menjadi sebuah film yang ditayangkan di bioskop-bioskop seluruh penjuru negeri, pernah mendengar atau melihatnya?

Beberapa kali, beberapa film layar lebar memang pernah mengangkat setting lokasi di sekitar wilayah Muntilan. Akan tetapi dari segi jumlah produk sinema yang ada bisa dibilang masih sangat sedikit kalau mau mencari yang berkaitan dengan kota Muntilan. Film terakhir yang mengkaitkan kota Muntilan diantaranya film “Soegiyopranoto” yang mengisahkan awal mula masa pendidikan sosok yang kemudian didaulat oleh Vatikan untuk menjadi Uskup Agung yang ternama di tanah air. Bagaimana dengan film yang berkisah dan mengangkat cerita seputar dunia bocah? Film yang dibintangi Joshua kecil sekitar sepuluh tahun yang lalu sepertinya menjadi film yang bisa dikenang berkaitan dengan Muntilan.

 

Namun beberapa waktu telah diluncurkan film yang banyak mengekspose keindahan alam di sekitar Muntilan yang masih asri, ijo royo-royo dengan tanaman padi yang sedang sumilir itu. Film tersebut berjudul “Cita-cita Setinggi Tanah”, disutradarai oleh Eugene Panji yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penggarap video musik. Dilihat dari judul filmnya, seperti ada yang aneh, janggal, alias tidak umum. Bukankah ungkapan yang umum kita kenal selama ini adalah “menggantungkan cita-cita setinggi langit”, lha kok ini cita-citanya hanya setinggi tanah! Penasaran? Justru rasa penasaran itulah yang sengaja ingin digunakan oleh penulis cerita film ini untuk memancing minat penonton.

Dengan mengambil judul ungkapan yang melawan arus, film ini bertujuan untuk membuka kesadaran semua penontonya bahwa sebuah cita-cita sebenarnya menjadi bermakna dan berharga bukan dari ketinggiannya, tetapi justru bagaimana cita-cita itu bisa memotivasi, menginspirasi, menjadi daya dan energy bagi seseorang untuk mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan. Bukan sekedar kata-kata indah, muluk, mengawang-awang, namun berujung hanya kepada sebuah khayalan. Inti dari sebuah cita-cita adalah daya juang pemiliknya untuk mewujudkannya. Sebuah cita-cita yang menjadi panduan dan penunjuk jalan hidup. Cita-cita yang membumi!

Dikisahkan beberapa bocah sekawan-sekarib yang masih duduk di bangku sebuah sekolah pinggiran. Mereka adalah Agus (M Syihab Imam Mutaqqin), Sri (Dewi Wulandari Cahyaningrum), Jono (Rizqullah Maulana Daffa), dan Puji (Iqbal Zuhda Irsyad).   Suatu hari sang ibu guru menugaskan mereka untuk menuliskan sebuah esai tentang cita-citanya masing-masing.

Maka meluncurlah angan dan imajinasi anak-anak kampung tersebut tentang gambaran cita-cita yang ingin diraihnya. Si Sri kelak setelah besar ingin menjadi seorang artis ternama, bahkan dalam pergaulan sehari-hari ia merasa minder menggunakan nama Sri dan selalu ingin dipanggil dengan panggilan Mey oleh teman-temanya. Jono lain lagi. Ia bercita-cita ingin menjadi tentara. Semenjak di kelas satu, ia selalu menjadi ketua kelas, ingin menjadi menjadi pemimpin bagi teman-temannya yang lain.  Sedangkan Puji yang hobi ngupil bercita-cita bisa membahagiakan orang lain, sebuah cita-cita yang masih sangat abtrak dan luas.  

Adapun Agus adalah anak sederhana dari sebuah keluarga yang hidupnya pas-pasan. Ayahnya seorang pengrajin pembuat tahu. Ibu Agus seorang ibu rumah tangga biasa yang setiap hari selalu memasakkan anaknya tahu bacem istimewa se-kabupaten. Saking istimewa tahu bacem ibunya, setiap sarapan pagi, makan siang, hingga makan malam, menu makan keluarganya selalu disertai dengan tahu bacem. Kondisi ini membuat Agus bosen, sehingga terlintas di pikirannya sebuah cita-cita ingin makan di restoran padang. Nggak salahkah cita-cita Agus kecil ini? Ini cita-cita atau sekedar keinginan yang sangat ngebet layaknya ibu hamil muda yang sedang ngidam?

Namanya juga seoarang bocah yang terdidik dari lingkungan keluarga yang sederhana dan seadanya, maka makan di restoran padang adalah sebuah keistimewaan yang hanya sekilas melintas di angan-angan. Bagaimana mungkin makan di restoran padang, kan makanan di sana semuanya mahal-mahal. Lagi pula di restoran padang, setahu Agus, berpiring-piring makanan enak dihidangkan semua di atas meja dan harus dibayar. Perkiraan Agus, jika satu piring makanan seharga sepuluh ribu ruiah, maka jika di atas meja terhidang 12 piring, tentu bukan sebuah angka rupiah yang kecil bagi ukuran keluarganya. Tentu saja cerita Agus dengan cita-cita sederhananya ini banyak dicemooh dan ditertawakan oleh teman-teman sekelasnya.

Bukanlah anak istimewa jika persoalan cita-cita hanya sampai di angan-angan dan pikiran. Agus adalah seorang anak gemblengan alam Merapi, oleh karena itu ia sangat menjunjung tinggi pikiran, ucapan, hingga tindakan tingkah lakunya. Oleh karena itu cita-cita makan di restoran padang bukanlah sebuah gurauan dan khayalan, namun harus diwujudkan menjadi kenyataan. Dan untuk itu diperlukan uang yang bagi keluarga Agus tidaklah mudah untuk mendapatkannya. Tekad itu semakin terasa membara di dada Agus setelah ia juga mendapatkan petuah dari Mbah Tapak bahwa sebuah cita-cita tidak hanya sekedar bisa “ditulis” tetapi harus bisa diwujudkan.

Akhirnya Agus memulai langkah untuk meraih cita-citanya dengan menabung dalam bumbung bambu. Ketika dikritik teman-teman bahwa kalau ingin menabung seharusnya membeli celengan terlebih dahulu, Agus hanya memberikan jawaban dari logika sederhana, “kalau mesti beli celengan bukankah harus mengeluarkan uang, lalu apa yang nantinya akan ditabung di celengannya?”

Pedukuhan damai di sekitar kota Muntilan, dengan seribu satu sudut keindahannya tersaji sangat apik dalam alur cerita sederhana namun sangat menyentuh perasaan penonton. Hidup kembali kepada kepasrahan menjalani perjalanan hidup, inilah pesan kuat yang membuat semua orang akan terpikat oleh sensasi pengembaraan jiwa. Betapa sebenarnya sebuah kompleksitas permsalahan hidup manusia senantiasa berawal dari sebuah pijakan pemikiran yang ruwet bin rumit dan tidak membumi.

Selamat menikmati panorama Muntilan melalui sebuah film layar lebar. Tidak saja kenangan dan kesan tentang sebuah kota kecil di tepian gunung Merapi, namun Cita-cita Setinggi Tanah menghadirkan sebuah pembelajaran hidup yang sangat bermakna.

Pemain Film Cita-citaku Setinggi Tanah (CCST):

  • M Syihab Imam Mutaqqin Sebagai Agus
  • Dewi Wulandari Cahyaningrun Sebagai Sri/Mey
  • Rizqullah Maulana Daffa Sebagai jono
  • Iqbal Zuhda Irsyad Sebagai Puji
  • Agus Kuncoro Sebagai Bapak Agus
  • Nina Tamam Sebagai Ibu Agus
  • Iwuk Tamam Sebagai Nenek Agus
  • Donny Alamsyah Sebagai Pegawai restoran Padang
  • Luh Monika Sokananta Sebagai Bella (Ibu Sri)

Link artikel terkait:

http://www.antaranews.com/berita/336709/perjuangan-di-dalam-cita-citaku-setinggi-tanah

http://rollingstone.co.id/read/2012/10/02/155125/2052743/1093/cita-citaku-setinggi-tanah-film-perdana-sutradara-video-musik-eugene-panji

http://www.haloberita.com/cita-citaku-setinggi-tanah-synopsis.html#

http://www.haloberita.com/cita-cita-dari-sudut-pandang-berbeda-ccst.html

http://www.haloberita.com/gala-premier-film-cita-citaku-setinggi-tanah.html

Foto-foto diambil dari:

http://cirerare.blogspot.com/2012/10/behind-scene-film-cita-citaku-setinggi.html

BN2012: Mengukuhkan Persaudaraan Nusantara

Dari catatan sejarah, Maha Patih Gadjah Mada mengikrarkan janji keramat “Sumpah Palapa” untuk mempersatukan kepulauan Nusantara di bawah payung Majapahit. Semangat sumpah itulah yang kemudian menginspirasi para aktivis pergerakan nasional yang banyak terdiri dari golongan kaum muda untuk mengikrarkan Sumpah Pemuda. Bertanah dari satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Modal persatuan diantara anak suku bangsa inilah yang kemudian mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Estafet perjuangan merebut kemerdekaan berganti dengan tongkat perjuangan untuk mengisi kemerdekaan yang sering disebut sebagai proses pembangunan. Hingga mencapai tujuh dasa warsa usia kemerdekaan kita saat ini, harus kita akui bahwa nikmatnya kue pembangunan belum bisa dinikmati secara merata oleh masyarakat di seluruh penjuru tanah air, terlebih lagi bagi saudara kita di daerah terpencil ataupun di gugusan pulau terluar. Jurang kesenjangan antar daerah, antar wilayah, maupun antar pulau semakin lebar menganga. Kondisi ini menimbulkan munculnya dikotomi pusat dan daerah, kota dan desa, Indonesia Barat dan Indonesia Timur, hingga Jawa dan luar Jawa.

Jakarta sebagai ibukota negara dan pusat pemerintahan seolah menjadi pusat nafas hidup negara Indonesia. Segala hal dan segala macam tersaji atau tersedia dengan lengkap di Jakarta. Gedung pencakar langit megah dan mewah banyak di Jakarta. Fasilitas ekonomi modern, seperti mall, supermarket, hingga pasar dan kios-kios mewah banyak bertebaran di berbagai sudut ibukota. Demikian halnya dengan fasilitas wisata, hiburan, pendidikan, kesehatan, semua komplit tersedia di Jakarta. Dalam pengertian lebih ekstrim, Jakarta adalah gudangnya uang!

Jika Jakarta adalah gudang uang, maka tidak bisa dipungkiri pula bahwa perkembangan dan pengenalan berbagai produk teknologi modern nan canggih lebih dahulu terjadi di pusat negara. Demikian halnya dengan perkembangan internet dengan segala potensi dan peluang luar biasanya, juga pastinya lebih dahulu dinikmati Jakarta termasuk sejarah dinamika jagad perbloggeran di tanah air. Blog sebagai salah satu aplikasi penggunaan internetpun berkembang pertama kali juga di wilayah pusat kekuasaan.

Dalam beberapa tahun lalu, penetapan Hari Blogger 27 Oktober 2007 juga dideklarasikan di Jakarta. Demikian halnya peringatan Hari Blogger dalam kemeriahan Pesta Blogger 1-4 beberapa tahun kemudian juga dipusatkan di Jakarta. Semua perwakilan blogger dari berbagai daerah harus berbondong-bondong dating “sowan” ke Jakarta. Apakah kondisi ini memang harus demikian?

Menyadari nafas dan nuansa Pesta Blogger yang sentralistik, beberapa penggerak komunitas blogger di beberapa wilayah menggagas semangat untuk tidak selalu “Jakarta sentries”. Salah satu arus gagasan itu menjelma menjadi perkumpulan atau paguyuban Blogger Nusantara. Mempersatukan seluruh blogger di negeri ini dalam satu wadah bersama, sepertinya memang tidak mungkin dan justru hal ini seolah mengingkari realitas pluralitas di antara kita semua. Saya kira kehadiran Blogger Nusantarapun bukan dalam posisi atau kapasitas itu. Akan tetapi semangat dan spirit untuk menyambung tali persaudaraan diantara sesama anak bangsa dengan semaksimal mungkin memberikan kesempatan serta akses untuk blogger di luar pusat kekuasaan adalah kekuatan utama dari Blogger Nusantara.

Di samping itu, keberadaan Blogger Nusantara juga ingin memfasilitasi para blogger untuk mengedukasi diri dalam mengeksplorasi segala peluang positif blog. Blog tidak semata menjadi media untuk mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, ataupun curahan hati, namun blog bisa juga dijadikan media untuk mendapatkan profit. Demikian halnya dengan upaya pendampingan komunitas-komunitas blogger di daerah dalam pelaksanaan agenda kegiatannya, terutama menghadapi kendala klasik seperti minimnya dukungan dana, masalah sponsorship, dan networking, juga menjadi perhatian Blogger Nusantara.

Bukan sekedar sampai di tataran konsep dan gagasan, Blogger Nusantara telah membuktikan diri mampu menggalang kekuatan untuk menyelenggarakan event kumpul blogger terbesar yang dihadiri lebih dari 1000 blogger dalam Kopdar Akbar Blogger Nusantara yang berlangsung akhir Oktober 2011 di Sidoarjo, Jawa Timur. Kini kopdar akbar ke dua tengah dipersiapkan untuk dihelat di Makassar, 9-11 November 2012.

Ada tantangan besar yang harus dijawab oleh Blogger Nusantara sendiri terkait event besar mengumpulkan blogger dari seluruh penjuru tanah air di luar Pulau Jawa dan di Kawasan Indonesia Timur untuk pertama kalinya. Di sinilah semua komponen blogger yang memiliki komitmen dan aspirasi selaras dengan Blogger Nusantara mendapatkan tantangan untuk datang, tentu saja dengan keterbatasan dana dan waktu, menembus batas darat, laut, dan udara. Di sisi lain, rekan-rekan panitia di Anging Mamiri juga menghadapi tantangan untuk menghimpun segala kekuatan dalam mengorganisir dan mengelola event kopdar akbar ini.

Satu hal yang perlu dicatat untuk kita renungkan bersama, bahwa sedari dahulu kala nenek moyang dan pendahulu bangsa ini menghadapi kendala yang jauh lebih rumit dan kompleks sesuai dengan keadaan jaman waktu itu, untuk mengikrarkan semangat persatuan Indonesia. Akan tetapi hingga saat ini kita semua melihat bahwa Indoenesia tegak berdiri sebagai bangsa yang besar. Spirit, semangat, kekuatan batin untuk bersama, untuk guyub, untuk bersatu itulah yang mampu menghadapi dan mengalahkan semua kendala jaman yang dihadapi. Dari sanalah seharusnya semua Blogger Nusantara memiliki keyakinan bahwa kita juga bisa. Semoga sukses untuk Kopdar Akbar Blogger Nusantara 2012 di Makasar, 9-11 November 2012. Salam Blogger!

Gambar diambil dari sini, sini, dan sini.