Nyadran, Tradisi Tiada Henti di Tepi Merapi

Menurut hitungan kalender Hijriyyah, nama bulan yang datang sebelum bulan Ramadhan dikenal sebagai bulan Sya’ban. Konon pada bulan tersebut diajarkan kepada ummat Islam untuk mengamalkan keutamaan birul walidain, memuliakan kedua orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah bersemayam di alam baka. Terkait dengan arwah orang tua di alam kubur inilah masyarakat kemudian mengidentikkan bulan Sya’ban sebagai bulan Arwah. Masyarakat Jawa kemudian lebih mengenalnya sebagai bulan Ruwah.

NyadranKrg1

Secara adat dan tradisi, muncullah kemudian ritual nyadran. Istilah nyadran sendiri berasal dari bahasa Sansekerta sradha, yang digunakan ummat Hindu untuk sebuah upacara pemuliaan roh leluhur yang telah meninggal. Dikisahkan bahwa di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk di Majapahit, ia pernah menyelenggarakan upaca sradha untuk memuliakan arwah sang Ibunda Tribhuwana Tunggadewi. Setelah kedatangan Islam, ritual tersebut kemudian diadaptasi menjadi tradisi nyadran yang rutin diselenggarakan pada bulan Ruwah.

Nyadran biasa diselenggarakan oleh sebuah paguyuban trah makam tertentu. Di masa lalu, pada umumnya sebuah dusun terbentuk oleh seorang cikal bakal. Dari cikal bakal inilah, lahir dan berkembanglah anak, cucu, cicit dan seterusnya yang terdiri atas banyak sekali keluarga-keluarga yang tidak saja masih tetap tinggal di dusun yang sama, namun banyak juga yang telah berpindah kediaman ataupun merantau ke daerah lain. Dengan demikian, nyadran seolah menjadi momentum reuni keluarga besar satu trah nenek moyang.

Citradya9 NdalemKronggahan2

Kronggahan adalah sebuah dusun yang berada di kesejukan kaki gunung Merapi. Tidak tercatat dengan jelas memang sejarah siapa cikal bakal dusun tersebut, hanya saja beberapa dongengan para simbah menyebutkan nama Mbah Kyai Ronggah. Tidak terlalu penting memang membahas keakuratan asal-usul sejarah, namun tradisi nyadran masih berlangsung hingga saat ini.

Nyadran, bagi masyarakat Kronggahan di samping ditujukan untuk bersama-sama mengirimkan doa bakti kepada Allah SWT untuk para arwah leluhur, juga menjadi momentum untuk ngumpulke balung pisah, menyambung kembali jalinan tali silaturahmi diantara sesama anak-cucu Mbah Kyai Ronggah. Berbeda dengan acara sejenis yang diselenggarakan di lingkungan makam, nyadran di Kronggahan beberapa waktu lalu justru bertempat di rumah Pak Bayan atau Prabot (istilah untuk kepala dusun). Kini, seiring semakin bertambahnya jumlah peserta trah makam yang hadir, acara sadranan diselenggarakan di pelataran Masjid Al Iman.

Lebih khusus lagi, pelaksanaan nyadran selalu diselenggarakan pada tanggal 20 Sya’ban. Pemilihan tanggal tersebut bukan atas klenik ataupun wasiat siapapun, hanya saja hal tersebut lebih berdasarkan pertimbangan praktis yang mudah diingat oleh para sanak kadang terutama yang di perantauan. Sangat bisa dimaklumi, era kemajuan komunikasi dengan telepon seluler masih belum terlalu lama sehingga di masa lalu agak sulit dan merepotkan untuk menyebarkan undangan kepada sanak kerabat yang tinggal di daerah jauh. Dengan pertimbangan kangsenan, janjian, di tanggal 20 Sya’ban itulah semua kerabat bisa pulang dusun untuk bersama-sama nyadran, meskipun tidak dikabari atau diundang kembali.

MakamKronggahan1 MakamKronggahan2

Rangkaian persiapan nyadran dimulai dengan kerja bakti atau gugur gunung untuk membersihkan makam yang dilakukan beberapa hari menjelang nyadran. Pada hari pelaksanaan nyadran, seiring jago kluruk menjelang fajar, masyarakat bangun lebih awal untuk mempersiapkan suguhan maupun uba rampe untuk sadranan. Selain untuk menjamu para kerabat dari luar dusun, sadranan juga berupa sajian nasi komplit dengan sayur, lauk-pauk, bakmi, tontho, keper, peyek, hingga krupuk yang ditata di dalam keranjang atau besek untuk dibagikan kepada anak-anak yang datang, juga untuk disangu-kan kepada para sedulur dari daerah jauh. Bingkisan inilah yang juga disebut sebagai berkatan.

Begitu matahari menyingsing, warga berbondong-bondong ke tempat sadranan diselenggarakan dengan membawa urunan sajian sadranan-nya masing-masing. Tak lupa satu per satu mereka memberikan “uang wajib” sebagai dana infak yang dikumpulkan untuk keperluan pemeliharaan areal makam. Kemudian dengan kelompok-kelompok kecil, mereka datang ke makam yang terletak di mburi deso untuk besrik dan ziarah. Kebanyakan sanak-saudara yang berasal dari lain dusun, biasanya mereka langsung datang ke makam untuk bergabung dengan kelompok-kelompok yang lain.

NyadranKrg2

Setelah ziarah, semua kerabat trah makam kemudian berkumpul kembali di tempat sadranan. Masing-masing perwakilan dari keluarga ahli waris menyampaikan “wajib”nya berupa uang infaq atau shadaqah jariyah melalui panitia yang sudah siap di meja penerima tamu. Sambil saling bersalaman, bertegur sapa dengan sanak saudara yang datang dari dusun lain, dan saling melepas kangen, para hadirin duduk dengan hikmat menunggu acara dimulai.

KyaiAbuHasanSerangkaian acara telah siap untuk digelar, mulai dari doa pembukaan, pembacaan ayat-ayat Al Qur’an, serta sambutan selamat datang dari ketua paguyuban makam dan pejabat kelurahan. Acara dilanjutkan dengan pengajian mau’idzah khasanah dari Mbah Kyai yang sengaja diundang. Selesai pengajian, acara diselingi dengan rehat makan bersama. Sebagai inti acara dibacalah kalimat tahlilan yang dipimpin oleh Pak Kaum dengan ditutup dengan doa yang diaminkan hadirin. Seiring kepulangan dan bubar-nya acara, keranjang atau besekan makanan dibagi-bagikan kepada semua hadirin yang berkenan membawanya.

Di masa lalu, keranjang atau besekan tersebut justru menjadi perebutan bagi para bocah dan para kaum fakir miskin yang sedari awal menunggu di arena nyadran. Bahkan secara khsusus, panitia menyediakan semacam kalangan agar pembagian bingkisan nyadran itu bisa berlangsung tertib. Namanya banyak orang, sering terjadi kericuhan dan perebutan karena masing-masing ingin mendapatkan berkah yang berlebih. Adalah sebuah kebanggaan bagi seorang bocah yang mampu ngrentengi enam atau tujuh keranjang, sehingga harus memikulnya bersama kawan yang lain ketika membawanya pulang. Di jaman dulu, barangkali tingkat kemakmuran masyarakat, dalam artian kecukupan pangan masih belum merata, sehingga masyarakat masih terlihat kemaruk dengan rebutan makanan.

NyadranKrg5 NyadranKrg4

Lain dulu, memang lain sekarang! Di arena sadranan sudah sangat sedikit dijumpai para bocah yang berharap akan keranjang atau besekan makanan. Kini sudah tidak ada lagi rebutan di kalangan yang dipagari rigen. Bahkan para tamu dari dusun yang lainpun sudah enggan untuk membawa keranjang makanan yang diberikan kepadanya. Mungkin mereka sudah tidak lagi nggumun dengan makanan, dan justru merasa ribet jika perjalanan jauh mereka direpoti dengan sekeranjang nasi komplit lauk-pauk tersebut. Jaman memang telah bergeser, namun makna hakikat tradisi nyadran untuk mendoakan arwah para leluhur semoga akan tetap lestari sebagai sebuah nilai kearifan lokal yang bersanding secara harmonis dengan laju kemajuan jaman.

NyadranKrg3

Ngisor Blimbing, 1 Juli 2013

Pengajian Sunyi di Pesantren Mangli

Pengajian memiliki akar kata “ngaji” ataupun “aji”. Aji bermakna sesuatu yang memiliki nilai tidak terkira. Sesuatu yang aji bahkan sangat tinggi, mulia, dan tak bisa dihargai nilainya dengan materi berapapun jumlahnya. Oleh karena itu kata aji juga sering di-dasanama-kan dengan nata, narindra, narpati, prabu, ratu, yang berarti raja. Sampeyan mungkin pernah mendengar kisah Aji Saka, sang raja cikal bakal pulau Jawa? Atau mungkin Sang Aji Konda dari keraton Karangsedana dalam kisah Babad Tanah Leluhur?

Mangli2Dalam pergaulan yang lebih umum, kata aji juga bergeser dan mengalami sedikit pendangkalan makna sehingga memiliki arti nilai. Misalkan kita pernah mendengar ungkapan “dhuwit sewu saiki wis ora ana ajine”. Uang seribu saat ini sudah tidak berharga lagi. Hal ini merujuk kepada penurunan nilai mata uang akibat adanya laju inflasi yang semakin tinggi.

Adapun kata “ngaji” merupakan bentuk kata kerja yang menyatakan proses untuk menjadi aji, alias menjadi sesuatu yang mulia. Dalam makna yang lebih khsusus lagi, ngaji dimaknai prosesi pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an. Jika kata dasar ngaji mendapatkan imbuhan pe-an, maka terbentuklah kata benda abstrak “pengajian” yang memiliki arti kurang lebih sama dengan kata ngaji. Secara lebih mudah pengajian dapat diartikan sebuah forum pertemuan untuk menjadi mulia, apakah dengan melakukan ritual tertentu ataupun saling berbagi dan bertujar ilmu, thalabul ‘ilmi.

Mangli4 Mangli5

Pengajian sangat erat dengan tradisi ummat muslim untuk mencari ilmu. Sebagaimana kita ketahui bersama, thalabul ‘ilmi faridzatun ‘alal muslimin wal muslimat. Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan ada hadist yang menegaskan bahwa thalabul ‘ilmi faridzatun ilal lahdi minal mahdi, mencari ilmu hukumnya wajib semenjak di lahir hingga maut menjemput.

Pengajian saat kini banyak digelar di berbagai mushola, masjid, hingga pondok pesantren. Bahkan tak jarang di kantor-kantor maupun di kelompok masyarakat, seperti RT atau RW, juga terbentuk majelis taklim yang juga sering mengadakan pengajian. Pengajian ada yang bersifat tentative, digelar pada saat peringatan hari besar tertentu, semisal Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, Syawalan, bahkan Tahun Baru Islam. Ada juga pengajian yang digelar secara rutin, semisal pengajian mingguan ataupun selapanan. Pengajian selapanan merupakan pengajian yang diadakan setiap 35 hari sekali. Pengajian Jum’at Kliwonan, Ahad Pahingan, Sabtu Ponan, merupakan beberapa contoh pengajian selapanan.

Mbah MangliAdalah Pondok Pesantren Mbah Mangli di lereng gunung Andong selalu menyelenggarakan pengajian rutin setiap Ahad Pagi. Pengajian yang diasuh oleh Gus Munir, menantu dari Almarhum Mbah Kiai Mangli tersebut, biasa dimulai sekitar pukul 10.00 pagi hingga waktu Dzuhur tiba. Mbah Kiai Mangli merupakan kiai khos yang sangat disegani oleh kalangan ulama salafiyyah di seluruh penjuru Nusantara. Kesholehan Kiai Mangli menjadikan pondok pesantrennya banyak dikunjungi jamaah pengajian yang membludak hingga pelataran masjid yang luas.

Hal yang paling unik dari pengajian di Pesantren Mangli adalah ketiadaan penggunaan peralatan elektronik modern, seperti pengeras suara. Namun bila Mbah Kiai Mangli sudah medhar sabdo, semua jamaah khusuk mendengarkan dengan gamblang dan jelas, wela-wela cetho ing karno. Maksudnya, meskipun dalam kumpulan jamaah yang banyak itu tidak dipergunakan pengeras suara, namun semua jamaah, bahkan yang jauh sekalipun dapat mendengarkan uraian mu’idzah khasanah dari Mbah Mangli selayaknya apabila seorang kiai berpidato dengan pengeras suara. Inilah yang dikenang orang sebagai salah satu karomah yang di miliki sang kiai.

Setelah Mbah Kiai Mangli tilar donya beberapa tahun silam, pengajian rutin di Pesantren Mangli masih tetap berlangsung hingga kini. Setiap Ahad Pagi banyak jamaah setempat maupun yang datang dari jauh berkumpul di mesjid Pesantren Mangli. Tidak sedikit rombongan peziarah dari daerah lain, seperti Temanggung, Wonosobo, Salatiga, Semarang, Jojga, bahkan luara Jawa mengkhususkan datang di hari Ahad pagi. Mereka kebanyakan datang dengan menggunakan minibus yang diparkir memenuhi jalanan dari gapura masuk desa hingga pelataran mesjid. Suasana di Ahad Pagi itu senantiasa menjadikan desa Mangli lebih semarak dan ramai.

Mangli3Hal pertama kali yang sering dilakukan oleh rombongan jamaah yang datang adalah nyekar atau ziarah ke makam Mbah Kiai Mangli. Area pemakaman keluarga besar Mangli terletak sebelah kiri kompleks pesantren tepat di sisi timur jalan. Untuk menuju ke sana, pengunjung harus memasuki gapura rumah Mbah Mangli yang merupakan bagian terdepan bangunan pondok. Menyusuri koridor pendek, pengunjung selanjutnya berbelok kiri melintasi jembatan beratap di atas jalanan desa. Tepat di sisi jalan inilah Mbah Kiai Mangli disare-kan.

Dalam sebuah pondok tertutup, makam Mbah Mangli berada di dalam ruangan yang membatasi dengan peziarah. Ruangan di samping makam yang cukup luas dipergunakan oleh para peziarah untuk berdzikir, tahlil, nderes Qur’an dan berdoa. Meskipun peziarah seringkali berjubel, namun mereka satu sama lain saling tertib sehingga ketenangan dan suasana khusuk tetap terjaga.

Setelah cukup memanjatkan doa di depan makam Mbah Kiai Mangli, para peziarah selanjutnya menuju mesjid pondok untuk mengikuti pengajian jamaah. Sebagaimana tradisi Mbah Mangli yang berpidato tanpa mempergunakan pengeras suara, putra menantu Mbah Kiaipun kini juga tetap mempertahankan kebiasaan tersebut. Namun beberapa kali saya sempat mengikuti pengajian tersebut, saya selalu tidak kebagian tempat di dalam masjid. Walhasil, saya tidak dapat mendengar apapun yang diwedhar oleh pembicara. Kami di teras masjid dan di sisi luar yang lain hanya mendengarkan kesunyian tanpa suara. Mungkin inilah pengajian untuk mengasah kepekaan dan ketajaman hati kami untuk mengenali, dan dapat mendengarkan suara kesunyian. Dengan secara ikhlas belajar mendengarkan swaraning asepi tersebut, mungkin kami sedang diajarkan untuk mengasah hati nurani yang terdalam. Dan dalam kesunyian itulah kami bisa merasakan ketentraman dan kedamaian hati yang sejati.

Mangli1Kesunyian itupun akan pecah tatkala di dalam mesjid mulai dilantunkan sholawatan atas Kanjeng Nabi Muhammad. Semua jamaah kemudian berdiri dan secara bersama-sama turut bersholawat. Seorang santri penghulu berjalan keluar dari ruang dalam tepat di tengah jalur yang dipagari jamaah sambil membawa anglo kecil yang mengalirkan bau harum aroma yang sempat membuat batin kecil kami merinding. Inilah prosesi pertanda pengajian telah usai.

Sebagai penutup rangkaian pengajian sunyi, selanjutnya dikumandangkanlah adzan Dzuhur. Jamaahpun mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat berjamaah. Selesai sholat Dzuhur, pengajianpun bubar. Begitu keluar dari mesjid, pada saat itulah pasar murah mulai digelar. Suasana yang semula sunyi senyap berudah menjadi “gumrengenging” orang yang saling tawar menawar dan bertransaksi. Komoditas barang yang dijajakan penduduk setempat kebanyakan berupa sayur mayur maupun hasil bumi yang mereka petik dari sawah ladang di sekitar desa Mangli. Jika ingin belanja kol, sawi, wortel, cabe, tomat, kentang, juga tahu – tempe, termasuk beberapa jajanan kuliner tradisional, sampeyan tidak salah jika ikut ambyur di pasar dadakan ini. Inilah gambaran pembauran ummat yang penuh dengan rasa persaudaraan yang tulus nan suci.

Ngisor Blimbing, 12 Maret 2013

Anak Polah Bapa Kepradah

Meskipun malam sebelumnya hujan turun dengan sangat derasnya, namun pagi itu mentari bersinar sangat cerah. Ahad pagi di Koripan, Tegalrejo, Magelang, tepatnya di Pondok Pesantren An Najah, seperti biasanya digelar pengajian rutin oleh KH Abdul Mukti. Berbondong-bondong kaum muslimin dan muslimat ingin ngangsu kawruh sebagai bekal ibadah. Tidak hanya ratusan, tetapi ribuan jamaah selalu hadir. Pengajian yang telah berlangsung puluhan tahun ini memang selalu dibanjiri jamaah dari Magelang dan sekitarnya.Koripan1

Pagi itupun si Ponang sudah semangat pagi untuk ngaji ke Pak Mukti. Seperti pengajian-pengajian sebelumnya, si thole lebih senang ngaji sambil menikmati pemandangan sawah dan kolam ikan di belakang bangunan pondok. Meskipun di area persawahan, tempat tersebut tidak kalah penuhnya dengan bagian dalam pondok maupun halaman depan. Di pematang sawah, di emperan rumah, di sekitar kamar mandipun sudah dijejali jamaah yang khusuk menyimak pengajian dari sang kiai. Penyampaian materi kajian yang bersinggungan langsung dengan keseharian kehidupan secara lugas dan disertai contoh-contoh yang nyata membuat banyak orang kerasan untuk setia menjadi jamaah di pengajian ini.

Pagi itu Kiai Mukti menguraikan materi mengenai tingkah laku anak manusia. Di tengah pusaran jaman edan saat ini, banyak para orang tua mengeluhkan kelakuan anak-anaknya yang tidak memiliki rasa hormat kepada kedua orang tuanya. Anak remaja di masa sekarang banyak yang tidak mau lagi ngambah mesjid, lupa terhadap kewajiban agama, dan seringkali menuntut hak secara berlebihan. Bukannya anak sholeh sebagaimana harapan setiap orang tua, yang kebanyakan ada justru anak tholeh, alias bandel dan berani “melawan” orang tua. Bahkan tidak sedikit orang tua yang ngelus dhadha, karena anaknya sudah terjerumus dalam lembah kedurhakaan.

Koripan2Banyak contoh kenakalan para remaja di sekitar kita. Kebut-kebutan motor, trek-trekan, tawuran antar pelajar, bolos sekolah, bahkan mabuk-mabukan dan mencuri barang milik orang lain. Tidak sedikit pula anak yang mengancam orang tua jika tidak dibelikan hp, komputer, ataupun sepeda motor. Pernah seorang anak di tetangga desa tega mengancam mbok-nya dengan senjata tajam hanya karena ingin memiliki sepeda motor seperti teman-temannya di sekolah. Akhirnya sepetak sawah kecil yang menjadi penghidupan keluarga selama ini, dengan sangat terpaksa harus dijual demi menuruti kemauan anak yang telah gelap mata.

Dalam tata pergaulanpun, sudah banyak anak muda yang tidak lagi mematuhi tata krama dan unggah-ungguh dalam pergaulan kemasyarakatan, seperti pergaulan bebas antara muda-mudi. Banyak kejadian yang sampai kebablasan hingga terjadi kehamilan di luar nikah, yang terkadang berlanjut ke tindakan pengguguran janin yang tidak berdosa. Tidak di kota, tidak pula di desa, laju modernisasi yang tidak terbendung memang memiliki sisi negatif terhadap dekadensi moralitas di tengah masyarakat kita.

Kemudian jika adik kita, remaja-remaja dan anak-anak muda kita di masa kini mengalami kebejatan dan kenakalan seperti itu, apakah hal itu dikarenakan kesalahan orang tuanya yang lalai mendidik anak-anaknya?

Jika mendapati kenakalan remaja di sekitar kita, tak jarang sebagian diantara kita langsung bertanya, “Anake sopo bocah kae?” Bila jawabannya adalah anaknya si Anu dari desa B misalnya, mungkin si penanya memberikan komentar, ”wow pantesan bapak ro anak padha edane”. Pertanyaan tersebut sebenarnya memang memiliki tendensi untuk memojokkan orang tua si anak nakal dan cenderung secara hitam putih langsung menyalahkan orang tuanya. Apakah hal semacam ini sudah benar, selalu benar, ataukah ada kemungkinan lainnya? Anak polah, memang sudah lumrah jika keduanya orang tuanya yang kena pradahnya. Seorang anak berbuat kenakalan, tentu saja orang tua turut menanggung rasa malu.

ParaBocahKiai Mukti secara arif mencoba memberikan penjelasan. Memang ada istilah “woh pelem tibane ora adoh saka wite”, buah itu jatuhnya tidak jauh dari pohonnya. Pepatah tersebut memang mengindikasikan bahwa kebiasaan atau didikan orang di dalam rumah masing-masing, sangat berpengaruh terhadap perilaku seorang anak. Jika di dalam rumah, seorang anak mendapatkan didikan keluarga yang baik, contoh tindakan kebaikan, dan suasana rumah tangga yang tentrem, damai, harmonis dan bahagia, kemungkinan si anak akan berkembang menjadi orang yang baik. Sebaliknya jika rumah tangga tidak harmonis, si ayah dan ibu sering bertengkar, tidak ada nilai agama ditanamkan, sudah pasti seorang anak cenderung akan menjadi anak nakal, dan kelak setelah dewasa tidak mustahil akan berbuat hal yang merugikan banyak orang. Namun apakah akan selalu begitu?

Banyak kisah nabi dapat dijadikan conoth pembelajaran. Mulai Nabi Adam, bahkan seorang nabi memiliki Habil dan Qobil yang saling bertolak belakang akhlak dan kelakuannya. Habil berhati lurus, jujur, taat, dan sangat berbakti kepada orang tuanya. Tetapi si Qobil justru menjadi soerang yang culas, licik, dan penuh rasa dengki kepada Habil. Bahkan akhirnya di Qobil tega membunuh saudara sekandungnya demi memperebutkan perjodohan diantara anak-anak Adam dan Hawa. Pembunuhan anak manusia untuk pertama kali justru dilakukan oleh seorang putra nabi atas putra nabi yang lainnya.Apakah Adam dan Hawa telah gagal mendidik putra-putrinya?

Demikiannya halnya kisah Nabi Nuh. Delapan ratus tahun lebih berdakwah hanya mendapatkan 80-an pengikut yang mau mengakui ke-Esa-an Allah SWT. Tidak hanya orang yang mendustakan dakwahnya, justru Kan’an anak kandungnyapun menjadi perintang risalah yang diembannya. Akhirnya tatkala Allah memerintahkannya untuk membuat kapal, Kan’an justru turut mencomooh bahwa bapaknya telah menjadi gila. Akhirnya tatkala air bah benar-benar datang sebagai azab Allah, Kan’an menjadi golongan manusia yang tidak selamat. Bahkan anak-anak seorang nabipun tidak menjadi jaminan menjadi orang-orang yang taat dan taqwa!

Sebaliknya, seorang Nabi Ibrahim dilahirkan di tengah kekufuran keluarganya. Azar, sang ayah, justru adalah seorang pemahat patung berhala yang menjai sesembahan masyarakat mereka saat itu. Namun dari seorang pembuat patung berhala, justru terlahir seorang nabi yang mengemban risalah ketauhidan. Bahkan Nabi Ibrahim mendapatkan kemuliaan menjadi ulul ‘azmi yang merupakan bapak para nabi karena memang kemudian dari keturunannyalah terlahir garis silsilah para nabi hingga Nabi terakhir Muhammad SAW.

Koripan3

Jadi memang “pelem tibane ora adoh seko wite”, tetapi kan ada juga pelem yang jatuh jauh dari pohonnya? Bisa saja dan sangat mungkin sebuah apel jatuh jauh dari pohonnya karena dibawa kelelawar kan? Hal ini menggambarkan bahwa dari keluarga nabi, kiai, ustadz, presiden, bupati, hingga pak lurah belum tentu semua anak-anaknya menjadi bener dan sholeh. Anak nabi, anak kiai, anak ustadz, pejabat, bisa jadi menjadi mrusal dan brandal. Sebaliknya seorang anak maling, koruptor, jambret, kecu, copet, bahkan pelacur sudah pasti menjadi orang jahat!

Di samping faktor internal sebuah keluarga yang sangat mempengaruhi akhlak seorang anak manusia, saat ini faktor lingkungan pergaulan juga tidak kalah dominannya mempengaruhi kepribadian dan kejiwaan seseorang. Anak yang tumbuh besar di lingkungan yang baik, insya Allah kelak akan menjadi pribadi yang baik. Ibarat berteman dengan pedagang minyak wangi, paling tidak ia akan turut mendapatkan bau harumnya minyak wangi. Maka ojo cedhak kebo gupak, berhati-hatilah dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan. Hal ini pulalah yang harus menjadi pegangan agar masyarakatpun tidak tergesa-gesa dan terlalu mudah menuduh orang tua sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas kenalakan anak-anaknya. Justru kita semua harus bersama-sama dan bekerja sama untuk mewujudkan lingkungan yang baik bagi persemaian benih-benih generasi penerus bangsa. Kita semua memiliki tanggung jawab itu!

Ngisor Blimbing, 23 Februari 2013