Monumen Bambu Runcing Muntilan

Bambu Runcing1Bangunan di tapal batas kota Muntilan itu memang unik, bahkan sangat khas. Bukan rumah ataupun menara, tetapi bangunan yang saya maksudkan berupa sebuah bangunan monumen. Anda semua tentu pernah melintas dan melihat Monumen Bambu Runcing bukan? Monumen ini merupakan monumen peringatan perjuangan yang sangat gigih dari para pejuang di sekitar Kota Muntilan dalam perlawanan terhadap bangsa kolonial Belanda maupun Jepang.

Muntilan memang kota perjuangan. Pada masa pecahnya Perang Diponegoro. Muntilan menjadi salah satu daerah penyangga pada saat gerak pasukan Diponegoro semakin terdesak ke arah perbukitan Menoreh di sisi barat Kali Progo. Di masa revolusi kemerdekaan, Muntilan-Magelang merupakan jalur penghubung yang sangat penting antara Kota Jogja dan Semarang. Di samping itu Magelang menjadi titik penting sebagai pusat pendidikan kemiliteran Belanda kala itu. Maka untuk mengenang jiwa patriotisme perjuangan yang heroik oleh masyarakat Muntilan dan sekitarnya serta untuk menanamkan spirit kejuangan kepada generasi muda, dibangunlah Monumen Bambu Runcing yang berlokasi di ujung Jalan Pemuda sisi utara Kota Muntilan.

Bambu Runcing3 Bambu Runcing2

Dalam khasanah pelajaran sejarah nasional di bangku-bangku sekolah, tidak jarang para guru sejarah membeber kisah perjuangan para pendahulu melawan penjajahan bangsa asing. Perjuangan tradisional dilakukan dengan mengangkat senjata alias melakukan perlawanan fisik. Berbagai perlawanan dalam bentuk peperangan terjadi di berbagai penjuru tanah air. Banyak fakta sejarah yang menyatakan bahwa persenjataan antara bangsa pribumi dan penjajah sangat tidak berimbang. Bangsa penjajah telah diperlengkapi dengan persenjataan yang serba canggih dan lebih modern. Ada senapan api, pistol, juga meriam. Sedangkan pejuang-pejuang kita masih mengandalkan senjata tradisional, seperti pedang, keris, panah, bahkan bambu runcing.

Bambu runcing tentu saja senjata yang sangat sederhana. Dibandingkan dengan tombak atau keris, bambu runcing benar-benar sekedar mempergunakan kemurahan alam dalam wujud beberapa ruas bambu yang salah satu ujungkan diruncingkan sehingga memiliki ketajaman untuk dihunjamkan ke tubuh lawan. Tidak ada unsur logam sebagaimana batang pedang, keris ataupun mata tombak. Nenek moyang kita bahkan mengistilahkan bambu runcing sebagai sekedar tumbak cucukan, tombak bambu yang diruncingkan tanpa memiliki mata tombak yang biasanya terbuat dari logam.

Bambu Runcing6 Bambu Runcing7

Berbeda dengan senjata api yang memiliki jangkauan bidik jarak jauh, bambu runcing hanya dapat menjangkau musuh yang berada pada jarak beberapa ruas batang bambu. Mungkin hanya sekitar 2-3 meter. Dengan demikian bambu runcing merupakan senjata yang hanya bisa diandalkan untuk pertempuran jarak dekat ataupun perang tanding. Hal ini tentu sangat berbeda dengan perlengkapan senjata api bangsa penjajah yang sudah memiliki jangkauan puluhan bahkan ratusan meter. Dalam kriteria inilah bambu runcing jelas kalah juah kecanggihannya dibandingkan senjata api, bahkan dengan senjata panah sekalipun.

Namun begitu, bambu runcing konon merupakan senjata yang sangat atau bahkan ditakuti oleh bangsa penjajah. Menurut pak guru yang dulu mengajar sejarah di bangku sekolah dasar, konon para serdadu penjajah paling ngeri, takut, bahkan miris jika sampai perut mereka ditusuk, diudhel-udhel perutnya dengan ujung bambu runcing. Setajam-tajamnya ujung welat bambu runcing tentu tidak setajam mata pedang dan ujung tombak logam. Justru hal inilah yang mengerikan. Betapa luka yang disebabkan tusukan atau robekan bambu runcing akan sangat terasa perih nan pedih. Jangankan langsung menimbulkan luka dalam yang dapat langsung mengantarkan dewa maut, luka akibat bambu runcing malah akan sangat menyiksa sehingga siksaan rasa sakitnya harus dirasakan dalam kurun waktu yang lebih panjang. Apalagi jika dibandingkan dengan bidikan senjata api yang bisa langsung membuat thek-sek orang yang terlukai, bayangkan jika sampai perut tertusuk kemudian usus-usus dan segala isinya terburai keluar. Hmm…. sungguh sangat menakutkan bukan?

Bambu Runcing5 Bambu Runcing4

Di samping kengerian akibat ketajaman welat bambu runcing, konon banyak juga bambu runcing yang dipergunakan para pejuang di jaman perlawanan terhadap penjajah pada masa lalu tersebut telah diwisiki doa dan mantra dari para Mbah Kiai yang meniupkan pengaji-aji supermistik. Kita mungkin pernah mendengar kisah mengenai berkah Mbah Kiai Parakan dari Temanggung yang sekedar meniup atau meludahi ujung bambu runcing, maka barangsiapa hanya sekedar melangkahi ruas bambu runcing, maka seketika orang tersebut akan menemui ajal, mampus alias sirna marga layu. Bambu runcing dari Parakan sangat terkenal pada masa perlawanan terhadap tentara Dai Nipon.

Bangunan utama Monumen Bambu Runcing berupa perwujudan bambu runcing raksasa yang berdiri tegak menjulang tinggi dan terbuat dari cor-coran beton bertulang. Tinggi monumen tidak kurang dari 15 meter, sehingga keberadaan monumen tersebut sudah bisa dilihat dari kejauhan. Batang beton bambu runcing tersebut ditopang dengan landasan bangunan gedung berbentuk segi delapan sama sisi. Pada sisi luar dinding gedung ini terpahat berbagai relief yang mengisahkan perjuangan berbagai laskar perjuangan pada masa perjuangan fisik merebut dan mempertahankan kemerdekaan republik ini.

Bambu Runcing8 Bambu Runcing9

Area Monumen Bambu Runcing kini telah dikembangkan menjadi area taman kota yang sejuk dan rindang. Berbagai pepohonan yang tumbuh subur menghijau menjadikan suasana di taman ini semakin indah dan asri. Di samping itu, beberapa wahana permainan anak-anak menjadi pelengkap keberadaan taman monumen yang kini sering menjadi tempat bermain dan tongkrongan para remaja. Ada ayun-ayunan, jungkat-jungkit, plosodan, miniatur sepeda kuno, juga patung-patung beberapa jenis binatang. Pada hari Minggu maupun hari-hari liburan sekolah, Taman Monumen Bambu Runcing senantiasa dipadati para orang tua yang ngangon dan ngemong bocah-bocahnya.

Di samping menanamkan nilai sejarah dengan mengunjungi dan mengamati monumen, anak-anak juga terhibur dengan aneka pilihan wahana permainan yang mengasyikkan. Bahkan di sisi tepian Jalan Pemuda, di samping difungsikan sebagai area parkir juga dilengkapi dengan deretan warung tenda yang menjajakan berbagai sajian yang menggugah selera khas Kota Muntilan. Ada bakso, mie ayam, soto ayam, kupat tahu, gorengan, juga aneka minuman jus, teh kotak, dan lain sebagainya. Belum pernah mampir dan menikmati suasana Monumen Bambu Runcing Muntilan? Sekali-kali cobalah untuk merasakan sensasinya.

Ngisor Blimbing, 11 Juni 2014

Susur Bekas Rel Kereta Api di Kota Magelang

Jejak Rel1Pagi itu cuaca Magelang memang sedikit berkabut. Dinginnya hawa pagi hari justru justru kami rasakan sebagai sebuah kesegaran yang semakin memacu langkah kami untuk menjalani tradisi mlaku-mlaku. Maka di pagi krumun itu sambil menggendong si Genduk, saya dipandu si Ponang menapaki gang-gang penghubung antar kampung. Kali ini memang untuk pertama kalinya si Genduk menikmati kesegaran pagi hawa udara yang terhembus langsung dari pepohonan gunung Tidar, sang pusere Tanah Jawa yang kondhang kaloka alias kesohor itu.

Dengan semangat empat lima, si Ponang sengaja memprovokasi diri untuk menunjukkan kepada adik kecilnya jejak sisa sejarah di Kota Magelang, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Menurut dia, Magelang merupakan kota yang penuh sejarah. Ada bekas stasiun dan jalur rel kereta api. Banyak candi-candi cantik. Juga kisah-kisah kepahlawanan, seperti Pangeran Diponegoro yang setia setiap saat menunggang kuda di sudut Alun-alun Kota Magelang.

Jejak Rel2 Jejal Rel2

Setelah menyusuri selokan mataramannya Magelang di sudut Kampung Peniten hingga Potrosaran, menembus taman bunga di tepian A Yani, maka kamipun menapaki gang-gang di kampung belakang Pasar Kebon Polo. Kita semua tentu sudah mafhum bahwa Terminal Kebon Polo pada saat dulunya merupakan bekas stasiun kereta api Kebon Polo. Segaris dengan gapura Kampung Kebon Polo, lurus memasuki gang yang mengarah sedikit ke arah utara agak condong ke timur merupakan jalur rel kereta api yang masih menampakkan sisa-sia kejayaannya. Pada jalur kenangan inilah pagi itu kami mlaku-mlaku antar kampung.

Meskipun bekas rel kereta api yang dulu menjadi penghubung antara Magelang – Ambarawa dan antara Jogja – Semarang tersebut kini sudah ditimbun di bawah lapisan aspal dan menjadi jalanan gang kampung, namun kami seolah-olah sedang berjalan di sepasang besi sejajar yang berbantal balok kayu jati. Di beberapa ruas jalan nampak batangan besi rel kereta api yang sesekali nongol seolah mengingatkan rekaman sejarah yang pernah dijalaninya. Berjalan pelan namun pasti, di telinga kami seolah terngiang bunyi peluit panjang yang ditiup kepala stasiun Kebon Polo yang diiringi dengan bunyi jas-jes-jos …… dek-dek-dek-dek. Kami benar-benar seolah tenggelam dalam masa kejayaan kereta api yang mengantarkan para pedagang antar kota di poros Jawa Tengah.

Jejak Rel3 Jejak Rel4

Satu ciri khas sebuah bekas jalur rel kereta api yang menjadi pedoman si Ponang dalam penyusuran jejak sejarah rel kereta api adalah keberadaan tiang telepon kuno yang digantungi kawat-kawat yang melilit pada keramik isolator bergaya tempo dulu. Bahkan di beberapa titik sering juga kita jumpai patok besi berbentuk besi rel keteya yang berdiri tegak. Ada pula semacam tonggak besi yang mungkin dulunya lazim difungsikan sebagai rambu-rambu pengatur sinyal lalu-lintas kereta api yang melintas.

Jejak Rel5Kurang lebih berjalan 500-an meter, sampailah kami di persilangan jembatan Kali Manggis. Nampak di sudut tepian jalan terdapat plang putih yang menyatakan bahwa jalur jalanan tersebut masih diakui sebagi aset miliki PT Kereta Api Indonesia. Sebagai bukti abadi bahwa jembatan sempit beraspal tersebut dulunya merupakan jembatan kereta api dapat dilihat dengan mencermati garda atau palang besi di bawah jembatan yang merupakan konstruksi besi baja khas sebuah jembatan kereta api.

Terus berjalan lurus menapi bekas rel di sisi timur Jalan Serayu Timur, di kanan kiri jalanan memang masih dipenuhi deretan rumah-rumah warga yang berdempetan sangat padat. Namun semakin menuju arah utara, tepatnya pada sisi kanan-kiri jalur jalanan yang diapit tebing-tebing terjal, deretan rumah-rumah warga tersebut semakin jarang. Bahkan kemudian posisi rumah warga telah berganti menjadi di bawah sisi tebing sehingga semakin nampak bekas jalur kereta berada di atas tebing. Hal ini semakin menambah keanggunan dan eksotika bagi siapapun yang tengah berusaha dan tenggelam dalam nuansa rel kereta api masa silam.

Sedikit rasa penat yang menggayut di kedua telapak kaki seolah mendapat kesempatan untuk rehat sejenak pada saat kami sampai pada sebuah cakruk alias gardu perondan. Sebuah bangunan panggung yang makruk-makruk di tepian tebing sisi timur, berpagar setengah terbuka, beratap genteng kampung, dengan sebuah kenthongan yang menggantung di salah satu blandarnya benar-benar membawa kami tenggelam dalam nuansa pedesaan yang khusuk, tenang, tentram dan maha damai. Kamipun duduk sejenak sambil jagongan dengan tak henti-henti memasang mata batin dan mata hati untuk berusaha menangkap bayang-bayang kereta uap yang tengah melintas tepat pada jalur rel kereta api yang ada di depan mata kami.

Jejak Rel6 Jejak Rel7

Kereta api di Magelang memang tinggal sebuah dongengan para simbah yang mungkin tinggal satu-dua diceritakan kepada para anak cucu. Sebagaimana ramalan Maharaja Jayabaya yang menyatakan bahwa pada sebuah jaman dimana Pulau Jawa bersabukkan batang besi kono pada masa itulah kemakmuran akan menaungi kehidupan masyarakat secara merata. Benarkah sabuk besi itu adalah rel kereta api? Jikapun benar demikian, apakah masyarakat kini sudah benar-benar merasakan kemakmuran bersama? Ah, kenapa pikiran saya tiba-tiba melayang terlalu mengawang-awang?

Pernahkan Anda yang warga Magelang menyusur kembali jejak sejarah masa silam untuk menemukan dari mana kita berasal, pada posisi mana kita berada saat ini, kemanakah tujuan langkah kaki serta masa depan kita? Jika belum, mungkin sekali-kali sampeyan perlu melakukannya. Semoga Anda menemukan hikmah di balik perjalanan penjelajahan Anda. Jangan ragu untuk mencobanya. Monggo sedoyo!

Ngisor Blimbing, 5 Juni 2014

Sokle Pasar Malam Sindas

Orang-orang kampung umum menyebutnya sokle. Sebagian yang lain lumrah pula mengistilahkannya sebagai sorot. Secara harfiah, sorot bisa dimaknai sebagai berkas sinar atau cahaya. Secara kasat mata, sorot memang memiliki wujud fisik berupa berkas sinar cahaya. Lebih khusus, biasa sorot dimaksudkan sebagai berkas sinar cahaya yang sangat kuat sehingga memiliki jarak jangkauan yang sangat jauh. Gampangnya ya seperti senter rakyasasa ngoten lho mas dab!

Sokle1Lha terus gek apa hubungan antara sokle alias sorot tadi dengan pasar malam? Lha yo jelas ada to mas dab! Sokle pada umumnya dipergunakan sebagai lampu penerang sebagaimana banyak dipakai di menara-menara rumah penjara. Sokle juga banyak dipergunakan untuk petunjuk navigasi pelayaran seperti banyak dipasang di menara mercusuar di tepian laut. Nah pada pasar malam yang biasa digelar di lapangan terbuka ataupun alun-alun, sokle juga dipergunakan sebagai penarik warga masyarakat untuk mendatangi keramaian sebuah pasar malam.

Beberapa hari lampau, tepatnya di Lapangan Dusun Sindas, wilayah Desa Pancuranmas Kecamatan Secang mulai digelar sebuah keramaian pasar malam. Satu hal yang pasti, sokle dengan kekuatan jangkauan berkas cahaya lebih dari 10 km menjadi penanda digelarnya sebuah pasar malam. Setiap senja selepas waktu Maghrib, di seputaran wilayah Kota Magelang Utara pada hari-hari digelarnya Pasar Malam Sindas masyarakat dapat melihat kilasan berkas cahaya dari lampu sokle yang dipancarkan dari lapangan tempat digelarnya pasar malam. Konon pasar malam tersebut akan digelar selama kurang lebih tiga minggu bersamaan dengan liburan anak-anak sekolah.

Sokle2 Sokle3

Pasar malam, khususnya di mata anak-anak tentu memiliki arti tersendiri. Pasar malam merupakan pusat keramaian di tengah perkampungan atau persawahan yang pada malam-malam biasa mungkin hanya dipenuhi dengan suara jangkerik ataupun kodhok ngorek. Namun pada malam-malam digelarnya sebuah pasar malam, suasana sunyi senyap di lingkungan pedesaan seolah lenyap dengan digantikan deru suara genset dan hingar-bingar musik dangdutan ataupun berbagai mesin penggerak aneka rupa macam permainan anak-anak.

Pasar malam juga menjadi sebuah simbol kebersamaan dalam kegembiraan. Masyarakat dari berbagai penjuru kampung dan dusun biasanya akan berbondong-bondong mendatangi sebuah pasar malam. Anak-anak, balita, remaja, pemuda, dewasa, hingga para manula seolah tumplek blek meskipun hanya sekedar menengok keramaian macam apa yang ada di pasar malam. Anak-anak tentu saja yang paling menikmati suasana pasar malam. Ada berbagai wahana permainan yang sengaja digelar, seperti komedi putar, bianglala, ombak banyu, kereta mini, bahkan rumah hantu dan kora-kora.

Sokle4 Sokle5

Di samping menemukan banyak wahana permainan, anak-anak juga dimanjakan dengan beragam jenis mainan atau dolanan yang banyak dijajakan para penjual dolanan. Ada perahu othok-othok, thowet-thowet, gangsingan, juga beragam peralatan permainan yang lebih modern. Ada pula beberapa jenis satwa kecil yang juga dijual, seperti ikan hias, pong-pongan dan hamster. Aneka jajanan makanan khas pasar malam tentu saja tidak pernah lupa turut memeriahkan suasana pasar malam. Ada arum manis, gulali, gondhang-gandhung, martabak, juga jagung atau roti bakar.

Di samping makanan dan permaian untuk anak-anak, di pasar malam juga banyak dijajakan berbagai barang untuk orang dewasa. Ada stan penjualan pakaian, kaos, sepatu-sandal, kain batik, hingga parfum. Ada juga peratalan dapur dan rumah tangga, semisal barang pecah belah, panci, centhong, sapu, kain pel dan masih banyak barang lainnya.

Sokle6 Sokle7

Pasar malam memang menawarkan suasana yang senantiasa akan terkenang di benak seorang bocah. Meskipun berbagai sarana permainan modern ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan dan mall-mall, akan tetapi keunikan dan kekhasan sebuah pasar malam tetap tidak akan pernah dapat tergantikan. Pasar malam memberikan sebuah ruang publik bagi berkumpulnya masyarakat untuk merayakan kebersamaan dan kegembiraan. Kemeriahan dan kemurahan adalah tawaran yang sangat bisa dijangkau oleh kaum pinggiran yang semakin terpinggirkan oleh kebijakan penguasa yang semakin tidak bijaksana. Murah meriah adalah jargon pasar malam yang belum tergoyahkan oleh wahana permainan modern yang masih tergolong mahal bagi kalangan masyakat kecil yang hidupnya senantiasa pas-pasan.

Jika di sekitar tempat tinggal sampeyan kebetulan digelar sebuah keramaian pasar malam, jangan segan dan ragu untuk menyambanginya. Lihat, dengar, dan rasakan nuansa keguyuban lintas masyarakat yang tengah larut dalam kegembiraan bersama. Ah, pasar malam memang selalu ngangeni dan meninggalkan kenangan yang senantiasa akan terbawa hingga dewasa bahkan menjadi kakek-nenek. Anda punya kenangan mengenai pasar malam. Monggo saling berbagi cerita.

Ngisor Blimbing, 2 Juni 2014

Antara Candi Mendut dan Rara Mendut

Mendut merupakan nama sebuah desa dengan landmark Candi Mendut. Candi ini terletak tidak jauh dari tepian beberapa daerah aliran sungai besar, seperti Kali Progo, Elo dan Pabelan. Candi Mendut merupakan satu kesatuan rangkaian tri candi yang meliputi Mendut, Pawon dan Borobudur. Berdasarkan keterangan pada Prasasti Karangtengah, Candi Mendut dibangun oleh Raja Indra dari Dinasti Syailendra pada tahun 824 M.

Mendut2

Secara administrasi kepemerintahan, Mendut merupakan sebuah kesatuan pemerintahan setingkat desa atau kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Lokasi Candi Mendut berada tepat di sisi utara Jalan Mayor Kusen yang merupakan jalur akses utama menuju Candi Borobudur dari arah Yogyakarta. Dari segi kesejarahan dan fungsionalitasnya di masa kini, Candi Mendut memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan candi-candi Budha yang lain, termasuk Borobudur.

Dalam lakon pementasan seni kethoprak di panggung-panggung rakyat yang di masa lalu banyak dipentaskan di dusun-dusun seputar Merapi-Merbabu, termasuk melalui siaran TVRI Jogjakarta, dikenal pula lakon cerita Rara Mendut. Siapakah Rara Mendut? Apakah gadis berparas cantik ini ada hubungannya dengan Candi Mendut?

Mendut4 Mendut1

Dari pendalaman terhadap lakon cerita dalam pementasan kethoprak tersebut, Rara Mendut adalah seorang anak perawan dari sebuah dusun terpencil di pesisir Bhumi Pati. Kecantikan paras rupanya yang menawan menjadikannya buah bibir di kalangan masyarakat luas. Kabar buah bibir itupun sampai ke telinga Sang Adipati Pragola, penguasa Pati. Dengan cara paksa, Rara Mendut diglandhang oleh para punggawa kadipaten untuk dijadikan selir Adipati Pragola. Kisah klasik ini seolah mengulang cerita kelam perampasan Ken Dedes oleh Akuwu Tunggul Ametung di masa akhir Kediri.

Belum sempat Rara Mendut dipersunting oleh Adipati Pragola, bala tentara Sultan Agung Mataram datang menyerang puri kadipaten yang dianggap mbalelo alias makar terhadap penguasa pusat. Singkat cerita Pati mengalami kekalahan telak dan semua harta benda dirampas sebagai pampasan perang, termasuk para istri, selir dan putri kadipaten. Nasib buruk tersebut juga menimpa Rara Mendut.

Rara MendutAkhirnya Rara Mendut diboyong ke Mataram. Atas jasa panglima perangnya, Sultan Agung berkenan menghadiahkan Rara Mendut kepada Tumenggung Wiraguna. Seorang panglima perang sangat senior yang juga sudah melewati umur setengah baya. Meskipun “diinginkan” oleh para bangsawan, tetapi hati nurani Rara Mendut senantiasa berontak dan ingin melepaskan diri dari belenggu perbudakan yang menimpanya.

Karena selalu menolak Wiraguna, lama kelamaan kesabaran sang tumenggung mendekati puncak kejengkelannya. Terlebih dengan sombong Rara Mendut menyatakan akan menebus diri dengan berapapun harga yang diajukan Wiraguna. Akhirnya penjagaan terhadap Rara Mendut diperlonggar dan untuk mengumpulkan sejumlah uang tebusan yang sebenarnya tidak akan mungkin dikumpulkannya dengan cara kerja apapun, ia kemudian berjualan rokok lintingan klobot. Rokok Rara Mendut bukan sembarangan dan seumumnya rokok di jamannya. Apa istimewanya?

Rokok yang dijual Rara Mendut sebenarnya lebih tepat tidak lagi disebut rokok. Rokok yang dijualnya adalah rokok yang sebelumnya telah dihisap dengan bibir merah rekahnya. Jadi para pembeli rokok yang gila itu sebenarnya hanya membeli tegesan alias sisa rokok dari Rara Mendut. Namun demikian, karena kecantikan Rara Mendut telah terkenal dan kondhang kaloka di seluruh negeri Mataram, maka tidak ada satu lelakipun yang merasa dirugikan atau berkeberatan. Mereka justru merasa tersanjung dapat menikmati tegesan sambil membayangkan kecantikan Rara Mendut di balik bayang silhuet kelambu yang terpasang remang-remang sebagai batas hijab antara si penjual dan pembeli di tengah pasar yang sengaja dipersyaratkan oleh Wiraguna agar kecantikan Rara Mendut tidak terobral murahan.

Akhirnya bertemulah Rara Mendut dengan sosok pemuda Pranacitra. Dialah cinta sejatinya yang kemudian membawanya lari dari kotaraja. Mengetahui simpanannya lepas bersama pemuda ingusan, Wiraguna segera mengejar pelarian Rara Mendut. Nasib kemudian mempertemukan sepasang kekasih muda itu dalam tikaman keris Wiraguna, tepat senja tiba di pesisiran Laut Selatan.

Mendut3

Selain sebagai sebuah skenario kethoprak yang tergali sebagai warisan para winasis di masa lalu, cerita cinta klasik Rara Mendut juga pernah diangkat sebagai sebuah novel, antara lain oleh Romo Mangun dan Ajip Rosidi. Rama Mangun dalam fantasinya mengenai Rara Mendut bahkan membuatnya dalam trilogi novel Rara Mendut, Lusi Lindri, dan Genduk Duku. Trilogi ini mengangkat kisah Rara Mendut secara lebih komperhensif dengan menyertakan penggambaran yang sangat luar biasa mengenai sosok Amangkurat I dengan segala tindak-tanduk dan kebijakan politiknya sebagai penerus yang masih tersembunyi di balik kelamnya tembok-tembok istana yang sangat misterius.

Jadi sangat berbeda dengan kisah cinta Rara Jonggrang yang dikaitkan dengan Candi Rara Jonggrang atau yang lebih dikenal sebagai Candi Prambanan dibandingkan hubungan antara Candi Mendut dan Rara Mendut. Kesimpulan akhirnya adalah, sama sekali tidak ada hubungan kisah secara langsung antara Candi Mendut dan Rara Mendut.

Kuta, 11 September 2013

Candi Umbul: Patirtan Para Bangsawan Mataram Kuno

Candi Umbul memang tidak setenar Candi Borobudur. Bisa jadi masih sangat asing nama candi tersebut di telinga kebanyakan orang Indonesia. Bahkan bagi warga asli kelahiran Magelang, saya yakin hanya sebagian kecil saja yang mengetahui keberadaan candi peninggalan Dinasti Sanjaya ini. Di dalam peta Kabupaten Magelang, lokasi bertuliskan Air Hangat Candi Umbul terletak di sisi kanan atas atau arah timur laut dari Kota Magelang. Nama campuran antara air hangat dan candi umbul, seringkali mengecoh para penjelajah peta untuk langsung paham bahwa di sanalah lokasi Candi Umbul yang saya maksudkan.

Candi Umbul 2Sesuai dengan namanya, umbul, udal atau tuk dalam bahasa Jawa, berarti mata air yang menyembul secara vertikal dari dalam tanah. Candi Umbul memang berwujud sebuah kolam pemandian yang bersumber dari umbul. Melihat ciri kolam pemandian yang di keempat sisinya dibentengi susunan batu candi dengan relief khas, candi ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai sebuah patirtan atau taman air. Fungsi sebuah patirtan adalah sebagai tempat mandi dan rekreasi keluarga raja atau para pangeran dan putri kerajaan.

Dari relief dan beberapa petilasan bentuk lingga dan yoni di beberapa titik, membuktikan bahwa Candi Umbul merupakan candi bercorak Hindhu. Jika menilik sejarah perkembangan Kerajaan Mataram Kuno, kemungkinan besar candi ini dibangun oleh Dinasti Sanjaya yang beragama Hindhu. Tidak banyak ciri bangunan candi yang tersisa di area Candi Umbul saat kini. Namun demikian di dalam kolam terdapat beberapa batu umpak berbentuk lingga yang datar di permukaan bagian atasnya. Di samping sebagai patirtan tempat mandi, sangat dimungkinkan keberadaan landasan batu umpak berbentuk lingga tersebut dulunya dipakai sebagai alas tempat duduk untuk tapa kungkum atau bertapa rendam para ksatria di masa lalu.

Bagi orang awam, ciri-ciri sebagai penanda sebuah candi kuno barangkali sangat tersamar dan hampir tidak secara kentara dijumpai pada Candi Umbul. Untuk memberikan kesan yang kental tentang sebuah situs peninggalan sejarah, tepat di sisi kanan dan kiri pintu masuk menuju sisi tengah patirtan kolam pemandian, kini berdiri kokoh sepasang tugu batu hitam. Meskipun bentuk dan ukiran pada kedua tugu batu tersebut sangat minimalis, namun kehadirannya dapat mengesankan pengunjung tengah memasuki sebuah gerbang bangunan candi kuno.

Candi Umbul 3 Candi Umbul 4

Lurus dengan kedua tugu gerbang tersebut, kita akan menjumpai beberapa anak tangga yang mengantarkan turun kaki kita ke bawah hingga menuju badan air. Tepat di ujung tangga, pada permukaan air, terdapat sepasang kalamakara yang seolah sedang menghisap air dari kedalaman ibu bumi pertiwi. Berseberangan dengan sepasang kalamakara, terdapat sebuah bentuk cungkup batu kecil yang hingga kini masih berfungsi sebagai tempat persembahan sesaji. Hal ini nampak dari aneka kembang tujuh rupa dan bau semerbak sangat khas yang berasal dari dupa atau kemenyan yang dibakar sebagai sarana peribadahan. Ciri dan tanda-tanda tersebut memperkuat kepastian bahwa Candi Umbul memang sebuah situs sejarah tempat peribadahan yang bercorak Hindu.

Candi Umbul 5Mencermati keberadaan situs yang tepat berada di tengah sebuah lembah atau hamparan dataran rendah, menandakan bahwa Candi Umbul dibangun pada sebuah mata air yang timbul, muncul atau mumbul dari dalam tanah sebagai keluaran air resapan yang berasal dari rerimbunan hutan di keempat sisi lembah yang terdiri atas tanah perbukitan. Uniknya, air yang muncul tepat di tengah kolam patirtan candi tersebut justru merupakan air hangat yang terjadi secara alamiah. Hal ini menjadi sangat unik dan khas Candi Umbul, karena biasanya keberadaan sumber air hangat atau air panas berada di sekitar lokasi gunung berapi ataupun pegunungan bekas gunung aktif.

Berbeda dengan yang dilakukan ummat Hindhu di masa lalu, kebanyakan para pengunjung di Candi Umbul yang bukan penganut kepercayaan Hindhu justru datang khusus ke candi ini untuk berkungkum ria alias mandi berendam menikmati kehangat air kolam yang khas dan sangat alamiah. Banyak pengunjung yang percaya bahwa air hangat Candi Umbul dapat menyembuhkan berbagai macam jenis penyakit, khususnya penyakit kulit. Maka dapat dipastikan setiap pengunjung yang datang pasti merasa rugi jika tidak menceburkan diri dan kungkum di badan air yang berwarna kehijauan karena bercampur dengan lumut dan ganggang lembut.

Untuk mencapai dan menikmati kehangatan khas Candi Umbul, pengunjung dapat mengakses situs yang berada di Kecamatan Grabag – Kabupaten Magelang ini melalui akses jalan beraspal mulus dan cukup lebar. Perjalanan diawali dari titik pertigaan Krincing yang berada di ruas jalur Magelang – Semarang, tepat sekitar 1 km di sisi utara pertigaan Secang menuju Ambarawa. Dari pertigaan ini, pengunjung terus mengikuti jalanan ke arah timur menuju Grabag. Sekitar 8 km, di sekitar Mts Negeri Grabag terdapat plang penunjuk arah Candi Umbul ke arah kiri. Dari titik ini lokasi keberadaan Candi Umbul masih harus ditempuh sekitar 4,7 km. Jalanan beraspal dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat dengan sajian pemandangan persawahan dan pategalan khas pedesaan akan sangat memanjakan mata pengunjung.Candi Umbul 1

Berbeda dengan Candi Borobudur ataupun Prambanan yang memasang tarif tiket masuk yang terasa mahal bagi kantong warga pribumi, Candi Umbul dapat dimasuki dengan harga tiket yang sangat terjangkau. Hanya dengan Rp. 3.000,- untuk orang dewasa dan Rp.2.000, – untuk anak-anak, serta Rp 1.500,- untuk parkir roda dua, menjadikan Candi Umbul menjadi tempat kungkum yang sangat favorit bagi warga sekitar maupun para pendatang yang ingin sengaja angon bocah sekaligus memperkenalkan sejarah peninggalan nenek moyang kepada generasi penerus bangsa. Rekreasi plus pembelajaran sejarah. Dua buah perpaduan fungsi yang dapat sekaligus dipetik oleh para pengunjung, bagaikan sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Keberadaan Candi Umbul sebagai situs peninggalam sejarah masa lampau, sudah pasti merupakan aset sangat berharga bagi Kabupaten Magelang. Promosi dan penyebarluasan informasi mungkin masih belum optimal sehingga keberadaan candi patirtan ini hanya diketahui sebagian kecil dari masyarakat Indonesia. Dengan promosi yang gencar dan luas, bukan mustahil situs bersejarah ini dapat menjadi alternatif tujuan wisata di wilayah Magelang Utara dan dapat menyumbangkan pendapatan asli daerah yang cukup signifikan untuk turut mengangkat kesejahteraan warga sekitarnya.

Anda penasaran dengan Candi Umbul? Monggo dipersilakan pinarak untuk mampir dan dolanan ciblon ke daerah Grabag. Dijamin sampeyan akan ketagihan untuk selalu rindu dan datang ke dua, tiga, bahkan ke sekian kalinya ke Candi Umbul.

Ngisor Blimbing, 29 Agustus 2013

Tradisi Ujung, Mempererat Kekerabatan

Sebulan penuh ummat Islam berpuasa di bulan Ramadhan. Segala amalan ibadah telah tuntas dilaksanakan. Tarawihan, tadarusan, i’tikaf, yang dipuncaki dengan ditunaikannya zakat fitrah. Tibalah hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri yang juga dikenal sebagai Hari Lebaran. Senja selepas adzan Maghrib dikumandangkan di hari akhir puasa, menggemalah lantunan takbir, tahmid, dan tahlil semalaman penuh. Itulah wujud rasa syukur dan kegembiraan ummat Islam yang telah tunai berpuasa sebulan penuh.

Ujung4

Islam senantiasa mengajarkan keseimbangan dalam dimensi pelaksanaan ibadah. Selain berdimensi akhirat atau ukhrawi, setiap ibadah juga mengandung nilai keduniawian. Sebagai contohnya adalah puasa Ramadhan. Puasa, secara ukhrawi, diperintahkan kepada orang yang beriman untuk meraih derajat ketaqwaan yang lebih tinggi. Dengan puasa manusia dilatih bersabar dalam menghadapi setiap cobaan hidup. Inti dari nilai puasa adalah pengendalian diri terhadap nafsu-nafsu yang menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan yang merugikan, baik terhadap diri sendiri, orang lain, lingkungan, maupun Tuhan. Namun puasa juga memiliki dimensi kemanusiaan. Melalui puasa, ummat Islam dilatih merasakan rasa haus dan lapar sebagaimana banyak orang-orang di sekitar yang nasibnya kurang beruntung. Di dalam bulan Ramadhanpun, ummat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal shodaqoh, infaq, dan zakat, baik zakat mal maupun zakat fitrah. Hal ini menandakan bahwa ibadah puasa berdimensi akhirat sekaligus dunia sebagai inti ajaran Islam yang menata keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas.

Sebagai bentuk penghapusan dosa dan penyucian diri secara utuh, maka manusia tidak hanya cukup bertaubat atau memohon ampun atas segala dosa kepada Allah SWT. Manusia yang merupakan makhluk sosial senantiasa bergaul dalam anggota kelompok masyarakat yang lain dalam kehidupan sehari-sehari. Menyempurnakan ampunan dosa dari Allah, maka manusia juga sudah seharusnya memohon maaf dan saling memaafkan kesalahan diantara sesamanya. Tradisi Lebaran dengan segala macam ragam caranya telah menuntunkan pentingnya halal bil halal untuk melakukan maksud tersebut. Salah satu ragam tradisi lebaran yang masih hidup di kalangan masyarakat kita adalah “ujung”.

Ujung1

Tradisi ujung banyak dikenal dan diamalkan di selingkaran Merapi, daerah kampung halaman kami. Selepas menunaikan sholat Idul Fitri, baik di tanah lapang maupun di masjid-masjid, ummat Islam berdiri saling bersalaman satu sama lain sambil melantunkan sholawat yang diiringi dengan tabuhan irama bedug sambil membentuk kalangan lingkaran yang sangat besar. Lingkaran ini seolah simbol menyatunya siklus kehidupan manusia dalam rangkaian persatuan dan kesatuan ummat yang kokoh nan kuat.

Selepas saling bersalaman di tempat sholat Idul Fitri tersebut, ummat Islam di daerah kami merasa belum syah permintaan maafnya diantara anggota keluarga, tetangga, dan kerabat sebelum saling mengikrarkan secara lisan sambil ndada, mengakui kesalahan masing-masing. Adab yang berlaku adalah yang muda mendatangi yang lebih tua atau dituakan. Anak kepada orang tua, istri kepada suami, cucu kepada kakek-nenek, demikian seterusnya. Yang utama dan pertama dilakukan biasanya adalah saling memaafkan diantara keluarga sendiri. Setelah itu barulah saling berkunjung kepada sanak tetangga dalam wilayah satu dusun, komplit tanpa terlewati satu rumahpun.

Maka suasana lebaran bagi dusun kami merupakan suasana kegembiraan yang luar biasa selama hampir tujuh hari penuh. Padusunan yang biasa lengang nan sepi, pada hari itu seolah nampak sumringah, hidup, berseri, dan ramai oleh hilir-mudik anak-anak dan muda-mudi yang saling berkunjung antar rumah untuk ujung. Jika pada hari-hari biasa kami disibukkan oleh rutinitas urusan pekerjaan masing-masing. Yang tani sibuk dengan olah taninya, yang pedagang sibuk dengan bakulannya, yang guru sibuk dengan tugas ngajarnya, yang pegawai kantoran sibuk dengan pekerjaanya, dan lain sebagainya, maka lebaran memberikan ruang khusus untuk menanggalkan semua kesibukan tersebut. Suasana menjadi lebih lengkap dan berarti dengan mudiknya warga dusun yang sekian lama merantau di tempat jauh.

Ujung2 Ujung3

Ujung dikenal juga dengan badan, balal, atau halal bi halal. Tidak ada laku ataupun tata cara yang terlampau khusus dalam ujung. Setelah mengucapkan salam ataupun kulo nuwun kepada tuan rumah, para tamu akan dibageke, ditanyakan kabar baiknya, termasuk keluarga lain yang tidak ikut sowan atau bertandang untuk ujung. Sambil menyalami para sesepuh, kami diajarkan sungkem untuk memberikan penghormatan. Selepas itu kami ungkapkan ikrar pengakuan kesalahan, baik yang sengaja maupun karena kekhilafan selama setahun ke belakang.

Selanjutnya giliranlah para sesepuh yang kami sungkemi memberikan jawabnya. Merekapun menerima ungkapan salam penghormatan kami dan juga mengungkapkan permohonan maaf atas kesalahan maupun dosa selama setahun. Berbeda dengan kaum muda yang terhenti pada pengungkapan salah dan dosa, maka para sesepuh selanjutnya memberikan doa dan pengharapan kebaikan, kesuksesan, termasuk keselamatan hidup dunia hingga akhirat kepada yang menyalaminya. Bukankah doa dari para sesepuh yang alim dan bijak, serta telah menyerap berbagai pengalaman pengamalan ibadah yang jauh lebih banyak daripada yang muda tentu lebih mustajab untuk diijabah oleh Tuhan? Inilah “keramat”nya tardisi ujung.

Trio CiTyaRa

Tardisi ujung mengajarkan kearifan tersendiri. Tradisi yang bersendikan ajaran Islam ini memuat beberapa makna yang sangat mendalam. Di samping sebagai momentum saling memaafkan diantara sesama manusia, ujung memberikan pesan kepada semua anak manusia untuk senantiasa menyambung tali silaturahmi diantara sesama saudara, keluarga, tetangga, kerabat, dan saudara dimanapun kita berada. Ujung menjadi perekat sekaligus pengukuh hubungan silaturahmi yang di jaman ini seringkali dipandang remeh oleh manusia modern. Dalam kesempatan ujung pula kami berendah hati untuk mendatangi rumah saudara-saudara, para simbah, pakdhe, paklik atupun guru-guru kami. Hati kamipun diasah untuk memahami keadaan rumah dan lingkungan mereka dengan sebaik-baiknya. Tidak ada lagi batasan kaya-miskin, pandai-bodoh, tinggi-rendah karena kami adalah saudara. Dari sinilah kami seolah saling menguatkan satu sama lain bahwa meskipun badai kehidupan semakin ganas menerjang hidup, namun kami masih memiliki banyak sekali saudara dan kerabat yang masih senantiasa memiliki rasa asah, asih dan asuh. Bukanlah sesama muslim adalah sesama saudara? Semoga tradisi ini akan senantiasa lestari.

Ngisor Blimbing, 28 Juli 2013

Rekam Jejak Bala Tidar 2012

Malam terakhir di penghujung tahun ini berselimut mendung. Letihnya raga menjalani beberapa penggawean membuat diri ini, sebagaimana di tahun-tahun yang lain, lebih memilih menyambut tahun baru dengan berdiam diri di tepi kesunyian. Merenung dan mawas diri, mengukur panjang jalan yang telah tertempuh setahun penuh. Ada suka, ada duka. Ada canda, ada tawa, ada pula air mata. Rupanya Tuhan telah menganugerahkan warna-warni kehidupan yang membuat hidup saya terasa semakin hidup.

Sebagai pribadi blogger yang menjadi bagian besar sedulur-sedulur Bala Tidar, sudah pasti setahun ke belakang ini ada catatan dan goresan khusus yang akan terukir sejati menjadi bagian kisah hidup yang tidak akan pernah terhapuskan. Tahun 2012, bagi sebagian besar sedulur Bala Tidar, mungkin menjadi tahun yang sedikit redup dengan minimnya momentum kebersamaan yang semakin jarang bisa menyatukan Bala Tidar di dunia off line. Namun demikian, kami  semua nampaknya harus senantiasa mengucapkan syukur kepada Gusti Alloh yang telah menakdirkan beberapa diantara kami tetap memiliki kencenging pikir dan komitmen kuat untuk tetap berpegang dalam tali paseduluran yang kami ikrarkan tanpa batas.

Beberapa catatan yang dapat saya rangkumkan dari tandang gawe dan kiprahnya Bala Tidar di ranah jagad padhang, diantaranya adalah:

panti_ar_rahmanBulan Januari. Meskipun awal tahun, namun Bala Tidar sudah membulatkan tekad dan langkah untuk kembali menggelar Lomba Menulis dan Seminar Pendidikan (LMSP 2012). Beberapa persiapan sudah mulai dilakukan di bulan ini, mulai dari pematangan konsep, perencanaan kegiatan, sosialisasi, bahkan pencarian mitra dan sponsor.  Di samping persiapan LMSP, beberapa sedulur Bala Tidar juga terus aktif berbagi pengetahuan dan keterampilan komputer kepada adik-adik di Panti Asuhan Ar Rahman, khususnya dilakukan pada setiap Jum’at sore.

Februari, bulan yang cukup sibuk dengan sosialiasi LMSP. Meskipun Bala Tidar yang turut turun tangan menggawangi kegiatan ini bisa dibilang sangat sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun semangat juang mereka sangat-sangat luar biasa. Tak lelah satu per satu sekolahan dikunjungi untuk mengedarkan undangan lomba dan seminar. Demikian halnya dalam gerilya mencari dukungan sponsor. Para pahlawan relawan sejati ini tak mengenal pamrih sedikitpun dalam menjalankan amanat di pundaknya. Tidak hanya pikiran dan tenaga dicurahkan, bahkan uang bensin dan transportasi tidak pernah dihitung. Kami “bekerja bakti” dengan prinsip rame ing gawe lan sepi ing pamrih.

 lm2012banner lmsp2012

Maret hingga pertengahan April adalah rentang waktu pelaksanaan lomba menulis tingkat pelajar yang mengangkat tema “Membaca Alam Membaca Kalam”. Hari demi hari selalu dihitung oleh sedulur Bala Tidar dengan penuh perasaan dagdigdug dan kekhawatiran yang mendalam. Hingga minggu ke tiga, belum juga ada tulisan yang dikirimkan peserta lomba. Namun demikian, di hari-hari terakhir justru datang kiriman naskah lomba berlomba-lomba. Barangkali memang kultur masyarakat kita yang suka nyrempet-nyrempet waktu dateline dalam urusan tanggung jawab, ataupun pekerjaan apapun. Meskipun tidak terjadi peningkatan jumlah peserta lomba secara signifikan, namun kami tetap patut bersyukur bahwa itikad dan kerja kami tidak sia-sia, bahkan mendapatkan perhatian dari beberapa kalangan.

images Kawagoe-3 Asakusa-6 Meiji Shrine-1

Di pertengahan bulan Maret, atas anugerah yang tiada terkira dari Kang Hakarya Jagad, saya berkesempatan melanglang ke negeri Jepang. Kepergian saya tersebut dalam rangka mengikuti program pertukaran antar pemuda (JENESYS Programme) se-ASEAN, Asia Timur, Asutralia dan Selandia Baru atas undangan dari Japan Foundation. Bukan secara kebetulan karena kehadiran saya di forum tersebut berkenaan langsung dengan aktivitas selaku citizen journalist atau independet journalist. Selama dua minggu penuh, kami serombongan diajak berkeliling setengah wilayah Jepang, mulai dari Tokyo hingga pulau Kyusu di ujung selatan. Beberapa tempat yang saya kunjungi diantaranya METI, Asakusa, Meiji Jingu Shrine, Ginza, Kawagoe, Haneda, Panasonic, PLT Geothermal Haccobaru, Beppu, Mitsubishi, Yokohama, hingga Osaka. Sarana transportasi domestik Jepang yang sempat saya nikmati diantaranya ANA Air dan kereta super cepat Shinkanzen. Inilah rejeki nomplok selaku blogger yang pernah saya rasakan.

Di penghujung bulan April, ada dua event penting di jagad perbloggeran yang sempat saya hadiri. Momentum pertama adalah acara Intip Buku dan peluncuran bukunya Om Jay yang berjudul Menulis setiap Hari dan Merasakan Apa yang Akan Terjadi. Dalam acara tersebut hadir narasumber beberapa blogger tenar, diantaranya Kang Pepih Nugraha (wartawan Kompas), Imam FRK (mahasiswa penulis), Taufiq Effendi (Dosen muda UNJ), Prayitno Ramlan (purnawirawan TNI AU), Johan Wahyudi (pendidik), Iskandar Zulkarnain (Kompasiana). Sungguh sebuah momentum kopdaran yang luar biasa penuh taburan butiran ilmu dan pengetahuan.

 iB3 FTIK1

Masih di bulan April, saya juga berkesempatan mewakili sedulur Bala Tidar di perhelatan Wilujeng Surfing yang digelar di STT Telkom Bandung. Acara yang berlangsung selama 2 hari ini berisi puluhan workshop dan seminar yang berkaitan langsung dengan dunia IT. Yang paling menyenangkan di acara ini adalah hadirnya ratusan blogger dari seluruh penjuru Nusantara, meski tentu saja didominasi dari pulau Jawa. Di sana pulalah saya bertemu dengan banyak dedengkot blogger Indonesia, seperti Pakdhe Blonthang, Kang Kombor, Gajah Pesing, arek TPC, Ponorogo, Plat-M, Bengawan, Pak Nukman, dll. 

juara1_sma juara1_smp juara2_smp  IMG_5543  juara3_smp juara2_sma juara3_sma

Mei adalah puncak gawe-nya Bala Tidar. Bertempat di Gedung Wanita, kami menghelat acara Seminar Pendidikan bertema Pusaka di Balik Pustaka:”Revitalisasi Budaya Membaca”. Bekerja sama dengan Perpustakaan Daerah Kota Magelang dan beberapa sponsor, seperti Telkomsel Magelang, Polaris FM, dan Pandi, seminar dihadiri sekitar 150-an peserta. Hadir selaku narasumber adalah Ibu Sugiarti (Perpusda Kota Magelang), Sholahudin Al Ahmed(Suara Merdeka), Lusia Dayu (NBC Magelang) dan Pakdhe Blonthang (Bengawan). Meskipun dari segi kepanitiaan sangat minimalis sehingga kami yang ber-10 harus jungkir balik mengurusi setiap detail seminar, namun kamu bersyukur acara dapat berjalan dengan lancar. Inilah catatan sukses terbesar kami di tahun 2012 ini.

Juni hingga Juli nampaknya menjadi hari dan bulan relaksasi Bala Tidar, selepas puncak kegiatan LMSP 2012. Namun demikian, sebagai komitmen dari panitia untuk dapat menerbitkan naskah-naskah lomba yang masuk mengikuti kompetisi dalam sebuah buku, maka beberapa diantara Bala Tidar tetap sibuk mengurusi penyuntingan dan desain buku. Sayangnya hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai keberlanjutan proyek tersebut.

Agustus merupakan penghujung bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal. Meskipun tidak ada agenda Lailatul Kopdar sebagaimana dua tahun sebelumnya, namun masing-masing kami sibuk menyelami hadirnya Lailatul Qodar dengan cara kami masing-masing. Di awal bulan Agustus, saya sempat menghadiri MODIS (Monthly Disscussion) yang digelar oleh Kompasiana di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mengangkat tema Pengelolaan Sampah. Memasuki Hari Lebaran, beberapa Bala Tidar sempat Kopdar Syawalan di Ringin Tengah Alun-alun Magelang, yang dilanjutkan dengan menikmati bersama Festival 1000 Balon di Masjid Agung Payaman. Atas undangan Komunitas Kota Toea Magelang, perwakilan Bala Tidar juga sempat mengikuti Temoe Kangen Kerabat Kota Toea Magelang di rumah makan Voor de Tidar.

13440955111291832518 HutBeBlog4 copy 1347148049883288822

September menjadi momentum penting bagi Komunitas Blogger Bekasi (Be-Blog) karena mereka memperingati HUT ke-3. Bertempat di Balai Patriot Kota Bekasi, saya sempat menghadiri perayaan HUT yang mengambil tema “Semangat Kebersamaan dalam Harmoni Perubahan”. Uraian menarik mengenai bagaimana menjadi Blogger yang Sukses dan Mulia diuraikan oleh Jamil Azaini, seorang motivator yang juga menekuni dunia blog.

Bulan Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah bagi blogger di Indonesia. Di bulan inilah diperingati Hari Blogger Indonesia yang telah ditetapkan setiap tanggal 27 Oktober, semenjak tahun 2007 di Pesta Blogger I. Dalam rangka Hari Blogger itulah, saya sempat mewakili Bala Tidar untuk turut hadir di acara seminar dengan tema “Merumuskan Bahasa dalam Media Online dan Jurnalisme Warga”, pada hari Sabtu, 20 Oktober 2012, bertempat di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta. Hadir selaku narasumber dalam acara tersebut Masmimar Mangiang (Dosen Komunikasi UI), Pepih Nugraha (Manajer Redaktur Kompas), dan Ivan Lanin (Wikipedia Indonesia).

  GajahMada BN1 BN2012-1 FR1

November memiliki Hari Pahlawan. Di momentum tanggal itu pulalah digelar Kopdar Akbar Blogger Nusantara II di Makassar, Sulawesi Selatan. Tantangan yang sangat berat bagi sebagian blogger Nusantara untuk dapat turut hadir di kopdar terbesar yang digelar di luar pulau Jawa. Namun demikian, demi menyambukang tali silaturahmi saudara sebangsa setanah air, saya berangkat memenuhi panggilan dari Daeng Ipul dari Komunitas Anging Mammiri. Kopdar akbar yang dihadiri lebih dari 600a-an blogger tersebut berlangsung selama dua hari yang diisi dengan sesi seminar dan workshop, serta anjangsana wisata di sekitaran Makassar.

Desember….hmmm. Di bulan ini saya pribadi nihil dari aktivitas kopdar blogger. Di penghujung tahun, 31 Desember 2012, kembali perjalanan pengelanaan blogger saya ingat dan rekam kembali ke dalam postingan ini. Semoga ke depan kita semua di barisan Bala Tidar dapat lebih komitmen dan konsisten dalam menjalani amalan ibadah di jalur blog ini, sehingga dapat mencetuskan ide-ide positif yang akan menjelma menjadi program maupun agenda yang bermanfaat untuk sesama. Monggo sedulur! Salam Blogger !

Ngisor Blimbing, 31 Desember 2012

Pasar Kebon Polo Magelang

Kebon Polo merupakan nama sebuah tempat di titik pertemuan antara Jalan Jend. Ahmad Yani dan Jalan Urip Sumohardjo, Kota Magelang. Nama itu kemudian kini identik dengan Pasar Kebon Polo. Nama Kebon Polo tentu saja sangat berkaitan dengan komoditas polo atau pala. Konon di sekitar Kebon Polo memang penuh dengan perkebunan pala sejak masa pemerintahan Mataram Islam. Perkebunan yang dimiliki oleh Sultan tersebut merupakan salah komoditas andalan yang dihasilkan dari wilayah Kedu, di samping tembakau, klembak, dan tentunya beras.

KbnPolo1

Di masa awal perkembangan kota Magelang, setelah dibentuknya Pemerintahan Kadipaten Magelang dengan KRT Danuningrat I selaku adipati semasa pemerintahan Letnan Jenderal Thomas Stanford Raffles, Kebon Polo berkembang sebagai pusat ekonomi dengan keberadaan pasarnya. Lebih semarak lagi ketika mulai dibuka jalur kereta api yang menghubungkan Jogja – Magelang – Ambarawa – Semarang, di sisi selatan pasar dibangun sebuah stasiun kereta api. Stasiun kereta api tersebut masih terus beroperasi hingga ditutupnya jalur kereta Jogja – Ambarawa di masa awal Orde Baru. Kini bekas stasiun Kebon Polo difungsikan sebagai sebuah subterminal yang melayani angkutan dalam kota. Continue reading “Pasar Kebon Polo Magelang” »

Muntilan dalam Kenangan

Di masa lalu ada seorang pengelana yang tengah membawa kantong dari kain kadut di pundaknya. Kantong tersebut dipenuhi dengan bahan dan barang perbekalan selama pengembaraan. Saking banyaknya bekal yang dibawa, maka kantong tersebut nampak munthil-munthil (sangat penuh dan bergelantungan di pundak).

Sialnya, untung tak dapat diraih dan malangpun tak dapat ditolak. Di sebuah jalan setapak yang sunyi sepi, sekawanan perampok menghadang langkah sang pengelana. Dengan ancaman pedang di leher, sang pengelana diam terkunci mulutnya karena rasa ketakutan yang mencekam. Semua bekal yang munthil-munthil di pundaknya terpaksa diserahkan kepada kawanan perampok tersebut. Selepas para perampok pergi, barulah sang pengelana berteriak histeris penuh gemetar dan rasa shock yang tiada tara. “Munthil ilang…..munthil ilang…..munthil-munthil ilang”, demikian suara sang pengelana tergagap.

Orang-orang di persawahan dan tegalan yang mendengar teriakan munthil ilang itupun langsung berlarian menuju lokasi tempat terjadinya perampokan. Sang pengelana hanya menunjuk-nunjuk ke a rah perginya kawanan perampok yang telah merampas bawaannya sambil tak henti-hentinya terus meneriakkan munthil ilang…munthil ilang. Wargapun tidak bisa berbuat apa-apa karena kawanan perampok terlalu kuat untuk dilawan.

Kejadian di atas kemudian menjadi tetenger atau pertanda di hari-hari selanjutnya para warga menyebut lokasi bekas terjadinya perampokan itu dengan sebutan “munthil ilang”. Lama kelamaan kata munthil ilang terucap menjadi munthilang, dan selanjutnya menjadi muntilan. Inilah salah satu versi asal-usul nama Muntilan. Sebuah kota kecil di sisi barat gunung Merapi yang dibatasi kali Blongkeng dan kali Pabelan.

Cerita versi yang lain, konon kata muntilan berasal dari bahasa Inggris, mount dan land. Hal ini merujuk kepada kondisi topografi tanah yang bergunung-gunung di sekeliling daerah Muntilan. Muntilan bisa dibilang merupakan pusat pertemuan lima cincin gunung yang meliputi Merapi, Merbabu, Andong-Telomoyo, Sumbing dan pegunungan Menoreh.

Saat ini Muntilan merupakan sebuah kota kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Magelang. Pada periode awal 1900-an, Muntilan menjadi sebuah wilayah kawedanan yang membantu tugas kepemerintahan Tuan Regent. Di masa orde baru, kota ini sempat dimekarkan menjadi sebuah kota administratif (Kotip) yang akan dikembangkan lebih lanjut menjadi sebuah kota madya. Namun perkembangan reformasi menjadikan kisah Muntilan tetap hanyalah sebagai sebuah kota kecamatan hingga kini.

Sebagai sebuah wilayah kepemerintahan kecamatan, Muntilan membawahi beberapa desa atau kelurahan di sekitarnya. Desa yang dibawahi kecamatan Muntilan, meliputi Adikarto, Congkrang, Gondosuli, Gunungpring, Keji, Menayu, Muntilan, Ngawen, Pucungrejo, Sedayu, Sokorini, Sriwedari, Tamanagung dan Tanjung. Beberapa kecamatan yang berbatasan langsung dengan Muntilan adalah Kecamatan Salam, Srumbung, Dukun, dan Mungkid.

Muntilan merupakan kota terbesar di wilayah Kabupaten Magelang. Bahkan jika dibandingkan ibukota Kabupaten di Kota Mungkid, Muntilan jauh lebih ramai dan padat penduduknya. Muntilan berada di jalur strategis yang menghubungkan Jogja-Magelang-Semarang. Terletak sekitar 25 km sebelah utara Jogjakarta, menjadikan Muntilan menjadi jalur perlintasan yang strategis dan ramai. Muntilan menjadi sebuah kota yang dinamis, namun tetap bersanding dengan sisi ke-ndesoan desa-desa di seputarannya.

Di kelilingi daerah sentra pertanian yang subur, Muntilan menjadi pusat perdagangan komoditas pertanian lokal. Pasar Muntilan berkembang sangat pesat, meskipun pada awalnya hanya ramai di saat hari pasaran Kliwon saja. Kini pasar Muntilan sangat padat dijejali pedagang dan ruko yang bahkan mengesankan kawasan pasar yang tidak tertata dan semrawut. Komoditas hasil pertanian terbesar diantaranya adalah beras, sayur-mayur, buah-buahan, tembakau, bahkan klembak.

Kota Muntilan dibelah sebuah jalan protokol utama yang membujur utara-selatan. Dengan dipagari toko-toko yang pada awalnya sepenuhnya diusahakan oleh para perantau Tiongkok, Jalan Pemuda merupakan ruas jalan yang sangat legendaris. Di samping pertokoan, di jalan tersebut juga terdapat sekolah, perkantoran, dan fasilitas umum, seperti bank, masjid, gereja, klentheng, bioskop, dll.

Dari ujung selatan Jalan Pemuda, melalui jembatan kali Blongkeng, Muntilan akan menyambut dengan garasi bus Ramayana, kampung Wonosari, SMK As Sholihah, GKJ, SMP 1 Muntilan, Tape Ketang, Kali Lamat, pasar Jambu, kawasan Tugu Wesi, Klentheng, Bangjo Pasar, kawasan Terminal Drs Prajitno, kawasan Plasa, Kali Keji, RSPD(Gemilang FM), kawasan Prumpung, Monumen Bambu Runcing, hingga jembatan Kali Pabelan.

Diantara kekhasan kota Muntilan yang paling tersohor adalah tape ketan. Produk rumahan yang terbuat dari beras ketan yang difermentasikan ini, seakan memang menjadi ikon kuliner khas Muntilan. Namun demikian jika kita bertandang di Muntilan akan sangat mudah menemukan wajik Ny Week, jenang, krasikan, hingga slondhok dan pothil. Di samping produk makanan ringan, kuliner Muntilan juga diperkaya dengan bakso Mekarsari yang terkenal, magelangan di kawasan klentheng, soto dan nasi rames  di berbagai sudut pasar, hingga kupat tahupun banyak bertebaran.

Untuk produk kerajinan tangan yang paling terkenal adalah berbagai kerajinan pahatan batu di kawasan Prumpung maupun Tejowarno. Meskipun ketrampilan memahat dipelajari secara turun-temurun, namun sesungguhnya para pengrajin yang ada telah memiliki silsilah darah pemahat yang sangat panjang. Bahkan tidaklah berlebihan bahwa nenek moyang merekalah yang memahat satu per satu batu yang disusun menjadi candi terbesar dan termegah yang menjadi kebanggaan bersama bangsa kita, Borobudur!

Roda sejarah terus berputar. Muntilan mau tidak mau juga harus berpacu dengan roda jaman. Akan seperti apakah Muntilan di masa depan. Hanya catatan sejarahlah yang akan bisa berkisah untuk anak cucu kita di waktu yang akan datang.

Ngisor Blimbing, 30 Agustus 2012

Foto diambil dari sini, sini, dan sini.

Festival Braga: Pemberdayaan Aset Heritage

Dua abad lebih dua tahun, konon katanya kota Bandung telah lahir, terhitung sejak 25 September 1810. Kota sejuk yang terletak di atas cekungan danau Bandung purba ini, berdiri beriringan dengan dibukanya jalur Jalan Pos antara Anyer – Panarukan oleh Gubernur Jenderal William Herman Daendels pada 1808 – 1811. Kota ini kemudian memiliki julukan sebagai Kota Kembang. Konon katanya julukan ini muncul, ketika pada 1896 para ndoro pengusaha gula di Hindia Belanda menggelar pertemuan dengan mendatangkan para noni Indo yang cantik-cantik bagaikan bunga mekar di tengah taman. Memang Bandung dalam perjalanan sejarahnya tidak pernah memiliki taman-taman bunga yang mengesankannya sebagai kota kembang. Continue reading “Festival Braga: Pemberdayaan Aset Heritage” »