Setinggi-tingginya Sukhoi Terbang, Masih Ada Yang Maha Tinggi

Kita tentu sangat paham dengan pepatah setinggi-tingginya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Secanggih-canggihnya teknologi buatan manusia, pasti ada sisi kelemahan yang bisa menjadikan kegagalan atau bahkan kehancuran. Hal inipun terjadi dengan pesawat super canggih Sukhoi Superjet 100 yang mengalami tragedi maut di lereng gunung Salak, Rabu lalu.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 buatan Rusia merupakan pesawat dengan rancangan teknologi yang sangat canggih. Meskipun untuk kepentingan penerbangan sipil komersial, kecanggihan Sukhoi Superjet 100 tentu tidak jauh berbeda dengan kecanggihan pesawat tempur Sukhoi yang telah terlebih dahulu terkenal di dunia. Aspek kenyamanan penerbangan untuk para penumpang pesawat, tentu saja diimbangi dengan jaminan tingkat keselamatan yang tinggi pula.

Sebuah teknologi yang diterapkan pada suatu sistem yang semakin canggih akan memiliki risiko kegagalan sistem maupun komponen yang tinggi pula. Mesin mobil pribadi tentu saja tidak secanggih mesin pesawat terbang. Dengan demikian risiko kegagalan sistem maupun komponen sebuah mobil pribadi tidak akan terlalu fatal jika dibandingkan kegagalan yang terjadi pada pesawat terbang. Jika mobil pribadi tersebut kehilangan kontrol kendali, mungkin akibatnya akan terjadi kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan mobil pribadi, baik tunggal atupun berakibat kepada kendaraan lain masih tetap menyisakan harapan hidup bagi para korbannya. Memang dalam situasi terparah, korban dapat mengalami luka fisik parah hingga meninggal. Akan tetapi faktor pertolongan dari pihak lain dapat dilakukan dengan lebih cepat.

Bandingkan dengan sebuah pesawat terbang. Setiap pesawat terbang dilengkapi dengan kecanggihan sistem operasional dalam kondisi normal maupun kedaruratan untuk memastikan tingkat keselamatan yang tinggi. Untuk sebuah pesawat terbang dengan teknologi yang jauh lebih canggih dan kompleks jika dibandingkan dengan sebuah mobil pribadi, sistem tersebut tentu jauh lebih canggih pula. Akan tetapi bayangkan apa yang terjadi jika terdapat sebuah kegagalan sistem maupun komponen pada sebuah pesawat terbang!

Dalam hal pesawat mengalami suatu kegagalan, maka sistem antisipasi akan bekerja untuk menormalisasi keadaan. Akan tetapi apabila sistem tersebut gagal menjalankan fungsinya, kegagalan tidak dapat terhindarkan dan terjadilan kecelakaan. Dengan posisi operasional pesawat pada ketinggian tertentu dari permukaan bumi, kita semua dapat membayangkan pesawat tidak sempat melakukan pendaratan darurat dan akhirnya akan jatuh di suatu tempat pada permukaan bumi. Banyak kemungkinan dimana sebuah pesawat yang mengalami kecelakaan akan terjatuh, bisa di darat bisa di perairan, bisa di gunung bisa di lembah. Dan apabila sebuah pesawat jatuh, maka kemungkinan pesawat akan hancur sangat tinggi sehingga kemungkinan selamatnya korban penumpang di dalamnya justru semakin kecil.

Rumusan bakunya adalah semakin tinggi teknologi, maka tinggi konsekuensi kegagalan yang mungkin terjadi. Semakin canggih teknologi, semakin tinggi pula risiko kegagalannya. Dalam dunia rancang bangun teknologi, risiko merupakan kombinasi antara peluang terjadinya kegagalan dengan konsekuensi akibat terparah dari sebuah kegagalan. Oleh karena itu, untuk memastikan tingkat keselamatan sebuah sistem, maka semakin canggih teknologi selalu diimbangin dengan potensi atau peluang risiko kegagalan yang semakin rendah. Sebuah sistem dengan tingkat peluang risiko kegagalan yang semakin rendah dikatakan memiliki tingkat kehandalan sistem yang semakin tinggi.

Contohnya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). PLTN merupakan salah satu contoh penrapan teknologi tingkat tinggi. Struktur, sistem dan komponen sebuah PLTN diracancang sedemikian rupa sehingga memiliki tingkat kehandalan yang sangat tinggi. Kegagalan teknologi PLTN yang paling parah akan berdampak terjadinya kontaminasi atau tercemarnya lingkungan sekitar akibat adanya kebocoran zat radioaktif dari dalam sistem. Dampak dari pencemaran radiasi tersebut mengharuskan lingkungan harus didekontaminasi, penduduk harus dievakuasi, segala produk yang tercemar harus dimusnahkan, dan yang pasti lingkungan terkontaminasi tidak boleh ditinggali warga hingga tingkat kontaminasi mencapai tingkat aman.

Konsekuensi dampak keparahan teknologi PLTN diimbangi dengan tingkat kehandalan struktur, sistem dan komponen yang tinggi. Teknologi PLTN yang saat ini diaplikasikan memiliki tingkat peluang risiko kegagalan yang sangat kecil, yaitu 10-5 (satu per seratus ribu) tahun reaktor. Angka ini memiliki arti dari 100 ribu PLTN yang diopersionalkan, ada peluang satu diantaranya akan mengalami kegagalan yang dapat berakibat timbulnya kecelakaan nuklir.

Demikian halnya penerapan teknologi tinggi pada pesawat terbang, termasuk pada Sukhoi Superjet 100 yang mengalami kecelakaan di gunung Salak. Dari sudut desain teknologi, peluang terjadinya kegagalan teknologi pada sebuah pesawat terbang ditekan serendah mungkin. Jika dari sisi teknologi sudah memiliki tingkat kehandalan yang sangat tinggi, namun dari sisi operator yang menjalankan seringkali terjadi faktor human error yang berakibat fatal. Dalam kasus Sukhoi Superjet 100 ini, tindakan menurunkan ketinggian pesawat dari 10.000 kaki menjadi 6.000 kaki mungkin menjadi penyebab pesawat menabrak tebing gunung Salak. Sesenior ataupun sepengalaman apapun sang pilot yang berkaliber dunia, namun bila ia melakukan kesalahan prosedur maka habislah riwayat pesawat yang dipilotinya.

Setinggi apapun kecanggihan teknologi yang diciptakan manusia, setinggi apapun ilmu pengetahuan penerbangan yang dikuasai manusia, setinggi apapun ketinggian langit yang bisa didaki, namun di atas tingginya pesawat Sukhoi Superjet 100 terbang masih ada Yang Maha Tinggi. Dengan demikian hikmah penting yang harus kita petik bersama dari peristiwa kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 adalah manusia harus tetap berendah hati di hadapan Tuhan.

Ngisor Blimbing, 13 Mei 2012