Antara Candi Mendut dan Rara Mendut

Mendut merupakan nama sebuah desa dengan landmark Candi Mendut. Candi ini terletak tidak jauh dari tepian beberapa daerah aliran sungai besar, seperti Kali Progo, Elo dan Pabelan. Candi Mendut merupakan satu kesatuan rangkaian tri candi yang meliputi Mendut, Pawon dan Borobudur. Berdasarkan keterangan pada Prasasti Karangtengah, Candi Mendut dibangun oleh Raja Indra dari Dinasti Syailendra pada tahun 824 M.

Mendut2

Secara administrasi kepemerintahan, Mendut merupakan sebuah kesatuan pemerintahan setingkat desa atau kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Lokasi Candi Mendut berada tepat di sisi utara Jalan Mayor Kusen yang merupakan jalur akses utama menuju Candi Borobudur dari arah Yogyakarta. Dari segi kesejarahan dan fungsionalitasnya di masa kini, Candi Mendut memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan candi-candi Budha yang lain, termasuk Borobudur.

Dalam lakon pementasan seni kethoprak di panggung-panggung rakyat yang di masa lalu banyak dipentaskan di dusun-dusun seputar Merapi-Merbabu, termasuk melalui siaran TVRI Jogjakarta, dikenal pula lakon cerita Rara Mendut. Siapakah Rara Mendut? Apakah gadis berparas cantik ini ada hubungannya dengan Candi Mendut?

Mendut4 Mendut1

Dari pendalaman terhadap lakon cerita dalam pementasan kethoprak tersebut, Rara Mendut adalah seorang anak perawan dari sebuah dusun terpencil di pesisir Bhumi Pati. Kecantikan paras rupanya yang menawan menjadikannya buah bibir di kalangan masyarakat luas. Kabar buah bibir itupun sampai ke telinga Sang Adipati Pragola, penguasa Pati. Dengan cara paksa, Rara Mendut diglandhang oleh para punggawa kadipaten untuk dijadikan selir Adipati Pragola. Kisah klasik ini seolah mengulang cerita kelam perampasan Ken Dedes oleh Akuwu Tunggul Ametung di masa akhir Kediri.

Belum sempat Rara Mendut dipersunting oleh Adipati Pragola, bala tentara Sultan Agung Mataram datang menyerang puri kadipaten yang dianggap mbalelo alias makar terhadap penguasa pusat. Singkat cerita Pati mengalami kekalahan telak dan semua harta benda dirampas sebagai pampasan perang, termasuk para istri, selir dan putri kadipaten. Nasib buruk tersebut juga menimpa Rara Mendut.

Rara MendutAkhirnya Rara Mendut diboyong ke Mataram. Atas jasa panglima perangnya, Sultan Agung berkenan menghadiahkan Rara Mendut kepada Tumenggung Wiraguna. Seorang panglima perang sangat senior yang juga sudah melewati umur setengah baya. Meskipun “diinginkan” oleh para bangsawan, tetapi hati nurani Rara Mendut senantiasa berontak dan ingin melepaskan diri dari belenggu perbudakan yang menimpanya.

Karena selalu menolak Wiraguna, lama kelamaan kesabaran sang tumenggung mendekati puncak kejengkelannya. Terlebih dengan sombong Rara Mendut menyatakan akan menebus diri dengan berapapun harga yang diajukan Wiraguna. Akhirnya penjagaan terhadap Rara Mendut diperlonggar dan untuk mengumpulkan sejumlah uang tebusan yang sebenarnya tidak akan mungkin dikumpulkannya dengan cara kerja apapun, ia kemudian berjualan rokok lintingan klobot. Rokok Rara Mendut bukan sembarangan dan seumumnya rokok di jamannya. Apa istimewanya?

Rokok yang dijual Rara Mendut sebenarnya lebih tepat tidak lagi disebut rokok. Rokok yang dijualnya adalah rokok yang sebelumnya telah dihisap dengan bibir merah rekahnya. Jadi para pembeli rokok yang gila itu sebenarnya hanya membeli tegesan alias sisa rokok dari Rara Mendut. Namun demikian, karena kecantikan Rara Mendut telah terkenal dan kondhang kaloka di seluruh negeri Mataram, maka tidak ada satu lelakipun yang merasa dirugikan atau berkeberatan. Mereka justru merasa tersanjung dapat menikmati tegesan sambil membayangkan kecantikan Rara Mendut di balik bayang silhuet kelambu yang terpasang remang-remang sebagai batas hijab antara si penjual dan pembeli di tengah pasar yang sengaja dipersyaratkan oleh Wiraguna agar kecantikan Rara Mendut tidak terobral murahan.

Akhirnya bertemulah Rara Mendut dengan sosok pemuda Pranacitra. Dialah cinta sejatinya yang kemudian membawanya lari dari kotaraja. Mengetahui simpanannya lepas bersama pemuda ingusan, Wiraguna segera mengejar pelarian Rara Mendut. Nasib kemudian mempertemukan sepasang kekasih muda itu dalam tikaman keris Wiraguna, tepat senja tiba di pesisiran Laut Selatan.

Mendut3

Selain sebagai sebuah skenario kethoprak yang tergali sebagai warisan para winasis di masa lalu, cerita cinta klasik Rara Mendut juga pernah diangkat sebagai sebuah novel, antara lain oleh Romo Mangun dan Ajip Rosidi. Rama Mangun dalam fantasinya mengenai Rara Mendut bahkan membuatnya dalam trilogi novel Rara Mendut, Lusi Lindri, dan Genduk Duku. Trilogi ini mengangkat kisah Rara Mendut secara lebih komperhensif dengan menyertakan penggambaran yang sangat luar biasa mengenai sosok Amangkurat I dengan segala tindak-tanduk dan kebijakan politiknya sebagai penerus yang masih tersembunyi di balik kelamnya tembok-tembok istana yang sangat misterius.

Jadi sangat berbeda dengan kisah cinta Rara Jonggrang yang dikaitkan dengan Candi Rara Jonggrang atau yang lebih dikenal sebagai Candi Prambanan dibandingkan hubungan antara Candi Mendut dan Rara Mendut. Kesimpulan akhirnya adalah, sama sekali tidak ada hubungan kisah secara langsung antara Candi Mendut dan Rara Mendut.

Kuta, 11 September 2013

Resensi Buku Magelang Membaca

Magelang kota adalah secuil wilayah yang terapit diantara Kali Progo dan Kali Elo. Dataran seluas tidak lebih dari 18 km2 itu menjadi sebuah kesatuan pemerintahan Kota Magelang. Posisinya yang dikelilingi gunung di empat penjurunya ditambah dengan keberadaan gunung Tidar yang senantiasa menghijau membawa hawa kesejukan di setiap penjuru kota, meskipun Magelang berkembang menjadi kota yang cukup padat.

MagelangMembacaMagelang menjadi penting bagi perkembangan pulau Jawa maupun Indonesia pada umumnya, bahkan jauh semenjak awal pemerintahan Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Raffles pada tahun 1811. Semenjak itu pula, wilayah Magelang dijadikan sebuah kesatuan kepemerintahan setingkat kabupaten di bawah Bupati Danoeningrat I. Letak geografis yang berada di pertengahan jalur utama Jogja-Semarang menjadikan Magelang berkembang dinamis dari waktu ke waktu, dari jaman hingga jaman selanjutnya. Magelang adalah kota pertanian, ekonomi, kota jasa, bahkan juga kota militer. Peran strategis ini seolah menjadi sebuah penguatan akan makna gunung Tidar sebagai pakuning Tanah Jawa. Continue reading “Resensi Buku Magelang Membaca” »

Klenteng Hok An Kiong Muntilan

Gong Xi Fat Chai! Itulah ucapan Selamat Tahun Baru China yang dirayakan sebagai Hari Imlek. Semenjak pemerintahan Gus Dur, Hari Raya Imlek diperingati secara terbuka oleh sedulur-sedulur etnis Tionghoa. Imlek kemudian dikenal secara lebih luas oleh kalangan masyarakat. Tradisi Imlek menjadi lebih inklusif. Imlek, selanjutnya sebagaimana Hari Raya Lebaran, menembus batasan ruang agama, suku dan ras. Imlek menjelma menjadi event budaya bersama. Perayaan Imlek menjadi penegas pluralitas masyarakat sekaligus menjadi penyatu dan tali perekat diantara anak bangsa suku pribumi dan Tionghoa, sehingga yang ada adalah kita, anak bangsa Indonesia.

KlentengMtl2

Muntilan, sebuah kota diantara Jogjakarta dan Magelang, merupakan sebuah pusat perekonomian yang ditopang dengan komoditas pertanian yang berlimpah. Hamparan wilayah yang membentang diantara kaki Merapi dan Merbabu hingga tepian Kali Progo merupakan kawasan pertanian yang sangat subur sebagai anugerah abu vulkanik gunung api teraktif di dunia. Selain sebagai daerah lumbung padi dan aneka macam sayur-mayur, wilayah di sekitar Muntilan juga menghasilkan komoditas tembakau dan klembak. Dua-duanya merupakan bahan dasar racikan rokok.

Lalu siapakah orang-orang yang berperan memperdagangkan tembakau dan klembak tersebut? Merekalah para saudagar keturunan etnis Tionghoa yang sudah secara turun-temurun menjadi bagian warga kota Muntilan. Tidak begitu jelas kapan asal-muasal keberadaan mereka di Muntilan, namun bisa diyakinkan mereka sudah tinggal di kota ini semenjak awal cikal bakal perkembangan kota. Maka seiring perjalanan waktu terjadilah pembauran dan akulturasi kehidupan sosial budaya, khususnya dengan warga suku Jawa.

KlentengMtl3Pembauran tidak hanya terbatas dalam hubungan perdagangan dan penyediaan jasa, bahkan banyak terjadi perkawinan campuran diantara penduduk lokal dengan warga keturunan China. Maka tidaklah mengherankan, jika dalam silsilah generasi yang lebih muda, mereka seringkali menggunakan dua nama dalam bahasa Tiongkok dan Jawa. Bahkan penulis di bangku SMP memiliki banyak teman anak keturunan yang memiliki nama Jawa, seperti Edi Saputro dan Broto. Mereka masih kerabat dan cucu dari Bah Tekek maupun Babah Liong.

Pada awalnya keberadaan masyarakat China di Muntilan bertempat tinggal pada satu jalur kawasan Pecinan yang kini dikenal sebagai Jalan Pemuda. Jalan ini merupakan jalan protokol yang membentang dari Kali Blongkeng hingga Kali Pabelan. Di sepanjang jalan inilah berderetan toko maupun tempat usaha penyedia jasa yang kebanyakan dimiliki warga China. Di pertengahan Jalan Pemuda, tepat di sisi kanan jika kita mengikuti jalur utamadari arah Jogja, akan dijumpai sebuah bangunan khas bernuansa merah ngejreng. Itulah bangunan ibadah untuk penganut kepercayaan Khong Hu Cu yang dikenal masyarakat luas sebagai klentheng.

Resminya klentheng yang berada di Muntilan tersebut bernama Klentheng Hok An Kiong. Dulu, di sekitar tahun 90-an, klentheng Hok An Kiang menyatu dengan area bioskop Kartika Theater yang menjadi sarana hiburan yang sangat ramai di masa itu. Bagi masyarakat umum di kala itu, klentheng merupakan sebuah bangunan yang sangat asing dan sangat tidak terjangkau bagi pengetahuan awam. Bahkan bagi masyarakat yang sering mengunjungi Kartika Theater, mereka kebanyakan tidak paham mengenai Klentheng Hok An Kiang. Masyarakat hanya berpikir bahwa tempat yang terjepit bangunan lain itu bernama klentheng dan menjadi tempat ibadah penganut agama Kong Hu Cu.

KlentengMtl1

Setelah bioskop Kartika Theater dibongkar, lebih dari sepuluh tahun yang lalu, Klentheng Hok An Kiang kini memiliki halaman yang sangat luas membentang di depan klentheng hingga tepian jalanan utama. Dengan gerbang pintu masuk berupa gapura besar dan gagah dengan dominasi warga merah membara menjadikan Klentheng Hok An Kiang nampak anggun, gagah dan bersahaja jika dilihat saat sekilas melintas di Jalan Pemuda.

Keberadaan halaman yang sangat luas memungkinkan tempat ini menjadi arena yang sangat ramai pada saat peringatan Cap Go Meh, beberapa hari pasca Tahun Baru Imlek. Di sana pulalah tempat digelarnya pentas barongsai dan liong. Kini setelah Imlek dan Cap Go Meh menjadi budaya milik masyarakat umum, maka pada waktu dilakukan pentas barongsai dan liong, halaman klentheng selalu menjadi lautan manusia yang ingin menyaksikan kelucuan dan ketangkasan sang barongsai maupun liongnya. Semua tumpah ruah mirip lautan cendol. Jika genderang gendang telah berkumandang dan diiringi dengan kemerincing kincring, semua masyarakat seolah ditarik magnet sangat kuat untuk segera hadir mengitari halaman klentheng. Bagi orang Jawa, barongsai dapat dipersamakan dengan barongan yang merupakan bagian dari kesenian janthilan khas Magelangan.

Bangunan utama klentheng memang masih mempertahankan arsitektur aslinya. Meskipun tentu saja sudah pernah dipugar beberapa kali, namun keaslian bangunan klentheng seolah tidak berubah, kekal sepanjang jaman. Dibandingkan dengan bentangan halaman yang luas, bangunan utama klentheng justru nampak mungil agak ke belakang, tepat segaris lurus dengan gerbang gapura utama. Jika ingin bangunan utama nampak gagah melengkapi kegagahan gapura gerbang utama, mungkin banguan utama perlu dipugar dan diperbesar lagi tanpa meninggalkan keasliannya.

Sampeyan tertarik dengan banguan bersejarah di kota Muntilan? Jangan pernah lupa untuk mengunjungi Klentheng Hok An Kiang. Kita akan dibawa kepada nuansa alam yang dilingkari dengan kemasyuran negeri Tirai Bambu.

Ngisor Blimbing, 14 Februari 2013

Rekam Jejak Bala Tidar 2012

Malam terakhir di penghujung tahun ini berselimut mendung. Letihnya raga menjalani beberapa penggawean membuat diri ini, sebagaimana di tahun-tahun yang lain, lebih memilih menyambut tahun baru dengan berdiam diri di tepi kesunyian. Merenung dan mawas diri, mengukur panjang jalan yang telah tertempuh setahun penuh. Ada suka, ada duka. Ada canda, ada tawa, ada pula air mata. Rupanya Tuhan telah menganugerahkan warna-warni kehidupan yang membuat hidup saya terasa semakin hidup.

Sebagai pribadi blogger yang menjadi bagian besar sedulur-sedulur Bala Tidar, sudah pasti setahun ke belakang ini ada catatan dan goresan khusus yang akan terukir sejati menjadi bagian kisah hidup yang tidak akan pernah terhapuskan. Tahun 2012, bagi sebagian besar sedulur Bala Tidar, mungkin menjadi tahun yang sedikit redup dengan minimnya momentum kebersamaan yang semakin jarang bisa menyatukan Bala Tidar di dunia off line. Namun demikian, kami  semua nampaknya harus senantiasa mengucapkan syukur kepada Gusti Alloh yang telah menakdirkan beberapa diantara kami tetap memiliki kencenging pikir dan komitmen kuat untuk tetap berpegang dalam tali paseduluran yang kami ikrarkan tanpa batas.

Beberapa catatan yang dapat saya rangkumkan dari tandang gawe dan kiprahnya Bala Tidar di ranah jagad padhang, diantaranya adalah:

panti_ar_rahmanBulan Januari. Meskipun awal tahun, namun Bala Tidar sudah membulatkan tekad dan langkah untuk kembali menggelar Lomba Menulis dan Seminar Pendidikan (LMSP 2012). Beberapa persiapan sudah mulai dilakukan di bulan ini, mulai dari pematangan konsep, perencanaan kegiatan, sosialisasi, bahkan pencarian mitra dan sponsor.  Di samping persiapan LMSP, beberapa sedulur Bala Tidar juga terus aktif berbagi pengetahuan dan keterampilan komputer kepada adik-adik di Panti Asuhan Ar Rahman, khususnya dilakukan pada setiap Jum’at sore.

Februari, bulan yang cukup sibuk dengan sosialiasi LMSP. Meskipun Bala Tidar yang turut turun tangan menggawangi kegiatan ini bisa dibilang sangat sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun semangat juang mereka sangat-sangat luar biasa. Tak lelah satu per satu sekolahan dikunjungi untuk mengedarkan undangan lomba dan seminar. Demikian halnya dalam gerilya mencari dukungan sponsor. Para pahlawan relawan sejati ini tak mengenal pamrih sedikitpun dalam menjalankan amanat di pundaknya. Tidak hanya pikiran dan tenaga dicurahkan, bahkan uang bensin dan transportasi tidak pernah dihitung. Kami “bekerja bakti” dengan prinsip rame ing gawe lan sepi ing pamrih.

 lm2012banner lmsp2012

Maret hingga pertengahan April adalah rentang waktu pelaksanaan lomba menulis tingkat pelajar yang mengangkat tema “Membaca Alam Membaca Kalam”. Hari demi hari selalu dihitung oleh sedulur Bala Tidar dengan penuh perasaan dagdigdug dan kekhawatiran yang mendalam. Hingga minggu ke tiga, belum juga ada tulisan yang dikirimkan peserta lomba. Namun demikian, di hari-hari terakhir justru datang kiriman naskah lomba berlomba-lomba. Barangkali memang kultur masyarakat kita yang suka nyrempet-nyrempet waktu dateline dalam urusan tanggung jawab, ataupun pekerjaan apapun. Meskipun tidak terjadi peningkatan jumlah peserta lomba secara signifikan, namun kami tetap patut bersyukur bahwa itikad dan kerja kami tidak sia-sia, bahkan mendapatkan perhatian dari beberapa kalangan.

images Kawagoe-3 Asakusa-6 Meiji Shrine-1

Di pertengahan bulan Maret, atas anugerah yang tiada terkira dari Kang Hakarya Jagad, saya berkesempatan melanglang ke negeri Jepang. Kepergian saya tersebut dalam rangka mengikuti program pertukaran antar pemuda (JENESYS Programme) se-ASEAN, Asia Timur, Asutralia dan Selandia Baru atas undangan dari Japan Foundation. Bukan secara kebetulan karena kehadiran saya di forum tersebut berkenaan langsung dengan aktivitas selaku citizen journalist atau independet journalist. Selama dua minggu penuh, kami serombongan diajak berkeliling setengah wilayah Jepang, mulai dari Tokyo hingga pulau Kyusu di ujung selatan. Beberapa tempat yang saya kunjungi diantaranya METI, Asakusa, Meiji Jingu Shrine, Ginza, Kawagoe, Haneda, Panasonic, PLT Geothermal Haccobaru, Beppu, Mitsubishi, Yokohama, hingga Osaka. Sarana transportasi domestik Jepang yang sempat saya nikmati diantaranya ANA Air dan kereta super cepat Shinkanzen. Inilah rejeki nomplok selaku blogger yang pernah saya rasakan.

Di penghujung bulan April, ada dua event penting di jagad perbloggeran yang sempat saya hadiri. Momentum pertama adalah acara Intip Buku dan peluncuran bukunya Om Jay yang berjudul Menulis setiap Hari dan Merasakan Apa yang Akan Terjadi. Dalam acara tersebut hadir narasumber beberapa blogger tenar, diantaranya Kang Pepih Nugraha (wartawan Kompas), Imam FRK (mahasiswa penulis), Taufiq Effendi (Dosen muda UNJ), Prayitno Ramlan (purnawirawan TNI AU), Johan Wahyudi (pendidik), Iskandar Zulkarnain (Kompasiana). Sungguh sebuah momentum kopdaran yang luar biasa penuh taburan butiran ilmu dan pengetahuan.

 iB3 FTIK1

Masih di bulan April, saya juga berkesempatan mewakili sedulur Bala Tidar di perhelatan Wilujeng Surfing yang digelar di STT Telkom Bandung. Acara yang berlangsung selama 2 hari ini berisi puluhan workshop dan seminar yang berkaitan langsung dengan dunia IT. Yang paling menyenangkan di acara ini adalah hadirnya ratusan blogger dari seluruh penjuru Nusantara, meski tentu saja didominasi dari pulau Jawa. Di sana pulalah saya bertemu dengan banyak dedengkot blogger Indonesia, seperti Pakdhe Blonthang, Kang Kombor, Gajah Pesing, arek TPC, Ponorogo, Plat-M, Bengawan, Pak Nukman, dll. 

juara1_sma juara1_smp juara2_smp  IMG_5543  juara3_smp juara2_sma juara3_sma

Mei adalah puncak gawe-nya Bala Tidar. Bertempat di Gedung Wanita, kami menghelat acara Seminar Pendidikan bertema Pusaka di Balik Pustaka:”Revitalisasi Budaya Membaca”. Bekerja sama dengan Perpustakaan Daerah Kota Magelang dan beberapa sponsor, seperti Telkomsel Magelang, Polaris FM, dan Pandi, seminar dihadiri sekitar 150-an peserta. Hadir selaku narasumber adalah Ibu Sugiarti (Perpusda Kota Magelang), Sholahudin Al Ahmed(Suara Merdeka), Lusia Dayu (NBC Magelang) dan Pakdhe Blonthang (Bengawan). Meskipun dari segi kepanitiaan sangat minimalis sehingga kami yang ber-10 harus jungkir balik mengurusi setiap detail seminar, namun kamu bersyukur acara dapat berjalan dengan lancar. Inilah catatan sukses terbesar kami di tahun 2012 ini.

Juni hingga Juli nampaknya menjadi hari dan bulan relaksasi Bala Tidar, selepas puncak kegiatan LMSP 2012. Namun demikian, sebagai komitmen dari panitia untuk dapat menerbitkan naskah-naskah lomba yang masuk mengikuti kompetisi dalam sebuah buku, maka beberapa diantara Bala Tidar tetap sibuk mengurusi penyuntingan dan desain buku. Sayangnya hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai keberlanjutan proyek tersebut.

Agustus merupakan penghujung bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal. Meskipun tidak ada agenda Lailatul Kopdar sebagaimana dua tahun sebelumnya, namun masing-masing kami sibuk menyelami hadirnya Lailatul Qodar dengan cara kami masing-masing. Di awal bulan Agustus, saya sempat menghadiri MODIS (Monthly Disscussion) yang digelar oleh Kompasiana di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mengangkat tema Pengelolaan Sampah. Memasuki Hari Lebaran, beberapa Bala Tidar sempat Kopdar Syawalan di Ringin Tengah Alun-alun Magelang, yang dilanjutkan dengan menikmati bersama Festival 1000 Balon di Masjid Agung Payaman. Atas undangan Komunitas Kota Toea Magelang, perwakilan Bala Tidar juga sempat mengikuti Temoe Kangen Kerabat Kota Toea Magelang di rumah makan Voor de Tidar.

13440955111291832518 HutBeBlog4 copy 1347148049883288822

September menjadi momentum penting bagi Komunitas Blogger Bekasi (Be-Blog) karena mereka memperingati HUT ke-3. Bertempat di Balai Patriot Kota Bekasi, saya sempat menghadiri perayaan HUT yang mengambil tema “Semangat Kebersamaan dalam Harmoni Perubahan”. Uraian menarik mengenai bagaimana menjadi Blogger yang Sukses dan Mulia diuraikan oleh Jamil Azaini, seorang motivator yang juga menekuni dunia blog.

Bulan Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah bagi blogger di Indonesia. Di bulan inilah diperingati Hari Blogger Indonesia yang telah ditetapkan setiap tanggal 27 Oktober, semenjak tahun 2007 di Pesta Blogger I. Dalam rangka Hari Blogger itulah, saya sempat mewakili Bala Tidar untuk turut hadir di acara seminar dengan tema “Merumuskan Bahasa dalam Media Online dan Jurnalisme Warga”, pada hari Sabtu, 20 Oktober 2012, bertempat di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta. Hadir selaku narasumber dalam acara tersebut Masmimar Mangiang (Dosen Komunikasi UI), Pepih Nugraha (Manajer Redaktur Kompas), dan Ivan Lanin (Wikipedia Indonesia).

  GajahMada BN1 BN2012-1 FR1

November memiliki Hari Pahlawan. Di momentum tanggal itu pulalah digelar Kopdar Akbar Blogger Nusantara II di Makassar, Sulawesi Selatan. Tantangan yang sangat berat bagi sebagian blogger Nusantara untuk dapat turut hadir di kopdar terbesar yang digelar di luar pulau Jawa. Namun demikian, demi menyambukang tali silaturahmi saudara sebangsa setanah air, saya berangkat memenuhi panggilan dari Daeng Ipul dari Komunitas Anging Mammiri. Kopdar akbar yang dihadiri lebih dari 600a-an blogger tersebut berlangsung selama dua hari yang diisi dengan sesi seminar dan workshop, serta anjangsana wisata di sekitaran Makassar.

Desember….hmmm. Di bulan ini saya pribadi nihil dari aktivitas kopdar blogger. Di penghujung tahun, 31 Desember 2012, kembali perjalanan pengelanaan blogger saya ingat dan rekam kembali ke dalam postingan ini. Semoga ke depan kita semua di barisan Bala Tidar dapat lebih komitmen dan konsisten dalam menjalani amalan ibadah di jalur blog ini, sehingga dapat mencetuskan ide-ide positif yang akan menjelma menjadi program maupun agenda yang bermanfaat untuk sesama. Monggo sedulur! Salam Blogger !

Ngisor Blimbing, 31 Desember 2012

Kata Pengantar Buku Membaca Alam, Membaca Kalam

Anugerah limpahan karunia nikmat Tuhan teramat indah dan tiada terkira hingga sudah menjadi kewajiban kita sebagai makhluk-Nya untuk senantiasa memanjatkan puja, puji, dan rasa syukur kehadirat-Nya. Demikian halnya, kesempatan atas terselenggaranya Lomba Menulis Tingkat Pelajar SLTP-SLTA se-Magelang Raya tahun 2012 dengan tema “Membaca Alam, Membaca Kalam”, yang hasilnya tersusun menjadi kumpulan naskah yang hadir sebagai sebuah buku di tangan Anda ini adalah satu kegembiraan yang sangat luar biasa.

Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang hadir dari rasa keprihatinan sekelompok rekan muda Bala Tidar yang melihat betapa seribu satu potensi yang dimiliki Magelang masih tersembunyi di balik rimba belantara dan belum tergarap dengan kemajuan dunia informasi yang melaju sangat cepat. Dorongan tersebut kemudian melahirkan banyak postingan tulisan bertema magelangan yang didokumentasikan melalui portal http://www.pendekartidar.org. Di samping menulis secara internal, komunitas ini ingin berpartisipasi memajukan minat membaca dan menulis di kalangan remaja Magelang. Salah satu langkah strategis yang kemudian rutin dilakukan adalah penyelenggaraan lomba menulis antar pelajar yang digelar setiap tahun, bertepatan dengan HUT Komunitas Blogger Pendekar Tidar.

Pada kesempatan HUT ke-III tahun 2012 ini, kembali digelar Lomba Menulis Tingkat Pelajar SLTP-SLTA se-Magelang Raya yang memfokuskan tema “membaca”. Membaca adalah pintu gerbang ilmu pengetahuan. Bangsa yang memiliki tradisi dan minat baca yang baik terbukti menjadi bangsa yang tampil ke depan memimpin kemajuan peradaban manusia, maju secara ekonomi, makmur dan sejahtera.

Membaca adalah risalah wahyu pertama yang diperintahkan untuk manusia. Ayat Tuhan yang harus dibaca manusia terdiri atas ayat-ayat kauliyyah (kalam) dan ayat-ayat yang bersifat kauniyyah (alam). Membaca Alam, Membaca Kalam! Membaca adalah mencermati setiap hal yang bisa dicerna panca indera, untuk kemudian dicerna, diolah, dan dianalisis dengan otak untuk menjadi ilmu pengetahuan yang dapat berdaya guna untuk meraih hidup yang lebih baik, baik untuk hari ini, esok, dan di masa depan.

Para remaja dan pemuda adalah generasi masa depan yang akan mengemban amanah peradaban manusia. Namun sebagaimana pada lapisan masyarakat yang lain, minat baca di kalangan anak muda nampaknya masih jauh dari menggembirakan. Terlebih dengan hadirnya kemajuan dunia informasi saat ini, membaca buku tekstual semakin menjadi hal yang langka karena tergantikan dengan informasi digital. Kemajuan teknologi informasi menjadi tantangan dengan segala peluang dan sisi kekurangannya.  Teknologi informasi dapat menyediakan informasi dengan cepat dan akurat. Namun demikian, seringkali informasi yang sepotong-potong harus diramu dan diolah kembali menjadi sebuah pemahaman yang utuh. Sisi inilah yang seringkali lebih intensif dapat mencetak pemikiran yang kritis, analitis, dan lebih komprehensif jika dilakukan dengan membaca buku tekstual.

Menjadi sangat menarik untuk mencermati bagaimana persepsi, pendapat serta sudut pandang remaja dan pemuda masa kini terkait dengan minat baca yang mereka pahami, tentu saja dikaitkan dengan tantangan jaman yang mereka hadapi pada saat ini dan di masa depan. Kumpulan naskah “Membaca Alam, Membaca Kalam” yang hadir di tangan Anda ini paling tidak bisa mewakili satu sisi potret mengenai hal itu, khususnya di wilayah Magelang. Semoga hadirnya buku ini bisa bermanfaat untuk kita semua.

Manusia memang tiada yang sempurna. Adalah sebuah kewajaran yang sangat manusiawi apabila dalam penyusunan buku inipun terdapat banyak kekurangan dan kekhilafan. Untuk itu, saran, kritik dan masukan yang membangun tentu saja akan kami terima dengan lapang dada dan tangan terbuka untuk perbaikan langkah ke depan.

Buku “Membaca Alam, Membaca Kalam” ini kami persembahkan dari Magelang untuk Indonesia tercinta.

Ngisor Blimbing, 1 Juli 2012

Hasil Survey Pelaksanaan Seminar

PUSAKA DI BALIK PUSTAKA

Gedung Waninta Magelang, 6 Mei 2012

Beberapa poin penting terkait dengan penyelenggaraan seminar dimintakan pendapatnya kepada peserta seminar melalui pengisian angket pada sesi akhir seminar. Peserta seminar yang nmenjadi responden jajak pendapat ini sebanyak 109 orang. Selengkapnya hasil jajak pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

Darimana Anda mengetahui seminar ini?

Apa yang menurut Anda paling menarik dari seminar ini?

 Apakah tema seminar yang diangkat bermanfaat bagi Anda?

Bagaimana uraian dari pembicara?

Apakah menurut Anda seminar ini bermanfaat?

Apakah seminar sejenis perlu dilaksanakan lagi di waktu mendatang?

Menurut Anda, kapan waktu yang paling sesuai untuk pelaksanaan seminar?

 Sebutkan kelebihan/kekuatan seminar ini!

  1. Tema dan materi menarik; tema sesuai profesi; tema mendidik;
  2. Judul seminar mengguggah;
  3. Narasumber dari kalangan jurnalis; pembicara kompeten/menarik; interaksi pembicara dan audience;
  4. Peserta seminar aktif; mempedulikan peserta; belajar berbaur dengan peserta lain; bertemu dengan penulis buku fiksi;
  5. Memberi motivasi untuk membaca dan menulis; menambah wawasan di bidang menulis; meningkatkan kreativitas menulis; mengetahui cara menulis di internet/blog; mengetahui cara menulis buku; menumbuhkan hobi menulis; memacu guru untuk membiasakan menulis; promosi jaringan penulis dan pembaca;
  6. Menambah pengetahuan dan wawasan; memberikan pencerahan dan inspirasi baru; membangkitkan semangat; meningkatkan daya pikir; membantu mengembangkan pola pikir;
  7. Mengetahui manfaat perpustakaan;
  8. Mengetahui manfaat internet; memberi pengetahuan tentang blogger; menambah pengetahuan untuk mengakses internet secara positif;
  9. Mengetahui seluk beluk dunia jurnalistik;
  10. Praktik menulis langsung;
  11. Pilihan waktu penyelenggaraan sesuai; tepat waktu;
  12. Doorprizenya banyak dan menarik;
  13. Ada promo internet; sponsor sangat antusias;
  14. Fasilitas mencukupi; harga terjangkau; ada sertifikat

  Sebutkan kekurangan/kelemahan seminar ini!

  1. Persiapan panitia kurang; paniti tidak pengalaman(pembagian hadiah, distribusi snack dan makalah);
  2. Pengemasan acara kurang menarik, terkesan monoton dan membosankan; peserta merasa bosan; Tidak ada selingan sehingga membuat ngantuk; terlalu formal;
  3. Perlengkapan kurang optimal; sound system kemresek; LCD kurang besar;
  4. Presentasi terlalu cepat dan tidak mengenai intinya; pembicara kurang akrab kepada peserta;  pembicara kurang dapat membaawa suasana; terlalu banyak pembicara; pemaparan materi kurang mendalam; jawaban pertanyaan tidak memuaskan penanya;
  5. Tidak on time? Waktu terbatas; acara terlalu lama; sesi jurnalistiknya kurang; waktunya terlalu lama;
  6. Tidak diawali dengan doa di awal acara;
  7. Kurang ramai;
  8. MC kurang komunikatif; Dua MC conect-nya lambat; Tema lebih ditekankan daripada iklan;
  9. Biaya agak mahal untuk mahasiswa dan pelajar; peserta kalangan pelajar sedikit;
  10. Hand out tidak lengkap di awal acara;
  11. Pengenalan biografi pembicara tidak memanfaatkan LCD;
  12. Kesempatan diskusi kurang; pemilihan penanya kurang adil;
  13. Tidak disertai bazar buku;
  14. Belum mengikutkan kepala sekolah;
  15. Sosialisasi kurang sehingga peserta terbatas;
  16. Snack kurang mantap;

 Apakah saran dan masukan Anda ke depan?

  1. Persiapan lebih matang; masalah teknis diminimalisasi;
  2. Pemberian handout, makalah, dan jadwal seminar di awal waktu; modul lebih lengkap;
  3. Sarana dan prasarana harus lebih baik; Sound system dipastikan bagus, LCD lebih lebar;
  4. Seminar dilanjutkan di waktu mendatang; penyelenggaraan teratur dan kontinyu; frekuensi seminar ditambah; kalau bisa seminar untuk guru bahasa Inggris; seminar setiap 2 bulan sekali atau satu tahun 3 kali;
  5. Perhatian khusus tentang pembuatan blog; Materi menulis karya ilmiah; materi e-learning harap dibahas khusus;
  6. Pengaturan waktu agak longgar; kesempatan diskusi ditambah; durasi seminar jangan terlalu lama;
  7. Diutamakan kepesertaan dari anak sekolah; diundang khusus siswa;
  8. Dipilih narasumber yang dapat mempersuasi dan mensugesti peserta; narasumber diperbanyak lagi; mengundang penulis sastra;
  9. Menciptakan suasana segar dalam seminar; perlu ada hiburan agar pikiran santai; beri selingan yang  menarik; MC lebih bersemangat dan berkomunikasi dengan audience;
  10. Diadakan bazar buku murah usai seminar; semua peserta mendapatkan buku baru;
  11. Diperbanyak doorprize;
  12. Panitia banyak-banyaklah senyum; keep spirite;
  13. Distribusi promosi lebih digalakkan; promo ke bimbel, tempat kursus, dan taman bacaan;
  14. Harus ada waktu istirahat;
  15. Perbanyak kegiatan semacam ini, sangat bermanfaat;
  16. Mewajibkan tiap-tiap sekolah ada perwakilan siswa-siswinya;
  17. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan paling awal dan harus ada yang memberikan aba-aba;

‘Intip Buku’, Menebar Spirit Menulis

Berawal dari mengintip website Be-Blog, nyasarlah saya pada sebuah postingan Om Jay yang mengajak untuk bergabung di acara Intip Buku. “Intip Buku berbeda dan tak sama dengan bedah buku!” demikian Om Jay sempat menjelaskan panjang lebar mengenai konsep acara Intip Buku. Pada intinya Intip Buku memaparkan seluk-beluk dan proses kreativitas di balik lahirnya sebuah karya tulis menjadi sebuah buku. Dengan demikian dapat dipastikan di acara tersebut bertabur sekian narasumber para penulis buku yang terang benderang memaparkan pengalaman masing-masing dalam berkarya tulis. Pada deretan pembicara ada Kang Pepih Nugraha (wartawan Kompas), Imam FRK (mahasiswa penulis), Taufiq Effendi (Dosen muda UNJ), Prayitno Ramlan (purnawirawan TNI AU), Johan Wahyudi (pendidik), Iskandar Zulkarnain (Kompasiana), dan sudah pasti sang empunya gawe Om Jay.

Dengan dukungan penuh dari iB (Islamic Banking) yang digawangi Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, acara Intip Buku berlangsung di Ruang Serba Guna Gedung Syafrudin Prawiranegara Lantai 3 Kawasan Perkantoran Bank Indonesia. Dukungan tersebut semakin mempertegas bahwa kalangan elit perbankan Indonesia-pun tak mau ketinggalan untuk turut mendukung pengembangan minat menulis di kalangan warga masyarakat (citizen reporter), terkhusus kalangan pendidik. Kenapa kalangan pendidik? Karena acara Intip Buku kepesertaannya didominasi oleh kalangan pendidik profesional alias para guru dengan jumlah sekitar 200-an. Sebuah jumlah yang fantastis, mengingat minat menulis di kalangan pendidik masih tergolong rendah saat ini.

Sesi pertama acara Intip Buku menampilkan tiga pembicara, masing-masing Kang Pepih Nugraha, Imam FRK, dan Taufiq Efendi, dengan moderator Amril Gobel.

Kang Pepih menyampaikan bahwa kunci untuk menulis adalah membaca. Ia, yang dibesarkan di tengah keluarga pendidik, semenjak kecil sudah sangat akrab dengan bahan bacaan. Sang ayah yang memiliki pandangan jauh terhadap masa depan anak-anaknya selalu “memarkirkan” terlebih dahulu buku baru yang diberikan ke sekolahannya, sebelum buku tersebut ditempatkan di perpustakaan sekolah. “Ini trik “licik”, tetapi kan niatnya baik”, tegas Kang Pepih.

Lebih jauh diungkapkan bahwa menulis bisa dimulai dengan hal yang kecil dan sederhana di sekitar kita. Modal utama untuk menjadi penulis adalah catatan harian. Dari catatan hari per hari bisa dirangkai sebuah kisah yang sangat menarik. Bisa juga bahan catatan harian tersebut dijadikan bahan penelitian atau analisis yang bisa memberikan pemikiran-pemikiran baru, original, dan solutif bagi sebuah permasalahan yang terjadi di tengah aktivitas kita sehari-hari. Karakteristik ini tentu sangat dekat dengan keseharian para guru, bahkan mungkin semua orang.

Sedikit membuka rahasia kenapa dirinya berhasil meraih profesi wartawan di harian yang bergengsi hari ini, Kang Pepih mengatakan bahwa semenjak remaja dirinya sudah memiliki opsesi dan cita-cita untuk menjadi wartawan. Dari sanalah spirit, komitmen, kedisiplinan, serta fokus langkahnya mantap menuju dunia jurnalistik yang hingga saat ini digelutinya. Lebih jauh menurutnya, dengan perkembangan media komunikasi, seperti blog, facebook, twitter dan lain-lainnya menjadikan menulis sudah menjadi hal yang common bagi semua orang. Menulis bukan lagi ekskusif milik para sastrawan, penyair, dan kaum jurnalist. Menulis sudah bisa dilakukan oleh semua orang awam. Menulis menjadi media untuk saling berbagi!

Khusus mengenai citizen jurnalism, Kang Pepih memiliki pendapat tersendiri. Baginya, merujuk dari bahasa Romawi, kata journal berawal dari makna catatan harian para senat di masa itu. Adapun jurnalistik merupakan ilmu menuliskan catatan harian. Dengan demikian seorang jurnalis harus menulis catatan harian setiap hari. Nah, inilah profesi yang dikerjakan oleh seorang wartawan. Kalau warga biasa apakah benar-benar bisa menuliskan catatan hariannya dengan penuh konsistensi? Istilah citizen reporter menjadi lebih pas daripada citizen journalism!

Manusia purba mati meninggalkan goresan tulisannya di batu dan dinding goa. Di masa kini manusia dapat menggoreskan tulisannya di kertas, bahkan di dunia maya. Macan mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, maka jadilah manusia meninggal yang meninggalkan karya tulisnya! Bahkan manusia mati akan meninggalkan “status”! Demikian Kang Pepih mengakhiri uraiannya.

Pembicara ke dua, Imam FRK, seorang mahasiswa yang bercita-cita menjadi penulis buku sebelum bergelar sarjana. Opsesi itu telah terwujud dengan terbitnya buku pertamanya “Jadi Jurnalis itu Gampang!” Pada awalnya ia sangat tertarik dengan perkembangan media blog. Dari dunia perbloggeran kemudian muncullah istilah citizen journalism. Merasa tertarik untuk tahu lebih mendalam mengenai citizen journalism, ia mencoba mencari referensi buku mengenai hal tersebut. Namun harapannya itu menjadi sebuah keniscayaan tatkala ia tidak bisa menemukan buku tersebut. Dari sanalah ia justru terdorong untuk menuliskan perspektifnya mengenai citizen journalism. Harapannya bukunya kelak bisa menjadi sedikit bahan rujukan.

Taufiq Effendi mendapat giliran menyampaikan pengalamannya di urutan ke tiga. Ia adalah seorang dosen muda pengampu bahasa Inggris di UNJ. Perjalanan hidupnya membawanya menjadi seorang tuna netra semenjak usia SMA. Dengan segala kekurangharmonisan hubungan keluarga yang dialaminya di masa lalu, ia banyak belajar bagaimana mendekati anak didik dari hati ke hati.

Selepas menyelesaikan pendidikan SMA, keluarga sempat menyarankannya untuk belajar menjadi tukang pijat. Ia sempat kecewa dengan hal itu. Singkat kata, akhirnya ia bisa diterima di UNJ Jurusan Bahasa Inggris. Dari sanalah ia memulai untuk mewujudkan mimpinya untuk dapat keliling dunia. Berawal dari menulis paper ilmiah ke sebuah international conference, ia mulai merambah luar negeri. Bahkan ia pernah mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan S-2 di London. Menulis kemudian menjadi bagian tidak terpisahkan dari kesehariannya.

Keterbatasan fisiknya memang sedikit menghambat minat baca tulisnya. Dapat dibayangkan, apabila ia ingin membaca sebuah buku, maka pertama kali ia men-scan buku tersebut. Setelah itu, hasil scanan dikonversi melalui sebuah software audio untuk dapat didengarkannya. Jika ia yang memiliki keterbatasan itu masih semangat tinggi untuk membaca, maka orang lain yang tidak memiliki kendala sepertinya harus lebih bisa mensyukuri karunia Tuhan dengan memanfaatkannya sebaik-baiknya. Membacalah untuk kemudian menuliskannya, demikian ia mengakhiri uraiannya yang disambut rasa haru para hadirin.

Acara Intip Buku menjadi semakin seru dengan kehadiran Bapak Prayitno Ramelan. Ia adalah seorang purnawiran perwira tinggi TNI AU. Jalan karirnya banyak melibatkannya di dunia inteligen. Segala seluk-beluk dan sudut perinteligenan dituangkannya melalui Kompasiana. Postingan-postingan tersebut telah diterbitkan dalam buku Inteligen Bertawaf. Banyak artikel dengan beragam tema telah dilahirkan melalui analisis-analisis dari sudut pandang seorang intel. Satu hal terpenting yang selalu dipegangnya adalah bahwa ia menulis untuk niat kebaikan. Apabila ada permasalahan di masyarakat, entah urusan politik, sosial, ataupun lainnya, ia berusaha mengkritisi dengan murni niat melakukan perbaikan. Bukan kritik asal kritik yang lahir dari sebuah ketidaksukaan, kebencian ataupun rasa permusuhan. Kritik dengan santun dan penuh solutif terhadap suatu persoalan akan lebih bermanfaat bagi masyarakat, demikian prinsip yang dipegangnya dengan teguh.

Masih menurut Pak Paryitno, negara kita saat ini tengah diwarnai berbagai konflik horisontal antar warga, antar kelompok masyarakat, maupun golongan. Hal yang paling mengkhawatirkannya adalah bila konflik itu berkembang menjadi konflik vertikal, antar rakyat dan aparatur negara. Tahapan ini bisa jadi memang sangat berat, tetapi harus dihadapi sebagai konsekuensi menjalani proses pendewasaan demokrasi. Oleh karena itu, ia merasa sangat berbahagia berada di tengah komunitas pendidik yang memiliki minat untuk menulis. Guru adalah harapan bagi terciptanya generasi penerus yang lebih cerdas, pandai, dan berakhlak. Dengan demikian, para guru juga harus terus belajar secara dinamis, diantaranya melalui menulis.

Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pikiran dan pendapatnya, termasuk melalui tulisan. Namun demikian, mantan jenderal ini mengingatkan bahwa di dalam menulis harus tetap memegang norma dan aturan yang berlaku. Koridor baik dan buruk, mana yang boleh dan mana yang dilarang harus dipahami agar kasus semacam Prita tidak terulang kembali.

Pemaparan sesi ke dua diisi oleh narasumber Johan Wahyudi, Iskandar Zulkarnain, dan Om Jay dengan moderator Agus Hermawan.

Johan Wahyudi, seorang guru pendidik di Sragen yang saat ini tengah merampungkan S-3 nya, adalah seorang penulis buku teks pelajaran yang telah menerbitkan puluhan buku. Melalui pemaparan berjudul “Tips Menulis Buku Teks”, Johan menguraikan mengenai kelebihan dan kekurangan menulis buku teks yang selama ini ditekuninya.

Dari sisi kelebihan, menulis dapat mendukung profesinya sebagai guru pendidik karena dengan menulis ia mengembangkan profesinya. Keuntungan lainnya bahwa pangsa pasar buku teks sebagai bahan ajaran di sekolah-sekolah sangat besar. Kebutuhan yang besar akan tersedianya bahan ajaran yang sesuai saat ini, belum diimbangi dengan jumlah penulis yang mencukupi. Dengan demikian persaingan antar penulis buku teks masih akan terus berkembang dan terbuka lebar bagi para pendatang baru. Diantara kelemahan menekuni menjadi penulis buku teks, misalnya kurikulum yang sering diganti-ganti yang mengharuskan buku yang pernah kita tulis harus direvisi atau digantikan dengan buku baru dari penulis lain. Kendala yang lain adalah bagaimana konsisten menulis sesuai kaidah bahasa yang formal kerana bagaimanapun tulisan buku teks adalah tulisan formal.

Di tengah para rekan sejawatnya, Johan juga membocorkan tips-tips di dalam menulis buku teks pelajaran, diantaranya perlunya calon penulis memahami SKKD yang berlaku, bagaimana membuat pemetaan kebutuhan muatan buku, mencari bahan, mengolah bahan tersebut, menuliskannya dan melakukan penyuntingan naskah. Semua dikupasnya secara gamblang dan jelas.

Secara filosofis, Johan Wahyudi menyimpulkan bahwa seorang penulis, khususnya penulis buku teks ajar adalah seorang guru yang baik, ia juga seorang pendengar yang baik, pembaca yang baik, dan tentunya pembicara yang baik.

Di urutan selanjutnya, Iskandar Zulkarnaen, seorang jebolan Pesantren Gontor dan FE UIN Ciputat ini mengisahkan bagaimana ia mengelola Kompasiana.com. Kompasiana merupakan situs citizen reporter terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Kompasiana adalah situs yang menampung tulisan warga dari berbagai segmen latar belakang dan profesi, serta dengan beragam corak maupun tema tulisan. Prinsip utama Kompasiana adalah menjadi media yang menampilkan buah pikiran, aspirasi, pendapat maupun gagasan warga untuk memajukan kehidupan bersama. Di sinilah wadah untuk pengembangan ketrampilan menulis (skill writing) tanpa terbatasi oleh aturan redaksional yang terlalu ketat sebagaimana media cetak.

Dan selanjutnya, selaku “pembesar” acara Intip Buku, Om Jay memuncaki acara dengan ajakannya untuk “Menulis setiap Hari dan Merasakan Apa yang Akan Terjadi”. Menulis bagi Om Jay sudah menyatu dalam gerak urat syaraf dan nadi tubuhnya. Menulis sudah menjadi sejajar dengan makan, minum, dan tidur. Menulis adalah kebutuhan hariannya. Melalui ketekunan, fokus dan disiplinnya dalam menulis setiap hari, Om Jay sudah menerbitkan beberapa buah buku yang menghasilkan nilai royalty yang sangat lumayan dibandingkan gajinya sebagai penjaga laboratorium komputer di sekolahnya.

Om Jay juga mengungkapkan bahwa sumber insipirasi menulis adalah membaca. Maka bila ingin menjadi penulis yang produktif dan kreatif jangan pernah pelit untuk membeli buku. Ia mengisahkan bagaimana seorang ustadz kenalannya dengan gaji 150.000, ustadz tersebut membelanjakan 50.000 diantaranya untuk membeli buku secara rutin. Dari ketekunannya membaca buku, ustadz tersebut memiliki ketajaman kecerdasan yang luar biasa sehingga ceramahnya menjadi berbobot, pengetahuannya menjadi luas, pikirannya berkembang, sehingga ia memiliki kesempatan luas untuk menunaikan haji dan lain sebagainya.

Sedikit dengan rasa bangga, Om Jay menyampaikan bagaimana dengan menulis yang diniatkannya untuk berbagi kebaikan kepada sebanyak-banyaknya orang, ia kemudian diberikan kesempatan untuk keliling provinsi di tanah air. Dari 33 provinsi, hanya tinggal Maluku dan Papua yang belum dikinjungi Om Jay. Bahkan dengan selorohnya, Om Jay mengatakan bahwa royalti yang diterimanya dari beberapa buku yang pernah ditulisnya, ia bisa mendapatkan limpahan rejeki yang luar biasa. Maka menulislah setiap hari dan rasakan apa yang akan terjadi! Demikian sekilas acara Intip Buku yang disponsori oleh iB Syariah, dengan organiser dari MeetPro.

Ngisor Blimbing, 28 April 2012