Tradisi Ujung, Mempererat Kekerabatan

Sebulan penuh ummat Islam berpuasa di bulan Ramadhan. Segala amalan ibadah telah tuntas dilaksanakan. Tarawihan, tadarusan, i’tikaf, yang dipuncaki dengan ditunaikannya zakat fitrah. Tibalah hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri yang juga dikenal sebagai Hari Lebaran. Senja selepas adzan Maghrib dikumandangkan di hari akhir puasa, menggemalah lantunan takbir, tahmid, dan tahlil semalaman penuh. Itulah wujud rasa syukur dan kegembiraan ummat Islam yang telah tunai berpuasa sebulan penuh.

Ujung4

Islam senantiasa mengajarkan keseimbangan dalam dimensi pelaksanaan ibadah. Selain berdimensi akhirat atau ukhrawi, setiap ibadah juga mengandung nilai keduniawian. Sebagai contohnya adalah puasa Ramadhan. Puasa, secara ukhrawi, diperintahkan kepada orang yang beriman untuk meraih derajat ketaqwaan yang lebih tinggi. Dengan puasa manusia dilatih bersabar dalam menghadapi setiap cobaan hidup. Inti dari nilai puasa adalah pengendalian diri terhadap nafsu-nafsu yang menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan yang merugikan, baik terhadap diri sendiri, orang lain, lingkungan, maupun Tuhan. Namun puasa juga memiliki dimensi kemanusiaan. Melalui puasa, ummat Islam dilatih merasakan rasa haus dan lapar sebagaimana banyak orang-orang di sekitar yang nasibnya kurang beruntung. Di dalam bulan Ramadhanpun, ummat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal shodaqoh, infaq, dan zakat, baik zakat mal maupun zakat fitrah. Hal ini menandakan bahwa ibadah puasa berdimensi akhirat sekaligus dunia sebagai inti ajaran Islam yang menata keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas.

Sebagai bentuk penghapusan dosa dan penyucian diri secara utuh, maka manusia tidak hanya cukup bertaubat atau memohon ampun atas segala dosa kepada Allah SWT. Manusia yang merupakan makhluk sosial senantiasa bergaul dalam anggota kelompok masyarakat yang lain dalam kehidupan sehari-sehari. Menyempurnakan ampunan dosa dari Allah, maka manusia juga sudah seharusnya memohon maaf dan saling memaafkan kesalahan diantara sesamanya. Tradisi Lebaran dengan segala macam ragam caranya telah menuntunkan pentingnya halal bil halal untuk melakukan maksud tersebut. Salah satu ragam tradisi lebaran yang masih hidup di kalangan masyarakat kita adalah “ujung”.

Ujung1

Tradisi ujung banyak dikenal dan diamalkan di selingkaran Merapi, daerah kampung halaman kami. Selepas menunaikan sholat Idul Fitri, baik di tanah lapang maupun di masjid-masjid, ummat Islam berdiri saling bersalaman satu sama lain sambil melantunkan sholawat yang diiringi dengan tabuhan irama bedug sambil membentuk kalangan lingkaran yang sangat besar. Lingkaran ini seolah simbol menyatunya siklus kehidupan manusia dalam rangkaian persatuan dan kesatuan ummat yang kokoh nan kuat.

Selepas saling bersalaman di tempat sholat Idul Fitri tersebut, ummat Islam di daerah kami merasa belum syah permintaan maafnya diantara anggota keluarga, tetangga, dan kerabat sebelum saling mengikrarkan secara lisan sambil ndada, mengakui kesalahan masing-masing. Adab yang berlaku adalah yang muda mendatangi yang lebih tua atau dituakan. Anak kepada orang tua, istri kepada suami, cucu kepada kakek-nenek, demikian seterusnya. Yang utama dan pertama dilakukan biasanya adalah saling memaafkan diantara keluarga sendiri. Setelah itu barulah saling berkunjung kepada sanak tetangga dalam wilayah satu dusun, komplit tanpa terlewati satu rumahpun.

Maka suasana lebaran bagi dusun kami merupakan suasana kegembiraan yang luar biasa selama hampir tujuh hari penuh. Padusunan yang biasa lengang nan sepi, pada hari itu seolah nampak sumringah, hidup, berseri, dan ramai oleh hilir-mudik anak-anak dan muda-mudi yang saling berkunjung antar rumah untuk ujung. Jika pada hari-hari biasa kami disibukkan oleh rutinitas urusan pekerjaan masing-masing. Yang tani sibuk dengan olah taninya, yang pedagang sibuk dengan bakulannya, yang guru sibuk dengan tugas ngajarnya, yang pegawai kantoran sibuk dengan pekerjaanya, dan lain sebagainya, maka lebaran memberikan ruang khusus untuk menanggalkan semua kesibukan tersebut. Suasana menjadi lebih lengkap dan berarti dengan mudiknya warga dusun yang sekian lama merantau di tempat jauh.

Ujung2 Ujung3

Ujung dikenal juga dengan badan, balal, atau halal bi halal. Tidak ada laku ataupun tata cara yang terlampau khusus dalam ujung. Setelah mengucapkan salam ataupun kulo nuwun kepada tuan rumah, para tamu akan dibageke, ditanyakan kabar baiknya, termasuk keluarga lain yang tidak ikut sowan atau bertandang untuk ujung. Sambil menyalami para sesepuh, kami diajarkan sungkem untuk memberikan penghormatan. Selepas itu kami ungkapkan ikrar pengakuan kesalahan, baik yang sengaja maupun karena kekhilafan selama setahun ke belakang.

Selanjutnya giliranlah para sesepuh yang kami sungkemi memberikan jawabnya. Merekapun menerima ungkapan salam penghormatan kami dan juga mengungkapkan permohonan maaf atas kesalahan maupun dosa selama setahun. Berbeda dengan kaum muda yang terhenti pada pengungkapan salah dan dosa, maka para sesepuh selanjutnya memberikan doa dan pengharapan kebaikan, kesuksesan, termasuk keselamatan hidup dunia hingga akhirat kepada yang menyalaminya. Bukankah doa dari para sesepuh yang alim dan bijak, serta telah menyerap berbagai pengalaman pengamalan ibadah yang jauh lebih banyak daripada yang muda tentu lebih mustajab untuk diijabah oleh Tuhan? Inilah “keramat”nya tardisi ujung.

Trio CiTyaRa

Tardisi ujung mengajarkan kearifan tersendiri. Tradisi yang bersendikan ajaran Islam ini memuat beberapa makna yang sangat mendalam. Di samping sebagai momentum saling memaafkan diantara sesama manusia, ujung memberikan pesan kepada semua anak manusia untuk senantiasa menyambung tali silaturahmi diantara sesama saudara, keluarga, tetangga, kerabat, dan saudara dimanapun kita berada. Ujung menjadi perekat sekaligus pengukuh hubungan silaturahmi yang di jaman ini seringkali dipandang remeh oleh manusia modern. Dalam kesempatan ujung pula kami berendah hati untuk mendatangi rumah saudara-saudara, para simbah, pakdhe, paklik atupun guru-guru kami. Hati kamipun diasah untuk memahami keadaan rumah dan lingkungan mereka dengan sebaik-baiknya. Tidak ada lagi batasan kaya-miskin, pandai-bodoh, tinggi-rendah karena kami adalah saudara. Dari sinilah kami seolah saling menguatkan satu sama lain bahwa meskipun badai kehidupan semakin ganas menerjang hidup, namun kami masih memiliki banyak sekali saudara dan kerabat yang masih senantiasa memiliki rasa asah, asih dan asuh. Bukanlah sesama muslim adalah sesama saudara? Semoga tradisi ini akan senantiasa lestari.

Ngisor Blimbing, 28 Juli 2013

Maneges Syahadat Selepas Tarawih

Desa mawa cara, negara mawa tata. Demikian para leluhur bertutur. Maksudnya adalah bahwa suatu daerah atau wilayah senantiasa memiliki kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda-beda. Begitupun dengan rangkaian peribadatan di bulan suci Ramadhan ini. Mulai dari kebiasaan penyambutan puasa, menjelang sahur, menunggu saat berbuka puasa hingga pelaksanaan sholat tarawih.

Adalah dusun kami yang semenjak dulu melaksanakan sholat tarawih dan witir sebanyak sebelas rakaat. Setelah adzan Isya’ dikumandangkan, warga dusun segera bergegas menuju masjid atau musholla tempat tarawih. Sebelum iqomad, sambil menunggu jama’ah berkumpul biasanya dilantunkan pepujian. Adapun pujian khusus pada bulan Ramadhan menjelang tarawih adalah syair:

Allahumma innaka ‘afu’un, tukhibbul ‘affa fa’fu’anni, Continue reading “Maneges Syahadat Selepas Tarawih” »

Nyadran, Tradisi Tiada Henti di Tepi Merapi

Menurut hitungan kalender Hijriyyah, nama bulan yang datang sebelum bulan Ramadhan dikenal sebagai bulan Sya’ban. Konon pada bulan tersebut diajarkan kepada ummat Islam untuk mengamalkan keutamaan birul walidain, memuliakan kedua orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah bersemayam di alam baka. Terkait dengan arwah orang tua di alam kubur inilah masyarakat kemudian mengidentikkan bulan Sya’ban sebagai bulan Arwah. Masyarakat Jawa kemudian lebih mengenalnya sebagai bulan Ruwah.

NyadranKrg1

Secara adat dan tradisi, muncullah kemudian ritual nyadran. Istilah nyadran sendiri berasal dari bahasa Sansekerta sradha, yang digunakan ummat Hindu untuk sebuah upacara pemuliaan roh leluhur yang telah meninggal. Dikisahkan bahwa di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk di Majapahit, ia pernah menyelenggarakan upaca sradha untuk memuliakan arwah sang Ibunda Tribhuwana Tunggadewi. Setelah kedatangan Islam, ritual tersebut kemudian diadaptasi menjadi tradisi nyadran yang rutin diselenggarakan pada bulan Ruwah.

Nyadran biasa diselenggarakan oleh sebuah paguyuban trah makam tertentu. Di masa lalu, pada umumnya sebuah dusun terbentuk oleh seorang cikal bakal. Dari cikal bakal inilah, lahir dan berkembanglah anak, cucu, cicit dan seterusnya yang terdiri atas banyak sekali keluarga-keluarga yang tidak saja masih tetap tinggal di dusun yang sama, namun banyak juga yang telah berpindah kediaman ataupun merantau ke daerah lain. Dengan demikian, nyadran seolah menjadi momentum reuni keluarga besar satu trah nenek moyang.

Citradya9 NdalemKronggahan2

Kronggahan adalah sebuah dusun yang berada di kesejukan kaki gunung Merapi. Tidak tercatat dengan jelas memang sejarah siapa cikal bakal dusun tersebut, hanya saja beberapa dongengan para simbah menyebutkan nama Mbah Kyai Ronggah. Tidak terlalu penting memang membahas keakuratan asal-usul sejarah, namun tradisi nyadran masih berlangsung hingga saat ini.

Nyadran, bagi masyarakat Kronggahan di samping ditujukan untuk bersama-sama mengirimkan doa bakti kepada Allah SWT untuk para arwah leluhur, juga menjadi momentum untuk ngumpulke balung pisah, menyambung kembali jalinan tali silaturahmi diantara sesama anak-cucu Mbah Kyai Ronggah. Berbeda dengan acara sejenis yang diselenggarakan di lingkungan makam, nyadran di Kronggahan beberapa waktu lalu justru bertempat di rumah Pak Bayan atau Prabot (istilah untuk kepala dusun). Kini, seiring semakin bertambahnya jumlah peserta trah makam yang hadir, acara sadranan diselenggarakan di pelataran Masjid Al Iman.

Lebih khusus lagi, pelaksanaan nyadran selalu diselenggarakan pada tanggal 20 Sya’ban. Pemilihan tanggal tersebut bukan atas klenik ataupun wasiat siapapun, hanya saja hal tersebut lebih berdasarkan pertimbangan praktis yang mudah diingat oleh para sanak kadang terutama yang di perantauan. Sangat bisa dimaklumi, era kemajuan komunikasi dengan telepon seluler masih belum terlalu lama sehingga di masa lalu agak sulit dan merepotkan untuk menyebarkan undangan kepada sanak kerabat yang tinggal di daerah jauh. Dengan pertimbangan kangsenan, janjian, di tanggal 20 Sya’ban itulah semua kerabat bisa pulang dusun untuk bersama-sama nyadran, meskipun tidak dikabari atau diundang kembali.

MakamKronggahan1 MakamKronggahan2

Rangkaian persiapan nyadran dimulai dengan kerja bakti atau gugur gunung untuk membersihkan makam yang dilakukan beberapa hari menjelang nyadran. Pada hari pelaksanaan nyadran, seiring jago kluruk menjelang fajar, masyarakat bangun lebih awal untuk mempersiapkan suguhan maupun uba rampe untuk sadranan. Selain untuk menjamu para kerabat dari luar dusun, sadranan juga berupa sajian nasi komplit dengan sayur, lauk-pauk, bakmi, tontho, keper, peyek, hingga krupuk yang ditata di dalam keranjang atau besek untuk dibagikan kepada anak-anak yang datang, juga untuk disangu-kan kepada para sedulur dari daerah jauh. Bingkisan inilah yang juga disebut sebagai berkatan.

Begitu matahari menyingsing, warga berbondong-bondong ke tempat sadranan diselenggarakan dengan membawa urunan sajian sadranan-nya masing-masing. Tak lupa satu per satu mereka memberikan “uang wajib” sebagai dana infak yang dikumpulkan untuk keperluan pemeliharaan areal makam. Kemudian dengan kelompok-kelompok kecil, mereka datang ke makam yang terletak di mburi deso untuk besrik dan ziarah. Kebanyakan sanak-saudara yang berasal dari lain dusun, biasanya mereka langsung datang ke makam untuk bergabung dengan kelompok-kelompok yang lain.

NyadranKrg2

Setelah ziarah, semua kerabat trah makam kemudian berkumpul kembali di tempat sadranan. Masing-masing perwakilan dari keluarga ahli waris menyampaikan “wajib”nya berupa uang infaq atau shadaqah jariyah melalui panitia yang sudah siap di meja penerima tamu. Sambil saling bersalaman, bertegur sapa dengan sanak saudara yang datang dari dusun lain, dan saling melepas kangen, para hadirin duduk dengan hikmat menunggu acara dimulai.

KyaiAbuHasanSerangkaian acara telah siap untuk digelar, mulai dari doa pembukaan, pembacaan ayat-ayat Al Qur’an, serta sambutan selamat datang dari ketua paguyuban makam dan pejabat kelurahan. Acara dilanjutkan dengan pengajian mau’idzah khasanah dari Mbah Kyai yang sengaja diundang. Selesai pengajian, acara diselingi dengan rehat makan bersama. Sebagai inti acara dibacalah kalimat tahlilan yang dipimpin oleh Pak Kaum dengan ditutup dengan doa yang diaminkan hadirin. Seiring kepulangan dan bubar-nya acara, keranjang atau besekan makanan dibagi-bagikan kepada semua hadirin yang berkenan membawanya.

Di masa lalu, keranjang atau besekan tersebut justru menjadi perebutan bagi para bocah dan para kaum fakir miskin yang sedari awal menunggu di arena nyadran. Bahkan secara khsusus, panitia menyediakan semacam kalangan agar pembagian bingkisan nyadran itu bisa berlangsung tertib. Namanya banyak orang, sering terjadi kericuhan dan perebutan karena masing-masing ingin mendapatkan berkah yang berlebih. Adalah sebuah kebanggaan bagi seorang bocah yang mampu ngrentengi enam atau tujuh keranjang, sehingga harus memikulnya bersama kawan yang lain ketika membawanya pulang. Di jaman dulu, barangkali tingkat kemakmuran masyarakat, dalam artian kecukupan pangan masih belum merata, sehingga masyarakat masih terlihat kemaruk dengan rebutan makanan.

NyadranKrg5 NyadranKrg4

Lain dulu, memang lain sekarang! Di arena sadranan sudah sangat sedikit dijumpai para bocah yang berharap akan keranjang atau besekan makanan. Kini sudah tidak ada lagi rebutan di kalangan yang dipagari rigen. Bahkan para tamu dari dusun yang lainpun sudah enggan untuk membawa keranjang makanan yang diberikan kepadanya. Mungkin mereka sudah tidak lagi nggumun dengan makanan, dan justru merasa ribet jika perjalanan jauh mereka direpoti dengan sekeranjang nasi komplit lauk-pauk tersebut. Jaman memang telah bergeser, namun makna hakikat tradisi nyadran untuk mendoakan arwah para leluhur semoga akan tetap lestari sebagai sebuah nilai kearifan lokal yang bersanding secara harmonis dengan laju kemajuan jaman.

NyadranKrg3

Ngisor Blimbing, 1 Juli 2013

Puasa dan Kemerdekaan

Puasa dan kemerdekaan, adakah hubungan benang merah yang jelas dan tegas? Dari sudut kronologis sejarah bangsa Indonesia, puasa tidak bisa sama sekali dilepaskan dari kemerdekaan, karena peristiwa proklamasi yang telah menghantarkan bangsa kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan tepat terjadi di bulan Puasa. Akan tetapi apakah hanya sebatas itu relasi hubungan antara puasa dan kemerdekaan?

Puasa atau pasa dalam bahasa Jawa, hakikatnya adalah menahan dari sesuatu. Hal inipun senafas dengan istilah shaum dalam bahasa Arab yang seakar dengan kata imsak. Imsak sendiri berarti menahan. Dari sudut istilah syariat Islam, puasa memiliki pengertian suatu amalan menahan untuk tidak makan, minum, serta segala perbuatan yang dapat membatalkannya semenjak matahari terbit di waktu fajar hingga matahari terbenam di kala senja.

Puasa merupakan suatu amalan yang sudah sangat purba usianya. Semenjak keberadaan Adam dan Hawa bertempat tinggal di surga, mereka sudah diperintahkan untuk menahan diri agar tidak mendekati pohon khuldi. Jangankan memakan buahnya, mendekati saja tidak diperkenankan. Akan tetapi, karena Adam dan Hawa terbujuk rayuan setan, maka mereka tergelincir tidak dapat menahan diri untuk mendekati pohon khuldi, memetiknya, bahkan hingga sempat memakannya. Dan tatkala mereka teringat akan larangan Allah, terlambat! Buah khuldi itu telah masuk di kerongkongan Adam, sedangkan buah yang lain bahkan sudah sampai di dasar dada Hawa. Akhirnya dikarena tidak dapat menahan diri dan taat atas perintah Allah untuk puasa terhadap buah khuldi, Adam dan Hawa diusir dari surga  untuk kemudian diturunkan ke muka bumi.

Sepanjang sejarah anak turun Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Musa, hingga Isa banyak kisah-kisah atau riwayat mereka melakukan ritual puasa, hingga kini sampai kepada ummat Muhammad. Puasa merupakan ibadah khusus yang dipersembahkan seorang hamba kepada Tuhannya. Puasa bersifat sangat rahasia, karena hanya diri seseorang dan Allah saja yang mengetahui apakah dirinya benar-benar perpuasa atau sekedar berpura-pura. Bisa saja seseorang yang bertingkah lemah, lemas, letih di kala berhadapan dengan orang lain, namun setelah masuk di dalam rumahnya sendiri ia makan-minum dengan sepuasnya. Bahkan beberapa orang yang sedang mengambil air wudlu secara bersamaanpun tidak akan tahu apakah saudara di sampingnya menelan air tatkala berkumur. Puasa sangat rahasia, sehingga Allahpun menyatakan bahwa puasa adalah persembahan seorang hamba khusus untuk-Nya dan pahalanyapun dirahasiakan hingga di akhir jaman kelak.

Jika puasa memiliki sifat menahan dan membatasi diri dari pelampiasan segala keinginan, maka berbeda dengan kemerdekaan. Kemerdekaan secara umum bisa dimaknai sebagai kebebasan. Kebebasan adalah salah satu hak asasi manusia yang paling hakiki. Manusia secara fitrah penciptaannya ingin bebas dari rasa takut, rasa lapar, haus, dan segala belenggu penindasan terhadap setiap keinginan, termasuk penindasan, penjajahan, dan kesewenang-wenangan. Di tingkatan negara dan pergaulan masyarakat dunia, setiap hak individu bahkan telah diakui dan dilindungi secara hukum.

Kebebasan adalah hak manusia. Namun harus diingat bahwa setiap pemenuhan hak harus diimbangi pula dengan kewajiban. Jika manusia memiliki hak asasi, maka manusiapun memiliki kewajiban asasi. Jika manusia memiliki kebebasan, memiliki kemerdekaan, maka sejatinya kebebasan dan kemerdekaan yang dimiliki tersebut bukanlah sesuatu yang tidak tanpa batas. Terlebih jika dihadapkan dengan kepentingan umum maupun di hadapan Tuhan, kebebasan dan kemerdekaan manusia bersifat terbatas.

Manusia merdeka untuk makan dan minum sepuasnya. Namun dalam kerangka makan dan minum terdapat batasan makanan apa yang halal untuk dimakan dan minuman apa yang halal untuk diminum. Bahkan terhadap makanan dan minuman yang halalpun terdapat batasan seberapa banyak kita diperkenankan untuk menampungnya di dalam rongga perut kita tanpa menimbulkan gangguan mekanisme biologi maupun kesehatan tubuh. Ketika batasan tersebut dilanggar, maka akan terjadi ketidakseimbangan sistem yang akan menyebabkan rasa sakit, atau bahkan timbulnya penyakit. Maka sangatlah tepat jika Kanjeng Nabi Muhammad mengajarkan kepada pengikutnya agar makanlah sebelum lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang. Kondisi keseimbangan atau pertengahan antara rasa lapar dan kenyang itulah yang terbaik bagi tubuh manusia. Manusia jangan sampai dilanda kelaparan dan kekenyangan berlebihan soal makanan.

Demikian halnya soal rejeki. Selepas menjalankan ritual ibadah khusus, manusia diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi dalam rangka menjemput rejekinya. Manusia diamanati kebebasan untuk mengelola bumi dan alam. Manusia diberikan bekal akal yang akan membimbingnya menemukan ilmu, pengetahuan dan teknologi untuk mengeksploitasi alam. Manusia bebas untuk menambang mineral bumi, menebang pohon, menangkap ikan di seluruh penjuru sudut bumi. Namun ingat, jika manusia hanya sekedar menurutkan rasa kebebasannya, maka yang akan terjadi adalah hutan gundul, polusi, pencemaran, erosi, dan segala keparahan kerusakan lingkungan hidup. Maka diperlukan batasan tindakan manusia yang tidak mengganggu keseimbangan dan kelestarian alam. Ini berarti bahwa kebebasan dan kemerdekaan mengelola alampun dibatasi dengan etika dan moralitas untuk mengawal kelestarian alam yang juga terkait langsung dengan kelestarian manusia sendiri.

Setiap kebebasan selalu ada batasan. Setiap kemerdekaan disertai dengan rambu dan koridor untuk tidak menimbulkan kerusakan. Dari segala tindakan kebebasan dan kemerdekaan diperlukan pengendalian serta pengelolaan tindakan agar membawa kepada kemanfaatan hidup. Ritual puasa mengajarkan upaya pengendalian diri terhadap segala kenginan, nafsu, dan semua potensi sifat negatif yang ada di dalam dada manusia. Pada saat manusia berpuasa, ia meninggalkan kemerdekaan untuk makan, minum, menggauli istri, meskipun mereka halal dan menjadi hak milik kita. Di sinilah manusia belajar mengenai pengendalian dan makna pembatasan diri.

Puasa merupakan sikap pembatasan diri di tengah kebebasan dan kemerdekaan yang dimiliki manusia. Puasa merupakan pengendali, pengontrol dan penyeimbang kebebasan atau kemerdekaan yang diberikan Tuhan kepada manusia agar manusia tidak terjerumus kepada kehancuran. Semoga kita bisa berpuasa sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mengajarkannya kepada kita, dan dapat memetik hikmah di dalamnya dengan sebaik-baiknya demi tegaknya peradaban manusia di atas muka bumi.

Ngisor Blimbing, 4 Agustus 2012

Kharisma Mbah Kiai Mangli

Di masa bocah dahulu kala, biyung tuwo alias nenek sering berkisah tentang ulama kenamaan yang kondang kaloka tidak saja di wilayah Magelang, tetapi ing sak indenging Nuswantara. Konon katanya Mbah Mangli, demikian biyung dan para sesepuh menyebutnya, merupakan sosok alim ulama yang sakti mandraguna. Tidak saja alim di dalam ilmu agama, Mbah Mangli juga memiliki kasekten ilmu melipat bumi. Dengan kasekten ini, Beliau dapat mencapai suatu tempat hanya dalam waktu sakedeping mripat, alias dalam hitungan detik.

Di masa silam kemajuan teknologi masih sangat terbatas. Dakwah dalam bentuk pengajian masih dilakukan secara tatap muka langsung dari langgar ke langgar, atau dari satu masjid ke masjid yang lain dalam acara pengajian. Masyarakat Jawa seringkali mengagendakan pengajian dalam siklus waktu tertentu, semisal setiap tiga puluh lima hari sekali yang dikenal dengan istilah selapanan. Ada juga pengajian yang diadakan setiap sepasar atau sepekan sekali. Ada juga yang rutin digelar setiap mingguan. Pengajian biasanya dikemas untuk kalangan umum, maupun untuk kalangan khusus.

Dalam pengajian umum atau akbar, tema kajian seputar ibadah mahdzah, mulai bertaharah, shahadat, tata cara sholat, puasa, zakat, infaq dan sedekah, hingga tata cara penyelenggaraan jenazah dan hukum waris. Karena yang menghadiri pengajian biasanya kalangan awam, maka tema ibadah mahdzah dan muammalah merupakan porsi terbesar yang disampaikan para Mbah Kiai. Adapun pengajian yang bersifat lebih khusus adalah kejian yang diperuntukkan para santri atau kaum terpelajar. Ilmu yang dibahas semisal bahasa Arab, nahwu sharaf, balaghah, kalam, hingga tasawuf.

Demikian halnya dengan dakwah Mbah Mangli. Secara khusus Mbah Mangli mendidik para santrinya di sebuah pesantren sederhana di lereng gunung Andong. Tempat pesantren itulah yang kemudian dikenal sebagai desa Mangli yang terletak di perbatasan kecamatan Grabag dan Ngablak, kurang lebih 25 km arah timur laut kota Magelang. Mbah Mangli merupakan salah satu penganut tarekat Nahsyabandiyyah.

Di bawah bayang pohon pinus dengan kesejukan hawa dingin pegunungan dan dalam suasana hening diharapkan para santri dapat membiasakan diri berpikir dengan kepala dingin, bukan dengan ledakan nafsu dan amarah. Kejernihan mata air Mangli dipercaya dapat menjernihkan hati dan pikiran para santri agar mampu menjadi manusia yang jernih dalam berpikir, berucap dan bertindak sesuai dengan ajaran Kanjeng Nabi Muhammad. Ketenaran pesantren Mangli menebar ke seantero Nusantara. Hal ini terbukti dengan beragam asal usul para santri yang menuntut ilmu. Santri dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Pasundan, Sumatera hingga Kalimantan, bahkan Sulawesi banyak yang kerasan berguru kepada Mbah Mangli.

Selain mendidik ummat lewat pesantren, Mbah Mangli juga aktif melakukan dakwah dan syiar agama Islam ke berbagai wilayah. Di desa Mejing wilayah kecamatan Candimulyo, bahkan Mbah Mangli secara khusus menggelar pengajian rutin bertempat di sebuah langgar atau surau yang dikenal sebagai langgar Linggan. Berbagai kalangan ummat Islam datang berbondong-bondong untuk mendengarkan nasehat dan petuah kiai kharismatik tersebut dengan penuh kekhidmatan.

Pengajian di masa lalu memang hampir tanpa sentuhan teknologi canggih seperti jaman sekarang. Jangankan peralatan perekam maupun dokumentasi foto, sekedar pengeras suarapun masih jarang bisa dijumpai. Kita bisa bayangkan seperti apakah suasana pengajian akbar tanpa pengeras suara? Namun inilah salah satu kasekten Mbah Mangli sebagaimana diceritakan ibu saya. Konon meskipun tanpa pengeras suara, seluruh jamaah pengajian yang hadir di tempat pengajian, apakah di sebuah masjid ataupun di sebuah lapangan terbuka, selalu dapat mendengar tausiyah Mbah Mangli dengan jelas dan terang. Meskipun jumlah jamaah ratusan, bahkan ribuan orang, dari berbagai posisi yang dekat hingga terjauh dapat mendengar suara Mbah Mangli.

Konon lagi pada saat pengajian bubar, selepas mengucap salam penutup, Mbah Mangli langsung dapat berjalan dengan kecepatan kilat meninggalkan arena pengajian untuk berpindah medhar sabdo di tempat lain. Konon pula Mbah Mangli setiap hari Jumat selalu ngrawuhi sholat Jumat di Masjidil Haram. Inilah yang disebut sebagai ilmu melipat bumi, dalam sakedeping mata bisa berpindah tempat di berbagai penjuru dunia.

Keistimewaan Mbah Mangli yang lain, ia dapat mengetahui maksud setiap jamaah yang datang, apa permasalahan mereka dan langsung dapat memberikan nasehat dengan tepat sasaran. Pernah seorang jamaah datang ke pengajian dengan membawa uang ibunya yang semestinya dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangganya. Di tengah pengajian, Mbah Mangli langsung menyindir orang tersebut dan menasehatinya agar uang tersebut dikembalikan dan ia segera memohon maaf kepada ibunya tersebut.

Pernah juga seorang tamu datang ke pesantren Mbah Mangli. Sejak dalam perjalanan sang tamu tersebut sudah membayangkan mendapatkan suguhan buah jeruk yang sangat ranum dan menghilangkan rasa dahaganya selepas menempuh perjalanan jauh. Dan sesampainya di tempat Mbah Mangli, apa yang ia dapatkan? Mbah Mangli benar-benar menyuguhinya dengan hidangan jeruk keprok yang sangat segar. Pucuk dicinta ulampun tiba!

Sifat istikomah Mbah Mangli dalam menyikapi perkembangan teknologi tergolong sangat unik. Beliau tidak pernah menggunakan pengeras suara maupun peralatan listrik dalam setiap kegiatan di pondok pesantrennya. Dalam acara pengajian maupun khotbah jumat tidak pernah ada pengeras suara, hal ini masih tetap dilestarikan hingga kini. Penggunaan listrik hanya terbatas untuk penerangan kegiatan belajar mengajar. Adapun radio dan televisi, apalagi handphone dan internet, sama sekali tidak menyentuh pesantren Mbah Mangli. Kini sosok Mbah Kiai Mangli memang sudah wafat. Namun pengajian Ahad pagi yang digelar di pesantren beliau tetap berlangsung rutin di bawah asuhan salah seorang menantu beliau, dan masih ratusan jamaah hadir menimba ilmu.

Di jaman itu memang seorang kiai benar-benar diyakini sangat karib dengan Gusti Allah, sehingga ia benar-benar berkedudukan sangat istimewa bahkan dipercaya sebagai waliyullah. Maka tak heran doa seorang ulama kharismatik dipercaya sangat makbul dan mujarab. Inilah barangkali magnet daya tarik sehingga ummat mau mendekat, mendengar setiap nasihat penuh khidmat, dan kemudian berujung kepada pengamalan ajaran agama dengan penuh kemantapan rasa iman dan ketaqwaan. Inilah kunci ketentraman jiwa, lahir dan batin yang akan berdampak luas terhadap ketentraman serta keguyuban masyarakat, bangsa dan negara.

Mbah Mangli yang memiliki nama asli KH Hasan Ashari akan senantiasa dikenang segala amalan dan jasa baiknya terhadap kemaslakhatan ummat. Segala sifat dan sikap ketawadhuan, kealiman, kesederhanaan, jujur, amanatnya seorang Mbah Mangli akan senantiasa menjadi obor penerang sekaligus cahaya pelita petunjuk jalan bagi segenap ummat yang senantiasa mendambakan keadilan dan ketentraman masyarakat, bangsa dan negara. Spirit dan semangat Mbah Mangli akan selalu hidup abadi du dunia hingga akhir jaman. Apakah kini memang menjelang jaman akhir sehingga Allah mengangkat ilmu-Nya dari permukaan bumi dengan mewafatkan para aulia dan alim ulama yang benar-benar menjadi pewaris para nabi?

Dimuat di Majalah Suara Gemilang Edisi Mei 2012 (Pemkab Magelang)

Puasa Makan atau Kuasa Makan?

Bulan Ramadhan telah datang. Sebulan penuh ummat Islam diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa. Puasa, secara sederhana, adalah menahan makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa dari fajar hingga matahari terbenam. Yang paling inti adalah tidak makan! Memang jam sarapan pagi digeser ke waktu sahur, jam makan malam relatif tetap atau bahkan dimajukan sehabis Maghrib. Jam makan siang? Maaf, sementara waktu harus ditinggalkan. Jadi menurut logika, konsumsi makan kita berkurang dong? Dari tiga kali, menjadi dua kali. Dari tiga piring, menjadi dua piring. Berarti lebih irit dong?

Dengan pola konsumsi makan, minum, merokok, bahkan ngemil camilan yang berkurang, berarti kuantitas konsumsi kita juga berkurang. Konsumsi berkurang, maka anggaran belanja kita, maupun rumah tangga kita juga akan berkurang. Dengan anggaran yang berkurang, maka uang yang dibelanjakanpun tentu saja berkurang. Artinya dengan pelaksanaan ibadah puasa, manusia diajarkan untuk irit alias hemat. Hemat makan, minum, ngemil, hemat anggaran, hingga hemat uang! Namun benarkah demikian yang menjadi realitas di tengah masyarakat muslim kita?

Belum memasuki bulan Puasa, bahkan masih beberapa hari menjelang Ramadhan, berita di berbagai media cetak maupun eletronik mengabarkan tentang kenaikan harga berbagai sembako alias sembilan bahan pokok kebutuhan kita. Harga beras naik, minyak goring naik, telur naik. Demikian halnya dengan gula, daging, susu, sayur dan buah juga naik. Intinya semua kebutuhan manusia sehari-hari harganya melambung tinggi dibandingkan hari-hari biasanya.

Usut punya usut, selidik demi selidik, bahkan analisis dari para pakar mengatakan bahwa kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari itu terjadi karena kelangkaan pasokan barang di pasaran. Kenapa bisa terjadi kelangkaan barang? Jawaban yang didapatkan, karena konsumen memborong banyak barang untuk persediaan menyambut bulan Puasa.Dan sesuai dengan hukum ekonomi, jika permintaan barang bertambah, sementara ketersediaan atau penawaran barang tersebut berkurang di pasaran, maka harga barang yang bersangkutan tentu saja akan naik.

Apakah tidak aneh jika kedatangan bulan Puasa, bulan dimana ummat muslim mengurangi konsumsi makan dan minumnya sehingga menjadi bulan hemat, justru disambut dengan menumpuk sembako? Berdasarkan teori bahwa puasa mengurangi konsumsi kita terhadap makanan ataupun minuman, karena kita hanya makan minum di waktu sahur dan buka puasa saja, maka kedatangan bulan Puasa yang diiringi dengan kenaikan penumpukan sembako jelas menjadi tidak sesuai alias tidak logis. Setidaknya dari analisis sebab akibat, tentu saja ada ketidaksesuaian logika pikir! Lalu ada anomali apakah gerangan?

Inti dari ajaran puasa adalah imsak, artinya menahan. Ya menahan lapar, dahaga, dan yang lebih inti adalah menahan hawa nafsu. Puasa mengajarkan mengurangi makan, minum, dan segala kenikmatan ragawi yang selalu dipuja-puji oleh manusia. Memang pada waktu siang hari, dari waktu fajar hingga matahari tenggelam, kita mengosongkan perut, kita menahan lapar, menahan rasa haus dan dahaga, tetapi bagaimana setelah bedug Maghrib ditabuh?

Ibarat di siang hari kita menginjak pedal rem dalam-dalam dengan sekuat tenaga, maka bagaimana setelah adzan Maghrib dikumandangkan? Diantara kita mungkin ada yang berbuka hanya ala kadarnya, sekedar membasahi kerongkongan dengan kesejukan air putih ataupun sekecap rasa manis dari sebutir buah kurma. Namun bisa jadi lebih banyak diantara kita yang langsung mengembat semua hidangan di atas meja. Sirup ditenggak, escendol masuk, kolak, es buah, kolang kaling langsung diminum. Kue apem, lemper, pisang goreng, bakwan, tahu isi, langsung dilahap. Tidak terhenti sampai di situ, nasi sebakul plus lauk-pauk, ayam gulai, opor, ikan bakar, sayur soup, semua amblas ke dalam perut dalam waktu sekejap. Selepas mengerem sedalam-dalamnya semua keinginan badaniyah di siang hari, namun setelah waktu buka kita injak pedas gas makan-minum kita sedalam-dalamnya! Jika di wakt siang kita menahan keinginan dan nafsu seketat-ketatnya, maka di malam hari kita lepas sebebas-bebasnya keinginan dan nafsu tersebut.

Sangat umum di kalangan ibu rumah tangga yang berpandangan bahwa puasa adalah bulan istimewa. Karena di siang hari kita berlapar dan berhaus ria, maka apa salahnya setelah waktu buka kita tuntaskan rasa lapar dan haus kita. Jika di siang hari badan lemas tanpa tenaga, banyak yang khawatir bahwa asupan gizi, vitamin, segala mineral kebutuhan tubuh kita menjadi tidak terpenuhi, dan takutnya dengan puasa malah menjadikan datangnya penyakit. Maka untuk mengimbangi konsumsi yang minimalis di siang hari, ya malam harinya harus ditebus dengan makan “sebanyak-banyaknya”.

Karena keinginan makan dan minum yang serba lebih, ya lebih banyak, ya lebih enak, bahkan lebih mahal, maka anggaran belanjapun harus menyesuaikan, alias dinaikkan. Maka tidak mengherankan bila banyak ibu rumah tangga mengakui bahwa selama bulan Puasa, justru anggaran belanja rumah tangga nombok dan membengkak. Dengan demikian Ramadhan tidak lagi menjadi bulan yang irit, bulan yang hemat dengan segala pengeluaran dan dana dalam soal konsumsi makan dan minum.

Beginikah ajaran puasa yang diajarkan Rasulullah Muhammad? Bagaimana dengan puasa kita akan belajar untuk merasakan lapar dan dahaganya si fakir, bagaimana kita bisa berempati dengan penderitaan si miskin yang dalam kesehariannya, tidak siang, tidak malam, mengalami kelaparan dan kedahagaan “abadi”. Bagaimana puasa yang kita amalkan mampu membentuk manusia berakhlakul karimah dan bertaqwa sebagaimana tujuan utama dari ibadah puasa? Dalam skala yang jauh lebih luas, jika amalan puasa yang kita jalankan masih “sekelas” demikian, bagaimana mungkin puasa dapat memperbaiki akhlak dan moralitas bangsa yang kini kian terpuruk? Apakah kita akan terus terjebak sekedar mengerjakan ritual puasa tanpa mampu memetik hikmahnya?

Semoga kita mampu untuk berpikir jernih dan meredefinisikan kembali makna puasa kita. Hanya dengan hidayah dan bimbingan Allah-lah kita dapat menjalankan puasa dengan sebaik-baiknya dan mencapai tujuan jiwa yang suci, jiwa yang sungguh-sungguh bertaqwa dengan landasan rasa iman yang semurni-murninya. Dengan demikian puasa kita tidak hanya sekedar puasa makan dan minum, tetapi merupakan puasa yang sebenar-benarnya sebagaimana diajarkan melalui Rasul-Nya. Mari kita merenung dan gembirakanlah datangnya puasa. Marhaban ya Ramadhan!

Ngisor Blimbing, 17 Juli 2012

Tradisi Ruwahan di Tepi Merapi

Dusun merupakan struktur lembaga adat dan budaya yang paling eksis dari masa ke masa. Sedari awal asal-usulnya, sebuah dusun memiliki otonomi yang sangat luas untuk menumbuh-kembangkan adat dan tradisinya. Kekeluargaan, kebersamaan, keguyuban dan gotong royong adalah benih-benih nilai kearifan lokal yang masih tetap eksis dalam terpaan badai globalisasi dan modernisasi. Lekatnya masyarakat pedusunan dengan tradisinya menjadikan mereka dinilai sebagai kaum tradisional.

Gunung Merapi adalah bentangan alam anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan kesuburan buminya, dengan kesejukan hawanya, dengan keheningan suasananya, dan dengan keteduhan suasananya telah melahirkan spirit kekeluargaan, kebersamaan, keguyuban dan rasa gotong royong diantara insan manusia yang tinggal di dalamnya. Nilai-nilai tersebut tergambar jelas dalam tradisi-tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Salah satu tradisi tersebut adalah tardisi ruwahan di Dusun Kronggahan, Desa Polengan, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.

Dalam hitungan kalender Hijriyyah, bulan Sya’ban datang sebelum masuknya bulan Ramadhan. Menurut ajaran Islam, pada bulan tersebut ummat muslim dianjurkan untuk mempersiapkan diri dengan penyucian jiwa dan raga sebelum memasuki Ramadhan. Di antara upaya penyucian diri adalah amalan birul walidain, memohon maaf kepada orang tua dan sekaligus memohonkan maaf untuk arwah para leluhur, serta mendoakan bagi kebaikan mereka. Kata “arwah” inilah yang kemudian diadopsi dalam kalendar Jawa sebagai bulan Ruwah, bulan pemuliaan arwah nenek moyang dan leluhur.

Ruwahan, di kalangan masyarakat tepi Merapi, dilakukan dengan memberikan shodaqoh kepada para tetangga dalam wujud makanan. Satu kelompok keluarga kecil (biasanya terdiri 5-7 keluarga) secara bersama-sama mempersiapkan uba rampe atau kelengkapan untuk kenduri. Ada nasi tumpeng atau ambeng, lengkap dengan sayur dan ingkung (gulai ayam kampung yang utuh tanpa dipotong-potong), mie, keper atau peyek, thontho, apem, ketan, buah-buahan, ditambah beberapa jenis hasil bumi yang lain.

Uba rampe kenduri tersebut ditata sedemikian di atas ancak, tampah, besek, ataupun dalam bakul-bakul kecil. Selanjutnya tatanan kenduri tersebut ditempatkan di atas tikar yang digelar di rumah induk dari kelompok keluarga yang memiliki hajatan. Satu per satu perwakilan dari keluarga-keluarga lain datang untuk kendurenan. Uba rampe kenduri dikepung dari semua sisi arah mata angin, empat keblat gangsal pancer, oleh para hadirin yang dipersaksikan oleh para malaikat.

Mengawali acara kendurian, Pak Kaum sebagai pemangku adat menyampaikan ikrar dari shohibul hajat mengenai niat dan tujuan dikeluarkannya shodaqoh jariyah berwujud nasi tumpeng atau ambeng dan uba rampe-nya. Inti dari uraian ikrar tersebut adalah rasa syukur kepada Tuhan atas segala limpahan dan karunia rejeki yang diberikan. Juga tidak lupa disampaikan rasa terima kasih kepada para leluhur, nenek moyang dan para cikal bakal berdirinya dusun, karena atas jasa mereka para anak cucu dapat hidup dengan kelapangan rejeki, sandang, pangan, dan papan di atas dusun yang dibangun. Inti daripada inti ucapan Pak Kaum adalah rangkaian doa untuk memohonkan ampun dosa-dosa arwah nenek-kakek dan para leluhur yang telah bersemayam di alam baka, yang diaminkan oleh semua hadirin yang hadir di dalam kalangan tersebut. Inilah makna dari “ruwahan” tadi.

Selesai rangkaian ikrar yang disampaikan melalui Pak Kaum, tumpeng dan ambeng-pun dibelah. Sayur dan lauk paukpun dibagi-bagikan secara merata kepada seluruh keluarga satu dusun. Semangat pemerataan rejeki sangat kental bisa disaksikan di sini, karena semua kemurahan rejeki makanan dibagikan secara adil dan merata. Bahkan perwakilan keluarga yang tidak bisa hadir dalam prosesi kendurian itupun tetap akan mendapatkan jatahnya, karena tetangga terdekatnya pasti akan membawakannya untuk mereka.

Filosofi “mangan ora mangan sing penting kumpul” benar-benar dijiwai dan dihayati dalam sebuah prosesi kendurian. Dalam hari-hari dimana tradisi ruwahan berlangsung, semua keluarga, baik yang kaya maupun yang miskin, semua menikmati makanan dari keberkahan nasi kenduri. Nikmat dibagi bersama, beban hidup-pun ditanggung bersama secara gotong royong. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Inilah nilai hikmah yang bisa dipetik dari kelangsungan tradisi ruwahan.

Desa mawa cara, negara mawa tata. Ruwahan di selingkaran tepi Merapi dilaksanakan dengan kendurian. Di tempat lain bisa jadi ruwahan dilakukan dengan cara yang lain pula. Namun demikian, semangat dan makna ruwahan kurang lebihnya pasti tidak jauh berbeda untuk mempererat kembali tali kebersamaan diantara sesama manusia yang masih hidup, di samping inti hajat untuk mendoakan kemuliaan arwah para leluhur dan nenek moyang. Dalam ruwahan, sekaligus aspek hubungan antar sesama manusia (hablum minannas) dan hubungan manusia kepada Tuhan (hablum minallah) terpadukan dengan sangat khusuknya.

Tradisi menjadi jati diri dan identitas sebuah kelompok masyarakat. Kekayaan tradisi di seantero penjuru Nusantara yang disikapi dengan filosofi ke-bhinneka tunggal ika-an justru akan menjadi perekat rasa nasionalisme yang sangat kuat.  Dengan demikian tumbuh-kembangnya semangat dan nilai-nilai yang terkandung di dalam sebuah tradisi harus senantiasa dilestarikan. Hanya dengan jati diri dan kepercayaan diri yang dilandasi tradisi, bangsa ini akan menjadi bangsa yang mandiri dan percaya diri untuk bersanding dengan bangsa-bangsa lain di percaturan dan pergaulan dunia.

Ngisor Blimbing, 7 Juli 2012

Mangkatnya Mbah Kyai yang Alim

Peristiwa kecelakaan pesawat Sukhoi SJ100 yang membawa korban 45 penumpangnya tidak terlampau membuat hati ini merasa terlalu kehilangan. Turut berduka dan berbela sungkawa sudah pasti, tetapi tetap masih dalam batas rasa empati sebagai sesama manusia. Akan tetapi berita duka yang terdengar pagi kemarin sungguh mengguncang dan mengejutkan jiwa ini. Beliau yang belum pernah sekalipun saya temui, namun begitu hati ini merasa sangat kehilangan akan sosok kealimannya. Dialah Mbah Lim, atau yang bernama lengkap Kyai Haji MualimRifai Imampuro, dipanggil kehadirat-Nya pada Kamis pagi di RSI Klaten. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, semoga Gusti Allah mengampunkan segala dosanya dan mengangkat jiwanya di papan kasedan jati yang mulia.

Mbah Lim, ……hmmmm. Kenapa sosoknya seakan terasa sangat dekat? Pertama kali mengenal sosok alim nan sederhana ini adalah di masa SMA dulu ada acara Gardu di salah satu teve swasta yang waktu itu masih baru. Acara yang dipandu budayawan Emha Ainun Nadjib itu senantiasa menghadirkan Mbah Lim untuk medhar sabda (menguraikan) mengenai berbagai kearifan sifat untuk menghadapi hidup yang tengah memasuki jaman edan ini.

Mbah Lim adalah tokoh kyai khos di kalangan warga nahdziyyin yang sangat kharismatik. Sebagai seorang ulama terkemuka, tidak ada lagi yang menyangsikan soal kealiman dan keunggulan ilmu agamanya. Hal yang paling menarik adalah sikap hidupnya yang sangat tawadlu, sangat sederhana, seakan Beliau memang sangat ngiwakke (mengesampingkan) kehidupan duniawi. Dialah sangat takdzim dalam meneladani kesederhanaan kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad yang memilih menjadi abdan nabiyya (nabi yang seorang abdi, orang biasa) daripada harus menjalani sebagai mulkan nabiyya (nabi yang sekaligus raja) sebagaimana pernah ditawarkan Allah melalui Jibril.

Selain kedalaman dan keluasan ilmu agamanya, Mbah Lim juga dikenal sebagai sosok ulama yang sangat mencintai tanah tumpah darahnya, Indonesia. Di masa mudanya, Beliau terkenal sebagai anggota laskar kejuangan yang mengangkat bambu runcing untuk mengenyahkan penjajahan Belanda hingga Jepang. Semangat nasionalisme dan patriotismenya itu bahkan kemudian diabadikan menjadi nama pondok pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti yang diasuhnya di Karanganom, Klaten. Sebuah pilihan nama yang sangat nyleneh dan tentunya tidak main-main. Nama itu benar-benar sebuah cermin abadi akan kecintaanya kepada bumi Nusantara. Baginya menjadi orang Islam yang Indonesia adalah pilihan hidup yang sangat serius. Islam dan Indonesia adalah dua entitas yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain dari seorang pribadi Mbah Lim.

Sebagaimana sering dinasehatkan oleh para alim ulama bahwasanya salah satu tanda-tanda semakin dekatnya hari kehancuran adalah diangkatnya ilmu-ilmu agama dari muka bumi. Ulama sebagai para penerus dan pewaris nabi adalah gudangnya ilmu agama. Maka dengan semakin banyaknya ulama kinasih yang dipanggil keharibaan-Nya tanpa diturunkannya pengganti yang setara sengannya adalah fenomena diangkatnya ilmu tersebut. Bukankah belum berselang di bulan Februari yang lalu juga baru berpulang Kyai Abdullah Fakih dari Langitan di Lamongan? Kenapa jarak rentang waktu kepergian mereka seakan begitu dekat? Inilah pangkal kerisauan kalbu ini sehingga kepergian Mbah Lim membekaskan rasa kehilangan yang teramat dalam di dada ini.

Sugeng tindak Mbah Lim, selamat jalan Mbah Kyai! Semoga kealimanmu menebarkan ke relung jiwa setiap sedulur muslim yang masih harus berjuang untuk berjihad mengalahkan hawa nafsunya sendiri di tengah keedanan jaman edan ini. Moga Tuhan masih memberikan kesempatan bagi manusia untuk menapaki jalan-Nya sehingga menemukan keselamatan sejati di dunia dan akhirat.

Ngisor Blimbing, 24 Mei 2012