Sesungguhnya kunci utama sebuah hidangan menjadi enak adalah rasa lapar. Melengkapi rasa lapar, tentu saja secara psikis dan psikologis diperlukan dukungan suasana hati. Rasa lapar dan susana hati adalah lawuh atau lauk paling lezat dari sebuah hidangan. Sesederhana apapun menu masakan, jika rasa lapar telah menghinggapi perut kita dan suasana hati juga sedang riang alias longgar dari berbagai himpitan pikiran, maka enak-enak sajalah makanan yang kita makan. Sebaliknya jika suatu menu masakan istimewa, digarap oleh koki handal, dihidangkan di tempat elit nan mewah, serta berbandrol harga yang mahal, namun bila tidak ada rasa lapar dan suasana hati yang gembira, maka masakan tersebut tentu saja akan terasa hambar dan sudah pasti tidak enak. Dengan demikian, masalah enak dan tidak enak dalam hal makan menjadi sawang sinawang atau relatif antara satu orang dengan orang lainnya. Makanan dalam hal cita rasa tidak lagi mengenal kasta dan pengkotan kelas sosial.

Andaikan si Ponang ditanya mengenai makanan favorit yang paling disukainya, dengan tegas ia menjawab soto Pak Mukti. Apa itu soto Pak Mukti?

Begini sedulur! Semenjak memiliki tradisi ngangsu kawruh di pengajiannya Kyai Mukti di Koripan Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, sehabis pengajian usai si Ponang selalu minta mampir di sebuah warung soto di pinggiran jalan depan Pesantren An Najach. Sebenarnya warung soto tersebut hanyalah sebuah warung mingguan yang lebih khsusus buka di hari Ahad pagi, saat digelar pengajian rutin di pesantren tersebut. Bangunan fisik warung yang bersanding dengan warung-warung yang lainnya itupun sangat sederhana. Namun justru di balik kesederhanaan itulah kunci keistimewaan menu soto yang disajikan. Bagaimana bisa ya?

Warung soto istimewa ini sudah sejak puluhan tahun melayani pelanggan setianya. Sudah pasti karena jam bukanya lebih khusus pada saat ada agenda pengajian, maka pelanggannya adalah para jamaah yang hadir, tentu saja ditambah dengan warga setempat dan beberapa anak santri pesantren. Bila sampeyan berkesempatan mampir di warung sederhana ini, maka yang pertama kali menyambut sampeyan adalah ketulusan senyum dari Mbah Putri, sang pemilik warung tersebut. Dengan penuh keramahan Mbah Putri akan mempersilakan pelanggannya masuk dan menanyakan menu hidangan yang diinginkan. “Monggo Mas, pinarak lenggah. Badhe ngersakaken dhahar soto?” demikian kira-kira sapaan pertama dari Mbah Putri yang sudah semakin udzur dan mengaku berusia 85 tahun itu.

Menu utama warung Mbah Putri memang nasi soto. Menu sotonya sebenarnya tergooong sangat biasa. Ada nasi, mie putih, irisan seledri, sedikit bumbu, dan tentu saja irisan brambang goreng. Mungkin keistimewaan soto juga dipengaruhi kuah kaldu yang sebenarnya sangat biasa. Nah di warung ini, segala hidangan masih dimasak menggunakan api dengan tungku tradisional berbahan bakar kayu. Ini bisa jadi kunci cita rasa tinggi yang seringkali menjadi hilang tatkala dipergunakan kompor minyak tanah ataupun gas elpiji.

Teman hidangan yang lain berupa aneka rupa gegorengan, seperti bakwan, tahu susur, tempe goreng, hingga gethuk atau tape goreng. Adapun minuman yang menemani tamu bersantap hanyalah standar teh anget manis atau kopi panas. Soal harga, jangan pernah terkejut jika di jaman sekarang ini soto Mbah Putri masih dihargai Rp 2.500, – setiap porsinya. Adapun gegorengan ataupun minuman biasa dihargai Rp 500,-. Haaa? Murah amat!

Memang hidangan nasi soto yang saya ceritakan ini sangat murah meriah. Dari segi harga, mungkin tarif sedemikian murah menjadi sesuatu yang sudah teramat langka dapat kita temui. Namun bukan berarti dengan harga yang murah, maka cita rasa masakan yang dihidangkan juga murahan. Sama sekali tidak sedulur!

Resep utama lezatnya soto Koripan bukan terletak pada keistimewaan racikan bumbu maupun teknik pengolahan masakan yang canggih dan ruwet. Kunci kelezatannya justru terletak kepada kederhanaan, kebersahajaan, dan ketulusan si Mbah Putri dalam melayani tamunya sepenuh hati tanpa ada kepalsuan. Bagi Mbah, berjualan bukanlah sekedar pekerjaan untuk mencari untung. Lebih dalam dari mencari untung, berjualan adalah melayani orang lapar untuk madhang. Madhang berarti proses kegiatan mencari padhang atau pepadhang.

Orang lapar harus segera makan agar tidak terganggu metabolisme atau kesehatan tubuhnya. Apabila orang kelaparan berlarut dan berkepanjangan, maka tenaganya untuk berpikir dan bekerja menjadi hilang, tingkat emosi dan amarah seringkali juga dapat didorong karena rasa lapar. Lebih lanjut, bahkan rasa lapar yang teramat sangat bisa membuat orang menjadi pusing, pening, dan lama-lama mak pet….dunia gelap dan mungkin jatuh pingsan. Maka makan dalam bahasa Jawa disebut madhang, mencari padhang atau terang, tidak saja padhang-nya mata tetapi tentu saja padhang-nya hati.

Soto4

Dengan mendasari proses jualannya dengan konsep kearifan lokal mengenai madhang tersebut, Mbah Putri “berjualan” hanyalah sebagai sebuah cara dan ikhtiar untuk memberikan kemanfaatan kepada sesamanya. Hubungan yang terbentuk adalah hubungan saling membutuhkan satu sama lain diantara sesama manusia. Si pembeli butuh wareg perutnya yang keroncongan, sedangkan si penjual butuh pelanggan yang membeli dagangannya untuk memutar roda ekonomi keluarganya. Inilah makna kebersajahaan hidup yang sesungguhnya sangat diajarkan oleh agama Islam dan agama apapun di dunia ini.

Kebersahajaan hidup, serta kesederhanaan hidup yang dilandasi keikhlasan dan ketulusan batin dari setiap perbuatan manusia akan menuntun kepada keberkahan hidup. Keberkahan hidup inilah sesungguhnya manifestasi dari pancaran nilai iman dan amal ibadah ummat manusia. Makanan yang enak, lezat, mengenyangkan adalah makanan yang halallan tayyiban, yang halal dan baik. Kenapa harus halal dan baik, karena manusia makan untuk madhang itu tadi! Makan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mendapatkan pepadhang alias keberkahan hidup dari Sang Maha Pencipta. Hanya dengan keberkahan itulah manusia akan merasa damai, tentram, dan tentunya kebahagiaan lahir batin semenjak di kehidupan dunia hingga alam akhirat kelak.

Sampeyan juga ingin turut merasakan keberkahan soto Mbah Putri di Koripan? Silakan mampir sambil turut ngaji di tempatnya Kyai Mukti yang digelar setiap Ahad pagi dari jam 07.00 – 09.00. Sampeyan tidak akan pernah menyesal wis!

Ngisor Blimbing, 2 Desember 2012