SD POLENGAN I, SD-KU TERCINTA

Mendengar kisah SD Indonesia Hebat-nya Beny Prakosa dalam tetralogi kumpulan kolomnya Umar Kayam, mengingatkan saya akan SD Polengan I. Dua puluh tahun telah saya tinggalkan bangku sekolah tersebut, setelah enam tahun tekun menimba ilmu dasar dari para Bopo Guru. Di sana saya ditempa, di sana pula saya dibesarkan dalam kesejukan lingkungan persawahan yang masih ijo royo-royo, karena memang sekolah kami perdampingan dengan persawahan.

SD kami terletak di belakang dusun Polengan berdampingan dengan kompleks balai desa, tempat Pak Lurah berkantor. Menempati sebidang tanah bengkok desa, SD kami telah berdiri semenjak digalakkannya program Inpres di tahun 70-an. Semula di desa kami terdapat dua buah SD, masing-masing SD Polengan I dan II yang saling berhadapan. Namun karena jumlah anak usia SD menyusut sebagai keberhasilan program KB, maka dua SD tersebut kemudian di-regroup menjadi satu, dan kini hanya tertinggal SD Polengan I saja. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2000-an.

Selepas menempuh sekolah di TK Aisyiah Bustanul Athfal pada tahun 1984, Bu Sri Umiyati guru TK saya, mengirim saya ke SD Polengan I. Pada saat saya akan lulus TK, aktivitas gunung Merapi sedang meningkat dan diperkirakan akan meletus. Segenap warga disiagakan untuk mengungsi. Pikiran kecil saya masih tidak paham dengan apa yang dimaksud mengungsi, sehingga saya berpikir kalau warga diungsikan tidak akan kembali lagi ke dusun masing-masing. Saya pikir mengungsi sama dengan digusur, hingga saya bertanya kepada mbak saya, “Nek gunung Merapi njebluk, aku sido sekolah SD ora Mbak?” Dasar pikiran anak kecil!

Memasuki sekolah SD, kami ditakut-takuti bahwa Pak Sakroni sang kepala sekolah SD I sangat galak dan suka nggitik dengan soko guru. Lain halnya dengan Pak Suroto, kepala sekolah SD II sangat ramah dan sayang anak. Memang dari segi penampilan nampak sangat berbeda dua sosok kepala sekolah tersebut. Pak Sakroni nampak galak, sedang Pak Suroto yang lebih sepuh nampak sangat lemah lembut dan iapun masih seorang raden. Namun ternyata berita itu terlampau dibesar-besarkan.

Memasuki kelas I, teman sekelas saya berjumlah 25 siswa yang rata-rata masing tetangga sendiri atau tetangga dusun. Memang kebijakan di desa, setiap warga dusun biasanya menyekolahkan anaknya di SD setempat, dan tidak boleh di desa lain. Dua puluh lima inilah kira-kira siswa yang menjadi teman seperjuangan di sekolah hingga enam tahun. Guru-guru di sekolah rata-rata lelaki, mulai dari Pak Maryono, Marsan, Djumadi, Bakri, Harun, Sukamto, Muhsin, Umar Fatah dan seorang Bu Mujiyah.


Sekolah kami masuk pukul 07.15 pagi. Tanda masuk kelas ataupun istirahat menggunakan bel dari pelek mobil yang dipukul sebatang besi. Theng……theng….theng…..!!!! Di pagi hari, sejak jam 06.00 Pak Muhrodi sudah membuka pintu setiap kelas dan para siswa sudah mulai berdatangan. Anak-anak yang berpiket segera menyapu ruang kelas hingga pelataran depan kelas. Anak-anak yang lain asyik memulai permainan di halaman sekolah kami yang cukup luas. Ada yang main gobak sodor, jet-jetan, sudhamanda, jelungpet, tong-tongan, thong-thong barong, sepak bola, atau main rumah-rumahan dari tanah bagi sebagian besar siswa perempuan.

Semenjak pagi pula para Mbok Bakul menggelar jajanan di pojokan sekolah. Ada Mbak Badriyah, Mbak Kalimah dan Mbah Usup. Hanya sedikit anak yang jajan di waktu pagi, karena biasanya mereka sudah sarapan di rumah masing-masing. Anak-anak biasanya jajan pada saat istirahat pertama, dan memang uang saku kami sangat terbatas. Saya paling banter hanya diberi sangu ibu sebesar Rp. 25,-. Uang segitu sering saya jajankan seplastik slondhok, sebuah gorengan bakwan atau tahu susur, dan manisan. Masing-masing seharga sepuluh rupiah dan lima rupiah. Bahkan banyak teman yang tidak punya uang saku. Bagi siswa anak dusun Polengan memilih pulang ke rumah untuk makan di jam istirahat.

Jam istirahat juga seringkali kami manfaatkan untuk bermain di sawah-sawah dan tegalan di sekililing sekolah. Kekeceh atau mencari ikan di sungai, menyebrang talang air dari bambu, memancing di kolam sekolah, ngundhuh gendeo, woh wuni atau ocen-ocen di tegal desa. Sering pula kami ngrusuhi petani yang sedang panen ubi jalar ataupun semangka. Anak-anak yang punya sawah di dekat sekolah bahkan sering mengajak untuk memetik degan, jambu, pepaya, jeruk ataupun buah lain milik orang tuanya.

Pelajaran sekolah yang paling disenangi para murid adalah olah raga. Kami sering diajari main kasti, bola volly, sepak bola, badminton, tenis meja, hingga lompat jauh dan lompat tinggi. Kami memang selalu turut dalam Porseni tingkat kecamatan menjelang Agustusan, dan tak jarang menyabet gelar juara untuk cabang olah raga tertentu.

Senam dan olah raga matraspun diajarkan kepada kami. Bahkan di setiap hari Sabtu, siswa diwajibkan melaksanakan Senam Pagi Indonesia dan Senam Kesegaran Jasmani. Lucunya kedua senam tersebut seringkali dipimpin seorang komandan dengan memberikan aba-aba hitungan satu sampai delapan. Satu…..dua….tiga….empat….lima…..enam…..tujuh….delapan….satu….dst. Waktu itu sekolah kami memang tidak memiliki tape recorder untuk memutar musik pengiring, bahkan listrikpun belum masuk desa kami.

Hari demi hari kami jalani dengan kesederhanaan dan segala keterbatasan. Namun semua hal itu tidak membuat kami tidak menggantungkan cita-cita setinggi bintang di langit. Para Bopo Guru senantiasa menanamkan bahwa kami adalah para calon pemimpin bangsa di masa depan. Waktu itu saya sangat percaya dan terdoktrinasi dengan lugunya, meskipun kini baru tahu bahwa ternyata kini hidup kami masih begini-begini juga, menjadi orang biasa! Namun SD Polengan I sangat berjasa dalam perjalanan hidup kami.

Wajah fisik SD kami memang kini telah jauh lebih baik. Tidak ada lagi atap bocor, tidak ada lagi kelas gelap tanpa penerangan, tidak ada lagi pyan anyaman gedheg yang bolong-bolong. Semoga keadaan yang lebih baik tersebut dapat memacu prestasi adik-adik kami lebih maju lagi. Terima kasih SD Polengan-ku tercinta! Terima kasih bapak ibu guru tercinta! Terima kasihku untuk desaku tercinta!

Kampung Kosong, 10 Oktober 2010