Santoso3Roda jaman memang terus berdinamika semakin cepat. Mobilitas barang dan jasa semakin tinggi, demikian halnya dengan mobilitas orang. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan infrastruktur perhubungan yang semakin maju, seperti sarana jalan dan yang tidak kalah pentingya adalah kendaraan transportasi.

Magelang memiliki posisi yang sangat sentral di tengah pulau Jawa. Kewilayahan Magelang yang tidak memiliki garis pantai, tentu menjadikan Magelang hanya memiliki kemungkinan pengembangan sarana transportasi darat ataupun udara. Untuk sarana transportasi udara, nampaknya untuk saat ini hingga beberapa tahun ke depan, masih belum akan berkembang karena dari pertimbangan ekonomi masih lebih efektif menginduk ke bandara Adi Sucipto di Yogyakarta, maupun Ahmad Yani di Semarang. Bahkan untuk akses ke Adi Sucipto – Magelang, sudah beberapa tahun ini dilayani dengan bus DAMRI yang sangat terjangakau bagi kebutuhan warga.

Di sisi lain, untuk sarana transportasi darat, Magelang sudah sangat lama sayonara terhadap kereta api. Di masa Hindia Belanda, maupun awal orde lama, layanan kereta api jurusan Jogja – Ambarawa, maupun Magelang – Purwokerto melalui Temanggung dan Wonosobo mengalami masa kejayaannya. Namun kisah kereta api di Magelang tinggal menjadi sejarah dan menyisakan beberapa ruas lintasan rel yang masih bisa ditemukan di beberapa titik saja. Maka transpotasi darat yang kemudian menjadi urat nadi sarana perhubungan adalah angkot, engkel, ataupun bus lokal dan antar kota antar provinsi.

Untuk transportasi antar kota seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, hingga Sumatera telah banyak dilayani armada bus, baik yang berpangkalan asli di Magelang maupun kota lain. Khusus jurusan arah wilayah pulau Jawa bagian barat dan Sumatera, layanan bus didominasi oleh bus malam. Beberapa armada yang melayani warga untuk tujuan tersebut diantaranya PO Santoso, Handoyo, Ramayana, dan Putra Remaja. Rata-rata semua armada tersebut menyatakan diri sebagai bus malam cepat.

Apa sih yang diinginkan pelanggan bus malam cepat? Tentu jawaban standar akan didapatkan, seperti kenyamanan, kecepatan dan ketepatan waktu, jaminan keselamatan, dan yang paling menentukan adalah soal harga atau tarif. Untuk penumpang kelas menengah, bisa jadi bus Santoso menjadi pilihan. Beberapa hal yang menjadikan pelanggan bus malam cepat yang satu ini diantaranya harga yang relatif terjangkau, dan faktor ketepatan atau kecepatan waktu tempuh. Untuk tarif, saat ini PO Santoso mengenakan kisaran dari Rp. 85.000,- hingga sekitar Rp. 130.000,- mulai dari kelas ekonomi, utama, bisnis (Patas AC, AC non toilet), hingga eksekutif.

Layanan trayek bus Santoso yang mencapai Klaten dan Gunung Kidul menjadikan pelanggan Santoso tidak hanya berasal dari warga Magelang saja, tetapi luas hingga Klaten, Gunung Kidul, Jogjakarta, Sleman, hingga Temanggung. Trayek tujuan Santoso di Jabodetabek dan sekitarnya meliputi Bekasi, Pulogadung, Mampang, Lebak Bulus, Kampung Rambutan, Bogor, Grogol, Tanjung Priok, Tengarang, Balaraja hingga Cilegon dan Merak.

Ibarat pepatah ono rego ono rupo, bus Santoso sebenarnya sangat memanfaatkan celah tersebut. Pelanggan yang membutuhkan fasilitas bus yang paling ekslusif mungkin tidak akan menggunakan bus ini. Sebaliknya pelanggan yang memiliki keterbatasan uang, mungkin akan memilih armada yang laing murah meskipun dengan standar kenyamanan yang lebih rendah pula. Diantara itu semua, Santoso nampaknya menempatkan posisi di tengah-tengah segmen pelanggan tersebut.

Namun demikian, meskipun Santoso sudah memiliki segmen pelanggan yang setia dengan layanannya, tidak harus menjadikan kualitas pelayanan dan kenyamanan menjadi diabaikan sama sekali. Kondisi bus yang rata-rata sudah memasuki masa penuaan sedikit banyak menurunkan kualitas kenyamanan yang diinginkan pelanggan. Diantara keluhan yang sering mengemuka, semisal kondisi AC yang payah, toilet yang tidak terawat kebersihannya, termasuk kehandalan serta perawatan kendaraan yang seringkali menjadikan bus mogok. Bahkan untuk bus kelas VIP Eksklusif hanya dilengkapi dengan TV mati yang terkesan hanya menjadi asesories semata (sepengetahuan kami, belum pernah menikmati layanan tv yang memutar siaran televisi maupun video), termasuk sekedar iringan musik. Mungkin hal ini di masa mendatang harus menjadi perhatian manajemen sebagai sebuah standar pelayanan minimal yang harus dipenuhi dan agar pelanggan tidak beralih ke armada lain jika memang suatu saat ada pesaing yang mampu memberikan kualitas layanan yang lebih baik dengan harga tiket yang bersaing.

Santoso2

Bagaimanapun masih banyak hal yang harus dibenahi dan ditingkatkan oleh PO Santoso, namun sekian lama armada yang dimiliki putra daerah ini telah banyak mengukirkan jasa kepada warga yang membutuhkan layanan jasanya. Bahkan diantara pelanggan setia Santoso telah mendeklarasikan diri dalam wadah Santoso Mania. Kesetiaan atau loyalitas pelanggan setia Santoso ini harus diapresiasi dan mendorong manajemen untuk melakukan peremajaan armada dan peningkatan layanan serta kenyamanan para pelanggannya. Bagaimanapun pelanggan adalah raja yang akan sangat menentukan keberlangsungan bisnis armada ini di masa yang akan datang. Maka antara perusahaan dan konsumen harus ada keseimbangan hak dan kewajiban. Sama-sama saling membutuhkan, maka diantara keduanya harus bersikap sithik edhing. Pelanggan membayar tarif tiket, maka penguasaha armada harus memberikan kualitas jasa yang terbaik. Di sinilah letak simbiosis mutualisme diantara keduanya mendapatkan titik temu yang adil dan seimbang.

Alamat Kantor Pusat PO Santoso

Jln. Soekarno – Hatta No.22 Telp.(0293) 363715 Magelang

Ngisor Blimbing, 2 Desember 2012