10

Reportase Naik-Naik ke Puncak Tidar

27 Jul 2010 by pendekartidar in Bala Tidar

Di Magelang terdapat gunung atau bukit yang tingginya sekitar 600 m dpl, dan berada di tengah kota. Itulah Gunung Tidar. Asal muasal nama Tidar sendiri masih banyak versi. Ada salah satu versi yang menyebutkan bahwa nama itu berasal dari kata “Mati dan Modar”. Jadi karena angkernya Gunung Tidar waktu dulu, maka kalau ada orang mendatangi gunung tersebut kalau tidak Mati ya Modar. Cerita legenda keangkeran Gunung Tidar dapat disimak dalam Hikayat Gunung Tidar ini.

25 Juli 2010, 15 (lima belas) manusia yang tergabung dalam Komunitas Pendekar Tidar menapaki jalur pendakian Gunung Tidar dari pintu pendakian di kawasan Magersari belakang terminal lama Magelang. Kelima belas Bala Tidar tersebut adalah Mas Aviv, Mas Hanafi, Mas Yudha, Mas Yudo, Mas Kukuh, Restu, Mas Arif, Pak Soli, Pak Singgih, Temannya Pak Singgih, Mas Deden, Mbak Susi, Mbak Emi, Mas Ikhwan dan Bang Ciwir

Jalan setapak yang sudah dipaving ternyata masih saja membuat kaki saya berat diangkat melangkah karena tanjakan yang curam hampir 60derajat. Maka dengan sisa-sisa nafas SamSyu saya terus naik menapaki anak tangga tersebut. Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk sampai di puncak Tidar. Secara umum, Gunung Tidar memang masih cukup alami. Banyak tanaman pinus dan tanaman buah-buahan tahunan seperti salak hasil penghijauan era tahun 1960an menjadikan Gunung Tidar sangat rimbun.

Beberapa saat menapaki jalanan setapak tersebut kita akan bertemu dengan Makam Syaikh Subakir. Yang konon adalah penakluk Gunung Tidar pertama kali dengan mengalahkan para jin penunggu Gunung Tidar tersebut. Menurut legenda (hikayat) Gunung Tidar, Syaikh Subakir berasal dari negeri Turki yang datang ke Gunung Tidar bersama kawannya yang bernama Syaikh Jangkung untuk menyebarkan agama Islam. Tidak jauh dari Makam Syaikh Subakir, sampeyan akan berjumpa dengan sebuah makam yang panjangnya mencapai 7 meter. Itulah Makam Kyai Sepanjang. Kyai Sepanjang bukanlah sesosok alim ulama, namun adalah nama tombak yang dibawa dan dipergunakan oleh Syaikh Subakir mengalahkan jin penunggu Gunung Tidar kala itu.

Dari sana naik lagi dan akhirnya berjumpa dengan lapangan yang cukup luas. Di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah Tugu dengan simbol huruf Sa (dibaca seperti pada kata Solok) dalam tulisan Jawa pada tiga sisinya. Menurut penuturan juru kunci, itu bermakna Sapa Salah Seleh (Siapa Salah Ketahuan Salahnya). Tugu inilah yang dipercaya sebagian orang sebagai Pakunya Tanah Jawa, yang membuat tanah Jawa tetap tenang dan aman.

Situs makam terakhir yang kita jumpai sewaktu mendaki Gunung Tidar adalah Makam Kyai Semar. Namun menurut beberapa versi ini bukanlah makam kyai Semar yang ada dalam pewayangan. Tetapi Kyai Semar, jin penunggu Gunung Tidar waktu itu. Meski demikian banyak yang percaya ini memang makam Kyai Semar yang ada dalam pewayangan itu. Dan mana yang benar, adalah tinggal kita mau mempercayai yang mana.

Terlepas dari keberadaan situs makam-makam tersebut, Gunung Tidar memang cukup menarik untuk dijadikan kawasan wisata. Suasana alamnya mendukung. Namun sayangnya, karena tingginya pohon-pohon pinus yang ada menjadikan kita kesulitan melihat pemandangan baik ke arah kota Magelang maupun pegunungan yang mengelilingi Magelang. Mestinya ini bisa dikembangkan lagi oleh Pemerintah Kota Magelang, dengan penambahan gardu pandang misalnya. Sehingga wisatawan yang datang, selain berziarah juga dapat menikmati pemandangan alam sekeliling Gunung Tidar.

Satu hal yang perlu diingat ketika naik ke Gunung Tidar. Karena ini merupakan kawasan latihan Akmil maka berhati-hatilah. Gunakan saja jalan-jalan yang telah tersedia, jangan mencoba-coba jalan lain tanpa petunjuk atau pemandu atau tanpa pemberitahuan ke pihak Akmil. Salah-salah sampeyan bisa kena ranjau.

KLIK Gambar Untuk Memperbesar

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

sumber : kaumbiasa

  • 460 Views

THIS ARTICLE IS WRITTEN BY

pendekartidar

Pendekar Tidar adalah salah satu komunitas blogger di Magelang. Terdiri dari beberapa blogger dari berbagai kalangan yang disatukan karena berdomisili di Magelang, pernah tinggal di Magelang, pernah singgah di Magelang, atau karena memiliki kenangan tentang Magelang.

Author Profile
COMMENTS
  1. andhyee

    yo nek saiki mungkin menek tugu pucuk tidar wes ora ketok bambu runcinge muntilan karo water toren alon-alon.

  2. Mas Dono

    Wah dadi kangen mulih Magelang. Wiwit balita nganti tua iki yen mulih Magelang biasane munggah bukit Tidar. Maklum, omahe wong tuwa neng Magersari. Jarak mung 500m seko perenging Tidar. Tapi maca reportase iki, aku tetep kesengsem. Ayo terus pertahankan BLOG iki. Bravo Magelang

Leave a Reply

%d bloggers like this: