Roda waktu memang tidak bisa ditahan untuk terus bergulir. Ramadhan tahun ini segera akan berlalu. Ujung dari bulan suci tersebut adalah Idhul Fitri, kembalinya manusia kepada kefitrian dan kesucian dirinya. Manusia-manusia baru terlahirkan kembali setelah menjalani berbagai ibadah penyucian diri selama sebulan penuh. Ramadhan dengan segala hiruk-pikuk rangkaian ritual ibadahnya, ada puasa itu sendiri, tarawih, tadarus, takjilan, dan lain sebagainya usai sudah. Masa “sudah” inilah yang menjadikannya disebut sebagai lebaran. Idhul Fitri adalah Hari Lebaran.

Pasar MuntilanLebaran adalah hari kegembiraan bersama. Tidak tua tidak muda, tidak laki tidak perempuan, termasuk anak-anak sudah pasti menyambut lebaran dengan luapan kebahagiaan dan kegembiraan. Bagi kebanyakan orang, terutama bagi anak-anak, lebaran juga sering identik dengan baju baru, celana baru, sepatu baru, sarung baru. Semua hal baru hadir bersamaan datangnya lebaran. Sudah tentu hal yang paling penting adalah hadirnya hati yang baru, yang lebih taat, yang lebih taqwa, yang lebih bijaksana, dan segala hal yang lebih baik. Dan memang usai Ramadhan dan datangnya Syawal harus menjadi penanda terjadinya peningkatan kualitas hidup, secara jiwa dan ruhani, setelah tergapainya predikat taqwa sebagaimana tujuan ibadah puasa Ramadhan.

Nah kembali kepada yang serba baru tadi, baju baru, celana baru, kerudung baru, sarung baru, peci baru, sandal baru, kain baru dan lain sebagainya. Untuk memenuhi serba-serbi kebutuhan baru tadi juga segala hal untuk kebutuhan Idhul Fitri, masyarakat di kampung saya di Tepi Merapi, sengaja mipik untuk berbelanja segala macam kebutuhan lebaran di pasar terdekat.

Khusus di Pasar Muntilan, yang merupakan pasar tradisional di wilayah Kabupaten Magelang, pada hari-hari menjelang lebaran senantiasa dipenuhi warga dari berbagai penjuru kampung. Dari wilayah Dukun, Srumbung, Sawangan, Ngluwar, Mungkid, bahkan Tempel dan Sleman, masyarakat memadati berbagai toko, ruko dan lorong-lorong di sudut pasar. Saking banyaknya pengunjung yang mencari barang kebutuhannya, lorong-lorong pasar menjadi lautan manusia. Mereka berdiri dan berjalan berdesak-desakan. Bahkan untuk sekedar menggerakkan tubuhpun hanya tersisa ruang yang sangat sempit sehingga tak jarang satu sama lain pengunjung saling berhimpitan badan.

Suasana pasar yang pada hari-hari biasa relatif sepi dan tenang, pada hari-hari tersebut menjadi riuh rendah. Suara manusia yang saling bertegur sapa, saling tawar-menawar, pedagang yang menjajakan dagangannya menjadikan pasar seolah kembali “berkumandang“. Hari-hari demikian sering kami istilah sebagai Hari Prepegan.

Prepegan berasal dari kata mrepeg. Mrepeg dalam bahasa Jawa merupakan kata sifat yang menyatakan suatu keadaan. Mrepeg bisa diartikan mendesak, kritis, juga tergesa. Mungkin dikarenakan menjelang lebaran, pikiran masing-masing orang yang datang ke pasar dipenuhi dengan angan dan rencana-rencana untuk mendapatkan barang kebutuhan yang diinginkannya guna menyambut hari kemenangan. Dalam kondisi demikian, dalam diri orang tersebut semacam ada dorongan beban yang ingin segera dituntaskannya. Itulah kondisi sumpeg bin mrepeg yang harus segera dituntaskan. Di sisi lain, secara harfiah, pada Hari Prepegan manusia memang berjubel memenuhi pasar. Suasana pasar bertambah ramai, padat dan mungkin juga sumpeg berdesak-desakan.

Di luar hari-hari biasa, Pasar Muntilan memiliki hari Kliwon sebagai hari pasarannya. Jika hari pasaran merupakan puncak keramaian pengunjung pada setiap sepasar dina (lima harian), maka prepegan justru merupakan puncak keramaian pasar yang berskala tahunan. Hal ini tentu saja tidak dapat dipisahkan dengan akan datangnya Hari Raya Idhul Fitri, yang merupakan hari agung bagi pemeluk agama Islam wabil khusus bagi ummat Islam di Pulau Jawa.

Suasana prepegan pasar yang hiruk-pikuk dengan ribuan pengunjung juga menimbulkan sisi kerawanan. Di tengah lautan manusia yang saling berdesak-desakan tidak jarang hadir tangan-tangan jahil bin kriminil yang memanfaatan keadaan. Maka tidak mengherankan pada saat prepegan tersebut sering terjadi tindakan kriminal, dari pencopetan, pencurian, penjambretan, bahkan gendam atau hipnotis. Di sinilah setiap pengunjung pasar harus benar-benar waspada dan berhati-hati dengan segala barang berharga dan uang yang dimilikinya. Salah-salah jika pengunjung teledor atau terlena sehingga kehilangan kewaspadaan, bukannya terpenuhi kebutuhan lebarannya tetapi justru kehilangan barang miliknya entah kecopeten atau kecurian.

Lepas dari itu semua, suasana prepegan pasar yang hanya hadir pada hari-hari menjelang Hari Lebaran memang sangat khas dan unik di masing-masing daerah. Hal inilah yang menjadikan banyak orang, terlebih para perantau di luar daerah, yang justru merindukan keramaian dan hiruk-pikuk suasa prepegan. Sampeyan pernah juga merasakannya?

Lor Kedhaton, 24 Juli 2014