Sendangsono1  Sendangsono2

Siapa yang tidak kenal ataupun belum pernah mendengar nama besar Romo Mangun. Lelaki yang bernama lengkap YB Mangunwinajaya tersebut tidak saja dikenal sebagai seorang pastur Katholik tetapi sekaligus seorang arsitektur dan penganut paham humanism dalam setiap sepak terjangnya. Bagi penggelut sastra, nama Romo Mangun sangat akrab dengan karya-karya romannya, seperti Rara Jonggrang, Burung-burung Manyar, dll.

Salah satu jejak karya arsitektur Romo Mangun yang spektakuler adalah Pesanggrahan Sendangsono. Sendangsono sendiri merupakan sebuah situs yang sangat bersejarah dalam penyebaran agama Katholik di Tanah Jawa. Adalah Romo Vanlith, seorang misionaris yang pada awalnya datang di wilayah Muntilan, melakukan pembabtisan terhadap Barnabas Sarikrama dan beberapa warga setempat di sebuah sendang di bawah pohon sono (angsana) yang terletak di atas perbukitan Menoreh. Berawal dari keberadaan sendang inilah, tempat tersebut menjadi tujuan peziarahan kaum Katholik yang hingga kini dikenal sebagai Sendangsono.

Sendangsono terletak di gugusan perbukitan Menoreh. Dari jalur utama yang menghubungkan Muntilan – Wates, sebelum tikungan jembatan di wilayah Banjaroya kita akan menemukan sebuah pertigaan yang mengarah ke kanan. Dengan menyusuri jalanan beraspal yang relatif sepi dari hiruk-pikuk kendaraan, kita harus menyusurinya sepanjang kurang lebih 7 km untuk tiba di Sendangsono. Kondisi jalan sangat baik dan bisa dilalui, baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Meskipun perlahan jalanan menanjak, namun jalanan yang asri oleh rerimbunan pohon di kanan-kirinya menjadikan perjalanan sungguh mengasyikkan. Hal ini masih ditambah lagi dengan suguhan pemandangan di sisi bawah perbukitan dengan hamparan ngarai Kali Progo di sisi timur sungguh menyuguhkan panorama yang sangat indah.

Bagi pengunjung yang baru pertama kali menuju Sendangsono, tidak perlu khawatir akan tersesat atau salah jalan dikarenakan sepanjang perjalanan telah terpasang petunjuk arah yang memadai untuk memandu arah ke Sendangsono.

Sendangsono7

Tiba di area Pesanggrahan Sendangsono, pengunjung dapat menempatkan kendaraannya di area parkir yang telah tersedia. Selanjutnya dengan berjalan kaki, pengunjung dapat langsung memasuki gerbang gapura berbentuk persegi dengan lengkung tinggi di tengahnya serta bertatahkan batu kali yang memberikan kesan keanggunan dan keagungan dalam bingkai kebersahajaan. Selanjutnya sebuah lorong melengkung dan menanjak dengan deretan para penjual perlengkapan doa maupun souvenir khas akan mengantar pengunjung menuju area pesanggrahan.

Area pesanggrahan Sendangsono sebenarnya terletak pada sebuah ngarai yang diapit dua sisi perbukitan. Tepat di tengah ngarai inilah terdapat mata air dan sendang yang menjadi cikal bakal penamaan Sendangsono. Sebuah sendang pemandian yang terletak di bawah pohon sono. Sono sendiri merupakan salah satu jenis pohon yang hingga kini banyak terdapat di kawasan perbukitan Menoreh.

Begitu menapaki pintu masuk pesanggrahan melalui jalur jalanan berundak yang menurun, pengunjung akan langsung merasakan sebuah nuansa kedamaian dan ketentraman hati. Bentuk, tatanan, hingga penempatan bangunan sungguh memiliki perpaduan artistik yang sangat mempesona. Bahkan sekedar anak tangga dan undak-undak di berbagai tepian sungai diisi dengan rangkaian konblok yang ditata sedemikian rupa sehingga berwujud terasiring yang menampilkan sentuhan bentuk tiga dimensi yang sangat luar biasa.

Sendangsono3  Sendangsono4

Berada di bagian awal ketika pengunjung memasuki area pesanggrahan, terdapat beberapa pondok terbuka dengan dengan dominasi bahan kayu, bahkan lantainyapun berupa tatanan kayu berserat yang mengesankan alami dan berkesan sejuk. Bangunan beratap limas dengan sisi tepi bersirip tatanan genteng yang membentuk segitiga dari puncak atap hingga dasar bangunan ini mengingatkan kepada sebuah tenda yang digunakan para pramuka untuk berkemah. Bangunan kembar dua yang berdiri di lereng sungai ini sebenarnya bertingkat dua dengan tingkat atas yang sejajar dengan pelataran di teras pertama. Bangunan terbuka ini biasa difungsikan sebagai tempat diskusi bersama maupun peristirahatan para peziarah yang tinggal untuk beberapa hari di tempat ini.

Beranjak dari pelataran di terap pertama, pengunjung dapat menelusuri sebuah lorong berundak dengan hiasan ornament beberapa patung yang mengisahkan perjalanan hidup Yesus dalam bingkai relung atap mungil yang ditempatkan di dinding tebing. Lorong inilah yang disebut sebagai jalan salib pendek.

Anak tangga pada jalan salib pendek ini selanjutnya mengantarkan ke sebuah bangunan dengan dinding kaca terbuka. Uniknya bangunan yang bernama Kapel Para Rasul ini dimahkotai dengan tiga atap berbentuk piramida dengan masing-masing piramida memiliki empat pucak piramida yang lebih kecil. Atap tersebut bisa disebut atap piramida bertingkat dengan dua belas puncak piramida. Angka dua belas konon melambangkan dua belas rasul suci yang dipercayai sebagai para murid Yesus. Gaya arsitektur atap piramida tersebut mengingatkan kita kepada model istana ataupun benteng jaman eropa klasik yang dilengkapi menara atau kastik dengan puncak limas maupun kerucut dengan bendera di puncaknya.

Sendangsono6

Naik dari teras Kapel Para Rasul, sampailah pengunjung di pelataran terap ke tiga. Pelataran yang cukup luas dibandingkan pelataran yang lainnya ini memberikan sudut pandang ke segenap area pesanggrahan. Dari pelataran ini terlihat seluruh bagian pesanggrahan, baik di sisi bawah, atas, maupun seberang sendang. Dari pelataran ini bisa mengantarkan pengunjung ke bangunan kapel Maria, ke area makam Semagung yang ditandai dengan salib millenium, ke area sendang penyucian, ataupun goa Bunda Maria di sisi bawah. Dengan dinaungi sebatang pohon beringin yang besar nan rindang menjadikan suasana di pelataran ini penuh kesejukan oleh semilir angin pegunungan yang berhembus. Suasana ini benar-benar meneggelamkan siapapun yang ingin bermeditasi dan mendekatkan diri kepada alam juga kepada Tuhan.

Menyusuri sisi bangunan fisik pesanggrahan Sendangsono mungkin memang hanya memerlukan beberapa saat saja, tetapi memaknai setiap sisi abstraksi bangunan maupun historis yang ada kita memerlukan waktu yang teramat panjang untuk dapat menangkap semua aura ruhaniah yang dirancang semenjak seratus tahun yang lalu. Sendangsono seolah menjadi samudera yang luas nan maha dalam bagi pengembaraaan batin setiap insan, bahkan yang bukan seorang Katholikpun.