17

PENDEKARTIDAR#11

25 Aug 2010 by pendekartidar in Tokoh-Tokoh

LITTLE KING ING NDALEM PENITEN

Apalah arti sebuah kerajaan tanpa seorang raja? Demikian halnya seperti Ndalem Peniten, sebagaimana konstitusi semi monarkhi yang telah kami sepakati. Semenjak Romo Morosepuh lengser ing kasedan jati, praktis kekuasaan keprabon kosong alias terjadi vacum of power. Namun suasana itupun hanya berlangsung selama beberapa tahun, karena kemudian terlahirlah sosok bocah yang kemudian langsung winisuda sebagai raja baru, raja kecil, Sang Little King Ing Ndalem Peniten.

Adalah dini hari selepas lingsir wengi di hari Senin Pon sang raja menguak jagad padhang. Lebih istimewa lagi beliau dilahirkan di bulan Suro, ini sekaligus sebagai pertanda bahwa kelak ia akan mewarisi sifak berani, tegas dan berwibawa dari para pendahulunya. Bahkan sekedar etungan para dokter tentang saat kelahiranyapun ditentangnya mentah-mentah, dan ia dengan gagahnya lahir lebih awal dan tidak mau ditolong oleh sekedar Mbah Dukun, apalagi bidan dan dokter. Ia memilih dilahirkan oleh alam dari tangan Tuhannya langsung, sehingga bahkan sang ibundanyapun tidak kenal merasakan sakit dan perihnya melahirkan si ponang jabang bayi. Itulah tanda bakti seorang bocah kepada ibu yang di telapak kakinya tertahtakan surga abadi.

Sedari kecil Sang Baginda memang telah menebarkan aura kewibaannya. Sorot mata nan tajam bak raja sang rajawali yang perkasa, bahkan mata itupun sangat jarang meneteskan air mata sebagai bukti ia raja kecil yang kuat. Daya ingat yang kuat untuk meniru dan menghafal para abdi dan kawulo yang matur di hadapannya, indra pendengar yang luar biasa bahkan sangat peka terhadap swaraning asepi. Dan yang pasti energinya yang sangat luar biasa untuk bergerak ke sana  ke mari meski masih dalam keterbatasan seorang bocah bayi, bahkan kegemaran utamanya di pagi hari adalah beranjang sana meninjau wilayah kerajaannya, sekaligus berhibur paring dhahar kepada kijang kencana kesayangannya. Maka kemudian SangRomonyalah yang turun pangkat menjadi abdi setia bagi setiap keinginan Sang Little King Ing Ndalem Peniten.


Lelagon klangenan beliau semenjak baru bisa ngrasa melalui indra dengarnya adalah Sleeping bad atau Bangun Tidur-nya Mbah Surip, sang maestro dari Ismail Marzuki. Di samping itu ia sangat mad dengan sholawatan kreasinya Kiai Ma’ruf Islamudin dengan grup Walisongonya dari Sragen. Demikian halnya dengan sholawatan campur sari dari Kangmas Didi Kempot. Namun demikian yang paling dikagumi Baginda dengan sangat hafalnya adalah penampilan Maiyyah Indonesia dari Kiai Kanjeng yang menampilkan kolaborasi alat musik perkusi yang sangat digandrunginya. Tak heran bila ia sangat menyukai bedug, drum, biola, suling, piano, bonang, kenong hingga saron dan demung.

Soal minuman kegemaran Baginda sudah tentu susu enpago. Beliaupun sangat keranjingan dengan mimik-an, wedang teh yang dihidangkan dalam sekantong plastik kecil dan diberi sedotan yang dipundhutnya di warung Mbak Ambang dengan harga Rp.500,-. Tidak hanya itu, sang raja juga sangat nggathok dengan es kutak, teh kemasan dalam kotak yang lebih dikenal sebagai teh kotak! Inilah yang membuat bajet blanjan ibu surinya sering overngirit di tanggal tua. Maka untuk sedikit ngirit dan mensiasati kebutuhan Baginda, es kutak coba digeser ke teh sosro yang lebih kecil. Namun apa mau dikata, Sang Raja bersabda dengan bijaksananya, “teh soso tidak enak dan marake watuk!Welha dalah jagad dewa batara, kearifan dewa dari kayangan mana yang telah menitis ke dalam jiwa dan raga Baginda.

Kini usia Baginda memang belum genap tiga tahun, namun meskipun boleh dibilang belum jangkep tata jalmonya, Baginda sangat paham akan arti kekuasaan. Semua kawulo dan anggota Ndalem Peniten harus tunduk kepadanya. Segala permintaan dan keinginannya harus dilayani tanpa protes dan saat itu juga. Ia sangat paham makna sejati dari sabdo pandito ratu!

Bila di pagi buta Baginda menginginkan untuk meninjau “mesjid adoh”, maka Sang Romo harus segera mengantarkannya atau bahkan membopongnya untuk menuju mesjid yang dikehendakinya. Tak jarang Beliau seringkali ngoyoworo minta diantarkan ke Mesjid Aceh, Demak atau Kudus dengan “numpak Honda”. Bahkan daya khayalnya yang super dahsyat membuatnya ngeyel ingin “awwoh” di Mesjid Mekkah. Di mata Baginda dunia hanyalah selebar daun kelor yang dalam sekejap mata kekuasaan dan kesaktiannya dapat menghilangkan jarak ruang dan waktu yang terbentang.

Pernah satu kali Beliau gandrung untuk segera bergabung di PAUD Rumah Bintang di Potrosaran. Dengan semangat ingin tahu dan stamina pengembaraan intelektualitas kebocahannya, ia sangat rajin untuk belajar dan  ngangsu kawruh baru. Namun  itupun tidak bertahan lama, karena ia segera tidak terpenuhi kepuasan batinnya tatkala melihat TK Rimbani yang menampilkan aksi drum band di hadapannya. Maka dengan ngeyel ia menitahkan ingin segera pindah padhepokan di TK tersebut. Namun bagaimanapun juga, keinginan Baginda terbentur tembok birokrasi yang mensyaratkan umur minimal yang jelas-jelas belum mampu dipenuhi Si Raja Kecil.


Berkembara menjelajah dari desa dan dusun di Tatar Tidar adalah naluriah seorang Little King Ing Ndalem Peniten. Tidak hanya Peniten, Baginda mengenal betul wilayah sak kukuban Potrobangsan, mulai Menowo, Tuguran, Kebon Polo, Sanden, hingga sebrang Kedungsari. Ia sangat mengerti akan perjalanan hidup yang mesti mbanyu mili, mengalir sesuai titah Ilahi sebagaimana alur Kali Manggis dan Kali Progo yang dengan fasih dihapalinya.

Tidak cukup sampai di situ Baginda yang satu inipun sangat takzim dengan Mbah Kiai Mukti di Ponpes An Najah yang hampir setiap Ahad Pagi dikunjunginya. Tidak hanya sabdo dalem Sang Kiai, ia sangat paham lekak-lekuk jumlah grojokan, kolam, sawah, hingga ikan lele, mujahir dan bawal yang ada di belakang komplek pesantren. Tidak hanya cukup berguru kepada seorang kiai, Bagindapun pernah ngangsu kawruh kepada Mbah Paiman sang juri kunci Gunung Tidar dan Mbah Herman yang mbahurekso Mesjid Agung.

Ndalem Peniten memang jelmaan kerajaan versi Si Ponang Bocah Magelang. Di sana ia lahir, di sana ia besar dan di sana pula ia menggenggam tahta kekuasaan dengan wibawanya. Kelak di kemudian hari, semua trah Peniten hanya bisa berharap Sang Baginda diberikan umur panjang, kecerdasan, kesholehan, kebijaksanaan sehingga dapat memerintah secara ambeg adil paramarta sehingga bisa membawa kerajaan yang gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja dan yang pasti baldatun thoyyibatun wa rabun ghafur.[]

Ndalem Peniten, 14 Agustus 2010

  • 157 Views

THIS ARTICLE IS WRITTEN BY

pendekartidar

Pendekar Tidar adalah salah satu komunitas blogger di Magelang. Terdiri dari beberapa blogger dari berbagai kalangan yang disatukan karena berdomisili di Magelang, pernah tinggal di Magelang, pernah singgah di Magelang, atau karena memiliki kenangan tentang Magelang.

Author Profile
COMMENTS
  1. Farchan

    mungkin kelak di masa depan baginda akan menjadi seorang petualang sejati.

  2. maey

    mas, namanya adike yang mana to?
    dek ponang, dek baginda, atau yang mana…

    (pertanyaan lugu banget…. :)

  3. wong banyurojo

    hahahaah. ki dalang siji iki pancen top markotop! nek anakku, njaluke “es pin” alias es krim. neng nek “awoh abang” cukup neng langgar sebelah, ora tau njaluk neng mekah barang.

Leave a Reply

%d bloggers like this: