Blogger Cemani Ayam Kedu

Alkisah di acara Kontak Tani, mBah Joyo mengalami kesusahan bertubi-tubi. Musim paceklik, gagal panen, ternak terserang penyakit, badanpun lemes dan lungkrah. Atas nasehat Ki Ronggo, dukun dusun, mBah Joyo diperintahkan untuk atur sesaji seperangkat ingkung ayam yang serba hitam. Bulunya hitam, kaki dan kukunya hitam, paruhnya hitam, dan konon darah dagingnyapun hitam. Itulah ayam cemani, ayam yang berwarna serba hitam kebanggaan blogger yang akan dibabar kali ini.

Adalah Bhumi Pala Swadaya Temanggung, di samping terkenal dengan tembakau palanya, juga memiliki produk unggulan hasil ternak ayam cemani. Ayam cemani memang tidak biasa dibuat mie ayam, ayam bakar, ayam goreng, ayam kosek, apalagi ayam “kampus”! Spesies ayam ini memang memiliki peruntukan yang amat khas dan khusus. Konon ayam ini bisa memperlancar rejeki, menjadikan caleg sukses terpilih, menjadikan calon apa dapat mencapai apa begitu! Ayam inipun bisa menjadi tolak bala, hingga penyembuh penyakit. Inilah selintas kisah magis dan mistis yang unik dan beraroma klenik dari ayam cemani.

Berangkat dari kebanggaan sebagai sentra peternakan ayam cemani yang kawentar sak indenging nuswantara tersebut, maka blogger yang satu ini mengibarkan bendera cemani.wordpress.com. Siapakah gerangan tokoh di balik layar blog yang saya maksudkan?

Konon nama aslinya Emi Farikhah. Namun ia sering menyebut dirinya sendiri dan menuliskannya sebagai Emo, Em, bahkan cuma M. Gadis cilik langsing nan lincah ini merupakan penengah dari tiga bersaudara yang sangat mirip dengan trio kwek-kwek. Ini bisa dilihat dari cas-cis-cus dan cemrewetnya kalau dia sedang berbicara.

Satu hal yang sangat menyejarah dan melegenda di kalangan Bala Tidar adalah rekor kopdar perdana yang digelarnya bersama blogger Bengawan jauh hari sebelum Komunitas Pendekar Tidar terlahir. Alkisah di seputaran akhir tahun 2008, dua blogger kangsenan untuk kopdar di Alun-alun Magelang pada satu Sabtu malam Minggu. Nggak ngapa-ngapain konon, wong hanya ngombe wedang ronde bareng! Hanya dua orang memang, tapi inilah sejarah terjadinya kopdar pertama di kota Magelang yang justru dilakukan oleh blogger dari luar Magelang. Kisah ini tentu saja dikesampingkan dari kopdar rutinannya Ndoro Seten dan Si Ponang yang sudah diadakan semenjak awal 2008 di nDalem Peniten.

Meskipun sosok wadagnya perempuan, namun M sangat senang berpetualang. Menjelajahi alam perawan di Curug Lawe adalah aktivitas pengelanaan yang terakhir dikabarkannya. Konon M memang mewarisi ilmu meringankan tubuh hingga langkah kakinya terlihat ringan dan lincah, terlebih bila sedang mengendarai si kuda besinya. Ia sudah sangat terbiasa menempuh jarak Kedu-Mertoyudan, tempat keberadaan kampusnya, hanya dalam tempo 20-30an menit. Ilmu garuda nglayang, bisa jadi ilmu itulah yang dikuasainya.

Satu lagi hobi yang sering dilakukannya adalah main hujan-hujanan. Ini tentu saja dilakukannya sambil kebut-kebutan di jalan raya. Seringkali terdengar kisah ketergesa-gesaannya bolak-balik antara kampus dan tempat kerjanya dalam suasana hujan rintik maupun hujan lebat. Dan pernah karena kurang komunikasi, begitu ia sangat terburu-buru untuk bekerja selepas ngangsu kawruh di kampus, iapun nekat menembus hujan dan badai. Padahal sesungguhnya pada hari itu ia sedang bebas tugas. Akhirnya ia kecelik. Lebih masgul lagi pada saat itu rekan Bala Tidar yang lain sedang among-among sego megono di nDalem Peniten. Maka rasa kemrungsungnya dibayar dengan rasa kuciwa yang mendalam.

Jauh sebelum Gus Ikhwan ikut merapatkan diri di barisan Bala Tidar, M telah berdiri di barisan terdepan dan sempat ikut membidani kelahiran Komunitas Pendekar Tidar. Awalnya ia memilih ikut gabung ke Magelang karena di kawasan Kedu belum ada satupun komunitas blogger, di samping mungkin alasan lokasi yang paling mungkin dapat dijangkau. Namun harapannya ke depan, di Temanggung tanah kelahirannya kelak di suatu hari dapat pula maujud sebuah komunitas serupa.

Komunitas Pendekar Tidar bagi M adalah ruang keluarga besar yang penuh rasa keterbukaan dan persaudaraan. Ia konon pernah diajak bergabung dalam suatu perhelatan pada suatu komunitas blogger di bumi seberang. Namun apa yang didapatinya? Bukannya kehangatan persahabatan yang saling tegur sapa dan berjabat tangan erat, eee…..malah tidak digubris sama sekali, dicuekin dan barangkali dianggap dongklak pring atau bahkan keberadaannya dianggap sebagai ketiadaannya. Inilah sepenggal pengalaman pahit yang pernah dialaminya dan anehnya hal itu tidak dijumpainya di tengah wirablogger Bala Tidar, dan hal inilah yang membuatnya krasan ikut bergabung.

Lebih jauh lagi, bila komunitas yang lain mengadakan acara jumpa darat dengan kumpul di mall, restoran atau rumah makan, maka Bala Tidar memilih duduk melingkar di Ringin Tengah Alun-alun Magelang. Baginya ini sangat inspiratif dan filosofis. Alun-alun adalah media ruang publik yang masih tersisa oleh gerusan arus modernisasi. Alun-alun pralambang keluasan dan keterbukaan. Inilah makna motto paseduluran tanpa batas yang mendasari pesrawungan yang kita cita-citakan bersama.

Saking kepinginnya M untuk selalu bersama dengan Bala Tidar yang lain, sering perasaan itu terhanyut hingga di alam mimpinya. Ia pernah menuturkan bagaimana baru satu minggu tidak kopdar sudah bermimpi rekan-rekan Bala Tidar menggelar rapat di rumahnya dan pakai acara menginap lagi! Bahkan tak tanggung-tanggung nama Ponang dibawa-bawa pula sebagai delegasi rapat termuda. Wel-wel…..leh-leh…..weleh-weleh!

Berbicara tentang bumi Kedu tempat tinggal M, di samping terkenal karena tembakau dan ayam cemaninya, belakangan juga lebih terkenal karena wisata terorisnya di dusun Beji. Lokasinya hanya sekitar 500 m di belakang rumah M. Kedekatan inilah yang mencatatkan M sebagai citizen journalist pertama yang merekam detik-detik pengrebekan Densus 88 di awal Agustus 2009 lalu. Rumah bekas persembunyian Boim yang kemudian tertembak mati inilah yang beberapa bulan berselang menjadi magnet bagi para peziarah teroris. Dan Bala Tidarpun tidak ketinggalan ikut beranjangsana ke sana berbarengan dengan acara Halal bi Halal di bulan Syawal kemarin. Meskipun kemudian kami semua hampir sepakat menyimpulkan bahwa drama detik-detik pegrebegan Densus 88 sebagai hoaxxxxxxxxx besar!

Kampung Kosong, 1 April 2010