Bandoro Eko Candimulyo

Berbicara duo blogger Bala Tidar dari tlatah Candimulyo, rasanya tidak ilok tanpa menyebut nama besar Eko Candimulyo. Ditempelkannya wilayah Candimulyo sebagai nama “marga” tentu bukan tanpa alasan. Pertama di kalangan wirablogger Bala Tidar memang memiliki beberapa nama Eko, maka untuk membedakan satu sama lain ditambahkanlah “nama spesies” atau marga dengan daerah asal usulnya. Kedua, karena memang secara trah wutah geteh, Eko mewarisi wahyu kedhaton para pinisepuh danyang penguasa bumi Candimulyo.

Alkisah pada dini hari Senen Wage menjelang lingsir wengi, terdengarlah tangisan keras bayi mungil yang baru mbabar alam rahim. Meskipun hujan rintik masih mengiringi pertengahan bulan yang penuh hujan tiap hari tersebut, namun satu keluarga kecil nampak sangat bahagia menerima anugerah kelahiran sang putra pertama. Dialah sang penerus dinasti yang kelak digadang-gadang untuk dapat mikul dhuwur mendhem jero terhadap kamulyaning kedua orang tua dan segenap trah keluarga besar Tampir Kulon.

Menyandang nama lengkap Eko Ardian Nurul Hidayat, pemuda semampai ini kini tengah ngangsu kawruh di padhepokan mBulak Sumur Ngayogyakarto Hadiningrat. Cita-cita yang tengah ditekuninya berkaitan dengan ilmu “lelembut” radiasi, terutama untuk keperluan medik. Tak salah bila dikatakan ia adalah salah satu sosok penerus nama besar dr. GA Siwabessy yang asli Sulawesi.

Bumi Tampir Kulon memang semenjak jauh di masa silam kejayaan Dinasti Mataram, merupakan tanah perdikan yang bertuah. Menempati persilangan garis spiritualistik yang membentang dari puncak Merapi menuju Gunung Sumbing, menjadikan wilayah ini memiliki aura dan daya magik yang sangat luar biasa. Para sedulur tentu bisa merasakan dengan sangat merinding bila berada berdekatan dengan Eko Candimulyo.

Bersama dengan sang karib setia, Nahdhi Candimulyo, Eko imut memberanikan diri mewaikili bumi Candimulyo dalam gelaran Kopdar Akbar Pendekar Tidar di Alun-alun Magelang setahun silam. Dengan semangat paseduluran yang tinggi, ia mencoba membuktikan diri bahwa yang muda adalah yang berkarya. Maka dalam kesempatan agenda dan program yang dirancang komunitas, Eko Candimulyo selalu berada di ring satu untuk mengamankan dan mengamalkan setiap kebijakan dan garis komando yang dititahkan.

Bagi Eko ngeblog tidak saja masalh tren sesaat. Lebih jauh ia berpikir tentang bagaimana menambah paseduluran dengan banyaknya teman yang bisa digandeng. Blogpun bisa diekspresikan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, namun juga sekaligus untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan dari wirablogger yang lain. Blog adalah media dengan multiefek dan manfaat yang bisa diraih secara positif. Ini mestinya menjadi mainstream pemikiran generasi muda yang kreatif dan mau maju dalam soal pemikiran.

Mengaku memiliki hobi membaca dan ngenet menjadikan pria muda calon sarjana ini menjadi pengembara di jagad awang-uwung pergulatan pemikiran. Wawasan dan cakrawala pandang hidup yang luas dan mendalam didapatkannya dari  perjalanan pengembaraan pemikiran hingga blusukan di wilayah karang padesan. Kegemaran merenung hingga ke puncak gunung, menjadikannya paham akan philosopi alam, maka jangan heran bila ia kemudian mengibarkan umbul-umbul “natural philosophy” di rimba raya perbloggeran nasional.

Saat ini, di samping kegiatan pendalaman ilmu keduniaan di mBulak Sumur, konon kata Eko Candimulyo juga tengah menelaah sebuah “manuskrip” kuno tentang sistem kekuasaan dinasti Mataram pada masa akhir kekuasaan Sultan Agung Hanyokrokusuma dan masa awal pemerintahan Amangkurat I. Kisah tentang pemberontakan Adipati Pragola, upaya penakhlukan Batavia, keberingasan Wiroguno, trik Kanjeng Ratu Ibu, kebijaksanaan Singoranu, kekejaman dan ketragisan kekuasaan Amangkurat, kesigapan pasukan Trisat Kenya, kelucuan Ki Untir-untir dan Bolu adalah sederetan karakter yang tengah diselaminya secara mendalam.

Tidak bisa diragukan pula bila Eko muda paham akan seluk beluk dan strategi perpolitikan tingkat tinggi kerajaan Nuswantoro hingga hilangnya benua Atlantis yang konon memang terletak di Indonesia masa pra sejarah. Ia sangat percaya akan keunggulan peradaban dan budaya Lemorian yang konon mampu mengalahkan empat penjuru dunia dan merambah di lima benua. Semua catatan dan analisa pemikirannya yang tajam menukik dapat sampeyan simak secara gratis di halaman natural philosophy-nya.

Meski tidak memiliki latar belakang kursus pengelolaan keuangan daerah ataupun pengadaan barang dan jasa, Eko Candimulyo dipercaya oleh para sedulur Bala Tidar untuk mengelola keuangan dan segala aset kekayaan komunitas. Melalui catatan dinginnya dapat diketahui dengan pasti siapa rekan wirablogger yang rajin kirim upeti ataupun asuk bulubekti bondho pengereng-ereng. Diapun tahu persis seberapa kekuatan komunitas dari sisi finansial. Ya, Eko Candimulyo memang telah menyandang gelar besar Kanjeng Raden Bandoro Ing Bhumi Tidar Sayyidin Panoto Arto Ingkang Jumeneng Kaping I.

Satu hal tanda tanya besar di otak saya, kenapa ia sangat sensitif dengan kata “nurul”? Bukankah itu memang bagian dari namanya? Ahhh……mbuh ra weruh! Demikian sekedar catatan ngalor-ngidul penuh aji pangawuran dari sang fakir.

Kampung Kosong, 12 Maret 2010