PENGGIAT MASYARAKAT

twarnaLelaki muda itu mengaku sebagai pendekar yang turun dari lereng Gunung Sumbing. Dia memperkenalkan diri bernama Roji’un. Menurut Kang Ciwir nama lengkapnya adalah “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”, sekedar berkelakar(biasalah sebagai trah penganut gojek kere). Siang itu, selepas matahari tergelincir kami diperkenalkan sebagai sesama saudara di bawah kerindangan ringin alun-alun.

Roji’un adalah sosok pemuda sederhana. Demikian barangkali karena daya kasih alam Sumbing, sebuah kawasan padusunan yang cedhak watu lan adoh ratu, lebih dekat kepada batu daripada sang ratu. Namun justru lewat belaian alam yang senantiasa bekerja senafas dengan titah Gusti itulah terlahir sosok yang tampak kokoh, sekokoh batuan gunung.

Kerasnya alam, keterpencilan dusun tempat tinggal dari sentuhan proses yang dinamakan pembangunan, menjadikan Roji’un menyimpan rasa keprihatinan yang mendalam akan tanah tumpah darahnya,  dusun Ngampon di tlatah Kecamatan Kaliangkrik ujung barat Kadipaten Magelang. Hingga saat inipun sekedar aroma aspal hitam yang seakan telah merata di segenap pelosok padusunan, tidak dikenal oleh Ngampon. Jalan berbatu nan membisu adalah satu-satunya gerbang ke dunia luar.

Dengan berbekal tekad dan semangat untuk maju, maka jarak tak kurang dari lima kilometer ditempuhnya dengan kedua tungkai mungilnya hanya untuk sedikit merasakan kemewahan suatu pendidikan. Sekolah memang bagai barang mewah di masyarakatnya. Satu karena keterpencilan alam, dan kedua karena kesadaran alam masyarakat yang belum sepenuhnya paham akan arti pendidikan sebagai pintu gerbang pengetahuan.

Bagi sebagian warga dusun, pendidikan adalah makanan asing yang tidak mudah mereka cerna. Anak adalah aset keluarga untuk membantu pekerjaan di sawah dan ladang sebagai hadiah alam. Semenjak usia anak-anak hingga remaja, sangatlah lazim seorang anak di Ngampon sudah terampil memegang arit dan pacul. Dengan kedua alat tersebut, serta berbekal kemurahan alam, mereka menggantungkan penghidupannya kepada dunia bercocok tanam. Pertanian adalah sandaran utama perekonomian masyarakat lereng Sumbing tersebut.

Roji’un adalah segelintir anak dusun yang melawan “takdir” dusunnya. Meski terdengar sangkaan sumbang dari para tetangga ketika melihat Roji’un kecil budhal sekolah, namun dia tetap melawan dengan tegar untuk satu cita-cita pendidikan. Dalam kesadarannya mulai tergambar bahwa pendidikan adalah pintu gerbang untuk mengubah ketertinggalan dusunnya, agar dapat bersanding secara bermartabat dengan kawasan lain yang telah menikmati kemakmuran yang lebih baik. Pengetahuan adalah jalan untuk memperbaiki nasib.

Selepas sekolah menengah pertama di kaki gunung, diri Roji’un berhijrah melintasi Tidar demi melanjutkan cita-cita. Namun demikian hatinya senantiasi tertaut di tanah kelahirannya. Dengan didorong oleh rasa kecintaan itu, maka dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya ia ingin menyumbangkan sesuatu bagi penyadaran masyarakatnya yang terpencil. Dikarenakan keterbatasan akses untuk bersekolah, buku sebagai jendela dunia pengetahuan sepertinya menjadi pilihan untuk menggantikan sementara waktu fungsi kelembagaan sekolah.

Perpustakaan kemudian menjadi ide yang digulirkannya. Dan gayungpun bersambut ketika pada awalnya ia bertemu dengan Rohmat Munawwir, seorang penggiat pemberdayaan masyarakat. Ide itupun kemudian mengalir laksana bola salju yang menggelinding dari puncak Sumbing tatkala para Pendekar Tidar memberikan dukungan untuk mencoba memperkenalkan program penggalangan buku tersebut melalui jagad maya.

Roji’un tidak pernah berharap muluk-muluk tentang suatu kemewahan duniawi. Baginya menumbuh-kembangkan kesadaran para saudaranya akan arti pentingnya belajar adalah hal yang penting. Pembelajaran adalah proses yang semestinya ditempuh minal mahdi ilal lahdi, dari semenjak buaian hingga liang lahat. Belajar memang tidak  harus menempuh jalur formal sebagaimana sekolah ataupun kuliah. Belajar dalam arti yang lebih luas adalah menggali hikmah bagi penghidupan yang lebih baik. Maka salah satu cara tersebut dapat diperoleh melalui membaca buku.

Dan bagaimana mungkin membaca buku tanpa buku? Inilah barangkali dasar pengambilan ide untuk membuat sebuah perpustakaan  yang dapat menunjang memberikan pengetahuan warga dusun Ngampon.

Bagi masyarakatnya sendiri, tidaklah semua menyambut baik ide Raji’un dan juga ide-ide bagi pembaharuan pedusunan yang lainnya. Sebagian masyarakat senantiasa mengharapkan sesuatu perubahan berlangsung sekejab bak permainan sulap. Program yang bermanfaat adalah yang dapat langsung menghasilkan sesuatu dalam tempo  yang sesingkat-singkatnya. Pemikiran demikian tidaklah sepenuhnya salah. Paham ini hanyalah korban media yang mengajarkan jiwa keinstanan.

Jalan masihlah panjang. Bagi Roji’un sang penggiat masyarakat, hal tersebut tidaklah menjadikan nyalinya ciut. Kesabaran adalah energi yang harus selalu dipompakan terus menerus dalam rongga dadanya. Hanya dengan kesungguhan ikhtiar dan konsistensi pendirian, semua cita-cita mulia dapat membumi menjadi kenyataan. Dan saya yakin Roji’un memiliki jiwa itu. Selamat berjuang kawan![]

Kampung Kosong, 17 Mei 2009