YUDHO ADHI WIJOYO MONDROGUNO

Memang ada dua nama mirip di barisan Bala Tidar. Antara Yudho dan Yudha terkadang memang terlalu mirip dan sulit untuk dibedakan, tentu saja dari segi pengucapan nama. Kembar jelas bukan karena memang tidak ada kemiripan sama sekali dari kedua raut muka nom-noman kita ini, namun bagaimana orang tua mereka dulu sempat kengsenan untuk mengusung nama yang hampir mirip itu juga masih tetap menjadi sebuah misteri perjalanan hidup.

Yudho Adhi memang terlihat pendiam, bahkan lebih tepat dikatakan pemalu atau bahkan lebih sering malu-malu mau dan memalukan. Akan tetapi diam-diam, Yudho kita ini termasuk barisan Bala Tidar yang pertama-tama turut bergabung babat alas di bawah Ringin Tengah Alun-alun Magelang kala itu. Bersamaan dengan genderang bertalu dari beberapa grup Ndayakan yang siang terik itu menggegap-gempitakan alun-alun, Yudho turut bersila tenang di sudut ringin sisi lor-wetan. Meskipun lebih banyak mendengar daripakan medhar sabdo, namun jelas tatapan matanya menyorotkan semangat dan keseriusan yang menyala-nyala. Sebagai seorang blogger, Yudho Adhi memang beberapa waktu sebelum pisowanan itu sudah jumenengengan di malam-laut.blogspot.com.

Yudho Adhi konon mewarisi darah arek Suroboyo. Meskipun di balik sosok diamnya sudah sangat tidak kentara warna kebonekannya, namun Yudho masih sregep nyekar ke tanah para leluhurnya di Brang Wetan itu. Kediaman dan ketenangannya yang menghanyutkan pada sosok Yudho Adhi ini bisa jadi karena sudah sekian lama ia menjalani pertamaan dengan kungkum di padhepokan per-arsitektur-an, tepat di selatan kaki gunung Merapi. Kabar baiknya menurut swara angin yang berhembus, bahkan ia sudah winisudha mentas dari jagad percantrikannya.

Yudho Adhi memang sosok bermuka innocent, alias tanpa dosa. Justru air muka yang demikianlah menjadikan dirinya sempat disandera dadakan untuk menjadi wakil pemenang Lomba Menulis Antar Siswa Pelajar yang digelar Komunitas Pendekar Tidar pertama kali kala itu. Dikarenakan pemenang perempuan dari SMA Van Lith Muntilan kala itu tidak hadir saat pembacaan pemenang lomba sekaligus penganugerahan hadiah, maka Yudho Adhi tiba-tiba saja ketiban sampur untuk disorong ke depan panggung. Walhasil, nampak pringas-pringis tersipu-sipu sang Yudho Adhi berjajar dengan para pemenang yang lainnya. Suasana memang sudah kasak-kusuk tidak terkendali lagi. Peserta sudah sorak hore dan bertepuk tangan bagai bata rubuh. Namun siapa menyangku terjadi sengketa dan dilema kilat di balik panggung yang menghasilkan Yudho Adhi menerima tropi juara.

 

Yudho Adhi memang tidak di kawasan pabrik kertas terbesar di Magelang ini. Sebagai warga kampung yang menyandang nama besar kuliner kupat tahu, maka sedari awal mengenalnya saya “menadzarkan” kepadanya untuk membuat postingan khusus soal serba-serbi keistimewaan kupat tahu yang sangat spesial itu. Luaaaaama sekali, menu postingan kupat tahu itu tidak pernah terhidang di meja Gethukannya Bala Tidar semua. Saya bahkan hingga kini sudah sangat lupa, apakah Yudho Adhi pernah memposting pesanan saya itu ataukah belum. Untuk soal yang satu ini, saya yakin Bala Tidar semua lebih titis dan tahu persis kenyataannya.

Sosok yang kelihatan pendiam bukan berarti menjadikan sosok Yudho Adhi kendhat ing tandang gawe. Pada setiap perhelatan yang digelar Bala Tidar, nama Yudho Adhi senantiasa berada di garda depan barisan pasukan yang sangat militan. Tubuh tambun dan kuat perkasa menjadikan ia seringkali mengemban amanah untuk menjadi duta Bala Tidar dalam menembus publikasi hingga ke pelosok desan dan dusun di pedalaman Magelang. Perihal lika-liku jalur sasaran sekolah-sekolah yang dirangkul untuk berpartisipasi dalam kegiatan Bala Tidar, Yudho jangan pernah dipertanyakan lagi.

Tatkala perjalanan komunitas mengalami pasang-surut kejayaan jaman, nama Yudho Adhi tetap setia mengawal eksistensi Bala Tidar. Tan kengguh ing tanggung jawab, ia berkomitmen tinggi untuk selalu menyumbangkan tenaga dan pikirannya atas nama semangat berbagi kepada sesama hidup. Bahkan termasuk ketika hanya segelintir Bala Tidar yang tersisa mnejadi mitra dan kawan sedulur-sedulur panti Ar-Rahman, nama Yudho Adhi termasuk deretan mentor yang setia menemani Bala Tidar lainnya.

Entah kenapa di keheningan malam tatkala deretan tulisan ini saya goreskan dan teringat sekian lama sudah terlupakan untuk membuat catatan-catatan satu per satu sosok Bala Tidar yang penuh spirit luar biasa, sosok Yudho Adhi membayang untuk dilukiskan lewat deretan huruf dan kata. Jarak memang telah membentangkan satu per satu Bala Tidar berserakan menjalani setiap jalur nasibnya masing-masing. Akan tetapi semua diantara kita seakan sudah terikat menjadi satu darah persaudaraan, hingga rasa kangen mengenangkan segala jejak perjalanan yang pernah sama-sama kita goreskan itu seakan selalu hadir di alam pikiran.