BLOGGER DARI RANAH SERIBU PESANTREN

Tegalrejo di sudut timur gunung Tidar, memang sejak lama dikenal sebagai wilayah dengan jumlah pesantren terbanyak di Kabupaten Magelang. Banyak tokoh alim ulama skala lokal maupun nasional yang pernah nyantri di sana. Bahkan cucu pendiri NU, Gus Dur-pun, pernah mengenyam ngaji di pesantrennya Mbah Chudhori. Wal hasil, untuk setidaknya skala Magelang, tidaklah berlebihan bila Tegalrejo saya sebut sebagai “ranah seribu pesantren”.

Tidak ingin lebih panjang lebar mengungkap Tegalrejo, namun saya ingin mengetengahkan salah satu sosok tunas muda  harapan bangsa yang berasal dari wilayah tersebut, dan lumayan bersinggungan intens dengan Bala Tidar. Apakah yang dimaksudkan adalah Gus Yusuf? Atau barangkali Kiai Mukti dari Koripan? Wah ternyata bukan keduanya sedulur! Meskipun sosok keshalehannya tidak dapat saling diperbandingkan, tetapi saya ingin berbicara mengenai sedulur blogger Bala Tidar dari Tegalrejo! Sampeyan sudah bisa menebak?

Meskipun baru sempat merapat pada kesempatan kopdaran ke dua atau ke tiga, namun sosoknya termasuk meyakinkan sebagai nom-noman yang prigel dan akrab dengan jagad IT. Pertama bertemu sayapun sempat dagdigdug dan sedikit bercampur merinding. Kala itu ia sowan ke ringin tengah dengan me-nylempang sebuah bungkusan di punggungnya. Dedek piadek-nya memang sangat meyakinkan sebagai seorang pendekar tulen. Saya rasa yang di punggungya itu semacam pedang setan, golok naga, atau mungkin kecapi sakti. Dengan berkendara GL Pro(tholan), kegagahannya jelas mengalahkan patung Diponegoro di sudut alun-alun.

Usut punya usut, tokoh Bala Tidar ini ternyata sebelumnya sudah akrab dengan sedulur Made Kukuh. Kemungkinan karena keduanya bekas alumni sebuah padhepokan SMA di sebelah gardu Wates. Hmmm…..baru kemudian saya sedikit tahu bahwa yang saya perkirakan pedang setan, golok naga atau kecapi sakti dan sering bertengger di punggungnya adalah semacam gitar asmara. Rupanya dia seorang seniman musikus yang sungguh ngedap-edapi. Saya baru menyadarinya tatkala dirinya and the genk mentas nembang di acara seminarnya Pendekar Tidar tahun kemarin.

Ealah…..siapakah dia? Ternyata saya semakin tak tahan untuk terus tidak menyebutkan namanya. Baiklah saya sampaikan bahwa Bala Tidar yang sedari tadi kita rasani ini adalah Ariev “bijaksana” Wahyu Nugroho. Nom-noman dari Kebunagung!

Pandelengan saya tentang bakat musiknya barangkali memang sangat kabur. Namun nampaknya tidak demikian dengan dugaan saya yang pertama soal kekaribannya dengan jagad IT. Ternyata saudara, ia memang salah seorang cantrik pada sebuah padhepokan IT di kota budaya Jogjakarta. Nggak tanggung-tanggung, bahkan dialah salah satu sosok putra terbaik Magelang yang menembus tempat kuliahnya orang berdasi. Hmmmm…..ruarrr biasa bukan! Saya yang seribu satu kali ngimpi-pun belum pernah kesampaikan untuk kuliah berdasi je!

Tapi point-nya bukan itu sedulur! Berlanjut dalam event-event maupun agenda yang digagas Bala Tidar, maka Sang Dekariev senantiasa ketiban sampur untuk ngru’usi masalah yang terkait dengan desain mendesain grafis. Maka jangan heran bila dari tangan dinginnya kemudian terlahir desain kartu anggota, banner, spanduk, backdrop, logo event dan masih banyak yang lainnya yang masih disimpannya rapat-rapat pada kantong ajaibnya.

Di sela-sela kesibukan kuliah dan wira-wiri Jogja – Magelang, Ariev tergolong sosok yang senantiasa penuh api semangat untuk ngurip-urip komunitas Bala Tidar. Totalitasnya yang total, serta komitmennya yang tinggi untuk ambyur di jagad komunitas, yang seringkali berjalan dengan lamban dan lesu patut diapresiasi tinggi-tinggi. Sebagaimana pernah diungkapnya, “Kalo ingin berkomunitas ya jangan tanggung-tanggung! Harus total….! Segala resiko dan tanggung jawab mesti dipikul dengan penuh amanah.” Memang tantangan, hambatan, godaan ke depan memang tidaklah semakin ringan. Namun semangat, stamina, serta optimisme yang dibangun Ariev di dadanya kiranya bisa dijadikan teladan.

Ide-idenya dalam desain-mendesain sangat inspiratif, ekspresif, dan sudah pasti akomodatif terhadap kondisi ruang dan waktu. Dirinya selalu membuka pintu masukan bagi sebuah ide desain yang tengah digarapnya. Nampaknya benih sikap demokratis juga tumbuh mekar di relung nuraninya. Teruslah berkarya Riev! Bhumi Tidar senantiasa menantikan karya kita bersama.

 

Ngisor Blimbing, 17 April 2011