SANG MANGGALA YUDHA

Kehadirannya pertama kali di Komunitas Pendekar Tidar bertepatan dengan Rembung Bala Tidar I di Sawitan. Dengan pembawaannya yang kalem justru membawa angin segar bagi perjalanan Bala Tidar. Dan tidaklah berlebihan bila pada kehadirannya yang pertama tersebut, ia langsung ketiban sampur dan didaulat penuh untuk mandegani acara Lomba Menulis antar Pelajar se-Kedu dan Seminar Pendidikan bagi Pahlawan Tanpa tanda Jasa. Acara tersebut dihelat dalam rangka Hut ke I Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang.

Sosoknya memang diam menghanyutkan laksana arus Kali Manggis yang membelah tepat di depan tempat tinggalnya, di bilangan Magelang Utara coret. Pria lajang yang sangat menyukai aksi kepanduan ini hingga kini sering medhar kawruh sebagai senior pembina di almamaternya. Menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kota Gethuk, ia sempat melanglang buana ke kota Metropolitan untuk berburu ilmu di Akademi Astra.

Kini di usianya yang masih tergolong hijau, dengan mantap ia mengabdikan diri di Pemerintahan Kota Magelang. Nggak tahu bahwa hal ini memang menjadi cita-cita atau tujuan hidupnya, atau hanyalah sekedar mbanyu mili mengikuti arus hidup, namun yang jelas ia nampak sangat menikmati rutinitas selaku abdi dalem. Dan sepertinya ia memang totalitas dalam ke-PNSD-annya, coba saja cek di blognya yang banyak menampilkan segala tethek bengek aturan, mulai undang-undang, keppres, peraturan pemerintah, hingga sk-sk yang sangat dihayatinya, atau bahkan mungkin dihapalnya di luar kepala. Luarrrr biasa memang abdi negara kita di daerah, setiap saat berbicara dan bertindak berdasarkan aturan baku yang resmi, penuh dengan liku administrasi dan birokrasi yang ndakik-ndakik, mulia dan luhur cita-citanya. Bayangkan bila Pemda kita memiliki sepuluh sosok satu ini, pastilah warna hidup di Magelang akan berbeda!

Muda, kalem, kelihatan menengan tapi dengan jenjang karir yang mantap, memberikan kesan bahwa dialah pemuda idaman harapan pemudi di masa depan. Namun demikian dalam setiap kesempatan gethukan kiranya belum pernah ia terlihat menggandeng kenya, apalagi menyebarkan gosip tentang kisah-kasih klasik untuk masa depannya……hayoooo Bala Tidarwati yang berminat silakan antri!

Tidak saja bersibuk ria dengan komunitas blogger dan kepanduan, sosok ini konon katanya juga jadi kontributor di WWF atau Walhi atau Greenpeace gitu! Hebat kan?Ya, karena saya hanya dengar sayup-sayup, untuk pastinya yo sampeyan silakan nanya langsung kepada yang berangkutan. Itupun bila Beliaunya berkenan untuk berterus terang lho yo! Tapi ojo mekso lho, mundhak ora prasojo!

Sedari tadi ngalor-ngidul ngrasani nom-noman yang satu ini, kira-kira sampeyan semua dong nggak to? Ngerti nggak dengan sosok yang saya maksudkan? Kalo penasaran ya silakan hadir di setiap gethukannya Bala Tidar. Hmmmm…..saya tetap nggak tega ding! Baiklah, terus terang saja blak-blakan dan blaka suta tanpa tedheng aling-aling bahwa sosok yang sedari tadi diketengahkan ke hadirin ini adalah Sang Manggala Yudha Karyadi Dahlan.

Lho lak tenan! Apa nggak hebat? Dari namanya saja sudah dapat ditebak manusia macam apa Sang Manggala ini. Lahir di tengah prahara asmara dan kesibukan kerja kedua orang tuanya, maka diberikan tetenger nama Yudha Karyadi(yudha=perang; karya=kerja). Sebuah nama yang disarikan dari bahasa Sansekerta. Sedangkan nama Dahlan? Mungkin kedua orang tuanya mengidolakan Ahmad Dahlan, atau bisa jadi mereka dulunya tinggal di Jln. Dahlan. Tapi ini jelas hanya othak-athik gathukan saya saja lho. Sampeyan percaya monggo, nggak percaya……..awaas!!!

Satu catatan dalam penggalan langkah kecil Bala Tidar adalah perjuangan saat menghelat lomba menulis dan seminar di tahun lalu. Bagaimana tidak hebat dan ngedap-edapi, lha wong pada saat musyawaroh telah dicapai kata mufakat untuk bersama-sama, golong gilig dan gotong royong untuk bekerja sama dan sama-sa bekerja……eee tekan titi mangsane, hanya segelintir Bala Tidar yang cancut tali wanda. Dan ini jelas termasuk sang steering commite Yudha Karyadi Dahlan.

Dari persiapan dan sosialisasi lomba, langkah berat dan berbagai rintangan datang menghadang. Proses yang sangat berat dan berdarah-darah terpaksa harus tetap dijalani untuk memenuhi jejering satriya yang tan keno selak ing janji, bisa dipegang kata-kata dan tindakannya. Walhasil, hingga menjelang akhir pengumpulan naskah, belum juga ada tanda-tanda peserta yang turut maju lomba. Bagaimana tidak stress, suasanaΒ  begitu berat! Hingga jangan heran bila tekanan ini terbawa ke alam tidur, dan memang Yudha mengaku sampai impen-impenen ada kiriman naskah lomba saking penasarannya. Dan mimpi itu mendorongnya untuk ngecek email setiap saat, namun ternyata Tuhan belum mengabulkan. Hingga akhirnya…………

Di saat deadline tiba, dan sebagian Bala Tidar sudah mutung lan pasrah marang kersaning Gusti, secara bertubi-tubi dan sekonyong-konyong koder, banjir email di account Pangkodar. Lebih dari 50-an tulisan hadir mengikuti giri patemboyo! Hmmmmm……..serasa terbayar segala jerih payah.

Rangkaian acarapun berlanjut dengan seminar untuk para guru. Dan sebagai ketua panitia, sudah tentu Sang Manggala Yudha harus menyampaikan kata sambutan dan membuka acara dikarenakan tuan rumah tidak berkenan hadir. Jadilah sederetan kata-kata bijak dan petuah sakti dibacakannya dalam keadaan gembrobyos saking semangatnya. Namun apapun yang dirasa, alhamdulillah acara berjalan sukses!

Detik berlalu hari berjalan, gethukan dihelat dua kali di setiap bulannya. Satu per satu Bala Tidar berguguran di tengah medan perjalanan yang semakin penuh tantangan. Sang Maggala Yudha tetap tidak bergeming untuk senantiasa bertekad mengawal gethukan di ringin tengah, hingga seakan masih berat untuk berpikir tentang menikah. Dan kini pekerjaan rutin tahunanpun menunggu di hadapannya, rangkaian HUT Pendekar Tidar ke-2.

Monggo dilanjutkan dan saling bahu-membahu, serta membantu diantara sedulur Bala Tidar. Selamat berjuang………………

 

Taman Sari, 6 Januari 2011