BLI MADE KUKUH

Desa Pare yang saya maksudkan tentu saja bukan Pare-pare di seberang Sulawesi. Di masa pemerintahan wangsa Sanjaya, konon di wilayah ini memang banyak tumbuh sayuran berasa pahit yang disebut pare. Dan nama inilah yang kemudian terabadikan menjadi nama pedukuhan hingga saat ini.

Ada satu keunikan tersendiri  mengenai Desa Pare bagi Bala Tidar. Teristimewa karena dari dusun di perbatasan Kadipaten Magelang dan Temanggung ini, konon katanya, ada seorang Bala Tidar mesanggrah sejak dari jaman dahulu kala. Lebih unik lagi sedulur Bala Tidar yang satu ini memang ada darah keturunan dari Raja Dewata di Gunung Agung. Ini tentu saja bukan sekedar kebetulan ataupun sebuah kesengajaan. Sampeyan sudah bisa menangkap sasmita mengenai tokoh yang saya wartakan ini?

Menyandang nama besar Made, Bala Tidar ini bergelar Made Kukuh Satria Desa Pare. Sudah pasti made di sini berbeda makna dengan kata Made in China, Made in Japan, apalagi Made in Java Holand. Satu hal yang pasti, sebagaimana ia sering memperkenalkan diri, Made yang disandangnya adalah nama kebesaran marga keluarga yang masih terkait langsung dengan Raja Dewata yang pernah bertahta singgasana di Gunung Agung, Pulau Bali. Maka tidak salah, bila suatu saat sampeyan bisa berjumpa langsung dengan tokoh kita ini, sampeyan menyapanya dengan Bli!

Bli Made Kukuh di jajaran Bala Tidar menduduki jabatan sebagai Senopati nJobo. Kedudukan tersebut tentu saja tidak hanya sebagai sebuah simbolisasi semata. Bli Made memang dikenal sebagai seorang muda dengan sejuta talenta berorganisasi. Di lingkungan padhepokan UMM, tempat ia ngangsu kawruh, ia sangat dikenal sebagai aktivis kampus yang mumpuni dan sekti mondroguno. Berdasarkan track record dan pengalamannya yang luar biasa itulah, maka secara aklamasi ia didudukkan sebagai seorang Senopati nJobo yang banyak bertugas lobi-lobi, berkomunikasi, bersosialisasi, berpromosi, bahkan wira-wiri ke sana ke mari. Yah semacam tugas kediplomasian seorang menteri luar negerilah bila disejajarkan di Kabinet Indonesia Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh.

Sebagai anak muda kampus dengan segudang prestasi gemilang, tidaklah salah bila kemudian sebuah perusahaan bonafit di negeri ini memberikan anugrah dan bebungah beasiswa “seumur” kuliahnya. Atas nama peraih beasiswa inilah, Bli Made seringkali mendapatkan kesempatan untuk beranjangsana dan berplesiran jauh sampai ke pelosok padukuhan. Dan inilah hobi yang saya yakini sangat disukainya, outbond! Ia pernah berkisah menundukkan wahana outbond di bumi Parahyangan.

Satu lagi hobi yang sangat ditekuninya dengan sebuah totalitas yang total. Bila di Minggu pagi sampeyan mlaku-mlaku di seputaran Karesidenan, sampeyan akan menjumpai segerombolan anak muda yang meliak-liuk di papan selancar beroda. Tenta saja, karena di Karesidenan tidak ada ombak dan gelombang yang akan ditakhlukkan, mereka kemudian memilih menakhlukkan jalan beraspal. Merekalah yang oleh Mbah Bule Londo Sekti Mondroguno diarani sebagai para skateboarder, dan mainan yang mereka gemari itu disebut skateboard.

Di samping hobi olah kanuragan skateboard, Bli Made Kukuh juga mewarisi darah seni dari negeri Bali. Bukan melukis ataupun membuat keris, karena dari silsilah Raja Dewata memang tidak ada yang jadi pelukis maupun mpu keris. Bli Kukuh lebih memilih “eksis” main band, mungkin kalau tidak melukis dan bikin keris ia memilih ingin menjadi seorang gitaris, basis, keyboardis, pianis, sosis, atau apapun yang bisa bikin narsis!

Sebagai seorang Senopati nJobo, sudah pasti Bli Made sangat suka blusukan ke sana- ke mari. Ia nampak sekali sangat menikmati kebiasaan njajah deso milangkori. Sedikit catatan sejarah yang pernah ditorehkan dalam Kitab Kutara Manasiknya Bala Tidar, waktu itu akan digelar acara among-among dan kembul bujono di Ndalem Peniten. Demi hasutan halus dari Pangkopdar Nahdhi, segenap Bala Tidar akhirnya kasak-kusuk dan merasa perlu untuk kendhat dari pertapaan guna turun gunung menghadiri perhelatan dadakan tersebut.

Nah, dari kisah-kasih klasik semenjak di Negeri Ngampon tahun lalu, Bli Made memang paling kompak kalau “kangsenan” dengan sedulur Kafur belahan jiwanya. Bahkan mulai dari urusan mandi bersama segala! Maka untuk rawuh di hajatan among-among itupun ia memilih kangsenan dengan Kafui dibandingkan dengan Bala Tidar yang lain.

Tunggu-ditunggu beberapa saat, beberapa lama, bahkan hingga acara kemudian berlangsung dan berakhir, kok ndilalah Bli Made belum juga hadir. Dari kontak sana, kontak sini sebenarnya sudah tersiar pasti bahwa ia akan hadir. Dan kami kira jarak Desa Pare ke Ndalem Peniten hanyalah sebelokan di pertelon Secang, tak lebih dan tak kurang. Maka perkiraan kami, ia hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 20-an menit. Tapi apa yang terjadi saudara? Bahkan senja menjelang dengan iringan guyuran hujan yang sangat deras, ia tak jua menampakkan batang hidungnya. Hingga akhirnya………..thit-thit-thuit, hp saya berthit-thit!

Terdengar suara serak basah dari seberang, “Mas, acara sudah selesai? Ini kok rumah sepi-sepi saja, nggak ada orangnya? Bahkan semua pintu terkunci!”

Saya jadi tergagap dan kaget bukan kepalang karena waktu itu kami sakbrayat Bala Tidar masih asyik berkumpul, bercanda dan tertawa ngalor-ngidul, ngetan bali ngulon!

Usut punya usut, ternyata dengan langkah berani dan gagah perkasa serta didorong oleh keinginan luhur, Bli Made dan Kafur rawuh di Ndalem Polengan Hadiningrat. Jelas ini sebuah kesasar dan kesusur atas ide, atau hasutan sedulur Kafur! Singkat cerita mereka mengalami sindrom miscall dan miskomunikasi! Kami tidak tahu, ini ketidaksengajaan atau kesengajaan yang sengaja disengaja-ajakan? Kami hanya bisa ngelus dhadha bercampur rasa kasihan, namun juga tetap tertawa lucu hingga sakit perut.

Apes-apes! Sudah direwangi ngebut menembus guyuran hujan, jauh mendaki tepian Merapi yang wingit gung liwang-liwung, ternyata salah paham! Kata Peniten kepleset jadi Polengan. Maka makna dan hikmah yang berhasil kami simpulkan secara musyawarah serta mufakat, bahwa Bli Made memang sehati dan sejiwa dengan sedulur Kafur.

Piiiiiiiiiis Bli! Nuwun sewu, sekedar guyonan! Nggak perlu dimasukkan ke dalam hati! Tapi tolong tetap dipikirkan secara jernih dan mendalam soal sedulur Kafur!

Cisitu, 27 Mei 2010