Panglima Kopdar, Nahdhi

Sepuluh April 2009 adalah hari yang telah dijanjikan. Entah sekedar hanya suatu kebetulan, entah memang kesengajaan, hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Semenjak fajar menyingsing berduyun-duyun warga Magelang memadati pelataran alun-alun di pusat kota. Semua tumpah ruah memadati tanah lapang sekedar ikut mangayubagyo acara kami. Dan bukan pula terencana dengan petungan dino dan pasarannya, karena kenyataannya hari tersebut adalah hari pisowanan agung blogger di tlatah lima gunung.

Di tengah keriuhan warga yang memadati selingkaran ringin tengah, sengaja ditancapkan umbul-umbul blogger untuk nyaweni papan sehingga para blogger anyar bisa manunggal. Kopdar tersebut memang kopdar bersejarah bagi terbentuknya Komunitas Pendekar Tidar. Lewat umbul-umbul blogger yang berkibar, segera merapat seorang blogger yang sebelumnya telah kontak-kontakan. Dia yang pertama adalah Imam Besar Hanafi, yang kelak kedapuk sebagai salah seorang sesepuh para Bala Tidar.

Tak berselang lama, nampak malu-malu dua orang sejoli memberanikan diri menyapa. Mereka berdua kemudian memperkenalkan diri sebagai duo blogger Candimulyo. Nahdhi dan Eko, demikian mereka mengaku. Nahdhi, yang lelungguhan di blog nahdhi.com sekaligus pemilik akun twitter @nahdhi89 mengaku telah beberapa bulan nyemplung di jagad blogger. Untung punya untung, pada saat sowan Mbah Google menanyakan tentang katuranggan, jodoh, rejeki, dan matinya, tanpa disengaja menemukan satu “manuskrip” berjudul Kopdar Pendekar Tidar.

Melalui penelusuran “manuskrip kuno” itulah, Nahdhi berhasil mengenal Imam Hanafi, Kang Ciwir, Kang Ikhsan, termasuk juga Cak Eko Suciadi. Rasa persamaan asal-usul dan minat berkelana di dunia maya menjadikan Nahdhi muda merasa tertantang pada saat ada ajakan  Kopdar Akbar Pendekar Tidar di alun-alun. Maka dengan memiscall-miscallmisscallnya sebuah nomor kontak, ia berusaha mengamati siapakah kira-kira manusia di alun-alun yang mengangkat . Dan ternyata yang terkena apes ajian kesaktiannya tersebut saya sendiri. Jadilah kami dipersaudarakan atas nama darah leluhur Bumi Tidar.

Dalam kangsenan-kangsenan Bala Tidar kemudian, Nahdhi muda senantiasa hadir penuh semangat dengan disiplin tinggi. Pada waktu tercetus gagasan dukungan terhadap perpus warga Ngampon, dengan tanpa menunggu komando dan surat perintah ditembusnya mBandungan dan mBeseran dalam rintik-rintik hujan untuk melakukan survey dan pemetaan. Atas inisiatif berani dan nekad tersebut, ia berhak mendapatkan anugrah napak tilas jejak perjalanan sekolah Kang Rojiun, berjalan menelusuri karang padesan.

Demikian halnya saat mengalir ide menyelenggarakan pelatihan blogging, dialah yang paling antusias merespon hingga menyediakan sekolah almamaternya untuk dijadikan pilot project. Satu hal yang sedikit menggelikan adalah saat ia sowan kepada seorang pangarso sekolah di bilangan Magelang Utara, ia mengatakan takut kepada kumis bapak yang ndaplang dari Palbapang hingga Malang. Awas kuwalat lho le…!!!!

Geraknya yang cepat bludhas-bludhus wal nekat menjadikan Nahdhi muda pernah terpancing untuk menghadiri undangan Walubi guna ngalap berkah Waisya’ di Candi Agung Borobudur. Bukannya harta korun apalagi pacar cantik yang didapatkan, eee… malah berduaan dengan pasangan karibnya main hujan-hujanan di seputaran Pakelan hingga Tempuran.

Beberapa bulan berselang, melayanglah undangan dari Komunitas Blogger Wonosobo. Segenap pendekar dan pengelana dunia maya di seantero Nuswantoro mendapat kehormatan untuk rawuh di Bumi Dieng. Atas cancut taliwondonya Nahdhi muda, Bala Tidar berhasil dimobilisasi untuk plesiran atas jamuan Adipati Wonosobo. Acara ajejuluk Wisata Blogger 2009 berlangsung meriah dan penuh kesan bagi para Pendekar Tidar.

Berada di pertengahan medan spiritual gunung Merapi dan Sumbing menjadikannya kaya akan jiwa kendesoan. Ati-ati lan setiti ngati-ati adalah ajaran leluhurnya yang kurang taat diamalkannya. Wal hasil kadang sikap grusa-grusu masih bergejolak dalam dada mudanya.

Alam dan pengalaman memang telah menempa jiwa dan raga Nahdhi muda. Lewat pengalaman blusukan menjadikannya nominasi utama saat pencalonan jabatan panglima kopi darat dikampanyekan. Dan memang kemudian terbukti, dengan dukungan penuh dan suara aklamasi, Nahdhi winisuda sebagai Pangkopdar Pendekar Tidar dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Senopati Ing Bhumi Tidar Sayyidin Panoto Blogger Ingkang Jumeneng Kaping I. Demikianlah akhirnya titah dalem disabdakan.

 

Kampung Kosong, 2 Oktober 2009