1-ciwirBala Tidar yang satu ini konon terlahir di Klaten kurang lebih tiga puluh tahun silam. Selepas dari Klaten, keluarganya sedikit hijrah ke Solo coret, tepatnya di sekitar Pabelan. Di sanalah Rokhmad Munawir tumbuh dan besar untuk kemudian mewarisi tradisi Kasultanan Pajang. Lihat saja bagaimana iket kepala berekor lebar selayaknya blangkone Ngabehi Wilomarto ataupun Ngabehi Wuragil, para wira mantri kepercayaan Sultan Hadiwijoyo. Rokhmad Munawir yang pernah ngangsu kawruh di UNS ini mengibarkan gelar blogger sebagai Kang Ciwir di kedhaton-nya. Sekali-kali sampeyan sangat dianjurkan berkunjung ke www.kaumbiasa.com.

Kegemarannya melakukan pengembaraan ala pendekar di rimba persilatan tersalurkan melalui profesinya sebagai responden dan surveyor di PATTIRO. Pusat Telaah Informasi Regional merupakan sebuah lembaga penguatan masyarakat nirlaba. Di lembaga ini Kang Ciwir dipercaya untuk menangani pengolahan informasi dan komunikasi. Lihat saja hasil olahannya di http://pojokmagelang.co.cc.

Perkenalan saya dengan wirablogger berikat kepala wulung ini berawal pada saat saya โ€œdisesatkanโ€ oleh Mbah Google lewat postingan mengenai arum jeram Kali Elo. Dari sana saya mulai rutin untuk berkunjung dan bertegur sapa lewat komentar-komentar ringan. Kepindahan dinasnya setelah terbentuknya PATTIRO Magelang menjadikan kami semakin bertambah akrab, meski belum berkesempatan jumpa di darat.

Akhirnya pucuk dicinta ulampun tiba pada saat liburan Imlek di awal 2009. Lewat kontak-kontakan sms kami membuat komitmen untuk bertemu muka langsung. Hari dan tanggal kami sepakati untuk sekaligus mengumpulkan para blogger bumi Tidar yang tercecer ke penjuru Nusantara.

Dua puluh lima Januari menjadi saksi pertemuan pertama kami. Di tengah obrolan saya dan Ikhsan, Kang Ciwir memberikan kepastian telah memasuki gerbang Ndalem Peniten. Akhirnya dengan iringan gendhing Kebo Giro pathet nem, Si Ponang menyambut tamu agung dari tanah Pajang tersebut.

Obrolanpun segera meluncur secara mbanyu mili, ngalor ngidul tidak karuan, ngetan bali ngulon meski tidak numpak andhong. Wedang teh dan camilan ala kadarnya menjadi pemeriah diskusi kami. Si Ponangpun sesekali tanpa malu-malu nglendhot kepada para paman-paman barunya sambil merengek mimik teh gathokan-nya.

Selepas puas melepas rasa penasaran kami masing-masing, agendapun berlanjut dengan kembul bujono nasi kuning yang telah disiapkan oleh Mbok Wedok karena kebetulan kami sekeluarga tengah menggelar syukuran hari kelahiran Si Ponang.

Beberapa hari selepas kopdaran tersebut sengaja saya memposting reportase kopdaran kami yang sengaja saya beri judul Kopdar Pendekar Tidar. Lewat tulisan itulah kemudian Kang Ciwir terpancing untuk mengumpulkan blogger asal Magelang dalam sebuah mailist. Tergabung dalam mailist tersebut menyusul Tiga Serangkai Ndalem Peniten, diantaranya Mas Eko di Suroboyo, Mbak Sekar Lawu, Mas Hanafi Mertoyudan, dan menyusul yang lainnya.Menyusul mailist tersebut, kreativitas Kang Ciwir mendorongnya untuk merancang suatu desain logo Pendekar Tidar. Maka lahirlah tiga seri logo merah, hijau-hijau yang kita kenal saat ini. Kelahiran logo Pendekar Tidar kemudian langsung diikuti dengan sebuah blogger angregator di http://pendekartidar.blogspot.com.

Mobilitas pengembaraan Kang Ciwir melampaui keterbatasan ruang dan waktu. Kadang ia mengabarkan tengah menengok Mbok Wedok di Madiun(waktu itu), tiba-tiba kemudian sudah mengikuti Ziarah Blogger di makam-makam keramat wilayah Kartosuro, di lain waktu dia tengah bertapa kungkum di Gunung Kelir, dan begitu selanjutnya hari demi hari dijalaninya.

Pada suatu waktu di tengah pengembaraanya, sampailah Kang Ciwir ini di lereng Gunung Sumbing, tepatnya di daerah Ngampon. Lewat perkenalannya dengan Kang Rojiun, ia tenggelam dalam realitas kelam masyarakat pinggiran yang terpinggirkan dari kebijakan pembangunan para ndoro pemrentah di pusat kadipaten. Maka dengan cerdas dan cemerlang dimunculkanlah gagasan membentuk sebuah pusat pustaka kecil yang diharapkan bisa menjadi sedikit pelepas dahaga bagi ketertinggalan akses dan fasilitas pendidikan masyarakat setempat.

Gerakan pengumpulan buku untuk warga Ngampon inipun kemudian didukung penuh oleh para Bala Tidar yang tergabung ke dalam Pendekar Tidar kemudian. Sedikit mencontoh Gerakan Seribu Bukunya BHI, satu demi satu bukupun mulai terkumpul.

Sosok Kang Ciwir memang seorang pelopor ulung dalam hal menggali informasi berbagai situs-situs keramat yang semakin dilupakan orang kebanyakan. Tak kalah postingan mengenai makam Kiai Raden Santri di Gunung Pring, Candi Ngawen, Joglo Abang hingga Toleransi ala Mataram Kuno disusunnya seolah seorang ahli sejarah yang tengah berkisah.

Pertengahan tahun 2009 merupakan momentum hidup Kang Ciwir yang sangat monumental dan keramat. Bukan karena sudah dapat dipastikan bahwa dirinya tetap golput dalam pilpres yang digelar, namun lebih dari itu adalah akan tumurun-nya wahyu โ€œmakutoromoโ€ sebagai pertanda lahirnya sang putra mahkota dari garwo prameswari yang berada di Projo Bojonegoro. Semoga menjadi anak yang sholeh atau sholihah Kang! Nderek mangayubagyo…

Kampung Kosong, 20 Juni 2009