1-ikhsan001Dunia maya membawa awal perkenalan kami. Bujang satu ini mengaku sebagai salah satu pewaris trah Pendekar Tidar. Makanya pada saat pertama kali mampir di padhepokannya, saya langsung merasakan aroma segar hawa Tidar. Bala Tidar ini telah beberapa waktu mengembara di bumi Pasundan. Dengan kelihaiannya dalam β€œolah kanuragan” menjadikannya dipercaya sebagai β€œpenguasa” sebuah kios waralaba modern di bumi Sukabumi.

Wirablogger satu yang saya maksud barangkali belum terlalu akrab dengan sampeyan, namun tentunya tidak sama sekali asing. Ya, dialah ksatria dari tlatah Salaman. Menyandang gelar resmi Muhammad Ikhsan. Sebagaimana sebuah doa dari kedua bapa biyungnya, nampak wirablogger yang satu ini memang memiliki jiwa keikhlasan yang sungguh luar biasa. Jika sampeyan suatu saat berkesempatan menjumpainya di dunia nyata, pasti sampeyan tahu persis apa yang saya maksudkan.

Sosoknya kalem, lugas, dan lugu. Senantiasa menebar senyum paseduluran yang semanak, dan memang bersilaturahmi adalah amalan andalannya. Sederet seleblogger ternama semisal Ndoro Kakung hingga Kiai Slamet pernah diubernya ketika beranjangsana di kota hujan. Kesederhanaan lan narimo ing pandum adalah motto hidup yang senantiasa dihayatinya sepanjang masa.

Pada suatu kesempatan liburan di akhir Januari 2009, sang juragan memberinya sedikit keleluasaan untuk rehat dari penggaweannya. Dan kesempatan luar biasa tersebut sengaja digunakannya untuk menengok handai taulan, sanak kadang di kampung halamannya, Salaman. Didorong oleh semangat silaturahmi yang meluap, dikontaknya saya untuk sekedar berkopdar ria.

Akhirnya tatkala matahari naik sepenggalah melewati Gunung Tidar, saya sambut kerawuhan sedulur sinoro wedi yang ingin merekatkan balung pisah sebagai sesama putra Tidar. Ndalem Peniten memang semenjak pagi hari telah nampak sumringah dengan ocehan burung prenjak, demi menyambut sang tamu agung. Dan kembali gubug reot kami menjadi saksi sejarah tumbuhnya benih persaudaraan tanpa tepi.

Dengan semangat juang empat lima, Mas Ikhsan menempuh Salaman-Magelang dengan angkot kecintaannya. Jarak yang merentang menjadi pembatas fisik kami, tidaklah menjadikannya menyerah untuk ngaruhke Si Ponang, keponakan yang dikenalnya pula lewat dunia maya.

Obrolanpun berawal dengan sedikit perkenalan dan tegur sapa ala kadarnya. Satu hal yang membuat saya sangat mengaguminya disamping semangat silaturahimnya adalah semangat menulisnya yang senantiasa tercurah alamiah lewat blognya. Hal-hal kecil yang dijumpainya dipaparkan dengan bahasa yang lugas dan enak dicerna pembaca. Menulis seakan menjadi sebuah kebutuhan tersendiri di sela waktu luangnya setelah bekerja sehari-harinya.

Dan luar biasanya ketika saya tanyakan bagaimana proses bloggingnya, dia menuturkan awal mula mengenal internet, kemudian blog lewat keisengan mengunjungi warnet di dekat tempatnya makaryo. Warnet adalah tempat terfavoritnya dibandingkan mall-mall yang berserakan di segenap penjuru kota. Blogging dijalaninya secara alamiah dan tanpa rekayasa. Pembelajaran tentang seluk beluk perbloggeran ditekuninya secara otodidak.

Sesekali dikunjunginya perpustakaan kota untuk melacak referensi yang banyak menginspirasi postingan-postingannya. Selain perpustakaan, tempat favorit selanjutnya yang sering dikunjungi Ikhsan muda adalah toko buku. Konon katanya di toko bukulah ia mendapatkan pemandangan gersang (seger mer…..) karena banyaknya neng geulis berseragam abu-abu sama-sama meramikan toko buku.

Baginya ke toko buku tidaklah selalu membeli buku. Buku yang menarik minatnya dibacanya sekedar pada resensi singkatnya kalaulah tidak memungkinkannya membaca secara keseluruhan. Andaikan merasa cocok barulah dibelinya dengan sisa tabungan yang senantiasa disisihkannya dari sekian persen gaji untuk anggaran pengadaan buku. Membaca dan menulis memang dua sisi yang tidak bisa dipisahkan dari seorang Ikhsan.

Ikhsan adalah salah satu inspirator berdirinya Komunitas Pendekar Tidar. Maka tidaklah salah bila saya memberikan judul postingan ini sebagai Pendekar Tidar#1. Siapakah Pendekar Tidar#2 yang akan muncul pada edisi tulisan selanjutnya. Saya rasa sampeyan cukup sabar untuk menantinya.

Blognya Ikhsan: ikhsanudin.blogspot.com

Kampung Kosong, 20 Juni 2009