PASEDULURAN TANPA BATAS

salaman

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Ini berarti bahwa manusia memilki kecenderungan untuk hidup bersama dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Secara kekerabatan sudah pasti seseorang memiliki orang tua. Ayah, ibu, nenek, kakek, mbah buyut, mbah canggah, mbah wareng, gantung siwur, dan terus berlanjut ke atas hingga sampai Nabi Adam. Begitu pula manusia akan memiliki anak, cucu, cicit, dan seterusnya. Demikian halnya manusia memiliki saudara sekandung, sepupu, sedengkul, sekaki dan lainnya.

Setiap pihak yang dikatakan segaris keturunan atau memiliki hubungan darah dengan kita seringkali disebut sebagai kerabat atau saudara. Rasa yang mengikat tali perkerabatan kemudian dikenal dengan persaudaraan. Bila kita merunut garis kekerabatan hingga Nabi Adam, berarti semua makhluk yang bernama manusia adalah bersaudara. Persaudaran tidak lagi mengenal batasan ras, suku bangsa, agama, negara, bahkan wilayah geografis. Singkatnya persaudaraan bersifat universal, paseduluran tanpa batas.

Secara ontologi Islam bisa diartikan pasrah. Syekh Rummi lebih khusus lagi mengartikan Islam sebagai cinta. Kepasrahan, keberserahan diri manusia sebagai makhluk kepada Allah sang khalik akan terpancar dalam hati yang dipenuhi sinar cinta. Cinta yang suci bersifat meluas dan tidak menganal batasan ruang dan waktu. Cintapun berdimensi tanpa batas.

Persaudaraan yang tulus nan suci senantiasa dilandasi rasa cinta sejati. Cinta sejati sesungguhknya merupakan pancaran kesatuan segitiga cinta antara seorang hamba, Rasulullah, dan Allah SWT. Dapat kita bayangkan bagaimana cintanya Kanjeng Nabi kepada umatnya. Bagaimana beliau menuntun, menggendong kemana-mana rasa cinta itu melebihi dunia dan akhirat. Digadang-gadangnya setiap umat untuk menemukan kebahagian sejati. Dan manakala seorang hamba terpeleset ke dalam api neraka, Kanjeng Nabi merengek memohonkan ampun kepada Allah melalui syafaatnya.

salaman2Filosofi persaudaraan yang dilandasi ketulusan cinta tanpa batas inilah yang telah mempersatukan sekelompok insan manusia yang mengibarkan diri sebagai Pendekar Tidar. Berawal dari sesrawungan di dunia maya, terpautlah hati satu sama lain karena persamaan asal usul di empat keblat lima pancernya Gunung Tidar. Namun demikian kelompok ini tidaklah mengambil garis eksklusifme karena setiap insan yang sudi bergabung akan disambut dengan hati dan tangan terbuka. Paseduluran tanpa batas adalah motto yang selalu ingin digetok-tularkan kepada segenap insan di dunia.

Jaringan maha luas yang dikenal sebagai internet menjadikan persaudaraan yang dirajut tidak lagi mengenal batasan fisik. Laki-perempuan, tua-muda, pelajar, mahasiswa, pegawai, karyawan, bahkan tuna karyapun dipersilakan untuk bergandeng tangan. Dan sebagai insan yang lemah, sudah sewajarnya bila kita saling berbagi. Berbagi rasa, berbagi ruang, berbagi waktu, dan tentunya berbagi cinta demi kemaslahatan kehidupan bersama. Sedikit yang kita miliki semoga bisa menjadi rahmatan lil ‘alamin. Dari kesejukan Bumi Tidar kita gaungkan paseduluran tanpa batas!

Kampung Kosong, 5 September 2009