Ngepos2Bangunan rumah panggung tersebut tentu sangat mencolok diantara deretan rumah warga. Dari bentuk dan ketinggiannya, memang bangunannya seolah ngowah-owahi adat, alias tidak lazim bahkan sangat berbeda dengan bangunan rumah-rumah di sekitarnya yang didominasi rumah limas dan rumah kampung. Kedua tipe rumah terakhir memang merupakan bentuk umum dari rumah-rumah yang ada di padukuhan pelosok Pulau Jawa. Lalu kok tiba-tiba nongol bangunan rumah panggung, bangunan apakah ya?

Semenjak usia kanak-kanak, kami anak-anak di lereng sisi barat Merapi lebih mengenal bangunan rumah panggung tersebut sebagai Pos Mrapi, dan memang posisinya ada di Dusun Ngepos. Bangunan panggung itu memang sebuah Pos Pengamatan Gunung Merapi milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM. Letaknya tepat di sisi pertigaan jalan pada jantung Dusun Ngepos. Dari arah pertigaan Jumoyo di Jalan Raya Jogja – Magelang Km.25 naik ke arah timur (masyarakat setempat bilangnya arah utara), kurang lebih pada jarak 8 km.Ngepos1Pos Ngepos merupakan salah satu titik pengamatan Gunung Merapi yang ada. Di wilayah sisi barat Merapi yang merupakan wilayah administrasi Kabupaten Magelang, terdapat dua pos pengamatan, masing-masing di Ngepos dan Babadan. Pengamatan di Pos Pengamatan Gunung Api Ngepos, sebagaimana umumnya dilakukan di pos pengamatan gunung api yang lainnya, dilakukan secara visual maupun instrumentatif.

Secara visual pengamatan dilakukan dengan mengamati semua aktivitas gunung api menggunakan mata telanjang dengan bantuan peralatan teropong. Melalui pengamatan ini bisa didapatkan informasi, antara lain warna dan tekanan gas asap kawah, suhu di lapangan solfatara atau fumarola (kawah), dan semua perubahan yang tampak pada permukaan yang ada di sekitar kawah. Adapun secara instrumentasi, pengamatan aktivitas gunung api dilakukan dengan peralatan bantu, seperti seismograf untuk mengetahui getaran akibat gempa vulkanik yang terjadi, alat ukur deformasi, dan beberapa peralatan pendukung lainnya.

Ngepos3 Ngepos4

Di samping peralatan yang berhubungan dengan pengamatan aktivitas kegunung-apian, tepat di bawah rumah panggung Pos Ngepos terdapat area taman alat meteorologi. Meskipun tentu saja perlengkapan pengamatan cuaca tidak selengkap pada sebuah stasiun pengamatan cuaca, namun di pos tersebut juga diamati data mengenai curah hujan dengan penakar hujan Helmann, data kelembaban udara menggunakan termometer bola basah dan termometer bola kering yang ditempatkan pada sebuah sangkar peralatan. Data mengenai kondisi cuaca dan curah hujan tentu sangat berkaitan dengan penyebaran material vulkanik yang menyertai aktivitas sebuah gunung berapi, seperti abu, debu, pasir, termasuk awan panas. Bahkan data mengenai curah hujan akan sangat menentukan pergerakan lahar dingin yang runtuh dan menjadi banjir melalui sungai-sungai yang berhulu di kawasan puncak Merapi.

Sebagai wong Srumbung asli yang lahir, tumbuh dan besar di kawasan tepi Merapi, jujur saya sampaikan bahwa saya belum pernah sekalipun naik ke rumah panggung yang merupakan Pos Pengamatan Gunung Merapi tersebut. Bahkan kebanyakan kalangan masyarakat luas juga sangat terbatas pengetahuannya berkenaan dengan tugas, fungsi dan peranan keberadaan sebuah pos pengamatan gunung api yang aktif seperti Merapi. Mungkin ke depan, seiring dengan perubahan era global yang menuntut sebuah institusi layanan publik dapat memberikan sosialisasi tugas dan fungsi pokoknya kepada masyarakat setempat. Terlebih keberadaan sebuah pos pengamatan gunung api sangat berkaitan dengan upaya pencegahan dan mitigasi bencana gunung api yang berhubungan langsung dengan keselamatan serta hajat hidup orang banyak. Bukankah selazimnya sebuah pos pengamatan gunung api juga memiliki tanggung jawab untuk turut memberikan pengertian, pengetahuan, bahkan pendidikan publik mengenai kesadaran kebencana-alaman, dalam hal ini bencana alam yang berkaitan dengan aktivitas gunung api.

Ngepos5Dalam satu kesempatan dolan-dolan ke Pasar Ngepos beberapa waktu lalu, saya sengaja mengajak si Ponang untuk sedikit mengenal keberadaan Pos Pengamatan Merapi di Dusun Ngepos tersebut. Memasuki halaman rumah utama, sebenarnya pintu gerbang utama di sisi tengah senantias terbuka. Hal ini sesungguhnya menandakan bahwa petugas pos tersebut terbuka menerima siapa saja yang ingin datang berkunjung. Tepat di sudut sisi kanan, di sanalah berdiri dengan anggun rumah panggung setinggi sekitar 15 meter sebagai pos pengamat utama. Nampak di salah satu sisinya tergantung sebuah kentongan yang berukuran cukup besar. Di masa lalu, kentongan tentu saja merupakan alat komunikasi utama sebagai penanda kondisi bahaya gunung Merapi.

Pada hari-hari pasaran Pasar Ngepos, tumpahan pasar sering meluber di tepian jalanan, bahkan seringkali hingga mencapai sisi pintu masuk Pos Pengamatan Ngepos. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian di sisi luar pagar area pos tersebut dipergunakan oleh para sopir, tukang ojek, termasuk beberapa pedagang untuk duduk sambil bersenda gurau. Dalam kondisi super ramai, terkadang halaman pos pengamatan juga dijadikan area parkir kendaraan bermotor yang tidak tertampung di beberapa kantong parkir yang telah dipersiapkan. Meskipun demikian, keramaian Pasar Ngepos hanya terjadi pada waktu pagi hari, mulai dari waktu Subuh hingga matahari setinggi sepenggalah. Selebihnya, kondisi depan pos pengamatan lebih sering terlihat lengang nan sepi.

Kembali ke peranan Pos Pengamatan Gunung Merapi di Ngepos, mungkin ke depannya bisa lebih dikembangkan menjadi tujuan wisata pendidikan bagi siswa-siswi sekolahan, mulai tingkat TK, SD, SLTP, SLTA, bahkan masyarakat umum, lebih khususnya ya masyarakat warga sekitar. Hal tersebut menurut saya sangat penting untuk dilakukan sebagai salah satu metode pendidikan publik untuk penyadaran risiko dan tantangan potensi bahaya Gunung Merapi itu sendiri. Bukankah keberadaan masyarakat yang memahami potensi bahaya dan kebencanaan di lingkungan tempat mereka tinggal merupakan modal utama tindakan pencegahan dan mitigasi bencana? Dengan demikian tata hubungan antara masyarakat dengan alam, dengan lingkungan sekitar, dengan Merapi akan semakin harmonis dalam jalinan yang saling menguntungkan. Bagaimanapun Merapi adalah bagian dari kehidupan masyarakat sekitarnya yang tidak terpisahkan sama sekali.

Ngisor Blimbing, 14 Juni 2014