2

Nuansa Jadul di Pameran Magelang Tempo Doeloe 2013

30 Apr 2013 by ndoroseten in Magelangan

TempoDulu1

Magelang memang kota tua. Pada 11 April 2013 ini Magelang menapaki usia 1107 tahun. Usia boleh dihitung tua, tetapi mau tidak mau sebuah kota yang dinamis harus terus bergerak menapaki roda jaman yang tidak bisa diputar mundur. Namun demikian, bukan berarti tidak ada yang tidak berharga sebagai sisa masa lalu. Masa lalu senantiasa meninggalkan bahan pembelajaran sejarah yang sangat berharga untuk setiap generasi manusia. Sisi baik dan buruk sejarah, sisi positif dan negatif sebuah sejarah, adalah sebuah keniscayaan yang tidak terpisahkan. Nah, bagi manusia yang berpikir adalah memetik pelajaran dari semua sudut sejarah untuk diambil yang baik dan relevan dengan perjalanan sejarah ke depan. Yang buruk dan negatif, tinggalkanlah!

Sebagai sebuah kota yang sudah sangat berumur, Magelang tentu saja memiliki catatan-catatan perjalanan sejarah yang patut diperkenalkan kepada generasi muda. Adalah Komunitas Magelang Kota Toea, sebuah komunitas yang digawangi para anak muda yang gemar menggeluti sejarah kota tempat kelahirannya. Berdiri lebih dari satu dasa warsa yang lalu, komunitas ini senantiasa eksis dengan beragam agenda kegiatan untuk terus menggali dan memperkenalkan sisi sejarah masa lalu Kota Magelang kepada kalangan masyarakat luas, khususnya para penggemar dan penggerak event sejarah.

TempoDulu10

Bersamaan dengan peringatan HUT ke-1107 Kota Magelang, Komunitas Magelang Kota Toea menggelar Pameran Magelang Tempo Doeloe selama dua hari dari tanggal 27-28 April 2013 di Museum BPK, Kompleks Kantor Bakorwil II atau yang lebih dikenal sebagai Kompleks Eks Karesidenan Kedu di Jalan Diponegoro No.1 Kota Magelang. Pameran yang dipadukan dengan Festival Kuliner dan Pameran UMKM Magelang ini berhasil menyedot ribuan pengunjung yang datang berduyun-duyun. Tidak saja hanya dari warga Kota Magelang, warga di luar wilayah Magelang juga banyak yang sengaja meluangkan waktu untuk berkunjung ke lokasi pameran.

TempoDulu2 TempoDulu11

Sebagai antar muka area pameran dengan pengunjung yang datang, terdapat halaman muka Museum BPK yang difungsikan sebagai arena pentas berbagai grup kesenian dengan segala atraksi kreativitasnya. Melengkapi arena pentas, terdapat panggung setinggi 1 m yang juga difungsikan sebagai pendukung acara pentas seni. Semenjak hari pertama pameran, di arena ini dipentaskan beberapa seni khas Magelangan, seperti jathilan, ndayakan, aneka tari tradisional, termasuk atraksi barongsai dan lion di hari ke dua pameran. Atraksi pentas seni ini nampak selalu menyedot perhatian para pengunjung untuk turut ngrubungi kalangan.

TempoDulu6 TempoDulu5

Mengelilingi arena pentas utama, di tepian lapangan maupun sisi teras bangunan museum berdiri banyak stan yang memamerkan barang kuno koleksinya masing-masing. Stan yang beratapkan lembaran terpal tersebut dihias dengan rumbai bleketepe dari blarak kering yang mengesankan sebuah tarub dari sebuah gawe atau hajatan besar. Tarub inilah yang menjadi pengantar yang menghanyutkan pengunjung untuk menyelami masa-masa alam kuno ala ndeso. Di sinilah para pengunjung menemukan momentum masa lalu yang mungkin selama ini terpendam menjadi kerinduan sejati di dalam hati.

Memasuki area Pameran Magelang Tempo Doeloe, pengunjung akan disambut dengan pajangan foto-foto kuno yang memberikan gambaran Magelang dari waktu ke waktu. Ada foto mengenai jembatan bambu di Salam Kanci yang melintasi Kali Progo di masa lalu. Ada pula foto kuno mengenai Masjid Agung, kantor Bupati Magelang, Bupati Magelang di masa Hindia Belanda, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua foto tersebut masih berupa foto hitam putih yang justru memberikan nuansa “jadul” yang sangat kental. Seolah pengunjung dibawa ke era tahun 1800an.

TempoDulu8 TempoDulu9

Di tiga titik halaman di sisi belakang paggung pentas dipajang tiga buah mobil kuno, diantaranya milik Wan King (pengusaha New Armada), dan Soli Saroso (anggota komunitas). Di sudut sebelah kanan terdapat sebuah warung Majoe Jaya yang menjajakan aneka ragam peralatan rumah tangga tardisional, seperti sapu ijuk, sapu merang, kelud, caping gunung, hingga kurungan manuk dan ayam kampung.

Puluhan stan yang mengikuti pameran ini menyajikan banyak pernak-pernik berbau tempo doeloe. Ada stan yang menampilkan aneka kerajinan tempo doeloe yang banyak terbuat dari bahan-bahan sederhana di sekitar masyarakat, seperti aneka kerajinan dari tempurung kelapa, aneka peralatan main tradisional yang serba kayu, semisal bedhilan atau pestol kayu, klothokan, gangsingan, kitiran, termasuk mobil bus, truk, dan sepeda kayu. Ada juga stan yang menampilkan koleksi aneka motif batik khas magelangan dengan corak gethuk trio, “kompor” water torn, bahkan patung Diponegoro.

TempoDulu4 TempoDulu3

Ada juga beberapa stan yang menampilkan koleksi uang koin masa lalu. Di stan ini pengunjung dapat mengenal lebih jelas mengenai aneka mata uang yang dulu pernah menjadi alat tukar yang syah, mulai dari kepeng, ringgit, segelo, sebenggol dlsb. Ada juga stan Museum Pers yang menyajikan aneka rupa koran masa lalu, mulai era pemerintahan Hindia Belanda, jaman Jepang, Perang Kemerdekaan, masa Orde Baru dan Orde Lama. Pengunjungpun dimanjakan dengan tampilan koleksi sepeda tua, lengkap dengan gelaran klithikan aneka onderdil kendaraan kayuh “yang asepnya tidak ada” itu. Di sini pengunjung dengan mudah akan mendapatkan beragam bel atau kingkringan, sedel kulit, standar, birko, peleg, hingga mur-baut aneka ukuran, dan semua masih berfungsi dengan baik.

TempoDulu7Beberapa stan juga menggelar koleksi buku cetak yang khusus hanya dijual untuk keperluan pameran. Beberapa buku yang berkisah mengenai sejarah masa silam diantaranya mengenai Ngayojakarta, Filosofi Tembang Ilir-ilir, Sejarah Sepeda Onthel, yang semuanya sangat mengundang minat para pengunjung untuk mendalami isinya.

Di samping dimeriahkan dengan aneka pentas seni di panggung utama, dalam Pameran Magelang Tempo Doeloe juga digelar acara Remboeg Sedjarah yang mengangkat tema Pengembangan Museum Diponegoro dan Pusaka Keris. Acara pameran yang dipandegani Bagus Priyana dan dukungan penuh dari Dewan Kesenian Magelang, serta banyak pihak yang memiliki kecintaan terhadap sejarah dan koleksi barang kuno ini merupakan ajang yang sangat kreatif dan mencerdaskan pengunjung. Anda belum pernah datang ke pameran semacam ini? Anda tidak boleh melewatkan di waktu mendatang jika tidak ingin rugi dua kali. Salam heritage!

Ngisor Blimbing, 29 April 2013

  • 406 Views

THIS ARTICLE IS WRITTEN BY

ndoroseten

Author Profile
COMMENTS

Leave a Reply

%d bloggers like this: