Sampeyan masih eling dengan pemandian Kalibening? Kalibening merupakan sebuah padukuhan kecil di sisi barat Desa Payaman yang masuk wilayah Kecamatan Secang. Letak pemandian tersebut sebenarnya sangat strategis karena hanya sedikit masuk kurang lebih 1 km dari jalur lalu lintas utama Magelang – Semarang. Keberadaan pemandian Kalibening tidak lepas dari adanya sumber mata air yang memiliki debit aliran sangat besar di daerah tersebut.

Mata air, wong Jawa menyebutnya dengan sumber, tuk, atau udhal.  Secara alamiah, dalam siklus air, mata air merupakan kemunculan air tanah ke atas permukaan tanah karena tekanan ataupun posisi horisontal yang rendah. Kumpulan air yang keluar dari mata air dapat membentuk belik, kedhokan, sendhang, kali, bahkan danau yang luas. Adapun sumber air jernih yang kemudian mengalirkan aliran kali inilah kemungkinan yang menjadikan daerah pemandian ini disebut sebagai Kalibening, artinya sungai yang jernih airnya.

Pemandian Kalibening merupakan kawasan pemandian “modern” yang pertama keberadaannya di wilayah Kabupaten Magelang. Pemandian ini telah dibangun dan dioperasionalkan semenjak dekade 70-an. Dikatakan modern, tentu saja dari sudut pandang jaman waktu itu. Hingga di tahun 90-an masih sangat jarang pemandian umum yang dilengkapi dengan jalur kolam renang standar yang sering digunakan untuk latihan para atlit renang sungguhan. Nah, Kalibening menjadi pelopor kolam renang standar tersebut.

Menempati sebuah lereng lembah di sisi kiri jalan utama dari arah Payaman, pemandian Kalibening akan menyambut dengan gerbang gapuranya yang sudah semakin tua dimakan usia. Dibandingkan Owabong, Ocean Park, the Jungle, apalagi Ancol, tiket masuk pemandian Kalibening sudah pasti yang paling murah. Terakhir tiket masuk pemandian Kalibening hanya memasang tarip Rp. 3.000,-. Bandingkan!

Magelang memang sebuah daerah dataran tinggi yang dikelilingi deretan gunung dan pegunungan. Kondisi geografis alam yang sedemikian, bisa jadi secara kultur budaya,  menjadikan penduduk daerah ini sedikit asing dengan tradisi renang. Hal ini tentu saja berlaku dari usia bocah hingga para orang dewasa. Sedikit pengkhususan bagi bocah yang tumbuh kembang di sekitar sungai besar, bendungan, atau wilayah yang memiliki banyak kolam ikan, pada umumnya mereka terlatih renang semenjak kecil.

Keberadaan Kalibening di masa lalu, selain sebagai tempat rekreasi dan hiburan, sesungguhnya juga mengemban misi untuk mencetak bibit-bibit unggul perenang handal bagi daerah Magelang. Bibit unggul tersebut diharapkan dapat menjadi duta dan mengharumkan nama daerah dalam event-event lomba tingkat daerah maupun nasional, seperti PORDA dan PON.

Pasang surut pengunjung, bagi tempat rekreasi semacam Pemandian Kalibening, bukanlah sesuatu yang aneh. Meskipun tempat ini membuka diri setiap hari dari jam 08.00 hingga jam 18.00, namun tidak setiap waktu dikunjungi banyak pengunjung. Baru di hari akhir pekan dan liburan, tempat ini lebih ramai oleh pengunjung. Para pengunjung terdiri dari perseorangan, rombongan siswa sekolah, hingga rombongan keluarga. Untuk lebih memeriahkan suasana dan memanjakan pengunjung, di waktu dulu hampir setiap satu bulan sekali digelar pertunjukan ndangdutan.

Di samping masa liburan, puncak kunjungan ke pemandian Kalibening justru membludak pada saat berlangsung tradisi padusan. Padusan paling ramai adalah padusan menjelang bulan Ramadhan. Padusan dari kata dasar adus, artinya mandi. Padusan dapat dimaknai sebagai aktivitas mandi. Padusan menjadi momentum istimewa karena pada hari tersebut aktivitas mandi ditujukan untuk membersihkan raga sekaligus mensucikan jiwa dalam rangka persiapan menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Tidak hanya penduduk di sekitar Kalibening yang datang berbondong, bahkan para bocah dan pemuda dari wilayah lereng Merapi yang jauhpun sengaja ikut padusan di Kalibening.

Di masa lalu, momentum padusan ditandai dengan tabuhan bedug bertalu yang disebut jedhoran. Selepas sholat Subuh, para bocah bergantian menabuh bedug dengan irama yang beragam. Jedhoran dilakukan hampir di sepanjang hari. Jedhoran menjadi penanda tibanya saat ritual padusan dilaksanakan. Padusan tidak harus dilakukan secara masal. Ummat Islam dapat melakukan padusan di masing-masing kamar mandi di rumahnya sendiri-sendiri. Hanya di waktu dulu, masih jarang rumah penduduk yang dilengkapi dengan kamar mandi seperti sekarang. Masyarakat biasa mandi di tempat mandi umum yang berujud belik, kedhokan, atau pancuran. Maka aktivitas padusan menjadi sangat meriah dan sangat terasa budaya komunal, keguyuban, dan kerukunan dirasakan masyarakat di masa itu.

Duren-duren, roti-roti. Mbiyen-mbiyen, saiki-saiki! Lain dulu memang lain sekarang. Jaman terus berputar dengan segala perubahannya. Nah bagaimana dengan kondisi pemandian Kalibening saat ini? Menjelang akhir Ramadhan tahun lalu, sekedar ngumbar si Ponang kungkum keceh, saya sengaja andrawina ke Kalibening. Sekitar jam 10.00 pagi kami melewati gapura tua yang lengang di muka pemandian. Satu demi satu tangga kami turuni. Suasana sangat sepi dan senyap. Dan ternyata memang hanya kamilah satu-satunya pengunjung pada saat itu. Bahkan hingga tiga jam kami kekecehan, tidak ada pengunjung lain yang menyusul kami. Sebuah hiburan yang sangat murah meriah bagi orang kecil.

Pemandangan di kawasan pemandian Kalibening memang tampak suram dan muram. Kolam renang tua, plosodan tua yang telah bolong-bolong, kamar ganti, kamar mandi serta WC yang tidak terawat menambah sungupnya suasana pemandian tersebut. Di tengah hari tersebut, kami serasa berada pada sebuah pesanggrahan seorang raja di tengah hutan rimba raya yang sangat tenang dan tidak diganggu oleh siapapun. Hanya kecipak bunyi aliran air menambah kesejukan hawa air yang bening nan jernih, tanpa noda, tanpa kotoran, tanpa polusi, penuh kesucian. Tenang dan sangat damai!

Namun tempat yang tenang nan damai itu sebentar lagi akan disulap menjadi sebuah water boom. Konon proyek bongkar-bongkar itu saat ini tengah berlangsung. Dengan dana 28 M dari investor dan dukungan Pemkab Magelang, pemandian Kalibening akan disulap menjadi taman rekreasi air modern. Sisi ekonomi memang telah mengalahkan sisi historis tempat ini. Secara manajemen pengelolaan, Kalibening memang harus berbenah agar nantinya biaya operasional cucuk dengan income yang didapat, bahkan dapat meyumbangkan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Jikapun nantinya pemandian Kalibening telah berdiri tegak dengan segala kemegahan fasilitas modern-nya, akankah ia tetap ramah dan semanak kepada orang kecil? Ataukah nantinya hanya akan menjadi milik kaum the have?

Ngisor Blimbing, 3 Juni 2012