Di masa lalu ada seorang pengelana yang tengah membawa kantong dari kain kadut di pundaknya. Kantong tersebut dipenuhi dengan bahan dan barang perbekalan selama pengembaraan. Saking banyaknya bekal yang dibawa, maka kantong tersebut nampak munthil-munthil (sangat penuh dan bergelantungan di pundak).

Sialnya, untung tak dapat diraih dan malangpun tak dapat ditolak. Di sebuah jalan setapak yang sunyi sepi, sekawanan perampok menghadang langkah sang pengelana. Dengan ancaman pedang di leher, sang pengelana diam terkunci mulutnya karena rasa ketakutan yang mencekam. Semua bekal yang munthil-munthil di pundaknya terpaksa diserahkan kepada kawanan perampok tersebut. Selepas para perampok pergi, barulah sang pengelana berteriak histeris penuh gemetar dan rasa shock yang tiada tara. “Munthil ilang…..munthil ilang…..munthil-munthil ilang”, demikian suara sang pengelana tergagap.

Orang-orang di persawahan dan tegalan yang mendengar teriakan munthil ilang itupun langsung berlarian menuju lokasi tempat terjadinya perampokan. Sang pengelana hanya menunjuk-nunjuk ke a rah perginya kawanan perampok yang telah merampas bawaannya sambil tak henti-hentinya terus meneriakkan munthil ilang…munthil ilang. Wargapun tidak bisa berbuat apa-apa karena kawanan perampok terlalu kuat untuk dilawan.

Kejadian di atas kemudian menjadi tetenger atau pertanda di hari-hari selanjutnya para warga menyebut lokasi bekas terjadinya perampokan itu dengan sebutan “munthil ilang”. Lama kelamaan kata munthil ilang terucap menjadi munthilang, dan selanjutnya menjadi muntilan. Inilah salah satu versi asal-usul nama Muntilan. Sebuah kota kecil di sisi barat gunung Merapi yang dibatasi kali Blongkeng dan kali Pabelan.

Cerita versi yang lain, konon kata muntilan berasal dari bahasa Inggris, mount dan land. Hal ini merujuk kepada kondisi topografi tanah yang bergunung-gunung di sekeliling daerah Muntilan. Muntilan bisa dibilang merupakan pusat pertemuan lima cincin gunung yang meliputi Merapi, Merbabu, Andong-Telomoyo, Sumbing dan pegunungan Menoreh.

Saat ini Muntilan merupakan sebuah kota kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Magelang. Pada periode awal 1900-an, Muntilan menjadi sebuah wilayah kawedanan yang membantu tugas kepemerintahan Tuan Regent. Di masa orde baru, kota ini sempat dimekarkan menjadi sebuah kota administratif (Kotip) yang akan dikembangkan lebih lanjut menjadi sebuah kota madya. Namun perkembangan reformasi menjadikan kisah Muntilan tetap hanyalah sebagai sebuah kota kecamatan hingga kini.

Sebagai sebuah wilayah kepemerintahan kecamatan, Muntilan membawahi beberapa desa atau kelurahan di sekitarnya. Desa yang dibawahi kecamatan Muntilan, meliputi Adikarto, Congkrang, Gondosuli, Gunungpring, Keji, Menayu, Muntilan, Ngawen, Pucungrejo, Sedayu, Sokorini, Sriwedari, Tamanagung dan Tanjung. Beberapa kecamatan yang berbatasan langsung dengan Muntilan adalah Kecamatan Salam, Srumbung, Dukun, dan Mungkid.

Muntilan merupakan kota terbesar di wilayah Kabupaten Magelang. Bahkan jika dibandingkan ibukota Kabupaten di Kota Mungkid, Muntilan jauh lebih ramai dan padat penduduknya. Muntilan berada di jalur strategis yang menghubungkan Jogja-Magelang-Semarang. Terletak sekitar 25 km sebelah utara Jogjakarta, menjadikan Muntilan menjadi jalur perlintasan yang strategis dan ramai. Muntilan menjadi sebuah kota yang dinamis, namun tetap bersanding dengan sisi ke-ndesoan desa-desa di seputarannya.

Di kelilingi daerah sentra pertanian yang subur, Muntilan menjadi pusat perdagangan komoditas pertanian lokal. Pasar Muntilan berkembang sangat pesat, meskipun pada awalnya hanya ramai di saat hari pasaran Kliwon saja. Kini pasar Muntilan sangat padat dijejali pedagang dan ruko yang bahkan mengesankan kawasan pasar yang tidak tertata dan semrawut. Komoditas hasil pertanian terbesar diantaranya adalah beras, sayur-mayur, buah-buahan, tembakau, bahkan klembak.

Kota Muntilan dibelah sebuah jalan protokol utama yang membujur utara-selatan. Dengan dipagari toko-toko yang pada awalnya sepenuhnya diusahakan oleh para perantau Tiongkok, Jalan Pemuda merupakan ruas jalan yang sangat legendaris. Di samping pertokoan, di jalan tersebut juga terdapat sekolah, perkantoran, dan fasilitas umum, seperti bank, masjid, gereja, klentheng, bioskop, dll.

Dari ujung selatan Jalan Pemuda, melalui jembatan kali Blongkeng, Muntilan akan menyambut dengan garasi bus Ramayana, kampung Wonosari, SMK As Sholihah, GKJ, SMP 1 Muntilan, Tape Ketang, Kali Lamat, pasar Jambu, kawasan Tugu Wesi, Klentheng, Bangjo Pasar, kawasan Terminal Drs Prajitno, kawasan Plasa, Kali Keji, RSPD(Gemilang FM), kawasan Prumpung, Monumen Bambu Runcing, hingga jembatan Kali Pabelan.

Diantara kekhasan kota Muntilan yang paling tersohor adalah tape ketan. Produk rumahan yang terbuat dari beras ketan yang difermentasikan ini, seakan memang menjadi ikon kuliner khas Muntilan. Namun demikian jika kita bertandang di Muntilan akan sangat mudah menemukan wajik Ny Week, jenang, krasikan, hingga slondhok dan pothil. Di samping produk makanan ringan, kuliner Muntilan juga diperkaya dengan bakso Mekarsari yang terkenal, magelangan di kawasan klentheng, soto dan nasi rames  di berbagai sudut pasar, hingga kupat tahupun banyak bertebaran.

Untuk produk kerajinan tangan yang paling terkenal adalah berbagai kerajinan pahatan batu di kawasan Prumpung maupun Tejowarno. Meskipun ketrampilan memahat dipelajari secara turun-temurun, namun sesungguhnya para pengrajin yang ada telah memiliki silsilah darah pemahat yang sangat panjang. Bahkan tidaklah berlebihan bahwa nenek moyang merekalah yang memahat satu per satu batu yang disusun menjadi candi terbesar dan termegah yang menjadi kebanggaan bersama bangsa kita, Borobudur!

Roda sejarah terus berputar. Muntilan mau tidak mau juga harus berpacu dengan roda jaman. Akan seperti apakah Muntilan di masa depan. Hanya catatan sejarahlah yang akan bisa berkisah untuk anak cucu kita di waktu yang akan datang.

Ngisor Blimbing, 30 Agustus 2012

Foto diambil dari sini, sini, dan sini.