Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa manusia hidup tak terpisahkan dengan air. Air merupakan kebutuhan hidup yang sangat penting bagi manusia. Manusia masih bisa bertahan melakukan aktivitas tanpa asupan makanan untuk beberapa hari. Namun tanpa air, hanya dalam beberapa jam saja manusia akan mengalamai dehidrasi yang berakibat fatal terhadap keseimbangan tubuhnya. Nenek moyang kitapun sudah sangat tahu persis mengenai hal tersebut, sehingga para mbah cikal bakal sebuah padukuhan atau kampung senantiasa membangun perkampungan di daerah yang kaya air.

Kaliwungu8

Keberadaan sebuah padukuhan selalu berkaitan erat dengan kebutuhan penyediaan air bersih. Air bersih dapat bersumber dari tuk, umbul atau mata air. Air juga bisa didapatkan dari aliran sungai yang mengalir di dekat sebuah padukuhan. Terkadang air juga didapatkan dari sendang, telaga ataupun danau yang menampung air dari berbagai sumber mata air. Jika manusia di masa lampau lebih mengandalkan sumber air yang ada secara alamiah, didorong oleh kebutuhan karena semakin padatnya permukiman penduduk, manusia masa kini telah banyak memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan membuat sumur, baik sumur tradisional maupun sumur bor yang dilengkapi dengan alat pemompa.

Selain untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga, seperti untuk minum, memasak, mandi, mencuci, dan keperluan kakus, air dalam jumlah yang lebih banyak diperlukan untuk pengairan sawah dan juga budidaya perikanan. Tanah ladang dan persawahan yang terairi secara cukup dan teratur akan selalu terjaga tingkat kesuburan tanahnya. Dengan modal tanah yang subur inilah, penduduk padukuhan menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Sawah yang subur, ijo royo-royo dan tuwuh kang sarwa tinandur akan membawa kemakmuran bagi keseluruhan warga padukuhan. Dengan demikian kelimpahan air di sebuah padukuhan bisa dijadikan tolak ukur kemakmuran daerah yang bersangkutan.

Kaliwungu3 Kaliwungu1 Kaliwungu2

Kemakmuran yang dicapai oleh sebuah kelompok masyarakat akan membawa kepada pencapaian kemajuan peradaban manusia. Sejarah telah membuktikan kemajuan peradaban manusia sangat berhubungan erat dengan kelimpahan air. Sampeyan pernah mendengar mengenai bangsa Mesir dengan sungai Nilnya, wilayah Mesopotamia yang diapit sungai Eufrat dan Tigris, peradaban India di Harrappa dan Mahenjodaro ataupun lembah Gangga, termasuk kemajuan bangsa China di sekitar sungai Yang tse Kiang. Ada pula kerajaan Muangthai dengan sungai Menam Chao Praya-nya. Bahkan lebih jauh ke belakang keberlangsungan peradaban Atlantis, semua merupakan ikon peradaban air. Air adalah sumber kehidupan.

Sebuah dusun di lereng Merapi yang memiliki sumber air yang cukup melimpah adalah dusun Kaliwungu. Dusun yang berukuran sedang ini memiliki Kali Druju yang mengalir di sisi timurnya. Letak sungai yang lebih rendah dari dusunnya sendiri, menjadikan hanya aliran di sisi hulu saja yang menjadi sumber pengairan untuk pertanian warga. Namun demikian, keberadaan lembah sungai Druju membawa keberkahan berupa hadirnya sebuah mata air yang melimpah ruah di sisi tebing pinggiran aliran Kali Druju.

Kaliwungu5 Kaliwungu7

Air dari mata air di tepian tebing tersebut kemudian disalurkan melalui beberapa pancuran dan dijadikan untuk pemandian umum warga. Dengan kesederhanaan batas pelindung yang terbuat dari bleketepe alias anyaman blarak atau daun kelapa, dulu dibuatlah sarana pemandian umum yang memisahkan antara penduduk lelaki dan perempuan. Beberapa saat berselang, sarana pemandian umum tersebut dibuat semi permanen.

Jika di masa lalu, air hanya terbatas dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan pengairan, maka limpahan air dari mata air di sisi tebing dan sisa air bekas pemandian yang bergabung dengan aliran air Kali Druju di bawahnya dibendung. Bendungan sederhana yang ada pada waktu itu memiliki bentangan tidak lebih dari lima meter. Namun demikian keberadaan bendungan tersebut memiliki fungsi guna bagi masyarakat Kaliwungu. Pertama bendungan berfungsi sebagai kolam pemeliharaan ikan. Kedua buangan curahan air bendungan yang memiliki debit air cukup deras dipergunakan untuk menggerakkan kincir air. Kincir air tersebut dikopel ke sebuah generator pembangkit listrik. Maka dusun Kaliwungu merupakan salah satu dusun perintis yang menghasilkan listrik secara mandiri dari mikro hidro power di tahun 80-an.

Kaliwungu6Kini keberadaan bendungan dan kincir air tersebut tinggal menjadi kenangan. Semenjak era awal 90-an, Kaliwungu bersama-sama dengan dusun-dusun lainnya di lereng Merapi telah menikmati listrik masuk desa dari jaringan PLN. Praktis fungsi bendungan kemudian hanya terbatas untuk memelihara ikan saja. Akan tetapi lama-kelamaan, keberadaan bendungan tersebut juga menjadi semakin kurang terpelihara. Luapan banjir Kali Druju yang berhulu di kawasan Jurangjero sempat membuat jebol tanggul bendungan. Bendungan itupun kini hanya menyisakan sedikit bekas-bekas pondasinya.

Meskipun bangunan bendungan dan kincir airnya sudah tidak dapat dijumpai lagi, namun keberadaan mata air di tebing Kali Druju tersebut masih dimanfaatkan untuk kegiatan mandi dan cuci mencuci sebagian warga. Tentu saja pemandian Kaliwungu di lembah Kali Druju di masa kini tidak lagi seramai di masa lalu. Di samping telah banyak warga dusun yang telah memiliki sumur pribadi di rumahnya masing-masing, beberapa bagian dusun juga telah tersentuh aliran air bersih yang dibangun dan dikelola secara swadaya oleh warga setempat.

Sebagai sebuah tempat yang menyisakan kenangan indah di masa kecil setiap saya diajak Bapak untuk sowan ujung bersilaturahmi kepada Simbah Kaliwungu, keberadaan mata air Kaliwungu tentu tidak akan pernah dapat terlupakan. Maka sebagai sebuah “tradisi” yang telah turun temurun, setiap berlebaran ke rumah para Lik putra Mbah Kaliwungu, kini giliran si Ponang dan para sepupunya yang senantiasa ngeyel untuk sekedar kekeceh menikmati kesejukan dan kejernihan air dari mata air Kaliwungu. Air menjadi sarana permainan yang membawa kegembiraan sangat luar biasa bagi para bocah.

Kaliwungu4Dengan riang gembiranya mereka tak segan-segan berbasahan ria. Mengumpulkan bebatuan dan menyusunnya menjadi struktur punden berundak, piramida ataupun sebuah candi sederhana. Dengan penuh semangat mereka juga mengeruk pasir, menambak aliran sungai laksana pasukan kera yang sedang nambak segara Ngalengkadiraja. Akhirnya merekapun tenggelam dalam kekhusukan keciblonan dan geguyangan satu sama lain diiringi gelak tawa kegembiraan yang hadir apa adanya. Air telah lebih mendekatkan para bocah dengan alam. Dan pengenalan bocah kepada alam semoga dapat membawa pengenalan dan kedekatan rasa dan jiwa kepada Sang Pencipta Alam Semesta Raya, Gusti Allah Kang Murba Wasesa.

Ngisor Blimbing, 3 Februari 2013