Peristiwa kecelakaan pesawat Sukhoi SJ100 yang membawa korban 45 penumpangnya tidak terlampau membuat hati ini merasa terlalu kehilangan. Turut berduka dan berbela sungkawa sudah pasti, tetapi tetap masih dalam batas rasa empati sebagai sesama manusia. Akan tetapi berita duka yang terdengar pagi kemarin sungguh mengguncang dan mengejutkan jiwa ini. Beliau yang belum pernah sekalipun saya temui, namun begitu hati ini merasa sangat kehilangan akan sosok kealimannya. Dialah Mbah Lim, atau yang bernama lengkap Kyai Haji MualimRifai Imampuro, dipanggil kehadirat-Nya pada Kamis pagi di RSI Klaten. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, semoga Gusti Allah mengampunkan segala dosanya dan mengangkat jiwanya di papan kasedan jati yang mulia.

Mbah Lim, ……hmmmm. Kenapa sosoknya seakan terasa sangat dekat? Pertama kali mengenal sosok alim nan sederhana ini adalah di masa SMA dulu ada acara Gardu di salah satu teve swasta yang waktu itu masih baru. Acara yang dipandu budayawan Emha Ainun Nadjib itu senantiasa menghadirkan Mbah Lim untuk medhar sabda (menguraikan) mengenai berbagai kearifan sifat untuk menghadapi hidup yang tengah memasuki jaman edan ini.

Mbah Lim adalah tokoh kyai khos di kalangan warga nahdziyyin yang sangat kharismatik. Sebagai seorang ulama terkemuka, tidak ada lagi yang menyangsikan soal kealiman dan keunggulan ilmu agamanya. Hal yang paling menarik adalah sikap hidupnya yang sangat tawadlu, sangat sederhana, seakan Beliau memang sangat ngiwakke (mengesampingkan) kehidupan duniawi. Dialah sangat takdzim dalam meneladani kesederhanaan kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad yang memilih menjadi abdan nabiyya (nabi yang seorang abdi, orang biasa) daripada harus menjalani sebagai mulkan nabiyya (nabi yang sekaligus raja) sebagaimana pernah ditawarkan Allah melalui Jibril.

Selain kedalaman dan keluasan ilmu agamanya, Mbah Lim juga dikenal sebagai sosok ulama yang sangat mencintai tanah tumpah darahnya, Indonesia. Di masa mudanya, Beliau terkenal sebagai anggota laskar kejuangan yang mengangkat bambu runcing untuk mengenyahkan penjajahan Belanda hingga Jepang. Semangat nasionalisme dan patriotismenya itu bahkan kemudian diabadikan menjadi nama pondok pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti yang diasuhnya di Karanganom, Klaten. Sebuah pilihan nama yang sangat nyleneh dan tentunya tidak main-main. Nama itu benar-benar sebuah cermin abadi akan kecintaanya kepada bumi Nusantara. Baginya menjadi orang Islam yang Indonesia adalah pilihan hidup yang sangat serius. Islam dan Indonesia adalah dua entitas yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain dari seorang pribadi Mbah Lim.

Sebagaimana sering dinasehatkan oleh para alim ulama bahwasanya salah satu tanda-tanda semakin dekatnya hari kehancuran adalah diangkatnya ilmu-ilmu agama dari muka bumi. Ulama sebagai para penerus dan pewaris nabi adalah gudangnya ilmu agama. Maka dengan semakin banyaknya ulama kinasih yang dipanggil keharibaan-Nya tanpa diturunkannya pengganti yang setara sengannya adalah fenomena diangkatnya ilmu tersebut. Bukankah belum berselang di bulan Februari yang lalu juga baru berpulang Kyai Abdullah Fakih dari Langitan di Lamongan? Kenapa jarak rentang waktu kepergian mereka seakan begitu dekat? Inilah pangkal kerisauan kalbu ini sehingga kepergian Mbah Lim membekaskan rasa kehilangan yang teramat dalam di dada ini.

Sugeng tindak Mbah Lim, selamat jalan Mbah Kyai! Semoga kealimanmu menebarkan ke relung jiwa setiap sedulur muslim yang masih harus berjuang untuk berjihad mengalahkan hawa nafsunya sendiri di tengah keedanan jaman edan ini. Moga Tuhan masih memberikan kesempatan bagi manusia untuk menapaki jalan-Nya sehingga menemukan keselamatan sejati di dunia dan akhirat.

Ngisor Blimbing, 24 Mei 2012