8

Magelang dan Jateng Visit Year 2013

20 Jun 2012 by pendekartidar in Opini

Liburan sekolah atau kuliah telah tiba. Kemudian aktivitas apakah yang sering dilakukan untuk mengisi liburan? Mungkin tidak sedikit yang menjawab wisata. Ya, berwisata untuk mengisi masa liburan memang sangat menyenangkan.  Ada berbagai pilihan obyek wisata yang dapat dikunjungi, mulai dari pantai, gunung, air terjun, telaga, candi, hingga museum atau monumen, termasuk wisata kuliner. Tujuan berwisatapun bisa bervariasi, dari sekedar hiburan, petualangan, bahkan pendidikan.

Ditijau dari sisi kontribusi ekonomi, dunia pariwisata memang sangat berpeluang untuk mendongkrak pendapat asli suatu daerah. Dalam sebuah pengelolaan tempat atau obyek wisata, kunjungan wisatawan yang tinggi tentu merupakan masukan pendapatan dari penjualan tiket. Dunia wisata tidak bisa dilepaskan dari sarana prasarana jasa pendukung yang lain, ada sarana parkiran, toko souvenir, warung makan dan restoran, hingga oleh-oleh makanan khas suatu daerah. Lebih jauh lagi tentu akan terkait dengan dunia kerajinan dan industri kecil yang memproduksi aneka ragam souvenir, hingga jenis kuliner dan produk pertanian atau perkebunan. Tidak sampai di situ, pariwisata juga sangat berhubungan dengan penyediaan layanan jasa akomodasi, seperti penginapan dan transportasi. Intinya bahwa dunia pariwisata sangat berperan menyangga sektor ekonomi yang lain, dan apabila kontribusi dunia kepariwisataan tinggi, maka sektor usaha yang lain juga akan turut meningkat.

Melihat betapa sangat strategisnya peran dunia kepariwisataan, maka tidak sedikit negara-negara di dunia yang mengandalkan perekonomian negaranya dari sektor ini. Banyak contoh negara yang menopang ekonominya dari jasa kepariwisataan, sebut saja Singapura, Hongkong, Hawai, Thailand, Inggris, Prancis, bahkan Arab Saudi dengan wisata “haji dan umrahnya”. Kemudian bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia merupakan gugusan kepulauan Nusantara yang terbentang di jantung khatulistiwa. Secara alamiah, negeri ini menerima anugerah kemurahan alam yang melimpah ruah. Di bumi ini terdapat beranekaragam jenis tetumbuhan dan binatang. Bentangan alam geografis yang terpisahkan oleh lautan, dataran tinggi dan pegunungan telah melahirkan beragam akar kebudayaan yang sangat kaya dengan aneka suku bangsa, seni, tradisi, adat istiadat dan budaya yang sangat elok. Indonesia boleh berbangga sebagai negeri surgawi limpahan Ilahi Rabbi. Dengan demikian, sudah pasti negeri ini memiliki potensi pariwisata yang sangat menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan, khususnya dari manca negara.

Menyempit dari bentangan Nusantara, singgahlah di wilayah Jawa Tengah. Provinsi yang tepat berada di tengah-tengah pulau Jawa ini memiliki berbagai obyek wisata yang sangat menarik. Wisata pantai terdapat di sepanjang pesisir utara, mulai daerah Brebes, Tegal, Pekalongan, Pemalang, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Jepara hingga Rembang terdapat berbagai obyek pantai yang sangat menarik. Demikian halnya di pesisir selatan, mulai dari Cilacap, Kebumen, Purworejo, hingga Wonogiri juga memiliki panorama pantai selatan yang elok.

Wisata candi? Jawa Tengah adalah gudangnya candi Hindu-Budha peninggalan dinasti Syailendra dan Sanjaya. Sebut saja candi Borobudur, Mendut, kawasan Dieng, Sukuh, Cetho, Gedung Songo, bisa menjadi pilihan wisatawan yang gemar dengan bangunan arkeologi warisan masa lampau.

Wisata alam pegunungan? Ada Baturaden, daerah pegunungan Dieng, Grojokan Sewu, Curug Sewu, Curug Silawe, Rawapening, Ketep, Suralaya, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan wisata religius? Jawa Tengah memiliki berbagai masjid, pemakaman, petilasan, hingga tempat-tempat yang dianggap keramat. Untuk kategori ini sebut saja Masjid Agung Demak, Masjid Menara Kudus, Masjid Agung Jateng, makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, makam Sunan Muria di Jepara, Klentheng Sam Po Kong, hingga makam-makam para kiai terkemuka di Mangli, Gunung Pring, dll.

Di bidang budaya? Tentu saja Jawa Tengah memiliki Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Puro Mangkunegaran dengan segala tradisi, adat istiadat, kesenian dan budaya khasnya. Ada berbagai macam tarian dan seni tradisional, mulai jathilan, ndayakan, kubro siswo, ndolalak, hingga tayuban dan campur sari. Singkat kata, singkat cerita, Jawa Tengah memiliki lebih dari seribu satu potensi obyek wisata yang bisa dikunjungi.

Keberadaan potensi wisata yang sangat luar biasa ini masaih disadari belum optimal dalam mendukung pemasukan pendapatan daerah, termasuk dalam turut mengangkat kesejahteraan rakyat di sekitar masing-masing obyek wisata. Dengan demikian perlu dilakukan strategi dan langkah-langkah pengembangan melalui kegiatan promosi, pameran, dan penyelenggaraan berbagai festival untuk mengangkat pendapatan dari sektor kepariwisataan ini. salah satu langkah cerdas yang ditempuh oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah adalah agenda Jawa Tengah Visit Year 2013.

Program telah dicanangkan melalui berbagai tahapan agenda, mulai dari perencanaan, sosialisasi, promosi, hingga pelaksanaan di tahun depan. Semua pihak, terkhusus setiap Pemerintah Kabupatenpun harus tata-tata dan sumadya, mempersiapkan diri dengan membuat program-program di wilayahnya masing-masing. Kemudian bagaimana dengan Kabupaten dan Kota Magelang? Adakah gebrakan sosialisasi yang luas kepada kalangan masyarakat yang bersinggungan langsung dengan dunia kepariwisataan, maupun kalangan umum? Rasanya masih minimalis!

Magelang memiliki Borobudur, Mendut, Ngawen, dan berbagai candi yang lain. Di wilayah ini juga ada Ketep Pass, Jurang Jero, Kawasan Menoreh, hingga kawasan Sumbing dan gunung Andong. Kawasan inipun memiliki buah khas salak nglumut dan pondoh. Aneka kuliner seperti gethuk, pothel, slondhok, tape ketan, wajik, kupat tahu, magelangan, hingga sop snerek juga hal yang sangat menarik untuk disuguhkan kepada para wisatawan. Di kota Magelang ada Taman Kyai Langgeng dan gunung Tidar. Namun seberapa majukah wisata di kedua wilayah ini?

Magelang memang kaya dengan potensi wisata. Namun tidak berlebihan bila dikatakan bahwa masyarakat luas belum begitu merasakan manfaat ekonominya bagi kesjehateraan mereka. Borobudur memang terkenal, bahkan hingga ke manca negara. Banyak wisatawan dari luar daerah dan luar nageri yang berbondong-bondong mengunjunginya. Akan tetapi dari segi akomodasi, seperti jasa transportasi dan penginapan atau hotel, rasanya Jogjakarta lebih menikmati berkah Borobudur dan wisata di Magelang lainnya. Bahkan jangan heran apabila di luar sana, orang awam lebih mengenal Borobudur di Jogjakarta daripada di Magelang! Kenapa bisa demikian?

Demikian halnya dengan agenda Jateng Visit Year yang telah dicanangkan, apakah persiapan yang telah dilakukan Magelang? Nampaknya harus ada strategi jitu dan langkah-langkah percepatan untuk menyatukan gerak langkah semua insan yang terkait dengan kepariwisataan. Ya pemerintahnya, dinas pariwisata dan budaya, para pengelola obyek wisata, penyelenggara jasa transportasi dan akomodasi, pemandu wisata, para pedagang, hingga masyarakat umum harus diberikan sosialisasi yang lengkap dan memadai peran apakah yang harus dilakukan masing-masing. Dengan sinergi yang solid, saya rasa Magelang dapat memanfaatkan momentum Jateng Visit Year 2013 mendatang secara lebih optimal. Rasanya hal tersebut sangat perlu untuk dilakukan kalau tidak ingin berkah tahun kunjungan yang kita agendakan lebih dinikmati provinsi lain!

Ngisor Blimbing, 17 Juni 2012

  • 373 Views

THIS ARTICLE IS WRITTEN BY

pendekartidar

Pendekar Tidar adalah salah satu komunitas blogger di Magelang. Terdiri dari beberapa blogger dari berbagai kalangan yang disatukan karena berdomisili di Magelang, pernah tinggal di Magelang, pernah singgah di Magelang, atau karena memiliki kenangan tentang Magelang.

Author Profile
COMMENTS
  1. ikhsan

    tak heran kalau Jogja lebih menikmati berkah Candi Borobudur daripada Magelang lha wong sebagian besar wisatawan yang berkunjung kesana taunya kalau Borobudur itu di Jogja :)

  2. dobelden

    skr penginapan magelang ada artos, mungkin perlu ada event lokal di borobudur ( bkn ritual keagamaan ) misal pameran produk lokal macam di suropadan

    • ndoroseten

      yang nampaknya tidak tersentuh adalah koordinasi dan kerja sama diantara pelaku sektor wisata yang difasilitasi oleh pemkab!
      jadi banyak event, seperti Festival Lima Gunung, Tlatah Bocah, bahkan adat tradisi di masyarakat yang tidak dipromosikan dengan baik dan menjadi bagian paket wisata

      • dobelden

        atau malah pemda TIDAK mau memfasilitasi karena alasan EGO ? itu festival yg digagas tlatah bocah sudah mendunia juga, dan pemda kok ya masih menutup mata? heran

        • ndoroseten

          mungkin para pimpinan itu kurang visioner dalam memajukan semua potensi wisata yang semestinya bisa dijadikan jalan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat….rakyat tetap harus mencari jalan sendiri!

  3. Elang Wilangkara

    Pendekar Tidar…BANGKIT….BANGKITTTT….SEBENTAR LAGI LERENG GUNUNG TIDAR SEBELAH TIMUR AKAN DIOBRAK ABRIK UNTUK JALAN RAYA…..ikhlaskah kita, pusaka yang diwariskan nenek moyang kita akan dirusak oleh kebijakan pemerintah kota magelang….????
    Kebijakan yang jauh dari kearifan terhadap lingkungan dan peninggalan leluhur yang amat kita hormati…dengarlah tangis ini wahai para Pendekar Tidar…janganlah kedzaliman terhadap alam yang dibungkus dengan kebijakan dibiarkan begitu saja…

  4. Elang Wilangkara

    Pendekar Tidar…BANGKIT….BANGKITTTT….SEBENTAR LAGI LERENG GUNUNG TIDAR SEBELAH TIMUR AKAN DIOBRAK ABRIK UNTUK JALAN RAYA…..ikhlaskah kita, pusaka yang diwariskan nenek moyang kita akan dirusak oleh kebijakan pemerintah kota magelang….????
    Kebijakan yang jauh dari kearifan terhadap lingkungan dan peninggalan leluhur yang amat kita hormati…dengarlah tangis ini wahai para Pendekar Tidar…janganlah kedzaliman terhadap alam yang dibungkus dengan kebijakan dibiarkan begitu saja…

Leave a Reply

%d bloggers like this: