Lutung5Akh, bicara tentang kekayaan dan keragaman seni tradisi di Bhumi Nusantara memang tidak akan pernah ada kiamatnya. Salah satu yang mungkin belum banyak pihak yang mendokumentasikannya adalah seni lutungan. Lutungan? Ada to seni lutungan? Seperti apakah bentuk seni yang satu ini?

Dalam khazanah zoologi, yaitu cabang ilmu biologi yang mempelajari hewan atau binatang, kata lutung mungkin tidak begitu asing. Lutung merupakan salah satu spesies monyet yang memiliki kekhasan berupa warna bulunya yang hitam legam namun sangat mengkilat. Dalam khazanah dongeng warisan nenek moyang, ada sebuah kisah berjudul Lutung Kesarung. Secara singkat, Lutung Kesarung merupakan penjelmaan seorang pangeran yang dikutuk menjadi seekor monyet hitam. Ia hanya dapat bebas dari kutukan jahat tersebut apabila ada seorang gadis yang menyatakan cinta kepadanya. Lalu seni seperti apakah lutungan itu?

Lutung alias si monyet hitam tentu saja termasuk binatang yang sangat pandai memanjat pohon. Bahkan dengan kegesitan dan kelincahan gerak tubuhnya, ia sangat lihai melompat dari satu dahan pohon ke pohon lainnya, seolah tengah melakukan atraksi di panggung sirkus. Maka Anda tidak akan salah tebak jika mengkaitkan seni lutungan dengan pohon dan panjat-panjatan.

Dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI, sudah sangat umum diperlombakan lomba panjat pinang. Panjat pinang merupakan luapan kegembiraan anak bangsa dalam mensyukuri kenikmatan pencapaian kemerdekaan. Dengan berbagai hadiah perlombaan yang digantungkan di atas pucuk pohon pinang yang telah dilumuri dengan oli yang sangat licin, para peserta panjat pinang saling berebut untuk naik menjadi sang juara. Bayangkan, ada pakaian, sepatu, tas, rice cooker, kipas angin, aneka jajanan, bahkan sepeda ataupun voucer sepeda motor. Semakin kaya penyelenggara panjat pinang atau para sponsor di belakangnya, hampir dipastikan hadiahnya semakin banyak dan meriah.

Lutung4 Lutung2

Lalu bagaimana hubungan antara lomba panjat pinang dengan seni lutungan tadi? Tentu saja hubungannya sangat erat sekali. Lomba panjat pinang dengan puluhan peserta yang saling berebut memanjat pohon pinang licin dan saling bersaing dengan cara saling menginjak satu sama lain adalah sebuah pemandangan biasa hampir di seluruh pelosok tanah air. Akan tetapi pernahkan Sampeyan melihat para peserta panjat pinang yang seluruh permukaan tubuhnya berwarna hitam semua. Tidak hanya saling berebutan untuk menjadi pemanjat pertama yang sampai di puncak kemenangan dengan meraih hadiah utama, justru mereka juga melakukan tarian-tarian atraktif sambil mengelilingi kalangan pohon pinang. Tidak hanya ramai dengan sorak-sorai penonton yang mengelu-elukan jagoan juaranya, bahkan kalangan panjat pinang itupun hingar-bingar dengan tetabuhan gamelan, ada bedug, bendhe, saron, juga angklung dan rebana. Itulah seni lutungan yang sedang saya bicarakan.

Lutungan di masa lalu tentu saja tidak segemebyar lutungan di masa kini. Dahulu, di kala perlengkapan untuk menghias badan dirasa belum terjangkau, para lutung, demikian para pemain panjat pinang disebut, hanya menghitamkan kulit tubuh mereka dengan olesan angus dari arang yang benar-benar hitam legam, namun sekaligus kotor. Para lutung bertelanjang dada, seluruh kulit bagian dada, punggung, tangan, hingga muka dan telinga ditutupi dengan angus hitam legam.

Lutung6 Lutung3

Dengan iringan hentakan bedug yang keras dan disertai nyanyian pepujian sebagaimana halnya seni Kobra Siswa, para lutung membentuk formasi barisan dengan aneka ragam gerakan kreasi. Gerak terpadu yang dinamis menjadikan lomba panjat pinang dalam bingkai seni lutungan tidak hanya sekedar sebagai sebuah tontonan perlombaan. Setelah mencapai puncak tarian, barulah satu per satu secara bergiliran lutung-lutung itu mendapatkan giliran untuk mencoba memanjat pohon pinang yang licin dilumuri oli cair tadi.

Batang pohon pinang yang licin tentu saja sangat sulit untuk dipanjat. Satu per satu, sekali-dua kali, para lutung itu gagal. Mereka kembali menari dengan formasi tarian yang lain. Dua-tiga putaran tarian, para lutung mencoba lagi untuk memanjat. Satu per satu lutung naik, sedangkan para lutung lainnya bekerjasama saling mendukung dari bawah. Dalam lutungan, justru sangat nampak kebersamaan dan semangat gotong-royong sebagai pesan moral dari pertunjukan yang bermuatan pesan tuntunan yang sangat dalam tersebut.

Lutung1Ketika ada salah satu lutung yang mencapai puncak pohon pinang, maka iapun hanya mengambil hadiah utama dan harus turun untuk digantikan dengan lutung yang lainnya. Demikian seterusnya, hingga sampai di puncak acara, maka seekor lutung akan menjadi pemborong hadiah yang akan dimasukkannya di dalam kantong atau karung yang nantinya akan dibagikan rata kepada semua lutung yang telah turut kerja keras sebagai sebuah tim besar. Inilah makna tentang kerja sama dan pemerataan hasil dari sebuah pekerjaan besar yang dikerjakan bersama-sama. Meskipun semua lutung tidak mendapatkan bagian yang sama persis, namun nilai keadilan dan sportivitas sangat dijunjung tinggi dalam pertunjukan lutungan.

Dalam kemasan pertunjukan lutungan, hingar-bingar tetabuhan gamelan seringkali ditambah meriah dengan rangkaian berondongan mercon atau petasan yang sengaja disulut di tengah–tengah kalangan. Tidak ketinggalan luncuran kembang api yang menghiasi langit dengan warna-warni pelangi dan menghasilkan lukisan cahaya di atas angkasa langit yang berlatarkan warna hitam kelamnya malam hari.

Lutung7Tidak hanya terhenti dengan perolehan hadiah yang murah meriah, gamelan yang riuh dan ledakan petasan serta kembang api yang hingar, tarian lutungan menjadi semakin semarak, bahkan terkesan sangat mistik, tatkala sebagian dari para lutung ndadi alias trance. Dalam soal dadi-mendadi ini, lutungan tidak berbeda dengan seni tarian kolosal Jawa yang lain, seperti jathilan, reog, kuda lumping, campur, kobra siswa, ataupun ndayakan. Seseorang yang ndadi bagaikan kesurupan roh-roh halus yang memompakan kekuatan penuh kepada para lutung. Gerakan dan tarian para lutung seringkali sudah di luar kendali dari masing-masing personil. Bahkan tidak sedikit diantara para lutung yang ndadi tersebut meminta bermacam-macam suguhan, seperti air putih, kembang tujuh rupa, kelapa muda, kemenyan, bahkan pernah ada yang meminta bendera merah putih untuk dia hormati dan dicium penuh rasa penghormatan serta semangat patriotisme yang berkobar meluap-luap. Maka dalam perhelatan lutungan, kehadiran seorang pawang ruh halus sangat memegang peranan yang sangat penting. Sampeyan penasaran dengan lutungan?

Di Kronggahan, salah satu dusun di Tepi Merapi senantiasa dipentaskan seni lutungan pada rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI. Monggo dipersilakan rawuh untuk menuntaskan rasa penasaran Anda.

Ngisor Blimbing, 15 September 2013