Menulis sebenarnya bukanlah hal yang mudah, namun bukan pula sebuah hal yang sulit dan harus ditakuti. Dengan menulis setidaknya kita dapat memberikan 3 (tiga) hal bermanfaat kepada sesama. Pertama, dengan kita menuliskan sesuatu hal maka kita telah memberikan dan membagi ilmu dan pengetahuan dengan orang lain. Kedua, dengan menulis maka kita telah mendokumentasikan suatu pengetahuan yang kita miliki, hingga pada suatu saat (siapa tahu) akan diperlukan oleh orang lain. Dan ketiga adalah merangsang dan menumbuhkan minat baca masyarakat.

Mengingat manfaat menulis yang sedemikian banyak sebagaimana tersebut di atas, maka patut disayangkan minat dalam menulis masih rendah. Hal ini terutama sangat dirasakan di kalangan pelajar, hingga menjadi sebuah keprihatinan sekaligus tantangan bersama untuk membangkitkan semangat dan kemauan tersebut. Itulah yang mendasari Komunitas Pendekar Tidar, sebuah Komunitas Blogger Magelang, dalam rangka memperingati HUT ke-II dan memperingati Hari Pendidikan Nasional 2011 menggagas sebuah lomba menulis untuk kalangan pelajar.

Agenda lomba menulis ini sebenarnya hanyalah agenda yang sangat kecil dari sebuah semangat dan cita-cita yang besar untuk mendorong kalangan pelajar bersemangat dalam menulis, sebagai sebuah media dan sarana untuk saling berbagi kepada sesama melalui tulisan. Sebab pada hakikatnya sebuah torehan kata-kata, apapun bentuknya, adalah dalam rangka untuk menebarkan sebuah pengetahuan kepada sesama.

Di sisi lain baru saja kita, segenap masyarakat di seputaran lingkar gunung Merapi, merasakan betapa dahsyatnya dampak erupsi gunung teraktif ini. Ratusan ribu rakyat secara tiba-tiba harus menyingkir ke pengungsian. Debu, abu, pasir, bahkan kerikil dan batu beterbangan di langit kaki gunung. Ribuan hektar lahan pertanian rusak porak-poranda. Hewan ternak, bahkan beberapa warga tewas menjadi korban awan panas. Sekolah-sekolah diliburkan karena semua siswa dan guru menjadi pengungsi.

Terdorong oleh hal-hal sebagaimana terurai di atas, pastinya akan sangat beragam kesan, pendapat, opini dan perasaan yang dirasa oleh berbagai kalangan masyarakat terhadap kejadian erupsi Merapi, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. Alangkah menariknya untuk mendokumentasikan pikiran muda dari sudut pandang para remaja dan pelajar kita menjadi tulisan-tulisan yang inspiratif terkait keberadaan gunung Merapi.

 

 

Nama Kegiatan: Lomba Menulis dan Seminar Pendidikan se-Eks Karesidenan Kedu 2011

Tema Kegiatan:

  • Lomba Menulis: 1001 Sisi Erupsi Merapi 2010 *)
  • Seminar Pendidikan: Internet Sehat untuk Mencerdaskan Generasi Masa Depan **)

Sub-Tema Penulisan:

  • Kesan, pengalaman, opini, serta pandapat tentang peristiwa erupsi Merapi;
  • Alam, berkenaan dengan kondisi dan situasi alam, baik mengenai wisata alam yang terpendam, kondisi lingkungan hidup yang ada, produk atau sumber daya alam potensial, serta kondisi pembangunan kawasan Merapi;
  • Sosial-Budaya, berkenaan dengan budaya yang ada di kawasan masing-masing, seperti kesenian, seni kerajinan rakyat, tari-tarian, adat istiadat atau upacara-upacara adat, serta berbagai aspek kehidupan sosial kemasyarakatan;
  • Kuliner atau makanan khas seputar Merapi;
  • Aspirasi terhadap proses pemulihan dan pembangunan yang sedang berlangsung;

Peserta:

  • Peserta Lomba Menulis adalah pelajar tingkat SMP dan SMA di wilayah eks-Karesidenan Kedu (Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, dan Kebumen).
  • Peserta Seminar Pendidikan adalah juara lomba menulis, guru-guru, orang tua, praktisi internet, pelajar, mahasiswa, dan umum.

Pelaksanaan:

  • Pengumpulan Naskah Lomba : 2 Mei 2011 – 12 Mei 2011
  • Pelaksanaan Seminar Pendidikan : Sabtu 25 Juni 2011, pukul 08.00 – 13.30

Kontak Person:

  • Kukuh (0856 434 80721)
  • Yudha (08999 3100 25)
  • Nahdhi (0856 254 2517)

Keterangan:

Last Update : 15 April 2011

Menulis sebenarnya bukanlah hal yang mudah, namun bukan pula sebuah hal yang sulit dan harus ditakuti. Dengan menulis setidaknya kita dapat memberikan 3 (tiga) hal bermanfaat kepada sesama. Pertama, dengan kita menuliskan sesuatu hal maka kita telah memberikan dan membagi ilmu dan pengetahuan dengan orang lain. Kedua, dengan menulis maka kita telah mendokumentasikan suatu pengetahuan yang kita miliki, hingga pada suatu saat (siapa tahu) akan diperlukan oleh orang lain. Dan ketiga adalah merangsang dan menumbuhkan minat baca masyarakat.

Mengingat manfaat menulis yang sedemikian banyak sebagaimana tersebut di atas, maka patut disayangkan minat dalam menulis masih rendah. Hal ini terutama sangat dirasakan di kalangan pelajar, hingga menjadi sebuah keprihatinan sekaligus tantangan bersama untuk membangkitkan semangat dan kemauan tersebut. Itulah yang mendasari Komunitas Pendekar Tidar, sebuah Komunitas Blogger Magelang, dalam rangka memperingati HUT ke-II dan memperingati Hari Pendidikan Nasional 2011 menggagas sebuah lomba menulis untuk kalangan pelajar.

Agenda lomba menulis ini sebenarnya hanyalah agenda yang sangat kecil dari sebuah semangat dan cita-cita yang besar untuk mendorong kalangan pelajar bersemangat dalam menulis, sebagai sebuah media dan sarana untuk saling berbagi kepada sesama melalui tulisan. Sebab pada hakikatnya sebuah torehan kata-kata, apapun bentuknya, adalah dalam rangka untuk menebarkan sebuah pengetahuan kepada sesama.

Di sisi lain baru saja kita, segenap masyarakat di seputaran lingkar gunung Merapi, merasakan betapa dahsyatnya dampak erupsi gunung teraktif ini. Ratusan ribu rakyat secara tiba-tiba harus menyingkir ke pengungsian. Debu, abu, pasir, bahkan kerikil dan batu beterbangan di langit kaki gunung. Ribuan hektar lahan pertanian rusak porak-poranda. Hewan ternak, bahkan beberapa warga tewas menjadi korban awan panas. Sekolah-sekolah diliburkan karena semua siswa dan guru menjadi pengungsi.

Terdorong oleh hal-hal sebagaimana terurai di atas, pastinya akan sangat beragam kesan, pendapat, opini dan perasaan yang dirasa oleh berbagai kalangan masyarakat terhadap kejadian erupsi Merapi, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. Alangkah menariknya untuk mendokumentasikan pikiran muda dari sudut pandang para remaja dan pelajar kita menjadi tulisan-tulisan yang inspiratif terkait keberadaan gunung Merapi.