4:35 pm - Friday May 18, 2012

Lingkar Tidar

MENEGAKKAN KEMBALI NILAI KEARIFAN LOKAL

Alkisah Sang Hyang Pada Wenang bertahta di kasuwargan Jonggring Saloka. Menyadari usia yang kian surut, maka ia bermaksud lengser keprabon dan menyerahkan roda pemerintahan kepada salah seorang putranya. Dewa penguasa kayangan itu memiliki tiga orang putra, masing-masing adalah Betara Puguh, Betara Ismaya, dan Betara Manik Maya.

Mengingat ketiga putranya memiliki kelebihan dan kecakapan yang tidak jauh berbeda, menjadikan bimbang bagi Sang Hyang Pada Wenang untuk mengangkat salah satu diantaranya menjadi penggantinya. Akhirnya sebagai jalan tengah yang dianggapnya adil, ketiga putranya harus menjalani ujian untuk dapat naik tahta. Barang siapa yang lulus ujian, dialah yang akan meneruskan menjadi penguasa kayangan. Kemudian apakah ujian yang dimaksud?

Mahameru adalah puncak gunung terbesar di jagad marcopodo. Diantara ketiga putra, siapakah yang dapat menelan puncak gunung tersebut untuk kemudian mengeluarkannya kembali dalam keadaan utuh tanpa perubahan, dialah yang dinyatakan lulus ujian. Maka berdasarkan urutan umur Betara Puguh mendapatkan kesempatan pertama, disusul Betara Ismaya, baru terakhir kesempatan Betara Manik Maya.


Pada kesempatan pertama, Puguh berusaha mbrakot puncak Mahameru. Namun apa daya, Mahameru teramat kokoh dan perkasa bagi mulutnya. Bahkan yang lebih fatal, mulut Betara Puguh sobek dan giginya rampal. Menyadari kegagalannya, Betara Puguh merasa malu dan ia kemudian pergi meninggalkan kayangan untuk menjadi manusia biasa di keramaian dunia. Ialah yang kelak dikenal sebagai tokoh Togog yang akan mengasuh para Kurawa.

Pada giliran ke dua, Betara Ismaya mengerahkan aji mendhem arga raya. Ditelannya bulat-bulat puncak Mahameru ke dalam perutnya yang terus mengembang tanpa batas. Namun sayang seribu sayang, saat ia akan mengeluarkan Mahameru dari dalam perutnya, ternyata gunung itu tidak dapat keluar bahkan malah betah ngendon selayaknya orang hamil. Dengan perasaan wirang bercampur aduk dengan kekalutan, Ismaya turun ke bumi menjadi titah sewantah. Ismaya lalu mangeja wantah menjadi Ki Lurah Semar Badranaya yang menjadi punakawan para Pandawa.


Peristiwa penelanan Mahameru menimbulkan horeg, bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelip hingga datanglah goro-goro! Badai topan menerjang. Banjir bandang menghanyutkan segala rumah, sawah dan ladang. Petir dan halilintar menggelegar dan menyambar-nyambar puncak gunung dan pucuk pepohonan. Ombak bergejolak, menerjang daratan dan mengakibatkan pulau Jawa terapung-apung kian kemari.

Melihat gelagat kegagalan kedua putra tuanya, dan ketakutan terhadap kegagalan yang akan menimpa putra harapan terakhirnya, maka demi kelangsungan tahta kayangan Sang Hyang Pada Wenang mencabut sayembaranya untuk kemudian langsung menitahkan Betara Manik Maya sebagai pengganti dirinya dengan berganti nama menjadi Betara Guru. Dan demi membuang sukerta dari jagad kayangan, puncak Mahameru dibuangnya ke bumi dan ditancapkannya sebagai paku tepat di pusarnya tanah Jawa Dwipa. Itulah puncak Gunung Tidar!


Kisah di atas hanyalah sepenggal salah satu versi tentang asal-usul terjadinya Gunung Tidar. Cerita lain, baik yang berbau mistik, klenik, dongeng, hikayat, hingga sejarah ilmiah banyak ditulis oleh berbagai tokoh pujangga maupun menjadi cerita turun temurun. Legenda Gunung Tidar boleh beragam versi, namun satu hal yang pasti bahwa Gunung Tidar adalah salah satu ikon landmark tlatah Magelang Hadiningrat. Dan bila sampeyan mengaku sebagai wong Magelang namun belum pernah mendaki hingga ke puncak Gunung Tidar, bergabunglah bersama barisan “Pendekar Tidar” untuk naik-naik ke puncak Tidar pada Hari Ahad, 25 Juli 2010. Titik kumpul di parkiran Magersari yang bersebelahan dengan Mbah Paiman sang juru kunci. Start jam 07.00 WIB. Silakan kisanak sedoyo membawa sanaksedulur, kadang, tonggo teparo, bahkan morotuwo tidak dilarang! Dijamin sampeyan akan mendapatkan pengalaman spiritualistik yang sungguh menarik!

Kontak Person:

Yudha: 08999310025

Hanafi: 085729403001


Taman Sari, 21 Juli 2010

Kategori ~ Magelangan

39 Tanggapan di Artikel “Lingkar Tidar”

  1. July 21, 2010 at 2:38 pm #

    Mengamankan Pertamaaxx dulu. ! :)

  2. July 21, 2010 at 2:40 pm #

    pertamax telah diamankan.

    siap melaksanakan!!!

  3. July 21, 2010 at 2:52 pm #

    Penasaran dengan kalimat “mendapatkan pengalaman spiritualistik yang sungguh menarik!” :)

  4. July 21, 2010 at 2:55 pm #

    Tertarik dengan “Pengalaman spiritualistik yang amat menarik!” :D

    • July 22, 2010 at 9:14 am #

      tinggal dilakukan dan dihayati!
      ngilmu iku klakone kanthi laku………..ya to?

  5. July 21, 2010 at 2:58 pm #

    Wah kok ndilalah nek pas ono acara koyo ngene kok malah gak iso melu ki piye jal? (doh)

  6. July 21, 2010 at 3:02 pm #

    melihat napak tilas sang presiden dari TNI :D

    • July 22, 2010 at 9:13 am #

      siapa tahu bisa nglintir kursi presiden beneran yo Mas?

  7. July 21, 2010 at 3:34 pm #

    al bi der…

  8. July 21, 2010 at 9:55 pm #

    kita cocokkan dengan versi mbah paiman nanti ya…

  9. July 22, 2010 at 12:46 am #

    saya pernah berjalan kaki hingga ke puncak tidar, mas, sekitar tahun 97-an. medan yang agak berat utk mencapainya, tapi ada nilai kepuasan tersendiri.

    • July 22, 2010 at 9:10 am #

      wah rupanya yang namanya kawula alit selalu kalah langkah dengan para wali……

  10. Aki
    July 22, 2010 at 2:03 pm #

    Salam kenal buat semua…

    • July 23, 2010 at 1:28 pm #

      salam kenal juga, matur nuwun sudah mampir……

  11. Aki
    July 22, 2010 at 2:04 pm #

    Semoga bisa ikutan..

    • July 23, 2010 at 1:28 pm #

      monggo sdoyo, dengan senang hati….

  12. July 23, 2010 at 7:53 am #

    pengin melu ki!…

    • July 23, 2010 at 1:27 pm #

      ngisin-isine nek blogger nasional nganti ketinggalan!

    • July 24, 2010 at 6:55 pm #

      ra melu awasss

      • July 26, 2010 at 2:11 pm #

        dipersori kang, ntar nusul kloter kepindone mawon!

  13. soly
    July 23, 2010 at 9:27 am #

    mudah2an tidak ada acara yg mendadak hingga bisa gabung …… salam tidar ……

    • July 23, 2010 at 1:27 pm #

      monggo mas, ditunggu kadatangane…..

  14. iwan
    July 23, 2010 at 4:57 pm #

    aku bangga punya rumah di magelang, tapi sayang, kini aq harus cari makan di negeri orang,

    dulu di TB aq pernah lho ???? kecopetan asem tenan kok

    • July 26, 2010 at 2:13 pm #

      moga Magelang senantiasa dikenang di hati selalu….

  15. Umar Munadji
    July 24, 2010 at 9:16 pm #

    Gunung tidar itu di Kota Magelang, kalau saya asalnya dari Kab. Magelang jadi naik Gn Merapi saja, he he

    • July 26, 2010 at 2:11 pm #

      lha kulo malah ngisorer pas Gunung Merapi Mas…..sampeyan pundi?

  16. August 1, 2010 at 11:47 am #

    salam kenal dari blogger magelang ditunggu kunjungan balik nya.!!
    maju terus Magelang

    • August 2, 2010 at 10:09 am #

      salam kenal balik…….
      monggo sering gabung di agenda kita!

Trackbacks/Pingbacks

  1. PENDEKARTIDAR#11 | PendekarTidar - August 25, 2010

    [...] berguru kepada seorang kiai, Bagindapun pernah ngangsu kawruh kepada Mbah Paiman sang juri kunci Gunung Tidar dan Mbah Herman yang mbahurekso Mesjid [...]

Tinggalkan Balasan

(required)