MENEGAKKAN KEMBALI NILAI KEARIFAN LOKAL

Alkisah Sang Hyang Pada Wenang bertahta di kasuwargan Jonggring Saloka. Menyadari usia yang kian surut, maka ia bermaksud lengser keprabon dan menyerahkan roda pemerintahan kepada salah seorang putranya. Dewa penguasa kayangan itu memiliki tiga orang putra, masing-masing adalah Betara Puguh, Betara Ismaya, dan Betara Manik Maya.

Mengingat ketiga putranya memiliki kelebihan dan kecakapan yang tidak jauh berbeda, menjadikan bimbang bagi Sang Hyang Pada Wenang untuk mengangkat salah satu diantaranya menjadi penggantinya. Akhirnya sebagai jalan tengah yang dianggapnya adil, ketiga putranya harus menjalani ujian untuk dapat naik tahta. Barang siapa yang lulus ujian, dialah yang akan meneruskan menjadi penguasa kayangan. Kemudian apakah ujian yang dimaksud?

Mahameru adalah puncak gunung terbesar di jagad marcopodo. Diantara ketiga putra, siapakah yang dapat menelan puncak gunung tersebut untuk kemudian mengeluarkannya kembali dalam keadaan utuh tanpa perubahan, dialah yang dinyatakan lulus ujian. Maka berdasarkan urutan umur Betara Puguh mendapatkan kesempatan pertama, disusul Betara Ismaya, baru terakhir kesempatan Betara Manik Maya.


Pada kesempatan pertama, Puguh berusaha mbrakot puncak Mahameru. Namun apa daya, Mahameru teramat kokoh dan perkasa bagi mulutnya. Bahkan yang lebih fatal, mulut Betara Puguh sobek dan giginya rampal. Menyadari kegagalannya, Betara Puguh merasa malu dan ia kemudian pergi meninggalkan kayangan untuk menjadi manusia biasa di keramaian dunia. Ialah yang kelak dikenal sebagai tokoh Togog yang akan mengasuh para Kurawa.

Pada giliran ke dua, Betara Ismaya mengerahkan aji mendhem arga raya. Ditelannya bulat-bulat puncak Mahameru ke dalam perutnya yang terus mengembang tanpa batas. Namun sayang seribu sayang, saat ia akan mengeluarkan Mahameru dari dalam perutnya, ternyata gunung itu tidak dapat keluar bahkan malah betah ngendon selayaknya orang hamil. Dengan perasaan wirang bercampur aduk dengan kekalutan, Ismaya turun ke bumi menjadi titah sewantah. Ismaya lalu mangeja wantah menjadi Ki Lurah Semar Badranaya yang menjadi punakawan para Pandawa.


Peristiwa penelanan Mahameru menimbulkan horeg, bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelip hingga datanglah goro-goro! Badai topan menerjang. Banjir bandang menghanyutkan segala rumah, sawah dan ladang. Petir dan halilintar menggelegar dan menyambar-nyambar puncak gunung dan pucuk pepohonan. Ombak bergejolak, menerjang daratan dan mengakibatkan pulau Jawa terapung-apung kian kemari.

Melihat gelagat kegagalan kedua putra tuanya, dan ketakutan terhadap kegagalan yang akan menimpa putra harapan terakhirnya, maka demi kelangsungan tahta kayangan Sang Hyang Pada Wenang mencabut sayembaranya untuk kemudian langsung menitahkan Betara Manik Maya sebagai pengganti dirinya dengan berganti nama menjadi Betara Guru. Dan demi membuang sukerta dari jagad kayangan, puncak Mahameru dibuangnya ke bumi dan ditancapkannya sebagai paku tepat di pusarnya tanah Jawa Dwipa. Itulah puncak Gunung Tidar!


Kisah di atas hanyalah sepenggal salah satu versi tentang asal-usul terjadinya Gunung Tidar. Cerita lain, baik yang berbau mistik, klenik, dongeng, hikayat, hingga sejarah ilmiah banyak ditulis oleh berbagai tokoh pujangga maupun menjadi cerita turun temurun. Legenda Gunung Tidar boleh beragam versi, namun satu hal yang pasti bahwa Gunung Tidar adalah salah satu ikon landmark tlatah Magelang Hadiningrat. Dan bila sampeyan mengaku sebagai wong Magelang namun belum pernah mendaki hingga ke puncak Gunung Tidar, bergabunglah bersama barisan β€œPendekar Tidar” untuk naik-naik ke puncak Tidar pada Hari Ahad, 25 Juli 2010. Titik kumpul di parkiran Magersari yang bersebelahan dengan Mbah Paiman sang juru kunci. Start jam 07.00 WIB. Silakan kisanak sedoyo membawa sanaksedulur, kadang, tonggo teparo, bahkan morotuwo tidak dilarang! Dijamin sampeyan akan mendapatkan pengalaman spiritualistik yang sungguh menarik!

Kontak Person:

Yudha: 08999310025

Hanafi: 085729403001


Taman Sari, 21 Juli 2010