Berbeda dengan beberapa hari sebelumnya di pertengahan bulan Oktober, siang itu matahari bersinar dengan teriknya. Cahayanya yang cermelang membawa hawa panas yang cukup menjadikan suasana gerah. Ada pilihan untuk leha-leha bersantai ria selepas sholat Jum√°t. Siapa tahu dengan santai tetiduran, angin surga dari bawah pohon waru doyong dapat menghantarkan tubuh yang letih untuk sejenak berehat diri. Namun ada pilihan lain yang tidak mungkin terelakkan. Ya, sebuah perjalanan yang harus ditempuh justru dengan menembus cuaca panas yang rasa kegerahan tadi.

Terbentang sebuah jarak yang cukup jauh antara Tepi Merapi dan Tepi Sumbing. Dua buah gunung pagar alam yang menjadi batas timur dan barat dari wilayah dataran di tengah maha gelang lima gunung yang bernama Magelang. Sebagaimana warta dari beberapa rekan, di siang selepas tengah hari itu akan dihelat pertemuan darat antar sesama rekan-rekan Relawan TIK atau RTIK sewilayah Magelang di Kajoran, satu wilayah yang berada di kaki Gunung Sumbing.

Dengan menguatkan niat dan tekad, saya susuri jalanan yang membentang dari sisi timur selatan menuju barat kabupaten. Jalanan yang cukup ramai dipadati arus lalu lintas membawa saya yang berkendara seorang diri melampaui Gulon, Muntilan, Mendut, Borobudur, Salaman, Krasak, hingga akhirnya memasuki wiayah Kajoran. Dikarenakan perjalanan yang meskipun terik oleh terpaan sinar matahari tersebut akan menghantarkan kepada sebuah pertemuan persaudaraan yang hangat dan lekat, maka nuansa dan romantika keindahan senantiasa hadir di sepanjang perjalanan.

Jalanan menanjak, berkelok nan berliku yang di kanan kirinya dipagari bulak-bulak sawah yang ramah menghijau menjadi pemandangan penyejuk mata yang luar biasa. Dilatar-belakangi perbukitan kaki Gunung Sumbing yang dipuncaki dengan gunung yang diam termenung, seolah sebuah penyambutan selamat datang yang luar biasa ramahnya. Alam adalah kermahtamahan. Alam adalah naluri alamiah kerinduan jiwa-jiwa insani. Dan perjalan tersebut benar-benar membawa penyatuan dengan alam, dan pastinya juga dengan Tuhan.

Menuruni sebuah jembatan yang membentang pada sebuah ngarai yang curam, menanjak lagi, berkelok dan kemudian turun lagi. Khawatir arah jalanan menuju tempat tujuan terlewati, sayapun bergegas berhenti pada sebuah turunan yang dibentangi satu jembatan setengah tua. Seorang bapak-bapak dengan raut muka sahabat alam tengah sibuk dengan tekun nan khusuk merumput di bibir sisi tebing sungai. Kepadanya saya bertanya tentang tempat tujuan saya. Dengan keramah-tamahannya iapun memberikan keterangan tentang jalur jalan yang harus saya tempuh.

Akhirnya sebuah terowongan gerbang desa saya temukan di sisi kiri perjalanan yang saya tempuh. Bukan sengaja dirancang sebagai gapura pintu masuk desa, gerbang tersebut merupakan relung penyangga sebuah saluran irigasi yang membentang di atas sebuah jalan. Memasuki gerbang terowongan itulah saya diantarkan untuk memasuki Dusun Krajan I, Desa Mangunrejo dimana pertemuan kopdaran RTIK Magelang kali itu digelar.

Sebuah rumah sederhana menghadap ke barat di sisi atas jalanan dusun yang menanjak. Sebatang pohon jeruk bali yang digelantungi ranum buahnya yang rimbun menjadi penghias utama halaman rumah yang tida sebegitu luas tersebut. Bersanding dengannya adalah segerombolan rumpun pohon pisang ambon yang menaungi sebuah kolam kecil dengan beberapa ekor lele dumbo yang berukuran jumbo. Di situlah salah seorang RTIK terlahir, dibesarkan, hingga menjadi sosok yang kini kami kenal sebagai saudara Lisin.

Kopdar adalah sarana silaturahmi. Kopdara RTIK sengaja diadakan secara rutin sebagai upaya untuk senantiasa beristikomah menyebarkan semangat senantiasa berbagi diantara sesama. Berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar dunai internet dan komunikasi yang akhir-akhir ini terus berkembang dengan sangat pesat dan penuh dinamika yang luar biasa.

Selain rekan relawan dari Kajoran sebagai tuan rumah, hadir pada kesempatan kopdaran tersebut perwakilan dari Mertoyudan, Tegalrejo dan ada pula dari Srumbung. Dari kesekian perwakilan daerah ada terdiri atas unsur personil, mulai dari pegawai pemda, aktivis UMKM, pengusaha muda, dan pastinya blogger. Lalu apakah agenda pembicaraan yang dibahas?

Program Satu Juta Domain gratis untuk para pelaku usaha mikro dan menengah yang ingin meng-go online-kan usahanya. Dunia informasi adalah dunia internet dengan jargon media sosialnya. Komunikasi global dan jejaring pertemanan di dunia maya adalah satu peluang bagi proses promosi yang sungguh seksi. Produk barang maupun jasa yang ditawarkan oleh seorang pengusaha akan menembus batas ruang dan waktu jika menerapkan strategi pemanfaatan serta penggunaan sumber daya internet secara optimal.

Apabila pelanggan toko offline yang terbatas dalam jangkauan ruang dan waktu yang relative sempit, maka toko online benar-benar mengekspansi pasar suatu produk barang maupun jasa secara nasional, regional, bahkan global. Demikian halnya dari potensi pelanggan yang hanya dalam cakupan antar RT, RW, kelurahan, dan paling banter kabupaten, dengan strategi onlie menjadikannya pelanggan secara regional, bahkan global internasional. Peluang-peluang inilah yang kemudian difasilitas Kemenkominfo dengan meluncurkan program Satu Juta Domain gratis yang kini semakin gencar digaungkan.

Tentu saja niat baik tersebut harus kita sengkuyung dan dukung secara optimal. Itulah tekad dari teman-teman RTIK Magelang untuk turut membantu mengembangkan usaha berbagai produk barang dan jasa untuk mengekspansi pangsa pasar yang lebih luas. Ujung-ujungnya  tentu saja bagaimana sebuah gerakan kecil dapat urun rembug, serta turut mendukung program-program dalam rangka peningkatan kesejahteraan kalangan masyarakat yang lebih luas.

Tepi Merapi, 21 Oktober 2017

Sumber dokumentasi : Ivan RTIK Mgl