Blogger tanpa kopdar mungkin memang terasa hambar. Meskipun para pendahulu blogger cukup banyak yang nyata maupun sembunyi undur diri dari pakeliran blogger, tetapi tidak sedikit pula blogger-blogger newbie hadir mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan para seniornya. Ibarat kata daun-daun kuning, layu untuk kemudian gugur berjatuhan, tetapi tunas-tunas muda telah tumbuh untuk menggantikan yang tua. Itulah sebuah keniscayaan hukum alam.

Adalah dunia blog, di samping menjadi media ekspresi diri maupun berbagi ide ataupun pengalaman, blog juga berguna dalam menjalin tali silaturahmi. Dari saling kunjung-mengunjungi antar blog, tidak sedikit perkenalan dan interaksi di dunia maya bersambung di dunia nyata. Makanya pada saat sekerumunan para blogger kopdaran, suasana akrab sangat cepat terjalin. Tidak ada lagi rasa canggung karena satu sama lain sudah pernah berinteraksi melalui blog masing-masing. Semua berbaur akrab dalam suasana persaudaran yang kental.

Sebagaimana ditradisikan di Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang, forum gethukan alias glenak-glenik methuk malem mingguan memang dirancang sebagai ajang jumpa darat yang dihelat secara rutin dua kali setiap bulannya. Namun suatu cita-cita dan rencana manusia seringkali mengalami pasang surut, termasuk forum gethukan tadi. Hal inilah yang kemudian menjadikan gelaran gethukan lebih sering diselenggarakan secara tentatif. Termasuk gethukan yang berlangsung pada penghujung 31 Mei 2014 yang lalu.

Berawal dari fakta berderet-deretnya tanggal merah di minggu terkahir bulan Mei, beberapa Balatidar menelurkan ide untuk gethukan. Ide itupun segera diworo-worokan melalui media sosial, gayungpun kemudian bersambut. Beberapa Balatidar langsung merespon dengan menyatakan diri untuk siap merapat ke Ringin Tengah Alun-alun Kota Magelang. Bukan semata-mata Balatidar yang masih tetap menetap di Magelang tercinta, tetapi beberapa Balatidar yang kesehariannya berada di tanah rantau juga berniat untuk turut gethukan. Bahkan ada juga beberapa penggedhe dan warga Kampung Blogger ingin turut hadir pula.

Pada hari yang dijanjikan, semenjak pagi Gusmul terus sibuk mengkonfirmasi daftar rekan-rekan Balatidar yang telah berkomitmen untuk gethukan bersama. Selepas ba’da Ashar hingga menjelang waktu Magrib berkumpullah beberapa Balatidar di ruang terbuka Alun-alun Kota Magelang, tepatnya pada titik tengah antara ringin tengah dan Patung Pangeran Diponegoro. Ada Gusmul van Seneng, Ivan Desain & keluarga, Mas Tri Indonesia Tera, Deny Dele, Rizki Tegalrejo, juga menyusul Kang Ikhsan Salaman. Muka-muka Balatidar memang sebagian besar telah berubah dibandingkan warga gethukan 3-4 tahun yang silam. Meskipun perasaan nglangut senantiasa terbayang jika mengenang gethukan pada tahun-tahun awal keberadaan Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang, tetapi memang roda kehidupan harus berputar.

Sebagaimana format forum gethukan yang cair penuh obrolan ngalor-ngidul, dalam kesempatan gethukan akhir Mei kemarin juga terjadi banyak obrolan. Tema-tema pembicaraan mengalir mbanyu mili tanpa perlu moderasi dari seorang moderator. Ada obrolan ringan yang mengulas jargon Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga. Sekian lama warga menunggu kelanjutan action Kota Sejuta Bunga, namun masyarakat memang masih harus terus bersabar dengan pertanyaan-pertanyaan klasik yang tidak pernah terjawab dengan realitas di lapangan. Beberapa kepala berpendapat, mungkin Kota Sejuta Bunga memang hanya jargon dan isapan jempol yang berorientasi “proyek”.

Dalam kesempatan selanjutnya, Gusmul dan Ivan berbagi cerita panjang lebar mengenai perjumpaan mereka dengan perwakilan Hotel Atria Magelang pada beberapa waktu sebelumnya. Dari pertemuan tersebut terbuka wacana untuk menjalin kolaborasi dan kerja sama antara Hotel Atria dengan Pendekar Tidar dalam wujud lomba blogging contest alias membuat postingan di blog. Tema yang diangkat bisa secara khusus mereview keberadaan Hotel Atria dalam mendukung pengembangan kepariwisataan di Magelang, atau barangkali mengenai Kota Magelang sebagai tujuan wisata sejarah dan petualangan. Meskipun bentuk kerja sama masih sedikit abstrak tetapi tidak ada salahnya juga jika Balatidar mulai mempersiapkan diri.

Tatkala Gusmul menyindir secara nyinyir mengenai siswa sekolah pertanian yang berseragam ala militer, obrolan sempat juga menyerempet kepada urusan pertanian yang menjadi hajat hidup orang banyak dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Buat apa siswa sekolah pertanian yang ujung-ujungnya glidhik di tengah sawah ataupun ladang harus bergaya militeristik. Lebih jauh terungkap keprihatinan bersama soal kemunduran dunia pertanian di negara agraris ini. Bagaimana sulitnya para petani mencari pupuk untuk tanamannya. Bagaimana kemudian pada saat panen tiba, petani sedemikian tidak berdaya berhadapan dengan para pengijon dan rentenir, sehingga petani tidak lagi dapat menikmati jerih-payah kerja keras mereka. Yang kaya memang semakin kaya, sedangkan yang miskin tidak ada lagi yang memikirkan nasib masa depannya.

Selain tema obrolan di atas, sempat mengemuka pula rerasan Gusmul yang sedikit berbagai rahasia mengenai rancangan buku yang tengah disusunnya. Ia sempat merasa mangkel bin jengkel karena penggunaan kata atau frase kata berideom bahasa Jawa yang menjadi ciri khas kelucuan guyonannya Agus Magelangan dinggap berbau sarkanisme, semisal penggunaan kata-kata ndasmu, dengkulmu amoh, bahkan kata hasuuk!

Satu tema obrolan berganti mbanyu mili secara alamiah tanpa rekayasa. Tanpa terasa waktupun semakin petang dan Magrib segera menjelang. Meskipun rasanya masih ingin terus glenak-glenik semalaman suntuk, tetapi Balatidar yang hadir sadar bahwa saat perpisahan memang harus dijalani. Kamipun kemudian sempat berfoto bersama sebelumnya akhirnya barisan Balatidar undur diri dari forum gethukan untuk kembali ke dunianya masing-masing. Sampai jumpa di gelaran gethukan berikutnya. Salam Balatidar.

Ngisor Blimbing, 3 Juni 2014