Gethukan akrab kami artikan sebagai glenak-glenik methuk malem mingguan. Gethukan yang merupakan forum kopdarannya blogger Magelangan yang sering disebut Balatidar, sudah diluncurkan semenjak awal 2010. Namun justru keberlangsungannya akhir-akhir ini kian surut. Hal ini tidak terlepas dari semakin banyaknya para punggawa Balatiar yang telah menyelesaikan masa studinya dan terpaksa merantau untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing. Namun demikian, beberapa diantara barisan Balatidar yang semenjak awal telah berkomitmen untuk menjalin paseduluran tanpa batas melalui media blog, tetap berusaha nggadhang-nggadhang keberlangsungan tradisi gethukan.

Kopdar Tempo Dulu

Dengan nunut numpang di event HUT ke-1107 Kota Magelang, maka beberapa barisan Balatidar turut ngombyongi dan meramaikan hajatan Pameran Magelang Tempo Doeloe dan Festival Kuliner yang digelar di Kompleks Eks Karesidenan Kedu pada 27-28 April 2013 ini. Beberapa hari sebelumnya, Pangkopdar Nahdhi sengaja menyebar woro-woro akan diadakannya Gethukan Tempo Doeloe. Akhirnya pada Sabtu sore hingga petang, 27 April 2013 merapat beberapa Balatidar, seperti Sang Nanang, Nahdhi, Yudha Karyadi, Ikhsan-Dian, Agus Mulyadi dan Ivan Purnawan.

Kopdar sejatinya adalah penyambung komunikasi silaturahim yang sebelumnya sudah dijalin di dunia on line. Kopdar merupakan sebuah penegas bahwa Balatidar memiliki tekad untuk senantiasa menyegarkan tali paseduluran tanpa batas yang sudah lama ditautkan. Perpisahan karena perbedaan ruang dan waktu tidaklah akan menjadi penghalang bagi sebuah kebersamaan hati yang saling tertaut. Maka orang-orang yang mengutamakan persaudaraan atas nama Tuhannya sesungguhnya sedang menegakkan perdamaian diantara sesama anak manusia.

Kopdar Tempo Dulu4 Kopdar Tempo Dulu7

Tidak ada agenda khusus yang diusung dalam Gethukan Tempo Doeloe kemarin. Niat kami sedari awal hanyalah bertemu sebagai tombo kangen setelah sekian lama tidak sempat berkesempatan bertemu dan ngobrol panjang lebar. Maka pembicaraan yang mengisi perjumpaan tersebut ya berkisar mengenai kabar say hello, saling berbagi cerita mengenai kesibukan masing-masing, tentunya termasuk beberapa tanggapan mengenai acara-acara “pesta” yang digelar sebulan penuh di kota gethuk dalam memperingati hari jadinya.

Ngobrol ngalor ngidul itupun hanya disambi dengan berkeliling, singgah dari satu stan ke stan pameran yang lainnya. Di depan sebuah stan yang memajang aneka alat permainan tradisional dari kayu, Nahdhi sempat mengeluhkan tidak diketemukannya peralatan main yang dulu pernah akrab di masa kecilnya. Saya sendiri tidak tahu persis apa yang dimaksudkan Nahdhi, karena dia menggambarkan sebuah benda yang sulit kami imajinasikan seperti apa wujud, bentuk, warna, ataupun bagaimana cara memainkannya. Adapun beberapa alat permainan jadul yang hadir di stan tersebut diantaranya pestol kayu, otong-otong, klithikan, gangsingan, bahkan ada juga perahu othok legendaris yang terbuat dari bahan blek.

Kopdar Tempo Dulu3

Kang Ikhsan sempat saya bisikkan beberapa alat permainan yang bagus untuk mendidik naluri dan nalar anaknya yang baru berusia beberapa bulan. Namun dia justru mengkhawatirkan kebiasaan anaknya yang sering nyokoti benda apapun yang ada dalam genggaman tangannya. Selama ini memang ia telah mengalihkan perhatian anaknya dengan alat “cokot-cokotan” yang terbuat dari bahan yang aman kalaupun benda tersebut dipegang, dijilati, tetapi tentu saja tidak untuk dimakan atau ditelan. Mungkin baru beberapa bulan ke depan, si anak akan dapat mengapresiasi peralatan permainan yang lain sesuai dengan proses tumbuh kembangnya nalar.

Di saat kami berkeliling ke arena Festival Kuliner, ternyata di panggung utama sedang berlangsung babak penyisihan kompetisi stand up comedy. Tentu saja panggung ini adalah panggung paling lucu diantara jajaran stan pameran yang lain. Bagaimana tidak lucu, sebuah pertunjukan ajang lucu-lucuan diantara para comic yang beradu bahan lawakan, di panggung yang gagah nan megah, tetapi setiap kontestan meluncurkan jurus lawakan-lawakan mautnya, tidak terdengar gemuruh tertawa dari bawah panggung. Apa pasalnya kelucuan yang lebih lucu daripada tema lawakan ini bisa terjadinya? Ternyata pengunjung yang berminat menonton kontes stand up comedy ini hanya bias dihitung dengan jari tangan. Selain dua orang dewan juri, dan para comicus yang sedang menunggu giliran naik panggung, bisa dibilang kamilah penonton yang serius dan bingung harus tertawa di bagian lawakan yang mana.

Kopdar Tempo Dulu1Beberapa lawakan yang meluncur diantaranya adalah kekhawatiran seorang comicus terhadap diluncurkannya brand image Kota Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga. Bayangkan saudara, jika Magelang dipenuhi dengan sejuta bunga, maka dimana-mana akan ada bunga. Di taman ada bunga, di rumah ada bunga, di lapangan ada bunga, di alun-alun ada bunga, di toko ada bunga, di jalananpun ada banyak bunga juga. Nah cilokone, bunga itu selalu menjadi kegemaran santapan sang lebah dan kumbang. Maka jika benar Magelang menjadi Kota Sejuta Bunga, bersiap-siaplah untuk “dientup” tawon. Hati-hati lho! Namun sang comicus ternyata sepakat bahwa brand image Magelang Kota Sejuta Bunga tersebut “hanyalah” sebuah makna kiasan.

Ada sebuah kesempatan yang patut disayangkan. Salah seorang Balatidar ternyata turut naik panggung stand up comedy tersebut. Namun sayangnya, sedulur kita tersebut naik panggung di urutan pertama pada saat rombongan kami belum sampai di lokasi.

Kopdar Tempo Dulu2 Kopdar Tempo Dulu5

Obrolan berlanjut di teras Masjid Diponegoro menjelang waktu Maghrib. Tanggapan mengenai berbagai event dalam rangka HUT Kota Magelang tahun ini memang lebih semarak dan meriah. Berbagai acara digelar, mulai grebeg gethuk, pentas seni, gerak jalan, lomba menari, lomba sepeda gembira, pameran mobil tua, sepeda tua, tempo doeloe, termasuk festival kuliner dan UMKM. Berbagai arena memang selalu padat dengan pengunjung oleh penonton yang antusias berduyun-duyun. Sebagai sebuah media sosialisasi dan promosi, berbagai event tersebut mungkin bisa menjadi titik awal pertumbuhan kreativitas dan bisnis di Magelang.

Ke depannya, kita semua mungkin sepakat bahwa event yang ramai pengunjung tersebut harus menjadi aset ataupun paket wisata yang bisa mengundang banyak pengunjung ataupun wisatawan dari luar Magelang, bahkan wisatawan mancanegara.  Dengan semakin menggema gaung Kota Magelang di kancah nasional,regional, global dan internasional, tentunya akan membawa kemajuan ekonomi Magelang. Nah, monggo direnungkan bersama dan blogger kira-kira bisa memposisikan untuk berperan di wilayah mana yang paling sesuai.

Bhumi Anging Mamiri, 2 Mei 2013