JonanSemenjak digelar rutin setiap tahun dari 2012, baru kali itu saya berkesempatan untuk merapat ke acara Kompasianival 2014. Kopdar Akbar para blogger yang tergabung dalam barisan Kompasianer ini bisa jadi merupakan kopdar terbesar di tahun 2014 ini. Sebelumnya memang ada Pesta Blogger, Blogger Nusantara, ASEAN Blogger Festival, ataupun Festival TIK yang juga menjadi ajang temu darat para penulis online yang juga dikenal sebagai citizen journalist.

Kompasianival kali ing mengusung tema “Kompasianival 2014: Aksi untuk Indonesia”. Kejutan pertama yang sangat berkesan dan memberi arti tersendiri justru hadir sejak di titik awal acara. Setelah kata sambutan yang disampaikan oleh Bang Edi Taslim dari pimpinan Kompasiana, acara dibuka oleh Ignatius Jonan. Siapa yang tidak kenal beliau? Ya, ia adalah mantan orang nomor satu di PT. KAI yang kini menahkodai Kementerian Perhubungan di Kabinet Kerja Jokowi-JK. Lalu kisah apakah yang dibagikan beliau di Kompasianival 2014?

Sebagaimana tema Aksi untuk Indonesia yang diusung, Pak Jonan berbagi kisah mengenai aksi-aksinya untuk Indonesia pada saat mendapat amanah menjadi Dirut PT. KAI. Sejenak setelah berdiri di panggung utama Sasono Budoyo, ia bertanya kepada hadirin, “Tahukah Anda apa yang membuat saat ini tidak ada lagi penumpang kereta api yang berada di atap kereta? Anda semua tahu betapa tidak mudahnya untuk menertibkan penumpang kereta api kelas ekonomi ini yang menjadi ciri khas kereta api lokal di Jabodetabek. Berbagai cara pernah dicoba dan dilakukan, mulai dari melumuri atap dengan oli, menyemprot penumpang dengan cat warna, sampai memasang paku dan kawat berduri di atas kereta. Hasilnya nihil!”

“Lalu bagaimana bisa kondisi tertib tercipta seperti sekarang?” ia melanjutkan. Hal itu tidak lepas dari tiga hal. Hal yang pertama adalah niat baik dari seluruh jajaran PT. KAI untuk berbenah dalam semua aspek pelayanan. Intinya bagaimana penumpang alias konsumen menjadi pertimbangan utama dalam setiap pengambilan kebijakan. Mereka butuh dimanusiakan, diwongke! Dan setiap tindakan tidak akan menjadi sebuah kebaikan jika tidak didasari dengan niat yang baik. Ini sangat mendasar dan sangat penting!”

“Yang kedua, teknologi. Manusia terus berganti dari generasi ke generasi. Seiring dengan itu, perkembangan jaman juga telah menghantarkan manusia kepada perkembangan teknologi berlandaskan ilmu pengetahuan sebagai kunci-kunci jawaban terhadap berbagai permasalahan hidup. Genereasi tua yang tumbuh dan berkembang dalam segala keterbatasan, tentu sangat berlainan dengan generasi muda masa kini yang difasilitasi berbagai kemudahan dan produk teknologi canggih dalam kesehariannya. Namun demikian, mau tidak mau, suka tidak suka, teknologi memang merupakan jawaban dari berbagai permasalahan hidup sehingga setiap komponen perusahaan harus mau belajar untuk mempergunakannya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri di kereta api.”

“Adapun yang ke tiga, penyamaan semua kelas kereta api angkutan lokal. Tidak umum di dunia manapun, angkutan kereta api di kawasan kota besar dibedakan menjadi beberapa jenis kelas. Untuk kereta tujuan jauh memang biasa dibedakan kelas-kelasnya. Tetapi untuk lokal, tidak ada pembedaan kelas! Hal ini berkaitan dengan frekuensi dan mobilitas yang sangat tinggi dari para pengguna jasa kereta api lokal. Kereta harus bisa menjadi andalan sarana transportasi harian. Lain halnya dengan kereta api jarak jauh. Katakanlah kereta jurusan Jakarta-Jogja, bisa dibuktikan tidak ada penumpang yang harian nglaju pulang-pergi untuk bekerja misanya. Satu minggu sekali sih masih mungkin. Tetapi setiap hari dapat dikatakan tidak ada.”

“Moda angkutan kereta api sangat spesifik dan jauh berbeda dengan moda angkutan darat yang lain. Jika kendaraan jalan raya bisa saling menyalip satu sama lain, tentu tidak demikian dengan kereta api. Meski semua jalur sudah double track, akan tetapi prioritas jalan terhadap kelas kereta yang lebih tinggi mengharuskan kereta lain dengan kelas di bawahnya harus minggir. Hal ini tidak bisa lagi diteruskan. Prinsipnya, siapa yang berangkat duluan ya harus sampai di tujuan duluan juga. Dengan cara ini penumpang merasa memiliki persamaan hak dan kewajiban. Akhirnya tidak ada lagi penumpang bergelantungan di atas atap kereta api.”

Sungguh sebuah pengalaman kepemimpinan yang bahkan diterapkan dari hal-hal mendasar yang terkesan sederhana dan mungkin tidak terpikirkan oleh menajemen sebelumnya sebagai alternatif penyelesaian masalah. Di bidang-bidang dan sektor kehidupan yang lain tentu saja kita sangat memerlukan sosok-sosok Jonan dalam wujud dan kepentingan yang lain. Sangat beruntung bisa bergabung dalam Kompasianival 2014 dan mendapatkan percikan pengetahuan dari sosok Ignatius Jonan. Moga penggalan tulisan ini juga bisa menginspirasi anak bangsa yang lain untuk turut mewujudkan berbagai aksi nyata untuk Indonesia.

Lor Kedhaton, 25 November 2014