Sebuah Catatan Penting dari Rembug Bala Tidar

Bala Tidar, demikianlah sedulur warga komunitas di lima pancer Gunung Tidar menyebut dirinya. Awalnya Komunitas Pendekar Tidar memang bertujuan untuk mewadahi blogger di tlatah Magelang. Namun seiring dinamika perjalanan waktu, ternyata gaung blogging merambah pula di Bhumi Pala Temanggung. Beberapa blogger semisal Emi Kedu, Made Kukuh, dan Gus Ikhwan telah eksis bergabung.

Dengan landasan sesanti Paseduluran Tanpa Batas, sengaja Pendekar Tidar memproklamirkan dirinya sebagai komunitas yang terbuka. Terbuka di sini menyangkut beberapa hal sebagai berikut: pertama, bahwa dari sisi wilayah domisili keanggotaan Bala Tidar tidak lagi hanya terbatas untuk wilayah Magelang semata, namun bahkan meluas ke Kedu Raya(eks Karesidenan Kedu). Lebih daripada itu, komunitaspun tidak membatasi bagi siapa dan dari manapun bisa mampir, singgah, bahkan menetap sebagai anggota asalkan memang memiliki komitmen untuk menebarkan misi suci paseduluran tanpa batas.

Kedua, bahwa keanggotaan Bala Tidar tidak terbatas hanya untuk para blogger saja. Meskipun pada perjalanan kelahirannya komunitas ini memang diinisiasi oleh beberapa blogger founding fathers, namun konsep paseduluram tanpa batas telah menghilangkan skat-skat primordialisme elitis. Tidak memandang asal-usul, suku, agama, ras, status sosial, pekerjaan, semua disumanggakake untuk kempal manunggal sebagai saudara.

Mau blogger, facebooker, twitterer, tukang becak, pengamen, petani, guru, pelajar, mahasiswa, semua berhak mendapatkan ruang apresiasi yang sederajat dan sejajar dalam pasrawungan Bala Tidar. Inilah makna yang mendasari kenapa forum Gethukan sengaja digelar di alun-alun, sebuah ruang publik sebagai media sosialisasi yang masih tersisa.

Ketiga, bahwa kehidupan di dalam Komunitas Pendekar Tidar tidak lagi membatasi diri dalam urusan perbloggingan, maupun dunia internet. Lebih dari itu, komunitas ini membuka diri seluas-luasnya bagi pengembangan ide kreatif dan positif. Diskusi, rerembugan, musyawarah, dialog dan dialektika kehidupan diharapkan dapat menjadi ruh penggerak komunitas di masa yang akan datang. Melalui forum-forum tersebut diharapkan dapat memberikan sudut pandang bagi pencerahan jiwa Bala Tidar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tak berlebihan memang bila komunitas ini akan menjadi cikal bakal dan benih sebuah “universitas kehidupan, fakultas kejujuran, jurusan ilmu kebenaran” yang dapat membabar tuntas kawruh kamanungsan.

Keprihatinan kami, dan keprihatinan kita bersama adalah terjadinya fenomena manusia yang semakin tidak menjadi manusia karena kehilangan sisi-sisi kemanusiwiaanya. Maka mau tidak mau kita harus bangkit bersama untuk cancuttaliwanda memperbaiki keadaan. Dan di komunitas inilah tempat penyemaian segala cita-cita mulia tersebut. Di sini kita bina kebersamaan, sikap andhap asor, rasa saling asah, saling asih, rasa asuh dan rasa tepo sliro. Hanya dengan mengolah roso pangroso itulah manusia dapat kembali menjadi manusia.

Keempat, menanggapi aspirasi perlunya suatu forum komunikasi lintas komunitas di tlatah lima pancer Gunung Tidar, maka Komunitas Pendekar Tidar menyambutnya dengan tangan terbuka. Dialog dan dialektika diantara sesama komunitas diharapkan akan lebih mensinergikan masing-masing gerakan secara lebih optimal. Forum ini sebenarnya telah diembriokan oleh KH Hamam Ja’far dari Pabelan di pertengahan dekade 70-an dan 80-an melalui diskusi rutin antar banyak tokoh dan lintas golongan semisal Cak Nur, Cak Nun, Romo Mangun, Dawam Rahardjo, Kuntowijoyo, Umar Kayam, dll. Di kesempatan Rembug Bala Tidar memang baru Komunitas Rumah Pelangi Muntilan dan Omahngisor Sambak yang bergabung, namun kelak tentu akan semakin banyak dan berkembang lagi.

Demikianlah sekilas mengenai garis inklusifisme Komunitas Pendekar Tidar. Moga ke depan hal ini dipahami sepenuhnya oleh masing-masing Bala Tidar sebagai matan garis-garis besar perjuangan komunitas yang harus disengkuyung dan dijunjung tinggi. Selamat berjuang! Salam Bala Tidar!

Cisitu, 2 Maret 2010