66

Hikayat Gunung Tidar

23 Jul 2010 by pendekartidar in Magelangan

GUNUNG TIDAR DAN TOMBAK KIAI PANJANG

Di Magelang terdapat sebuah bukit yang berada di tengah-tengah kota. Bukit itu sangat terkenal karena menjadi salah satu tempaan para taruna AKABRI. Bahkan bukit itu menjadi salah satu ciri khas kota itu. Namanya bukit Tidar, atau lebih dikenal sebagai Gunung Tidar. Konon Gunung Tidar merupakan pusat atau titik tengah Pulau Jawa.

Syahdan, dahulu kala Tanah Jawa ini masih berupa hutan belantara yang tiada seorangpun berani tinggal di sana. Sebagian besar wilayah Jawa ini dahulu masih dikuasai berbagai makhluk halus. Konon Tanah Jawa yang dikelilingi laut ini bak perahu yang mudah oleng oleh ombak laut yang besar. Maka melihat itu para dewata segera mencari cara untuk mengatasinya.

Maka berkumpullah para dewa untuk membahas persoalan Tanah Jawa yang tidak pernah tenang oleh hantaman ombak itu. Diutuslah sejumlah dewa untuk tugas menenangkan pulau ini. Mereka membawa sejumlah bala tentara menuju Pulau Jawa sebelah barat. Namun, tiba-tiba Pulau Jawa kembali oleng dan berat sebelah karena para dewa dan bala tentara hanya menempati wilayah barat. Agar seimbang, sebagian dikirim ke timur. Namun usaha ini tetap gagal.

Melihat kenyataan itu maka para dewa sibuk mencari jalan pemecahan. Setelah beberapa waktu berembug, maka didapatkanlah sebuah ide cemerlang. Mau tak mau para dewa harus menciptakan sebuah paku raksasa, dan paku itu akan ditancapkan di pusat Tanah Jawa, yaitu titik tengah yang dapat menjadikan Pulau Jawa seimbang. Paku raksasa yang ditancapkan itu konon dipercaya sebagian masyarakat sebagai Gunung Tidar. Dan setelah paku raksasa itu ditancapkan, Pulau Jawa menjadi tenang dari hantaman ombak.


Menurut kepercayaan sebagian masyarakat, Gunung Tidar pada mulanya hanya ditinggali oleh para jin dan setan yang konon dipimpin oleh salah satu jin bernama Kiai Semar. Kiai Semar tidak sama dengan tokoh Semar dalam dunia pewayangan. Kiai Semar yang menguasai Gunung Tidar ini konon jin sakti yang terkenal seram. Setiap ada manusia yang mencoba untuk tinggal di sekitar Gunung Tidar, maka tak segan Kiai Semar mengutus anak buahnya yang berupa raksasa-raksasa dan genderuwo untuk memangsanya.

Alkisah, datanglah seorang manusia yang terkenal berani untuk mencoba membuka wilayah Tidar untuk ditinggali. Ksatria berani ini berasal dari tanah jauh. Konon ia berasal dari negeri Turki, bernama Syekh Bakir dan ditemani Syekh Jangkung. Kedua syekh ini disertai juga oleh tujuh pasang manusia, dengan harapan dapat mengembangkan masyarakat yang kelek mendiami wilayah itu.

Mendengar kabar itu, Kiai Semar murka. Diseranglah mereka oleh anak buah Kiai Semar, dan tiada seorangpun yang selamat kecuali Syekh Bakir yang sakti, soleh, dan sabar. Setelah bertapa selama 40 hari 40 malam, ia bertemu dengan Kiai Semar.

“Hei, Ki Sanak, berani benar kau berada di wilayah kekuasaanku tanpa permisi. Siapakah engkau dan apa maumu berada di wilayah ini,” kata Kiai Semar.

“Duh penguasa wilayah Tidar, ketahuilah olehmu bahwa namaku Syekh Bakir, asalku dari negeri Turki nun jauh di sana. Adapun kedatanganku kemari untuk membuka tempat dan aku akan tinggal di sini bersama saudara dan sahabatku,” jawab Syekh Bakir dengan tenang.

“Adakah kau tahu bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaanku? Siapapun tak boleh tinggal di sini. Jika tiada peduli, maka akau akan mnegutus anak buahku untuk menumpas kalian tanpa sisa.”

“Hai engkau yang mengaku sebagai penguasa Gunung Tidar, tidakkah kau tahu bahwa tiada yang dapat melebihi kekuasaan Allah? Allah menciptakan manusia untuk menjaga dan memelihara alam semesta ini, bukan untuk menguasainya secara semena-mena,” kata Syekh Bakir.

“Hei manusia, sebelum kemarahanku memuncak, tinggalkan tempat ini! Ketahuilah bahwa tempat ini sudah menjadi milikku, dan jangan mencoba merampasnya.” Syekh Bakir terdiam.


Mendengar ancaman Kiai Semar, ia lalu mengalah. Tetapi bukan berarti ia menyerah kalah. Tetapi sebaliknya Syekh Bakir hendak menyiapkan diri lebih baik untuk mengalahkan Kiai Semar dan bala tentaranya.

Sesampai di negeri Turki, ia mengambil sebuah tombak sakti yang bernama Kiai Panjang. Selain itu, iapun menyiapkan lebih banyak lagi manusia yang akan diajak serta untuk membuka tempat tinggal baru di Tidar.

Sesampai kembali di Tidar, berpasang-pasang manusia yang diajak serta oleh Syekh Bakir tinggal lebih dulu di daerah sebelah timur Gunung Tidar yang sekarang dikenal dengan nama desa Trunan. Konon desa itu berasal dari makna “turunan”. Ada yang mengatakan arti dari turunan itu adalah keturunan, tetapi ada yang menganggapnya sebagai daerah pertama kali sahabat-sahabat Syekh Bakir diturunkan dan tinggal di tempat itu untuk sementara waktu.

Setelah itu Syekh Bakir berangkat sendiri ke puncak Gunung Tidar untuk bersemadi. Tombak pusaka sakti Syekh Bakir ditancapkan tepat di puncak Tidar sebagai penolak bala. Dan benar, tombak sakti itu menciptakan hawa panas yang bukan main bagi Kiai Semar dan wadyabalanya.

Merekapun lari tunggang langgang meninggalkan Gunung Tidar. Kiai Semar dan sebagian tentaranya melarikan diri ke timur dan konon hingga sekarang menempati daerah Gunung Merapi yang masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai wilayah yang angker. Bahkan sebagian lagi anak buah Kiai Semar ada yang melarikan diri ke alas Roban, bahkan ke Gunung Srandil. Tombak itu sekarang masih dijaga oleh masyarakat dan dimakamkan di puncak Gunung Tidar dengan nama Makam Tombak Kiai Panjang.

Dengan adanya tombak sakti itu, maka amanlah Gunung Tidar dari kekuasaan para jin dan makhluk halus. Syekh Bakirpun akhirnya memboyong sahabat-sahabatnya untuk membuka tempat tinggal baru di Gunung Tidar dan sekitarnya.

Ditulis oleh: Dorothea Rosa Herliany

  • 3865 Views

THIS ARTICLE IS WRITTEN BY

pendekartidar

Pendekar Tidar adalah salah satu komunitas blogger di Magelang. Terdiri dari beberapa blogger dari berbagai kalangan yang disatukan karena berdomisili di Magelang, pernah tinggal di Magelang, pernah singgah di Magelang, atau karena memiliki kenangan tentang Magelang.

Author Profile
COMMENTS
  1. Jlitheng Sukresno

    Syech Subakir iku asale seko Baghdad, dudu Turki. Beliau salah satu anggota Wali Songho periode pertama. Awal mulane sak durunge Syech Subakir teko maring tanah jowo, Syech Jumadil Qubro ndisik sing teko nang Mojo Pahit nyebarke Agomo Rosul (Islam).

    Kucap Kacarito Syech Jumadil Qubro sing rawuh tanah Jowo piyambakan, mengalami berbagi kesulitan. Salah satu kesulitannya adalah hambatan dari mahluk halus yang sangat kuat. Mulo Syech kundur lan matur marang khalifah sing neng Turki. Syech usul supoyo dibentuk tim sing cacahe songo didum dadi telung kelompok. Saben kelompok isine wong telu. Telu nang Jowo sisih kulon, telu nang Jowo tengah-tengah, lan telu maneh nang Jowo sisih wetan. Syech-syech sing jumlahe songho duwe keahlian masing-masing.

    Khusus sing ngatasi mahluk halus, ahline yo Syech Subakir kui mau. Kanggo ngusir dedengkot mahluk halus, Syech Subakir nanem rajah nang pucuke gunung tidar. Mulo poro rojo lan ratu dedemit lan kranjimam sing gawat kaliwat-liwat nyingkir kabeh mring Samudro Pasifik, sing saiki dikenal segitiga bermuda (kawasan pasifik yang gawat).

    Lamun isih ono dedemit sing manggon tanah Jowo, iku wis ora gawat banget koyo sak durunge tindakan Syech Subakir. Mulo sabanjure poro janmo manungso iso manggon nang pelosok sing isih rupo alas bung liwang liwung.

    Matur suwun sanget Syech Subakir. Mugi sedoyo kasahenan paduko tinampi dining Gusti Kang Akaryo Jagad.

      • aris

        wah seng bener endi niku,,,,la wong gunung tidar biyen wes ono kaet biyen,,,,mosok kerajaan majapahit,sm wali songo barang,,,iku wes gk nyambung,,,,,seng nguwei paku yo pertm kali seng nemok,e pulo jowo,,,,,

  2. endro cahyono

    bc kisah ini smbl memandang gunung tidar yg hny dibtsi jln raya dan kali manggis.menambah pengetahuan sy tntg sjrh gunung tidar,makasih

  3. dandat sumarto

    gunung itu gunem dlm bhs jawa artinya ucapan….. tidar antara tidur dan sadar itu tidar. meski sesaat biasanya terjadi pada saat orang tirakat melek hampir pagi datang petunjuk saat antara tidur dan sadar. orang dulu kalau mau jadi raja biasanya bertapa di gn tidar. sekarangpun masih. sbg contoh p sby bertapa beberapa tahun sbg taruna akabri jadilah pemimpin.
    adalagi petine wis udar/terbuka itu tidar mana yg benar terserah anda… monggooooooo.

  4. Gaim

    Dulu sering sekali naik gunung tidar…. tapi naik ke tidar karena diperintah sama pelatih untuk latihan, jadi ga sempat perhatikan mengenai makam2 yang ada. Memang sering lihat sih makam2 kuno di Tidar, tapi ndak ada perhatian sama sekali. Kejadian yang aneh selama di Tidar, waktu itu jam 22 WIB sehabis apel malam dan sedang rebahan di tempat tidur, tau2 banyak kunang2 yang menghampiri dan mau masuk ke dalam tubuh saya dan tubuh saya tidak bisa bergera sama sekali. Tapi saya tolak kunang2 itu masuk ke tubuh saya dengan niat dan juga dzikir, karena takutnya kalau sampai masuk ke dalam tubuh saya, saya bisa kerasukan seperti teman2 yang lain… he he he

  5. Jude

    Wah..Rosa jadi penulis buku rupanya…..Selamat deh dan terus berkarya!
    Alpend’79

  6. syekh akhmad al bukhory

    meliht sjrh gng tidar.jgn hny d lht dr segi yg tersrt tp lbh menitik brtkn kpd yg tersrt.sebab sjrh it jika ingin mliht asliny kt menylmi scr spritual.siapkh sjtny yg pny lelakon d gng tdr it?
    jgn hny kt knl nm beliau sj tp kt hrs memahami siapakah Syekh Subakir.

  7. owais

    Bener bro jlithengsukresno. Paku bumi tanah njawi memang bener adanya. Tapi ada batasan waktunya, sekarang diterusne oleh orang atas berkat rohmat gusti Alloh, ada masjid baru jamiatul mudzakirin. Gali sendiri info detailnya…sugeng rahayu

  8. arcada

    Nuwun sewu,
    Perlu kebijakan pembaca untuk mencerna tulisan ini. Apakah dongeng atau hikayat atau sejarah.? Jika melihat tujuannya, cerita ini semacam hikayat atau legenda, bahkan mungkin sejarah karena nama tokoh dan tempatnya benar2 ada.
    Jika sejarah, mohon ditelaah lebih dalam kebenarannya karena saat Pulau Jawa masih belum stabil dalam arti belum ada kehidupan sama sekali (entah kira2 tahun berapa) masuk akal kah jika para wali dari negeri seberang sudah bertandang ke G Tidar.?
    Sebagai referensi, Candi Borobudur, sebagai representasi masuknya agama Budha di Jawa, baru didirikan pada abad ke-9 Masehi. Dengan demikian, jika Tidar adalah awal mula turun-temurunnya orang Jawa maka kejadiannya berabad-abad sebelum Budha masuk Nusantara. Dan, apakah ini jumbuh atau sesuai waktunya dengan perjalanan syiar para wali tanah seberang.
    Saya cuma mengingatkan agar timeline cerita ini disimak lebih teliti. Pasalnya, bukan tidak mungkin cerita yg sebenarnya hanya dongeng ini dijadikan referensi sebagai awal mula kehidupan manusia di Tanah Jawa yang akibatnya bisa saja menjadi bias.
    Sungguh sayang, jika leluhur bangsa kita sendiri justru ditempatkan dalam posisi yang inferior dan antagonis lantaran kita enggan menelisik lebih dalam satu dongeng atau cerita yang terdistorsi oleh kepentingan pihak lain sejak dahulu kala.
    Lagipula, mohon informasi, apakah benar penduduk Tidar asal-muasalnya dari Turki?
    Mohon maaf, saya sekadar mengingatkan… Matur nuwun.. Salam

    • ndoroseten

      Nuwun sewu juga pakdhe, lha jelas-jelas dari judulnya memang hikayat. Apakah salah jika sebuah hikayat diangkat dan tercampur aduk dengan fakta sejarah? Jika sudah dinyatakan sebagai hikayat ya jangan disikapi dengan sudut pandang keilmuan sejarah yang menekankan kepada kebenaran data, fakta dan bukti sejarah. Monggo kita empan papan.

  9. bayi wingi sore

    mohon maaf..
    -kyai semar kok jin pdhl yg di sebut kyai tu orang alim pinter ngaji (ulama)
    -paku tu sebuah benda ato kiasan

    brarti pd masa itu org asli jawa ada apa tdk? yg namanya babat tanah jawa brarti masih tak berpenghuni…
    makasih…

    • ndoroseten

      namanya juga sekedar dongeng “dipaido keneng”, sang penulis memiliki hak ekspresi dari sudut pandangnya dan pembacapun harus mengapresiasinya dari arah yang tepat pula.

  10. wulfi

    Nuwun sewu, maaf.. ceritanya susah dicerna…
    saya mewakili teman teman saya, masih belum bisa memahami kata per kata dari hikayat ini… saya mau tanya ,
    apa yang dimaksud syahdan dalam paragraf 2?

    • ndoroseten

      Welha Dik Wulan, cermin kemampuan literasi anak-anak sekolah jaman sekarang memang cukup memprihatinkan. Jika ingin penjelasan kata per kata yang lebih lengkap dan jelas silakan bertanya kepada guru bahasa Indonesia di sekolah.
      Mengenai kata “syahdan” itu artinya sidang pembaca yang terhormat. Kata tersebut merupakan kata ganti orang kedua jamak.

  11. Maz Puji

    assalammualaikum wr.wb.
    izin nimbrung nih,saya asli kelahiran magelang dan salam kenal semua.
    saat masih sd saya sudah membaca beberapa buku tentang hikayat tanah jawa,wali sanga,salah satunya ttg hikayat yg menyebutkan tentang gunung tidar sbg pakunya tanah jawa.
    ttg kebenaranya wallahu A’lam.
    yg terpenting bgaiman mengapresiasinya.

    • ndoroseten

      wa’alaikum salam….salam kenal juga Maz Puji
      cerita ataupun dongeng mengenai hikayat Magelang memang masih terbatas, mungkin teman-teman semua bisa bersama-sama menggali kembali dongeng rakyat yang ada di tengah masyarakat.

  12. jowo

    syek subakir mlebu tanah jowo th 1405, borobudur dibangun abad 8 , mosok nang tanah jowo isine demit tok yo DAGELAN karipan

    • ndoroseten

      monggo dipersilakan mas bro
      (bisa gabung di FB Pendekar Tidar juga)

  13. Satrio Panulis

    TIDAR dari bahasa jawa Tha Dha Ta Ra; artinya Bukit Batu Thadha……menjadi Thidhar. Padahal di Bukit Tidar tidak ada Batu atau Bukit Tidar BUKAN Bukit Batu………. ^_^

    Menurut Cerita seseorang……..Aslinya nama Borobudur adalah THIDAR yaitu Bukit Batu Thadha. Karena Asal mula nama Borobudur tidak jelas, meskipun memang nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku “Sejarah Pulau Jawa” karya Sir Thomas Raffles. Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro); kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah ‘Budur’ mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti “purba”– maka bermakna, “Boro purba”. Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.

    Jadi ‘sebenarnya’ THIDHAR adalah Nama ‘ASLI’ Candi Borobudur……….sebagai PAKU-nya Tanah Jawa. :)

    Wa’allahu ‘Alam.

Leave a Reply

1 2
%d bloggers like this: