4:34 pm - Friday May 18, 2012

Hikayat Gunung Tidar

GUNUNG TIDAR DAN TOMBAK KIAI PANJANG

Di Magelang terdapat sebuah bukit yang berada di tengah-tengah kota. Bukit itu sangat terkenal karena menjadi salah satu tempaan para taruna AKABRI. Bahkan bukit itu menjadi salah satu ciri khas kota itu. Namanya bukit Tidar, atau lebih dikenal sebagai Gunung Tidar. Konon Gunung Tidar merupakan pusat atau titik tengah Pulau Jawa.

Syahdan, dahulu kala Tanah Jawa ini masih berupa hutan belantara yang tiada seorangpun berani tinggal di sana. Sebagian besar wilayah Jawa ini dahulu masih dikuasai berbagai makhluk halus. Konon Tanah Jawa yang dikelilingi laut ini bak perahu yang mudah oleng oleh ombak laut yang besar. Maka melihat itu para dewata segera mencari cara untuk mengatasinya.

Maka berkumpullah para dewa untuk membahas persoalan Tanah Jawa yang tidak pernah tenang oleh hantaman ombak itu. Diutuslah sejumlah dewa untuk tugas menenangkan pulau ini. Mereka membawa sejumlah bala tentara menuju Pulau Jawa sebelah barat. Namun, tiba-tiba Pulau Jawa kembali oleng dan berat sebelah karena para dewa dan bala tentara hanya menempati wilayah barat. Agar seimbang, sebagian dikirim ke timur. Namun usaha ini tetap gagal.

Melihat kenyataan itu maka para dewa sibuk mencari jalan pemecahan. Setelah beberapa waktu berembug, maka didapatkanlah sebuah ide cemerlang. Mau tak mau para dewa harus menciptakan sebuah paku raksasa, dan paku itu akan ditancapkan di pusat Tanah Jawa, yaitu titik tengah yang dapat menjadikan Pulau Jawa seimbang. Paku raksasa yang ditancapkan itu konon dipercaya sebagian masyarakat sebagai Gunung Tidar. Dan setelah paku raksasa itu ditancapkan, Pulau Jawa menjadi tenang dari hantaman ombak.


Menurut kepercayaan sebagian masyarakat, Gunung Tidar pada mulanya hanya ditinggali oleh para jin dan setan yang konon dipimpin oleh salah satu jin bernama Kiai Semar. Kiai Semar tidak sama dengan tokoh Semar dalam dunia pewayangan. Kiai Semar yang menguasai Gunung Tidar ini konon jin sakti yang terkenal seram. Setiap ada manusia yang mencoba untuk tinggal di sekitar Gunung Tidar, maka tak segan Kiai Semar mengutus anak buahnya yang berupa raksasa-raksasa dan genderuwo untuk memangsanya.

Alkisah, datanglah seorang manusia yang terkenal berani untuk mencoba membuka wilayah Tidar untuk ditinggali. Ksatria berani ini berasal dari tanah jauh. Konon ia berasal dari negeri Turki, bernama Syekh Bakir dan ditemani Syekh Jangkung. Kedua syekh ini disertai juga oleh tujuh pasang manusia, dengan harapan dapat mengembangkan masyarakat yang kelek mendiami wilayah itu.

Mendengar kabar itu, Kiai Semar murka. Diseranglah mereka oleh anak buah Kiai Semar, dan tiada seorangpun yang selamat kecuali Syekh Bakir yang sakti, soleh, dan sabar. Setelah bertapa selama 40 hari 40 malam, ia bertemu dengan Kiai Semar.

“Hei, Ki Sanak, berani benar kau berada di wilayah kekuasaanku tanpa permisi. Siapakah engkau dan apa maumu berada di wilayah ini,” kata Kiai Semar.

“Duh penguasa wilayah Tidar, ketahuilah olehmu bahwa namaku Syekh Bakir, asalku dari negeri Turki nun jauh di sana. Adapun kedatanganku kemari untuk membuka tempat dan aku akan tinggal di sini bersama saudara dan sahabatku,” jawab Syekh Bakir dengan tenang.

“Adakah kau tahu bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaanku? Siapapun tak boleh tinggal di sini. Jika tiada peduli, maka akau akan mnegutus anak buahku untuk menumpas kalian tanpa sisa.”

“Hai engkau yang mengaku sebagai penguasa Gunung Tidar, tidakkah kau tahu bahwa tiada yang dapat melebihi kekuasaan Allah? Allah menciptakan manusia untuk menjaga dan memelihara alam semesta ini, bukan untuk menguasainya secara semena-mena,” kata Syekh Bakir.

“Hei manusia, sebelum kemarahanku memuncak, tinggalkan tempat ini! Ketahuilah bahwa tempat ini sudah menjadi milikku, dan jangan mencoba merampasnya.” Syekh Bakir terdiam.


Mendengar ancaman Kiai Semar, ia lalu mengalah. Tetapi bukan berarti ia menyerah kalah. Tetapi sebaliknya Syekh Bakir hendak menyiapkan diri lebih baik untuk mengalahkan Kiai Semar dan bala tentaranya.

Sesampai di negeri Turki, ia mengambil sebuah tombak sakti yang bernama Kiai Panjang. Selain itu, iapun menyiapkan lebih banyak lagi manusia yang akan diajak serta untuk membuka tempat tinggal baru di Tidar.

Sesampai kembali di Tidar, berpasang-pasang manusia yang diajak serta oleh Syekh Bakir tinggal lebih dulu di daerah sebelah timur Gunung Tidar yang sekarang dikenal dengan nama desa Trunan. Konon desa itu berasal dari makna “turunan”. Ada yang mengatakan arti dari turunan itu adalah keturunan, tetapi ada yang menganggapnya sebagai daerah pertama kali sahabat-sahabat Syekh Bakir diturunkan dan tinggal di tempat itu untuk sementara waktu.

Setelah itu Syekh Bakir berangkat sendiri ke puncak Gunung Tidar untuk bersemadi. Tombak pusaka sakti Syekh Bakir ditancapkan tepat di puncak Tidar sebagai penolak bala. Dan benar, tombak sakti itu menciptakan hawa panas yang bukan main bagi Kiai Semar dan wadyabalanya.

Merekapun lari tunggang langgang meninggalkan Gunung Tidar. Kiai Semar dan sebagian tentaranya melarikan diri ke timur dan konon hingga sekarang menempati daerah Gunung Merapi yang masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai wilayah yang angker. Bahkan sebagian lagi anak buah Kiai Semar ada yang melarikan diri ke alas Roban, bahkan ke Gunung Srandil. Tombak itu sekarang masih dijaga oleh masyarakat dan dimakamkan di puncak Gunung Tidar dengan nama Makam Tombak Kiai Panjang.

Dengan adanya tombak sakti itu, maka amanlah Gunung Tidar dari kekuasaan para jin dan makhluk halus. Syekh Bakirpun akhirnya memboyong sahabat-sahabatnya untuk membuka tempat tinggal baru di Gunung Tidar dan sekitarnya.

Ditulis oleh: Dorothea Rosa Herliany

Kategori ~ Magelangan

49 Tanggapan di Artikel “Hikayat Gunung Tidar”

  1. July 23, 2010 at 3:55 pm #

    pertamax buat saya ya….

    wah, semakin tak sabar untuk menginjakkan kaki di puncak tidar. sampai terbawa ke alam mimpi. :D

    • July 24, 2010 at 5:38 pm #

      nunut pertamax mas

  2. July 23, 2010 at 9:10 pm #

    gimana kalau kapan-kapan ditampilkan tulisan Wahyu Utami salah satu sejarahwan yang saat ini sedang getol2nya menulis sejarah Kota Magelang?

    • July 26, 2010 at 2:14 pm #

      wah siiiip itu mas, ada link-nya po sampeyan?

    • October 21, 2010 at 7:02 pm #

      nyuwun sewu sedoyo… nepangke kenal…. saya wahyu utami…. wlp masih sedikit nulis di blog yg baru… mungkin bisa untuk sharing.

      • October 25, 2010 at 2:42 pm #

        monggo Mbak……senang berkenalan
        jadi pingin ketemu langsung dan tanya soal sejarah kota tercinta nich……

  3. tegoeh
    August 6, 2010 at 1:12 am #

    HiKAYAT yg jika diamati-dihayati-disadari terdapat isi pesan ‘propaganda’, entah pembelajaran sbg guidance utk lelaku ~ entah sanepan refleksi sikon saat itu ~ entah induksi pengertian: yg tertuang dalam kata “semar”, “panjang” dan “syekh”.

    salim sih katresnan.

    • August 9, 2010 at 3:15 pm #

      bener mas……nenek moyang kita memang sangat bijak dalam menyampaikan ajaran dan petuahnya!

    • wahyu utami
      April 8, 2012 at 12:53 am #

      monggo saja mas/pak… saya saat ini tinggal di Yogya, tapi sering pulang ke Magelang.

  4. bewe
    September 1, 2010 at 12:17 pm #

    sipppp

  5. October 27, 2010 at 9:49 pm #

    @ Dorothea Rosa Herliany: Hikayat Gunung Tidar iki nemu soko ngendi?

  6. Djoko Sulistiyo M
    October 30, 2010 at 10:55 am #

    walau lahir sampai lulus SMA aku di Magelang dan pernah 5 kali naik ke gunung ini di th 60 an, malah sering mampir & lihat makam yang disebut makam kyai panjang, tapi baru tahu ttg syeh Bakir dan kaitannya dengan desa Trunan, Gunung Merapi… meski hanya hikayat tapi cukup menarik.. Makasih…!

  7. November 12, 2010 at 10:32 am #

    wah dulu saya waktu di magelang mau naik dilarang sama orang sana.katanya masih angker..
    Tapi Dengan keadaan Merapi sekarang apa itu Murkanya Kiai semar..???????

    • November 19, 2010 at 1:24 pm #

      mana ada kiai semar bisa murka?

    • December 10, 2010 at 9:58 am #

      wah angker nggak angker itu kan critane, lebih afdzol dibuktikan langsung to?

  8. December 31, 2010 at 2:49 pm #

    Salam kenal, senang rasanya ada yang “nguri-uri” Magelang dan berbagai cerita dan kisah di dalamnya. Semoga bisa memberi manfaat untuk semuanya…..

  9. mas bagong
    February 8, 2011 at 12:09 am #

    saya keturunan orang tidar……….. ingin tau lbh bnyk tentang cerita ini…………

  10. ari
    March 16, 2011 at 6:54 pm #

    konon katanya di situ ada gua yang menghubung ke laut kidul opo iyo….

    • March 17, 2011 at 9:43 am #

      wah kayaknya sih belum sempat dibuat oleh Syekh Subakir….hoaxxx kali?

  11. March 23, 2011 at 8:04 pm #

    oh bukit tidar to,aku dah pernah naik kesana pak, di atas bukit itu aku bisa melihat sekolah AKMIL

  12. tunggul
    April 6, 2011 at 7:32 pm #

    tidar dari kata “hati di dada”cikal bakalnya kejawen,keyakinan asli orangjawa. tumbal pertama pulau jawa digunung tidar,dimana eyang semar pasang tumbal berupa “cok bakal” di gunung tidar kemudian gunung srandil (sarono ing kendil)

  13. April 11, 2011 at 3:23 am #

    malah gek mudeng saiki hikayat gunung tidar…..sippppp lanjut bro crita2nya…….matur suwun,

  14. guttur l toboing
    May 23, 2011 at 4:58 pm #

    Bangkitlah Putra Tidar Lihat Lah Negaramu Sudah sangat Menderita. Munculkanlah Semangat Idealisme Tidar.Dengan tidak di pengaruhi oleh Senior-senior Mu. Perbaikilah Sistem Di Negri INI. Mungkin Tidak Terhindarkan Kekerasan Teerukur Terhadap Yang sudah Terkontaminasi Dengan Non Merah Putih (itu banyak hampir separoh senior MU) Tapi Itu Lah PILIHAN. TIDAK BERARTI HANCUR.

    • May 25, 2011 at 11:27 am #

      betul mas……
      kebangkitan harus dimulai lagi dari generasi muda!

  15. soemardjono
    June 20, 2011 at 10:17 pm #

    apa syeh Bakir sama dg Syeh Ahmad Subakir ya,nuwun

    • June 21, 2011 at 8:16 am #

      nggih pak, kira-kira begitulah……..beberapa pihak menyebutkan dengan sebutan yang sedikit berbeda, namun cerita intinya menyangkut satu tokoh itu

    • August 22, 2011 at 12:21 am #

      Betul sekali Pak.. Saya tahu karena saya orang Blitar dekatnya petilasan (makam) Syeh Ahmad Subakir

      • August 22, 2011 at 7:38 am #

        apakah Syeh Subakir yang Jember itu orangnya sama dengan yang di Tidar?
        apakah yang bernama Syeh Subakir hanya satu orang saja, tidakkah ada kemungkinan soal nama yang sama?
        sekali lagi ini versi lehenda atau dongeng yang berbeda pamaknaannya dengan sejarah, ok……nuwun

  16. August 22, 2011 at 12:11 am #

    Menurut legenda, pulau Jawa dulunya buat rebutan Semar dengan Togog..! sumpahnya, siapa yang mampu menelan Gunung Tidar maka ialah yang berhak menguasai pulau Jawa. Setelah membaca mantra Gunung Tidar di telan oleh Togog namun karena gunung Tidar itu besar maka mulut Togog sobek tidak muat dan Togog kalah, kemudian giliran Semar, dan ternyata berhasil sehingga perut Semar kliatan buncit. Tapi anehnya kenapa gunung Tidar sekarang masih ada ya??

    • August 22, 2011 at 7:36 am #

      sebenarnya nggak ada yang aneh, namanya dongeng atau legenda itu nggak usah 100% dimasukkan ke dalam logika
      tentu sangat beda dengan data sejarah, ya to?

  17. Jati Diri
    August 28, 2011 at 10:20 pm #

    Hati2 jka membca ksah2 sprti ini,sbab kbnykan,orang jawa itu slalu dhina n dklahkn oleh orang asing.kmdian trik2 ini dgnkan oleh pnjajah n pnguasa untk membodohkan orng jwa smpai skarang .oleh sbab itu bngsa qta smpai skrang mnjdi bngsa yg tdak mmpunyai identitas prbadi shingga mdah dpngarhi oleh apa sja yg brasal dr negara asing.

    • August 29, 2011 at 4:41 pm #

      lebih baik kita lihat sisi positifnya saja, jangan tendensius untuk bercuriga apalagi buruk sangka, pripun?

  18. Jlitheng Sukresno
    August 29, 2011 at 5:41 pm #

    Syech Subakir iku asale seko Baghdad, dudu Turki. Beliau salah satu anggota Wali Songho periode pertama. Awal mulane sak durunge Syech Subakir teko maring tanah jowo, Syech Jumadil Qubro ndisik sing teko nang Mojo Pahit nyebarke Agomo Rosul (Islam).

    Kucap Kacarito Syech Jumadil Qubro sing rawuh tanah Jowo piyambakan, mengalami berbagi kesulitan. Salah satu kesulitannya adalah hambatan dari mahluk halus yang sangat kuat. Mulo Syech kundur lan matur marang khalifah sing neng Turki. Syech usul supoyo dibentuk tim sing cacahe songo didum dadi telung kelompok. Saben kelompok isine wong telu. Telu nang Jowo sisih kulon, telu nang Jowo tengah-tengah, lan telu maneh nang Jowo sisih wetan. Syech-syech sing jumlahe songho duwe keahlian masing-masing.

    Khusus sing ngatasi mahluk halus, ahline yo Syech Subakir kui mau. Kanggo ngusir dedengkot mahluk halus, Syech Subakir nanem rajah nang pucuke gunung tidar. Mulo poro rojo lan ratu dedemit lan kranjimam sing gawat kaliwat-liwat nyingkir kabeh mring Samudro Pasifik, sing saiki dikenal segitiga bermuda (kawasan pasifik yang gawat).

    Lamun isih ono dedemit sing manggon tanah Jowo, iku wis ora gawat banget koyo sak durunge tindakan Syech Subakir. Mulo sabanjure poro janmo manungso iso manggon nang pelosok sing isih rupo alas bung liwang liwung.

    Matur suwun sanget Syech Subakir. Mugi sedoyo kasahenan paduko tinampi dining Gusti Kang Akaryo Jagad.

    • September 8, 2011 at 7:42 am #

      wah komplit tambahane informasi, nuwun kang!

  19. endro cahyono
    October 8, 2011 at 12:47 am #

    bc kisah ini smbl memandang gunung tidar yg hny dibtsi jln raya dan kali manggis.menambah pengetahuan sy tntg sjrh gunung tidar,makasih

    • October 18, 2011 at 8:27 am #

      hayooo kapan-kapan didaki lagi po?

  20. dandat sumarto
    November 6, 2011 at 11:38 pm #

    gunung itu gunem dlm bhs jawa artinya ucapan….. tidar antara tidur dan sadar itu tidar. meski sesaat biasanya terjadi pada saat orang tirakat melek hampir pagi datang petunjuk saat antara tidur dan sadar. orang dulu kalau mau jadi raja biasanya bertapa di gn tidar. sekarangpun masih. sbg contoh p sby bertapa beberapa tahun sbg taruna akabri jadilah pemimpin.
    adalagi petine wis udar/terbuka itu tidar mana yg benar terserah anda… monggooooooo.

  21. Gaim
    November 21, 2011 at 2:36 am #

    Dulu sering sekali naik gunung tidar…. tapi naik ke tidar karena diperintah sama pelatih untuk latihan, jadi ga sempat perhatikan mengenai makam2 yang ada. Memang sering lihat sih makam2 kuno di Tidar, tapi ndak ada perhatian sama sekali. Kejadian yang aneh selama di Tidar, waktu itu jam 22 WIB sehabis apel malam dan sedang rebahan di tempat tidur, tau2 banyak kunang2 yang menghampiri dan mau masuk ke dalam tubuh saya dan tubuh saya tidak bisa bergera sama sekali. Tapi saya tolak kunang2 itu masuk ke tubuh saya dengan niat dan juga dzikir, karena takutnya kalau sampai masuk ke dalam tubuh saya, saya bisa kerasukan seperti teman2 yang lain… he he he

  22. Jude
    November 23, 2011 at 10:27 am #

    Wah..Rosa jadi penulis buku rupanya…..Selamat deh dan terus berkarya!
    Alpend’79

  23. November 24, 2011 at 11:34 am #

    cerita (hikayat) ini bersumber dari mana mbak rosa? dongeng atau memang dari serart apa gitu,, maaf saya memang pengen tahu,…

  24. syekh akhmad al bukhory
    March 23, 2012 at 1:50 am #

    meliht sjrh gng tidar.jgn hny d lht dr segi yg tersrt tp lbh menitik brtkn kpd yg tersrt.sebab sjrh it jika ingin mliht asliny kt menylmi scr spritual.siapkh sjtny yg pny lelakon d gng tdr it?
    jgn hny kt knl nm beliau sj tp kt hrs memahami siapakah Syekh Subakir.

Trackbacks/Pingbacks

  1. Reportase Naik-Naik ke Puncak Tidar | PendekarTidar - July 27, 2010

    [...] Hikayat Gunung Tidar [...]

  2. Gunung Tidar « Warta Wisata - February 20, 2011

    [...] Di Magelang terdapat gunung atau bukit yang tingginya sekitar 600 m dpl, dan berada di tengah kota. Itulah Gunung Tidar. Asal muasal nama Tidar sendiri masih banyak versi. Ada salah satu versi yang menyebutkan bahwa nama itu berasal dari kata “Mati dan Modar”. Jadi karena angkernya Gunung Tidar waktu dulu, maka kalau ada orang mendatangi gunung tersebut kalau tidak Mati ya Modar. Cerita legenda keangkeran Gunung Tidar dapat disimak dalam Hikayat Gunung Tidar ini. [...]

  3. Gunung Tidar | kaum biasa - June 4, 2011

    [...] Di Magelang terdapat gunung atau bukit yang tingginya sekitar 600 m dpl, dan berada di tengah kota. Itulah Gunung Tidar. Asal muasal nama Tidar sendiri masih banyak versi. Ada salah satu versi yang menyebutkan bahwa nama itu berasal dari kata “Mati dan Modar”. Jadi karena angkernya Gunung Tidar waktu dulu, maka kalau ada orang mendatangi gunung tersebut kalau tidak Mati ya Modar. Cerita legenda keangkeran Gunung Tidar dapat disimak dalam Hikayat Gunung Tidar ini. [...]

Tinggalkan Balasan

(required)