PETIKAN WAWANCARA DENGAN narablog.org

sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=489620319739

Apa kabar Mas Nanang? Bagaimana kabar keluarga dan para Bala Tidar?
Kabar diri dan segenap keluarga baik dan sehal wal afiat selalu. Demikian dengan segenap sedulur Bala Tidar, masih terus berdialektika dalam proses dan pergulatan berkomunitas tentunya.

Boleh tau sedikit mengenai sekilas biografi pribadi Mas Nanang, kehidupan dan pekerjaan sekarang ini?
Tentang biografi saya……ehm, sepertinya terlalu biasa untuk diceritakan. Satu yang pasti saya hanyalah orang dusun yang diberikan kesempatan untuk turun gunung menikmati luas dan dalamnya misteri kehidupan. Saya terlahir di tepi Merapi sisi barat, dari sebuah keluarga yang seadanya. Kami enam bersaudara, dan saya berada di urutan ke tiga. Mulai diperkenalkan dunia sekolah di TK ABA dan SD Polengan I di kampung halaman. Kemudian melanjutkan sekolah di SMP 1 Muntilan dan SMA 4 Bhe Yogyakarta. Selanjutnya nyasar di “Sastra Nuklir” Bulaksumur. Jadi saya nggak pernah punya latar belakang pendidikan IT, dan dunia IT bagi saya ya hanya sekedar alat saja. Maka jangan tanyakan ke saya terkait hal tethek bengek dan jeroannya IT.

Mulai berminat dengan dunia membaca ya semenjak ngangsu kawruh di “sastra” itu. Kemudian berkenalan dengan Hamas(Himpunan Masyarakat Syafaat) yang kemudian menjadi kepanjangan rantai Jaringan Komunitas Padhang mBulan-nya Emha Ainun Nadjib. Dari membaca, nah lanjut ke jagad pembelajaran tulis menulis secara otodidak! Saat ini masih sering berguru dan menulis beberapa reportase maupun artikel di Komunitas Kenduri Cinta, Jakarta.

Mengenai pekerjaan ya menjadi menusia itulah pekerjaan seumur hidup saya. Lha menjadi manusia saja belum karuan lulus, apalagi meniti jenjang karir tertentu. Maka saya tidak ingin terkotak untuk menjadi bupati, menteri, pegawai negeri, apalagi presiden. Saya lebih nyaman memposisikan diri sebagai serendah-rendahnya manusia, hingga tiada satupun manusia lain yang sanggup dan mampu untuk merendahkan daya.

Kapan dan Bagaimana, asal muasal terbentuknya Komunitas ‘Pendekar Tidar’ Blogger Magelang itu dan Apa konsep yang diusung oleh Pendekar Tidar sebagai Komunitas Blogger Magelang? Boleh dijelaskan secara detilnya?
Mengenai Komunitas Pendekar Tidar sebagai wadah berkumpulnya blogger Magelang, sebenarnya terbentuk semata-mata menjalani takdir Tuhan. Awalnya ya tentu saja dari dunia ngeblog. Dari bergaul sana-sini, ngalor-ngidul, ngetan bali ngulon, blogwalking ke sana ke mari eee…….lha kok dipertemukan dengan beberapa blogger yang berasal dari Magelang ataupun yang memiliki tautan jiwa dengan Bhumi Tidar. Ada Kang Ikhsan yang asli Salaman dan kini di Sukabumi, Mas Eko yang merantau di Surabaya, Mas Hanafi yang abdi dalem di kadipaten, dan tentu saja ada Kang Ciwir yang asli wong Solo namun kini berkarir di Sawitan.

Berangkat dari saling tegur sapa, saling komentar dan meninggalkan link di dunia maya itulah kemudian mengkristal suatu perasaan kesamaan keprihatinan akan jagad Bhumi Tidar. Magelang sebagai sebuah kawasan yang telah tercatat dalam sejarah Nusantara semenjak jaman Mataram Kuno, ternyata saat ini masih berupa hutan belantara yang gelap dan senyap di tengah hiruk pikuk dunia informasi yang diusung lewat internet. Masih sangat minim informasi tentang segala potensi yang dimiliki Magelang bisa dinikmati di internet.

Dari kontak-kontak dan komunikasi melalui blog, akhirnya ditindaklanjuti dengan kopdaran. Sejarah kemudian mencatat kangsenannya Ciwir dan Emi yang berwedang-rondean di Alun-alun Magelang. Kopdar selanjutnya tergelar di Ndalem Peniten pada liburan Imlek 2009 yang mempertemukan tripartet saya sendiri, Kang Ciwir, dan Kang Ikhsan. Intinya kami sama-sama prihatin dengan minimnya publikasi tentang potensi daerah melalui media internet, terkhusus melalui blog. Dari sinilah kami mempunyai impian yang bisa dibilang sebagai suatu konsep untuk mempersatukan barisan blogger yang memiliki keterkaitan dengan tanah Magelang untuk kemudian bahu-membahu “menduniakan” Bhumi Tidar melalui dunia blog.

Kenapa nama Komunitas Blogger Magelang dan kemudian secara aklamasi dipilih dan diberi nama ‘Pendekar Tidar’? Boleh diceritakan (Dibalik nama atau Asal Muasal nama Pendekar Tidar sebagai Brand Komunitas Blogger Magelang) kepada kami?
Soal nama komunitas, kenapa kemudian yang muncul Pendekar Tidar……hmmm, sebenarnya itu tanpa sengaja. Sekedar mbanyu mili dan spontanitas, tanpa rekayasa, tanpa kesepakatan, bahkan mungkin tanpa konsep berlebihan, dan yang pasti tanpa perdebatan. Jadi sejarahnya begini, pada waktu tripartet jumpa darat di Ndalem Peniten, kami hanya ngobrol ngalor ngidul tanpa agenda yang pasti. Dalam forum itu tidak ada pembicaraan mengenai cita-cita dan keinginan membentuk sebuah komunitas blogger. Intinya memang hanya silaturahmi saja.


Nah sebagai seorang blogger tentu saja pembicaraan ala kadarnya itu sangat menarik untuk menjadi sebuah tema tulisan. Akhirnya saya menulis “reportase” kopdaran tersebut dengan judul “Kopdar Pendekar Tidar”. Entah kenapa ketika menuliskan postingan tersebut saya terinspirasi dengan gunung Tidar dan jagad kependekaran yang pernah dituliskan di berbagai kisah dan dongeng yang pernah saya baca atau dengar.

Tulisan tersebut kemudian berlanjut dengan otak-atik tangan Ciwir yang membuat banner sederhana bertuliskan “PENDEKAR TIDAR” dengan embel-embel Komunitas Blogger Magelang. Inilah tonggak sejarah yang seterusnya dilanjutkan dengan Kopdar Akbar Pendekar Tidar di Alun-alun Kota Magelang bertepatan dengan dengan Hari Jadi Magelang, 11 April 2009. Kopdar yang dihadiri oleh 15-an orang inilah yang dicatatkan sebagai Hari Kelahiran Komunitas Pendekar Tidar.

Menurut Ciwir, frase Pendekar Tidar tidak terlepas dari spirit kejuangan para pendekar dan Tidar merupakan nama gunung yang telah tersohor di Jawa Dwipa. Tidar adalah pakuning tanah Jawa, pusat dunia mistik dan kosmologis manusia Jawa. Dengan demikian komunitas ini ke depan dapat lebih fleksibel untuk tidak hanya menggantungkan diri pada feodalitas semangat kedaerahan, tetapi lebih mengemban fungsionalitasnya untuk kepentingan manusia secara lebih universal dan tidak terbatas wilayah administratif kepemerintahan Kabupaten dan Kota Magelang semata. Makanya tidak hanya wong Magelang yang menjadi Bala Tidar, tercatat ada Emi, dan Gus Ikhwan dari Temanggung, bahkan Mas Deden yang asli Sunda.

Menyambung pertanyaan di atas. Untuk mendirikan suatu Komunitas tersebut diperlukan komitmen dan konsistensi yang tinggi. Lalu bagaimana sih cara mengumpulkan para ‘Bala Tidar’ untuk merapatkan barisan ke Pendekar Tidar?
Awal mula mengumpulkan balung pisah Bala Tidar ya hanya gethok tular dan saling blogwalking di dunia blog yang ditindaklanjuti dengan kopdaran. Dari kopdar demi kopdaran yang terselenggara, alhamdulillah bertambah banyak Bala Tidar yang bergabung. Semua berlangsung hanya spontanitas! Memang kemudian di belakang hari, beberapa teman berinisiatif untuk mengkonsep sesuatu agenda positif yang sekiranya dapat bermanfaat merapatkan barisan secara internal dan syukur-syukur bermanfaat pula secara eksternal, terkhusus untuk Magelang tercinta. Ngobrol ngalor ngidul tanpa ditindak lanjuti di dunia nyata, sepertinya terlalu eman-eman. Ya eman waktu, tenaga dan pikiran.

Dari sinilah kemudian mengalir berbagai agenda kegiatan seperti pengumpulan buku untuk perpus Ngampon, pelatihan blogging ke berbagai sekolah, lomba menulis tingkat pelajar, dan seminar pendidikan. Tak jarang juga rekan-rekan perwakilan Bala Tidar turut aktif memenuhi berbagai undangan ataupun event blogger yang diselenggarakan di berbagai tempat, mulai Wisata Blogger, Amprokan Blogger, Miladeblogger, SOLO, dan sudah pasti Pesta Blogger.

Intinya bahwa dengan menggulirkan berbagai agenda inilah Bala Tidar menjadi termotovasi untuk saling bertemu dan berinteraksi, serta merapatkan barisan dalam kopdar-kopdar. Dan kami semakin menyadari bahwa sebuah komunitas akan terus eksis dan berbuat sesuatu yang bermanfaat, bila diantara segenap komponen komunitas terwujud sebuah komitmen, konsistensi, dan kekompakan yang solid. Dengan demikian segala potensi dari anggota dapat disinergikan menjadi sebuah perpaduan energi menyatu untuk kemajuan komunitas dan kehidupan bersama.

Nafas khas keseharian (Komunitas Blogger) Magelang adalah bergerak dengan irama alam, mbanyu mili. Bagaimana sih maksut dari : Bergerak dengan irama alam, mbanyu mili? Boleh di Jelaskan!
Bergerak sesuai irama alam, ya kita sadar akan kodrat manusia yang tidak terpisahkan dengan alam di sekitarnya. Harus ada keseimbangan kehidupan antara manusia, alam dan Tuhan. Dengan mengikuti hukum-hukum alam dan ketentuan Tuhan manusia dapat hidup dengan damai dan tentram. Ini sebenarnya satu kekayaan nilai kearifan lokal yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita secara turun-temurun.

Intinya dalam berkomunitas kita nggak mau ngoyo dengan memasang cita-cita, apalagi target yang muluk-muluk. Apa yang sekiranya mampu untuk kita lakukan, ya dilakukan secara maksimal. Sesuatu rencana yang terasa berat ya dipecah menjadi rencana-rencana yang lebih kecil. Bila dari sisi waktu, kita belum dapat melakukannya dalam waktu satu tahun, ya diperpanjang dalam dua atau tiga tahun, dan lain sebagainya. Serius ya serius, namun kadar keseriusan itu ya sesuai dengan kemampuan dan situasi kondisi.

(Kopdar) selama ini diadakan di Ringin Tengah Alun-alun Magelang. Pertanyaan saya : Kenapa Ringin Tengah Alun-alun Magelang yang sengaja dipilih sebagai tempat tautan hati para ‘Bala Tidar’ Alun-alun adalah ruang publik kita yang masih tersisa, terutama di kota-kota Jawa. Alun-alun adalah simbol keluasan wadah yang mampu menampung segenap warga, tanpa pembedaan status dan kelas. Semua orang bebas hadir dan beraktivitas di alun-alun. Para bocah, remaja, pemuda, dewasa, orang tua, bahkan kakek-nenek sangat boleh main di alun-alun. Para pedagang, tukang parkir, bahkan copet sekalipun banyak yang mendapat pengupo jiwo di sekitar alun-alun. Para pengangguran yang ingin sekedar leyeh-leyeh dan ngalamun di alun-alunpun tidak dilarang.

Ringin tengah merupakan titik persilangan dunia vertikal yang lebih bersifat kekal dan ruhaniah, serta dimensi horisontal yang lebih duniawi. Di ringin tengahlah terjadi tata kosmos keseimbangan tersebut. Jadi makna keluasan, keterbukaan, dan keseimbangan hidup itulah inspirasi kenapa kita memilih kopdaran di ringin tengah alun-alun itu.


Gethukan (Glenak-glenik methuk malem mingguan) menjadi ikon kopdarnya Bala Tidar. Boleh dishare tentang Apa itu Gethukan? Kenapa dipilih (nama) Gethukan sebagai simbol kopdarnya Bala Tidar?
Magelang adalah kota gethuk. Sengaja kita memilih ikon kopdaran yang bisa senafas dengan lingkungan dimana kita berasal. Kemudian dengan othak-athik gathuk, kita maknai gethukan sebagai glenak-glenik methuk malem mingguan karena memang kopdaran rutin tersebut digelar setiap Sabtu sore malem Mingguan di minggu I dan III setiap bulannya. Harapannya adalah kita tidak menjadi kacang yang lupa akan kulitnya dengan mengenal asal-usul daerah kita, di sisi lain kita juga berkeinginan untuk lebih menduniakan gethuk sebagai ikon kulinernya kota Magelang.

Apa yang diharapkan oleh (Mas Nanang) selaku sesepuh dari Pendekar Tidar tentang Gethukan untuk kedepannya? Apakah Gethukan hanya sebagai wadah untuk silaturahmi bagi Bala Tidar dan atau lebih dari itu?
Harapan dengan gelaran gethukan, sebagaimana prinsip mbanyu mili di atas yang memang sepenuhnya menjalin silaturahmi sesuai dengan motto kami, paseduluran tanpa batas. Adapun kalau dari rerasan dan glenak-glenikannya sedulur Bala Tidar kemudian tercetus sebuah agenda untuk ditindak-lanjuti secara offline, ya nggak masalah. Dan insya Allah kami berkeinginan untuk mempersempit gap dunia maya dan dunia nyata, dengan berusaha merealisasikan ide-ide yang muncul secara nyata. Di sinilah nampak peran komunitas untuk tidak hanya sekedar hoax-hoaxan di blog semata. Namun satu hal yang pasti, ya semua kembali lagi kepada kesepakatan dan keinginan segenap Bala Tidar, karena di gethukanpun kami belajar tentang demokrasi, diskusi dan bermusyawarah, saling ngemong untuk lebih dewasa menjadi manusia.

Bahkan beberapa rekan berharap akan hadirnya nuansa sebuah “universitas kehidupan, fakultas kebenaran, dan jurusan kejujuran” agar kami bisa lebih hamemayu hayuning bawono, menghidupi kehidupan secara lebih bermakna.